Senin, 25 April 2016
KETIKA SUARA ADZAN BERKUMANDANG
Kejadiannya sangat cepat. Ketika itu kukendarai mobilku dengan sangat kencang. Subuh sudah lewat, namun pagi belum lagi terang. Meliput berita di luar kota membuatku harus pulang saat larut malam, badan capek, mata mulai digelayuti rasa kantuk yang luar biasa, Sekilas kulihat lampu kuning trafic light lenyap dan berganti merah, sebuag truck sampah menderu deras dari arah belakang, mendahului, seakan terbang ke depan. Aku gugup sejenak, kaget membanting setir ke kiri tepat menghantam seorang bapak dan seorang anak kecil dipinggir jalan, membuat mereka terpental ke udara sebelum akhirnya jatuh menghempas ke aspal.
Reflek kaki kananku menginjak rem. Mobil berhenti menyentak dengan suara derit mencicit. Sejenak kurasakan kedua tungkaiku lemas. Dari kaca spion kuintip mereka tergeletak tak bergerak. Terkapar. Mati? Entahlah. Tak dapat kupastikan. Secepat itu pula kepanikan menenggelamkanku dalam kecemasan yang luar biasa. Kutengok kanan dan kiri, Suarasana masih sepi. Jalanan lengang. Tak nampak seorang insanpun di perempatan jalan itu.
Takutku membuat sekujur tubuh meremang, kalau mereka mati. Apa yang harus kuperbuat? Suara hati menjerit: “Turun! Tolong mereka! Bawa ke rumah sakit!” Namun logika berbicara lain. Kalau aku turun dan membawa mereka ke rumah sakit dan ternyata mereka mati, apakah aku harus dipenjara? Sederhana memang pemikiran seperti itu. Namun kepanikan sudah merajai hati. Tanganku gemetaran, berkeringat mencengkeram kemudi. Otakku berteriak: “Lari. Lari secepat mungkin! Senyampang tidak ada saksi disini. Lari, bodoh!
Aku semakin kehilangan akal. Terbayang dibenakku sosok polisi, keluarga korban, dan tetek-bengek yang akan menjadi urusan yang sudah pasti membuatku terbebani berbagai masalah.
Sekali lagi aku ,menengok ke belakang. Bapak dan anak itu masih tetap pada posisi semula. Mereka terbujur diam dalam genangan cairan merah yang merayap semakin melebar menjauhi tubuh pemiliknya.
“Lari, tolol!” suara hati menghardik.
Kali ini jiwa pengecutku menurut. Seketika kuhidupkan mesin, kumasukkan persnelling satu, dan tancap gas. Aku melarikannya dengan kecepatan tinggi, lebih kencang dari semula. Namun kali ini mataku lebih nyalang kedepan. Rasa kantuk menguap sejak tadi. Yang ada hanya keinginan menyelamatkan diri sendiri. Ngebut terus tanpa ampun. Sepanjang jalan ketemui rival, saingan dalam urusan memacu kencaraan, entah itu bis maut, entah itu angkot atau mobil-mobil pribadi yang sama-sama gilanya.
Ditempat sepi mobil kuhentikan, aku turun memeriksa sisi sebelah kiri mobil. Tetap utuh. Tak ada kerusakan berarti, hanya sedikit pesok disisi pintu. Bercak darah yang tentu saja bisa segera kubersihkan.Barangkali untuk sementara waktu aku masih bisa bernafas lega.
“Hai, bagaimana dengan perjalananmu kemarin?” temanku Titi menyapa pada esok harinya di kantor. “Kau sempat mampir nggak; mampir ke rumah Tommy.” Lanjutnya sambil cengar-cengir.
Aku tak menyahut, dadaku ini masih beredebar kencang setiap kali mengingat bayangan bapak dan anak yang terbaring diam kemarin.
“Nikmatilah masa-masa indahmu, Sar. Kata orang sih, masa-masa pacaran selalu saja indah, tetapi nanti kalau kau menikah...semuanya jadi berubah. Ah, kok menakut-nakuti, Aku tidak sedang menakut-nakuti lhoh, pokoknya tau sendiri deh.”.
Aku diam saja, semua kalimat itu justru semakin menggedor jantungku. Menambah kebingungnaku.Titi masih terus mengoceh, suaranya bagai cicit tikus di telingaku. Samasekali tidak kedengar dia sedang ngomong apa. Tiba-tiba saja Titi menembakku dengan membacakan berita yang benar-benar membuatku KO.
“Diperempatan jalan Diponegoro pukul lima pagi kemarin, kedapatan seorang laki-laki paruh baya dan seorang anak kecil tergeletak sebagai korban tabrak lari. Beruntung, ada seorang tukang tambal ban yang sempat mengingat nomor polisi kendaraan itu.”
Jemariku yang masih menekan keyboard terhenti seketika. Kaku. Mati. Hilang akal.
Itu kamu! Hatiku bicara sengit. Itu kamu, Sarah !. Kamulah yang menabraknya. Kamulah yang membunuhnya.
Dan seperti seseorang yang baru saja mendengar berita kematian ibunya, aku terhuyung. Lantai seakan berputar, terbalik. Membuatku serasa ingin muntah. Kupegang ujung meja kuat-kuat agar tidak sampai jatuh. Titi terkejut, dia berdiri dan menopangku agar tetap berdiri tegak.
“Sarah, kamu kenapa? Mukamu pucat sekali. Kamu sakit?”
“Tidak. Tidak apa-apa. Barangkali Cuma letih,” sahutku berusaha menguasai diri.
Titi malah menatapku dengan pandangan menggoda. Bibirnya senyam-senyum. Sungguh tidak lucu! Sambil berkacak pinggang dia menggeleng-gelengkan kepala.
“Hebat ya, kencanmu kemarin?Tapi oke, kalau sakit kenapa tidak pulang saja? Minta ijin sama Boss sana ‘gih!”
Tanpa ba bi bu akupun segera pergi. Aku memang butuh waktu. Aku butuh udara segar. Kegelisahan itu terus kubawa sampai kerumah.Membuatku susah tidur, susah makam< susah berkonsentrasi. Selalu kubayangkan bagaimana orang-orang menemukan mereka dan membawanya ke rumah sakit? Cacatkah mereka? Atau meninggal? Bagaimana dengan keluarga mereka? Apakah aku sudah jadi pembunuh? Atau seorang buronan yang setiap saat bisa saja ditangkap? Aku jadi bergidik ngeri, Mendadak saja timbul niatku untuk menyerahkan diri ke pihak yang berwajib, tapi aku segera ingat bahwa hari pernikahanku sudah semakin dekat. Bulan depan aku sudah harus mengawali persiapanku untuk menikah dengan Tommy, rencana mencetak undangan, mencari gedung, perias, katering, dan.... ya Allah ya Robb. Apa yang harus kulakukan?
Tommy...Tommy... nama itu terus kubisikkan, tak mampu lagi mengingat apa-apa. Padahal setiap akan tidur dzikirlah yang kulantunkan, kini bahkan tak sampai lidahku.
Kelu. Pepat.
Hingga aku jatuh tertidur dengan sendirinya karena kelelahan. Dalam tidur aku bertemu Tommy, kami saling bergandengan sambil saling tersenyum. Langkah kaki terayun di tengah tamu-tamu, Tommy terlihat keren dengan baju hitam pengantinnya, namun...
Ya Allah. Tiba-tiba datang serombongan polisi, mereka menghampiri dam merenggutku dari genggaman tangan Tommy. Aku berteriak histeris saat mereka memasangkan borgol ditanganku.Aku meraung. Menjerit, ya Allah ya Allah...!
Aku tergagap bangun dengan sekujur tubuh berjeringat dingin. Dari atas meja rias kuambil koran kemarin yang sempat dibacakan beritanya oleh Titi, kucari pada halaman sekian, dan bertemu. Kubaca lagi, lagi...lagi. tercantum disitu kelanjutan kalimat yang kemarin, : “Jika saaudara masih memiliki hati nurani sebagai manusia, maka tengoklah korban yang saudara bantai di perempatan jalam Dipobegoro pada hari Minggu jam lima pagi, kemarin. Seorang diantaranya melayang jiwanya. Kepalanya pecah.Seorang lagi terbaring di rumah sakit dalam keadaan kritis. Andaikan selamat, anak berusia lima tahun itu akan cacat seumur hidupnya. Kedua kakinya diamputasi. Apa yang saudaralakukan jika musibah itu menimpa bapakmu atau adikmu? Tentu saydaraakan mengimbau juga. Oleh karena itu lewat kolom ini kami mengimbau saudara. Semoga saudara berjiwa besar dan datang mengakui semua perbuatan saudara.”
Jadi mereka.....
Aku tak kuasa melanjutkan kalimat. Getar tanganku semakin kuat membuat koran itu jatuh seiring guguk tangisku. Kurasakan darahku beku seketika. Dingin merambat dari ujung rambut ke ujung kaki, diriku terasa mati, hati nuraniku menjerit kuat: Pembunuh! Kmu pembunuh!
Malam itu aku berjalan kaki menyusuri jalan-jalan sepi tanpa tujuan.Pikiranku berkecamuk, kalut, cemas, dan ngeri membayangkan kejadian itu dan segakla akibatnya. Tentang kematian, tentang masa depan anak kecil itu. Tentang kehidupan yang dengan mudah terbalik balik sesuai kehendakNya. Tanpa kuasa kita menahan atau menghindar, karena seakan sudah tertulis di garis kehidupan masing-masing manusia. Kekalutan rupanya sudah mencapai titik puncak sama dengan titik puncak rasa sakit yang sudah tak tertahan dalam hati seorang manusia, rasa bersalah membuat bahuku luruh, tak berharga lagi jadi manusia.
Hingga pagi, dan hingga siang hari kemudian, tak ada satupun yang bisa kuajak bicara. Aku hanya bisa berbicara dengan diri sendiri dan bertanta-tanya, apa yang telah kulakukan ini? Seakan patung batu, aku duduk di taman pinggir jalan raya yang berlalu lintas ramai. Kendaraan seakan lewat tanpa ada yang perduli tentang seorang perempuan yang tengah duduk bingung di dekat air mancur. Mereka berpacu, sama sepertiku kala itu. Mereka takut kehabisan waktu. Kelelahan, kadang bahkan mengantuk dan ingin rebah melepas letih,. Namun begitu banyak urusan dunia yang harus diselesaikan tanpa pernah bisa selesai.
Kulangkahkan kaki. Ingin sekali bertemu Titi sahabatku. Begitu sampai di rumahnya dia baru saja selesai menjalankan ibadah sholat ashar. Kamu duduk beredua di beranda depan, menghirup kopi berdua seraya berbasa basi sejenak Aku mulai mempertimbangkan reaksi apa yang akan ditampakkan Titi seandainya aku menceritakan semua kejadian itu. Akankah dia terbelalak, atau berteriak, atau marah? Siapa tau, ada jalan terbaik bagiku yang akan disarankannya. Biasanya dia punya jalan keluar bagi setiap persoalan. Namun muncul lagi kebimbangan, bagaimana kalau dia malah melapor? Mati aku. Apakah mungkin dia tega? Ah, nafasku jadi semamin sesak. Punggungku kembali berkeringat dingin.
Benar, matanya terbelalak saat aku menceritakannya secara runtut dan rincil. Bibirnya memucat pasi. Tercelangkap tanpa bisa berkata-kata. Terhenyak dia dengan nafas terengah.
“Jadi...kaulah pelakunya” kedua matanya nyalang manatapku.
“Kau Cuma becanda, kan? Kau hanya mau menakutiku?” Titi mencecarku sambil mengguncang bahuku kuat-kuat. Seakan tak mau percaya akan semua yang kuceritakan dengan suara terbata-bata.
Aku menggeleng.
“Jadi betul, kaulah yang menabrak mereka dan melarikan diri? Astagfirullahaladziim ...Sarah!”
“Truck itulah yang menyalibku tiba-tiba dan aku ..aku membanting setir kekiri karena kaget...aku...aku...”
“Kau kaget karena tidak konsentrasi. Kenapa? Kau mengantuk, lelah...Ya Allah, Sarah. Kalau begitu mau tak mau kau harus menyerahkan diri. Tak ada jalan lain.”
“Tapi Ti, aku kan harus.....”
“Aku tau. Pernikahanmu sudah dekat, Tapi harus bagaimana lagi? Kau tidak ingin jadi buronan, kan Sar?”
Aku tertunduk.
“Setelah menikah, lantas apa? Kau akan punya anak, bersekolah, lulus jadi sarjana pula. Hidup keluargamu bahagia dan sukses. Namun apa artinya bila semua itu kau lakukan diatas penderitaan orang lain, diatas penderitaan keluarga lain? Ingat Sarah, anak itu akan cacat seumur hidupnya, bapaknya mati.......!”
Kudekap wajahku dalam satu bayangan yang mengerikan. Tidak, aku tidak mau hidup seperti itu. Demi Allah!
“Karena itu, akuilah semuanya. Aku akan mengantarmu.”
Hatiku makin tak menentu, mendadak saja wajah Tommy membayang jelas dimataku.
“Ayolah Sarah, jangan jadi pengecut.”
“Aku tak sanggup. Aku tak bisa.” Aku mulai menangis.
“Sarah. Akuilah dengan hati jujur, bahwa kau telah menghilangkan nyawa orang,”
“Aku tak sengaja!”
”Sengaja atau tidak, pengadilan yang akan menentukan.”
Kurasakan kini sepertinya aku memang sedang sendiri. Bahkan Titi tak mampu memberikan aku jalan seperti yang kuinginkan, aku ingin dia mengatakan bahwa ini adalah sebuah ketidaksengajaan, musibah, aku bukan pembunuh, bukan, samasekali bukan!
Pelan-pelan semua kejadian berputar kembali dalam ingatanku. Semuanya. Terlebih ucapan Titi, Bergema dan bergaung diteluingaku. Membelit, menuntur sebuah pengakuan bahwa benar aku adalah serupa pengecut yang tidak bertanggungjawab atas penderitaan orang lain yang kutimbulkan. Benar kata Titi< aku berjiwa kerdil. Masih pantaskah aku memiliki kebahagiaan setelah merampas kebahagiaan orang lain? Namun, haruskan aku menyerahkan diri, menyerahkan kebebasanku? Bukankah begitu banyak kasus tabrak lari tanpa seorangpun mengakuinya dan tak terungkap? Aku tak bisa menjabarkan perasaanku yang lebih dalam.
Ketika kakiku kembali melangkah meninggalkan rumah Titi, senja mulai menebar. Sebentar lagi malam menggantikannya, dan suasana akan jadi gelap segelap hatiku. Akan pekat sekelilingku.
Tiba-tiba terdengar suara adzan, aku jadi tertegun. Langkahku buntu. Alangkah aneh suara itu ditelingaku. Seperti suara tangis yang memanggil-manggil, lirih, sunyi, pasrah, dan penuh rindu. Dan aku terseret. Terasa ada yang lepas dar dada, entah apa. Kelopak mataku basah, Terbayang dimataku bapak itu terbaring sendiri, Kemudian dikafani, dan diselimuti kain batik.. Orang-orang berkumpul membaca doa, kemudian mengusungnya ke kuburan. Sekali lagi mereka berdoa namun kali ini lebih khusuk. Beberapa orang ada yang menangis diam-diam. Lalu jasad itu dimasukkan ke liang lahat yang sempit. Amat sempit. Kemudian gelap. Sebuah kegelapan yang abadi, gelap mati, kemudian....... kemudian,,,,
Ah!
Tidak.
Aku tersentak Dingin malam merambati sekujur tubuhku yang basah oleh keringat. Pipiku lembab, mataku pedih. Sangat pedih. Ya Tuhan, apa yang telah kuperbuat ini? Buron? Kepengecutan yang menjijikkan! Jiwaku menggigil. Lamat-lamat seperti ada yang memanggil dan aku kembali bergetar, sangat kuat.
Kuhapus sisa airmata dengan kasar. Kutepis semua bayangan dan harapan. Kulepas satu demi satu semua keinginan untuk hidup bahagia berkeluarga dengan kekasih tercinta, kubuang jauh-jauh. Kulepas. Kutepis. Dan kuambil satu keputusan: Menyerahkan diri.
***
.
YANG TAK SEMPAT BERBUNGA
Sudah menjadi kebiasaan baru bagiku untuk selalu datang lebih pagi di perpustakaan. Semua itu kulakukan hanya karena keinginanku melihat Pang Jayadi datang dan melempar senyum samar kepadaku sebelum menenggelamkan wajahnya di depan PC dan setumpukan berkas. Aneh memang. Duduk disini, di belakamg meja yang tepat berada di depan meja Pang Jayadi, aku seakan dilahirkan hanya untuk menjadi ‘si pungguk yang merindukan bulan’. Bagaimana tidak? Setiap pagi cowok berhati batu itu seakan secara kebetulan lewat dan duduk di depan mejaku.dan ....puff, Lenyaplah wajahnya dibalik komputer dan setumpuk berkas. Seolah-olah dia adalah manusia manusia perunggu yang dingin tak berhati. Demikianlah selalu setiap pagi.. dia berjalan dengan langkah tegap dan cepat melintasiku seakan meluncur diatas skateboard tanpa ekspresi selain senyum samar di ujung bibir tipisnya. Diriku ini dianggap bagai pajangan tak bernafas. Astaga! Padahal, jujur saja, banyak teman di kampus tempatku kuliah aku dikatakan sebagai primadona, atau bunga kampus, maka melihat sikap Pang Jayadi yang demikian, aku jadi ragu. Benarkah aku masih bisa dikatakan bunga kampus? Sungguh mati, rasa bangga mendadak runtuh setiap kali berpapasan dengan Pang Jayadi. Agaknya aku sudah tak punya kekuatan daya tarik lagi bagi dia. Perlahan namun pasti, keinginan untuk mendapat sapaan lebih ramah dari ‘gunung es’ itu kian memudar, pupus begitu saja.
Seperti biasa pula, pagi imi halaman parkir masih kosong. Tidak mengherankan apabila kemudian kudapati hampir seluruh pintu salle masih terkunci. Gedung tua yang luas itu masih lengang, Memang hari masih terlalu pagi. Jarum jam di pergelangan tanganku baru menunjukkan angka tujuh kurang sekian menit. Sepi dimana-mana, Maka jangan harap bisa menemukan mbak Wied, kepala perpustakaan, duduk di kursinya sambil tersenyum menyambut dengan ucapan khas berbahasa Perancis, “Bonjour, Mademoiselle.”
Tanpa singgah ke ruang perpustakaan aku langsungmenuju ke bagian belakanggedung utama Pusat Kebudayaan Perancis untuk ,menemui penjaga, Biasanya pak tua yang ramah itu dengan senang hati akan membiarkanku membuka sendiri pintu-pintu ruang kursus termasuk ruang perpustakaan dengan menyerahkan segenggam anak kunci kepadaku.
Saat itulah, di koridor seseorang menyapaku,
“Bonjour, Mademoiselle.”
“Bonjour,” balasku kaget.
Sepasang mata biru yang cerlang menatapku penuh senyum. Keramahannya membuatku tergugah untuk menawarkan bantuan,
“Ada yang bisa saya bantu, Monsieur?” tanyaku berbahasa Perancis.
“Ya, terimakasih. Saya ingin menemui Philippe Galinier.”
“Professeur du Francais yang baru datang dari Paris?”
“Ya ya, betul.” Mata biru itu mengerjap senang.
“Dia masih tidur,”sahutku menyesal. “Biasanya dia akan keluardari dalam ruang tidurnya sekitarpukul setengah delapan, Mereka, maksud saya Philippe dan Xavier Inglebert, mengajarpada pukul delapan hingga pukul sepuluh. Barangkali Anda bisa menunggu mereka di perpustakaan.”
“Perpustakaan? Dimana itu?”
“Di bagian kiri gedung utama. Saat ini masih tutup. Sebentar, saya akan mengambil anak kunci untuk membuka bibliotheque. Anda bersedia menunggu?”
“Bien sure, avec plaisir. Dengan senang hati.” Sahutnya buru-buru. Rambutnya yang merah kecoklatan kian berguncang dan jatuh menutup sebagian keningnya,
Kuteruskan langkah menuju paviliun yang khusus disediakan untuk para penjaga dan tukang kebun. Kemudian dengan menggenggam sekumpulan anak kunci yang kuterima daei pak tua, kami berdua berjalan beriringan ke perpustakaan.
“Anda baik sekali,” katanya.
“Terimakasih,”
“Siapa nama Anda?”
“Paramita.”
Dia mengeja namaku perlahan dengan lidah asingnya,
“Nama Anda bagus sekali,” katanya kemudian.
Aku teretawa mendengar ucapannya. Dalam hati aku membenarkan. Namaku memang bagus, itu kata kebanyakan orang. Namun tak cukup bagus untuk menarik perhatian Pang Jayadi.
“Dan siapa nama Anda?” tanyaku.
“William. Andy William.”
“Oh....” aku tak dapat menahan senyum lepas. “Mirip seperti nama....”
“Penyanyi ?”
“Yes.”
Dia mengangkat bahu dengan lucu.
“Itu barangkali karena mom and daddy menyukai penyanyi itu maka jadilah saya.”
“Hahaha.... you must be kidiing,” tawaku.
Dia menatapku dan tersenyum akrab. Aneh, mendadak aku menyukai mata birunya yang cerlang. Sepasang mata yang seakan mampu menyihirku, dan membuatku ingin berpaling dari bayangan sosok Pang Jayadi. Ah, sergahku dalam hati. Lupakan dia dong Mita...! Pang Jayadi teerlalu jauh dari jangkauanmu.
“Mama saya juga suka Andy Wiliams< Itu penyanyi favorit mama saya. Kami punya banyak CDnya di rumah.” Kataku menghapus bayangan Pang Jayadi.
“Kenalkan saya dengan mama Anda. Saya jamin, dia pasti juga suka sama saya,”
Kami saling tertawa.
“Anda dari United States?”
“Ya. Kebetulan saya mengajardi PPIA. Kami< maksud saya, saya dan Phillippe pernah bersama-sama. Kami teman.”
“Bagus.”
“Bagus apa maksud Anda Paramita?”
“Bagus untuk Anda dan bagus pula untuk semuanya. Bahwa untuk usia yang masih muda, Anda sudah keluar dari negerimu untuk mengajarkan bahasa Inggris yang baik dan benar di negeri orang. Bukankah itu bagus?”
“menurut Anda begitu?”
“Ya, menurut saya sih. Omong-omong berapa usia Anda ?”
“Coba saja menebak.”
“Mmmm..... sama seperti Monsieur Philippe...”
Dia menahan tawa. Menungguku berpikir-pikir menerka usianya.
“Sekitar dua lima?”
“Salah.”
“Tigapuluh?”
“Hahaha.... salah semua. Come on, katakan dulu usia Anda.”
“Tanpa berbelit?”
“Ya. Menurut saya, usia Anda sekitar....itu.”
“Apakah itu penting?”
“Bisa penting bisa tidak.”
Pada akhirnya kami tidak bisa menebak dengan tepat. Kendati aku tau, usianya tak lebih jauh berbeda dengan Philippe atau Xavier. Kalau dibanding=banding cowok-cowok pengajar dari negeri asing ini hampir sama umurnya. Wajah bule mereka juga saling mirip. Hanya saja mata dan hidung Andy lebih serasi dan pas bagi raut wajahnya yang terlihat lebih lembut dan manis. Dagunya adalah bagian paling mempesona, Rahang serta lekuk dagu TimothyDalton si ‘the best Bond’ membuatku kian terpesona.
Kami masuk ke ruang perpustakaan. Kunyalakan air condition, dan membereskan berkas-berkas di meja mbak Wied. Kemudian kusorongkan kursi untuk Andy.
“Jadi Anda bekerja disini?” tanya dia. “Semuda ini Anda sudah bekerja. Seharusnya Anda masih kuliah.”
“Saya memang masih kuliah di sebuah universitas swasta. Dan satu hal Andy, saya tak lebih muda banget dari Anda.”
“Oh...hohoh.” dia tergelak.
“Baiklah. Saya akan tebak usia kamu. Duapuluh dua!” ujarnya tertawa-tawa.
“He, bagaimana bisa Anda menebak dengan tepat?”
“Siapkan taruhannya, “
“Brengsek ah!”
“Hehe... Anda bilang apa?”
“Sorry. Lebih baik tidak usah saya terejemahkan.”
“Saya tau. Saya juga bisa bilang brengsek ah.”
“Sial.”
“D’accord, senang bisa mengenalmu nona. Bagaimana kalau nanti kita makan siang bersama? Aku traktir.”
Kukerutkan kening, “Maksud Anda?”
“Just you and me.”
Saat itu tiba-tiba daun pintu terkuak. Sosok Pang Jayadi muncul ditengah bingkai pintu. Dia tertegun sejenak. Hunjaman matanya menusuk tepat di jantungku. Seakan aku dapat membaca apa yang tengah tersirat dibenaknya. Adalah sebuah teguran yang tidak terucap. Yang kemudian membuatku gemetar.
Andy meluruskan pungggung, menoleh sekejap ke arah Pang Jayadi yang terseok menuju ke arah meja kerjanya.
“Okay Paramita. Sebaiknya saya pergi menemui Philippe di kamarnya. Sampai nanti.”
Kuikuti langkah Andy dengan pandangan mata. Sebelum dia mencapai halaman, kulihat Philippe dan Xavier telah ditemukannya. Mereka berpelukan dan tertawa-tawa.....
Sebuah deheman membuatku berpaling ke arah suara itu. Pang Jayadi masih menatapku dengan gusar. Setumpuk buku disusunnya berkeliling di atas meja, merupakan dinding benteng yang seakan melindunginya dari serangan panah asmara gadis-gadis. Ingin kusapa dia dengan ucapan selamat pagi yang manis, namun sepasang mata diwajah bekunya itu sudah tenggelam dibalik komputer kesayangannya. Maka pupuslah keinginan dan harapanku untuk berbaik-baik dengan Pang Jayadi.
*****
Andy mengaduk mie di depannya dengan sepasangsumpit yang masing-masing dip[egangnya dengan tangan kanan dan kiri. Hampir aku tak dapat menahan tawa melihat kecanggungannya mempergunakan sumpitnya.
“Kamu belum terbiasa menggunakan sumpit. Mengapaa tak kaugunakan saja sendok dan garpumu, Andy?”
Kami sudah terbiasa ber’kamu’ dan ber’aku’.
“Ah, aku sudah biasa,” sahutnya.
“Oh ya? Dengan ceceran mie di sekitarmangkukmu?”
“Cuma sedikit. Tak apa-apa.”
Mulutnya menelan segumpal mie dengan lahap. Kemudian tatkala menyadari tatapan mataku yang melotot ke arahnya, dia teretawa kecil.
“Baru kusadari, matamu hitam dan besar,” katanya.
“Seperti apa?”
“Seperti bintang Timur,” jelasnya menahan tawa.
“Wah. “ kumiringkan kepala. “Adakah bintang Timur di United States?”
“Banyak. Tapi tak satupun bisa mengalahkan pijar dimatamu.”
“Uf. Merayu,”
“Merayu? Aku tak perenah merasa peerlu merayu gadis-gadis,” sahutnya sambil mendorong mangkuk mie ke tengah meja. “Percuma.”
“Kenapa kaukatakan percuma?”
“Hanya membuang waktu saja. Apalagi terhadap gadis semacam kamu.”
“Kok aneh. Mengapa?”
“Karena kamu terlihat sangat tegar dan mandiri. Gadis sepereti kamu tak akan pernah menyerah hanya oleh sebuah rayuan. Aku melihat, kamu seperti batu karang di tengah hempasan ombak. Ya, aku membayangkan begitu. Dan ketegaran itulah yang membuat aku jatuh hati padamu.”
Kurasakan kedua mataku merebak. Entahlah. Menatap kebeningan matanya, kelembutan sikap dan tutur bahasanya, sesuatu yang hangat menjalar dalam relung hati. Tiga bulan bersama Andy membuatku jadi semakin tau bagaimana dia. Perlahan namun pasti bayangan Pang Jayadi kiaan kabur dari ingatanku meskipun setiap pagi aku selalu bisa memandangnya dari balik tumpukan buku-buku tebal di mejanya. Kusadari kemudian, kalau ternyataada seseorang yang datang dan mencintaiku apa adanya, mengapa pula aku harus mengejar-ngejar seseorang yang samasekali tak peduli kepadaku?
“Mata gadis-gadis Asia pada umumnya membuat aku terpesona,” kata Andy memecahkan keheningan. “Seakan menyimpan misteri yang memikat bagi orang-orang asing sepertiku.”
Kulipat kedua tanganku diatas meja, menatapnya dengan gemuruh dalam dada. Cemburukah aku dengan ucapannya?
“Ceritakan,” kataku sedikit menahan kemarahan,”Berapa banyak gadis Asia yang telah kau pacari?”
Andy teretawa lebar.
“Kau pikir aku begitu?”
“Habis, apalagi kalau bukan itu? Kebanyakan orang asing sepertimu sangat mudah memikat hati gadis-gadis Asia seperti aku.”
“Seburuk itukah?”
Kucoba melunakkan suasana dengan tersenyum tipis. Seharusnya aku tak perlu merasa buru-buru dicintai. Seharusnya! Sebab sejak dulu aku berpendapatbahwa orang-orang asing yang datang ke bumi pertiwi ini cepatsekali merasa jatuh cinta pada penduduk asli di tempat mana mereka ditugaskan. Boleh jadi hanya karena iseng atau kesepian. Dan apabila mereka kembali ke negeri asalnya dengan cepat mereka akan melupakan kisah cinta lokasinya di negeri asia seperti ini. Seperti aliran anak sungai yang mengalir deras ke hilir, cinta merekapun akan padaam bersama lenyapnya kami dari pandangan mata. Namum apakah Andy juga seperti itu?
Ah!
Rasanya tak percaya kalau diapun akan sama dengan laki-laki asing lainnya yang datang ke negeri antah berantah ini. Perasaanku jadi bergumul antara percaya dan tidak pada ketulusan har=ti mereka. Ini membuatku jadi terombang-ambing< Rindu dan bingung saling datang dan meerenggut menyeregap hati. Membuatku gamang. Melayang tanpa akhir.
Kutarik nafas dalam-dalam dengan dada sesak.
“Andy,” kataku pelan. “Aku kuatir kita ini masih terlalu pagi untuk bicara jauh mengenai hal-hal yang menuju kearah itu, yang menyimpang dari hubungan pertemanan kita, Kadang aku merasa kita ini belum pasti akan perasaan masing-masing. Aku juga bertanya-tanya, apakah perasaan yang tengah kamu rasakan itu Cuma perasaan persahabatan biasa?”
“Bagitukah pendapatmu?”
“Barangkali, Andy.”
Kudengar hela nafasnya. Berat.
“Dengar, Paramita. Aku tidak pernah bersungguh-sungguh seperti ini. Aku katakan ini sekadar kamu ketaui. Tidak percayapun, boleh. Namun aku akan tetap berusaha dan akan membuktikan kesungguhanku terhadap hubungan kita ini. Aku ingin memiliki seseorang, dan itu adalah kamu.”
“Tapi...”
“Sssst, sudahlah. Jangan bicaraapa-apa lagi.”
“Aku hanya ingin tau lebih jelas tentang arti kata-kata itu.”
“Tak perlu dijelaskan lagi.” senyumnya. Diraihnya tanganku dan digenggamnya erat.
Senyumnya itu,... bahkan sampai matipun aku tak akan pernah bisa melupakannya.
“Akan hilang keindahannya bila terlalu banyak penjelasan. Cava?” lanjutnya sambil tertawa.
Kemudian dengan santai dia bangkit, berjalan ke kasir dan membayarsemuanya. Bayangan dirinya yang selalu memberi gambaran tentang optimisme yang tinggi seperti itulah yang tidak akan pernah kutemukan dalam diri laki-laki manapun di dunia. Bahkan sampai beberapa bulan kemudian saat terakhir perjalanan kami, aku mengantarkannya ke bandara Juanda, dia masih memperlihatkan ketegaran dan optimisme tentang hubungan kami. Setelah masa tugasnya selesai dia ingin menghabiskan masa cutinya dengan berkeliling Indonesia.
“Aku ingin lebih mengenal tanah airmu, aku ingin lebih mencintai bukan hanya dirimu namun juga negerimu.” katanya sebelum memasuki gate 3 Bandara Juanda.
*****
Hari-hari se;lanjutnya tanpa Andy kurasakan bahkan cinta itu semakin tumbuh di hatiku, Tanpa kehadirannya disisiku, tanpa menatap senyum dan kerjap bola matanya, aku jadi lebih sering disergap kesepian dan kerinduan yang tak bertepi. Mau tak mau aku harus mengakui betapa aku mencintainya. Cinta yang tumbuh perlahan demikian lembut dan dalam. Hingga pada suatu hari,........
Melalui interkom, Monsieur Ledoux memanggilku. Mbak Wied yang ikut mendengarpanggilan itu mengedipkan sebelah mata kepadaku.
“Hati-hati,” ujarnya lucu. “..kamu pasti kena marah lagi.”
Tetapi, ketika sudah berada di ruang direktur, jantungku serasa berhenti beredetak saat beliau menatapku tajam. Melihat aku tertegun di tengah bingkai pintu, Monsieur Ledoux mempersilakan aku duduk di hadapannya dan menyerahkan sepucuk surat yang sudah dalam keadaan terkoyak sampulnya.
“Ini surat dari United States.” Katanya dalam bahasa Perancis tanpa prolog.
Kubaca alamat surat di bagian depan sampul.
“Tapi surat ini bukan untuk saya,” sahautku seraya mengembalikannya kepadaanya.
“Memang bukan, Surat itu dari Madame William untuk saya. Beliau bercerita tentang puteranya yang bernama Andy. Diceritakannya bahwa Andy telah sampai di St Paul, Minneapolis. Mademoiselle Paramita, Anda tentu menegnal baik Andy William?”
Detak jantungku berdetak tidak beraturan. Berpacu bagai kuda binal, berhenti, berpacu lagi, melompat hampir keluar dari rongga dada.
“Ya, saya mengenalnay dengan baik.”
Monsieur Ledoux menyandarkan punggung, kedua matanya meredup tiba-tiba.
“Adayang harus saua sampaikan kepada Anda. Tentang Andy.”
“Katakan saja, Monsieur.”
“Meskipun berat bagi saya, saya akan menyampaikannya. Maaf.”
Laki-laki berkacamata tebal dan berhidung besaritu terdiam lama sambil menundukkan kepala. Kemudian dia menambahkan cepat-cepat kalimatnya, sek=akan-akan ingin segera menyelesaikan sesuatu yang membuat sesak dadanya.
“Teman Anda itu mengalami sebuah kecelakaan berat di tengah perjalanan dari Minneapolis ke St Paul. Kecelakaan itu terjadi hanya beberapa kilometer saja jaraknya dari tanah pertanian meereka.”
Tanganku gemetar, Sekujur tubuhku menggeletar hebat. Betapa dahsyat berita itu menyambar kepalaku.
Monsieur Ledoux menatapku dengan pandangan penuh simpati. Tapi sikapnya yang simpatik samasekali tidak mampu menghilangkan keterkejutan yang kualami. Tuhan, desisku tanpa suara. Berikan aku kekuatan menghadapi segala kepahitan yang bakal datang menghadang setiap langkahku. Kepasrahan memang menyakitkan. Tetapi apa dayaku selaik bersikap pasrah pada segala macam bentuk ujian yang Engkau berikan?
Surat-surat maupun kartupos dan foto-foto Anda mereka temukan didalam kopornya, Sebetulnya jauh hari sebelum Andy pulang ke United States, ibunya sudah mengetaui hubungan kalian melalui telepon Andy dari Indonesia. Dan ibunya telah merestuinya. Sayangnya.....”
Andy selamat, kan?” potongku tak sabar.
Beberapa saat dia terdiam. Terlihat ragu. Namun kemudian dengan suara pelan dia menjawab,
“Maaf Mademoiselle. Andy tewas seketika itu juga.”
Suara penyampaian tentang kematian itu demikian santun, demikian pelan, namun kurasakan gelegarnya bagaikan samabaran halilintar. Memecahkan kepalaku. Memecahkan harapanku, meremukkan hatiku....ya Tuhan...!
Mataku nanar menatap wajah direktur Pusat Kebudayaan Perancis di depanku. Nanar menatap dinding yang tiba-tiba kurasakan menyempit dan menghimpit raga. Wajah separuh baya berkacamata didepanku mengabur bersamaan dengan genangan airmata yang membanjir. Ingin kuteriakkan protes, ingin kumaki keadaan. Namun mul;ut ini terkunci rapat. Kering dan dahaga.
Kuremas hati agar bisa ikhlas menerima semuanya. Kenyataan pahit yang terpapar di depan mata, menghadang jalan kehidupan dan membaurjan kesedihan menghapus kebahagiaan yang hanya selintasan lewat. Doa keselamatan yang selalu kupanjatkan setiap malam untuknya, ternyata tidak dikabulkan. Tidak ditanggapi semestinya. Lalu apa artinya semua ini?
Tuhan telah mempertemukan aku dengan Andy, seseorang yang databng seakan dari langit yang berbeda, padahal kami memiliki langit yang sama birunya yang mana semua itu diceritakan oleh Andy melalui kartupos kartupos yang dia kirim dari Trunyan, Denpasar, Rinjani, Jogja, Bandung, Singkarak, Toba,........Tuhan pula yang membukakan pintu hatiku untuk menyambut kehadiran Andy, dan kini....Tuhan memanggilnya pulang.
Mungkin tubuhku mulai merunduk dan nyaris jatuh dari kursi. Direktur berdiri dan memapahku pindah ke sofa besar.
“Mademoiselle.....Anda tidak apa-apa?”
Suara Monsieur Ledoux seakan bergaung dari dunia lain yang amat jauh. Begitu jauh dan asing. Kian lama kian kurasakan kesunyian menyergap di sekitarku. Wajah Monsieur Ledoux kian kabur. Pandangan mataku gelap seketika.
******
RAHASIA HATI AMEL
Hujan baru reda. Ada pelangi melengkung indah di ujung cakrawala. Merah muda hijau dan kuning, warna warna yang mengingatkan akan pelajaran di sekolah dasar tentang mejikuhibiniu. Gunadi meletakkan ransel ke lantai teras dan mulai mengetuk pintu. Setelah lewat lima tahun baru kali ini Gun melihatnya lagi. Tak bisa dibayangkan bagaimana wajah Melinda sekarang, sejak mereka putus hubungan lima tahun silam. Dulu gadis itu berambut panjang, sedikit ikal. Bermata cerlang dan menyorotkan rasa percaya diri yang mana menurut Gunadi terlalu berlebihan hingga sempat menimbulkan rasa jerih bagi setiap laki-laki yang memandangnya. Kini, bagaimana dia? Yang jelas, Gunadi mendengar kabar burung bahwa gadis itu belum juga mau menikah hingga saat ini. Apakah mungkin Amel – seperti itulah Gun memanggilnya- masih mencintainya? Atau memang sedang senang hidup sendiri meniti karir sebagai penulis kenamaan yang sering dipublikasikan media masa sebagai penulis kontroveadirsial yang sedang booming? Selalu menimbulkan kehebohan dan komentar miring pembacanya? Hebat? Pikir Gun. Tanpa suami, tanpa siapa-siapa dia bisa hidup mandiri dan berkecukupan seperti ini. Gunadi menghela nafas dalam sebelum kembali mengetuk pintu. Apa yang ditunggu Amel? Seorang raja kapalyang kaya raya? Atau seorang penguasa negeri? Kemudian kini di ruang tamu dalam temaram senja sehabis hujan. Amel meletakkan dua cangkir kopi dan kue-kue dalam toples-toples kecil nan manis, Kebetulan ada soesmaker kesukaan Gunadi. Amel me;lihat Gunadi keluardari kamar mandi sambil mengeringkan rambut dengan handuk yang disediakannya. Udara dingin dan kue yang disiapkan Amel membuat Gunadi teringat pada masa-masa kebersamaan mereka lima atau enam tahun yang lalu.
Gun duduk meraih cangkir kopi, tertawa senang menatap Amel.
“He, ternyata kau masih ingat kesukaanku Mel?”
“Tentu dong.” Sahut Amel sekenanya saja sambil tertawa lebar. Sepasang matanya berbinar. Gun melihat. Sungguh mati tak ada tanda-tanda kesepian disana.
“Kau masih ingat masa kita bersama dulu saat sama sama mengejar kunang-kunang di pematang sawah Haji Salim? “ Gun mencoba mengorek kenangan lama. “Kau juga mengejar bintang dan memintanya menularkan kecantikannya padamu, Hah. Mana bisa begitu.”
Amel tersenyum.
“Masa remaja.” Sahutnya. “Taunya cuma gula-gula dan es krim. Padahal dunia ini alangkah lengkap. Manis dan pahit si;ih berganti. Kadang berbaur jadi satu, tapi sungguh menyenangkan bahwa kita punya sesuatu untuk dikenang. Begitu, kan?”
“Aku juga ingat kau pernah jatuh di kuda,”
“Itu karena aku terpeleset ketika melompat turun!”
“Karena kau bego banget naik kuda.”
“Mana bisa !” Amel melotot.
Ah! Indahnya mata itu saat melotot, saat marah atau jengkel, saat emosinya keluar, gumpalam es dalam sorot mata itu sekarang lumer. Membasahi hati Gun, membuat ingin sekali mengecup dan membuatnya kembali cerlang seperti dulu,
“Kau buru-buru melompat dari kuda karena ngambek saat kukatakan hidungmu pesek,” Gun masih tetap menggodanya. Mencoba menggelitik kenangan lama.
“Sampai saat inipun aku masih tetap pesek.”
“Siapa bilang?”
“Aku.”
“Kau jauh lebih cantik sekarang,”
“Oh ya? Terimakasih kalau kau sadar,”
“Bahwa kau cantik?”
“Sejak dulu aku cantik, sayang kau buta.”
Uf! Gun tersedak. Segera Amel menyodorkan segelas air putih.
“Kau masih tetap ingat semuanya,” kata Gun. “Kopi, soesmaker, air putih......”
“Ge-er.”
Gun terbahak, namun tiba-tiba dia melontarkan satu pertanyaan yang menyodok.
“Kabarnya kau pacaran dengan boss-mu. Apa itu benar?”
Amel mencibir,
“Boss yang mana, maksudmu? Kau mendengarnya dari siapa?”
“Jadi benar?”
“Ngawur! Sekarang katakan, apa ada hubungannya dengan kedatanganmu kemari?”
Gun terdiam. Dicomotnya soesmaker dan djgigitnya dengan nikmat. Yakin kue itu bikinan sendiri. Kelezatannya tetap sama dengan berthun-tahun yang lalu.
“Soalnya,” lanjut Gun. “Aku pernah bertemu dengan beliau di Sorong. Kenapa pula kau tak ikut meliput berita disana bersamanya?”
Mel menyandarkan punggung. Sepasang matanya mendadak kelam.
“Itu urusanku,” jawab Amel.
“Memang itu urusanmu, tapi bagaimana dengan orang ketiga?”
“Orang ketiga?”
“Akhirnya ketauan kau pacaran dengan orang lain, kan?”
‘’Bukan urusanmu,” Amel mulai jengkel.
“”Kedengarannya aneh. “ Gun tertawa ringan, “Aku hanya ingin tau apa yang membuat kau tak juga menikah? Jangan terlalu banyak pilihan, kau akan terkejut saat menyadari watumu habis, Maaf Mel, aku masih menyayangimu dan tak ingin kau kecewa akan hidupmu nantinya,”
“Kok kau yang jadi bingung sih? Usil bener, Ada apa sebenarnya?”
Gun menghabiskan sisa kopinya. Lalu katanya lebih bersungguh-sungguh.
“Aku hanya khawatir kau hanyut dan tak mampu berhenti dari keasyikanmu sendiri.”
Amel menghela nafas panjang, Sadar bahwa Gun sebenarnya berniat baik. Kekhawatiran lelaki yang pernah menjadi dambaan itu membuatAmel berpikir, apakah mungkin dia masih menyimpan perasaan lebih dari sekadar sayang? Masihkan ada tempat di hatinya untuk Amel walau sekecil apapun itu? Ada getaran di hati Amel, namun segera diredamnya sendiri, dia belum tau apa maksud Gun datang setelah dirasakannya hatinya terlanjur gersang.
“Sebenarnya,” kata Amel perlahan, “ ...sulit mengatakan aku adalah pemilih.Sebagai perempuan, aku adalah perempuan yang memiliki pendapat-pendapat sendiri. Otakku ini otak yang tak mau berhenti berpikir. Menurutku, jarang ada lelaki yang suka pada perempuan yang mempunyai pendapat terlalu banyak dalam rumah tangganya. Bagi sebagian besarsuami seorang istri yang mempunyai pendapat sendiri berarti pembangkangan, Hal ini aku lihat jugapada keluarga-keluarga lain pada umumnya, Umpamanya saja, tetangga sebvelah, Dia menceritakan bagaimana suaminya suka menamparbila dia punya pendapat sendiri yang tak sama dengan pendaPat suami.”
Ah, Gun jadi merasa tak enak hati. Namun dibiarkannya Amel mengeluarkan seluruh isi hatinya,
“Adakalanya perempuan berpikir,” lanjut Amel. “Mungkin akan jauh lebih baik kalau kita hidup sendirian. Tak usah mengurus suami, tak perlu memasak, tak perlu bangun untuk menyediakan kopi. Pokoknya bebas. Bebas dari segala pekerjaan rumah tangga yang tak kunjung selesai.’
“Keliru kalau kau punya pendapat seperti itu,”
“Mungkin yang kubutuhkan lebih, tapi....”
“Kau membutuhkan kehangatan, ketenteraman hati, kelembutam....”
Senja makin gelap. Hujan tak juga mau reda, malam kian merambat datang, Gun mulai menyumpah-nyumpah sambil menatap hujan yangtetap tercurah dari langit, Rencananya dia ingin menemui Henggar, kekasih yang berbulan-bulan tidak bisa ditemuinya akibat berpisahnya kota tempat mereka bekerja. Dan akhir-akhir ini betapa sulit dihubungi. Lokasi pekerjaan yang berejauhan membuat hubungan jadi terhambat. Setiap kali ditelepon< Henggartak pernah menyambutnya, Makin hari Gun makin curiga, tak ada jalan lain, selain datang ke kotanya yang kebetulan sama dengan tempat tinggal Amel.
“Hujaan terus. Kapan sih mau berhenti?” Gun mulai mengomel.
“Kemarin-kemarin ini semua orang berdoa minta hujan,” kata Amel yang tengah duduk membaca koran sore. “Sekarang sudah hujan, orang pada menggerutu. Memang manusia itu maunya macam-macam, Kadang malah tak tau diri,”
“Jadi buntu laku sih Mel!”
“Memangnya kalau kena hujan, jadi lumer ya Gun? Iya Gun, lumer?”
“Bukannya lumer, tapi dengan cuaca seperti ini gairahku jadi turun ke titik nol. Termasuk gairah untuk bertemu Henggar!”
“Cepatlah berangkat kalau begitu. Pakai saja mobilku.”
“Aku panggil taxi sajalah!”
“sesukamulah Gun.”
Singkat katam akhirnya Gun saampai di rumah Henggar. Lama dia menunggu pintu dibukakan kendati berkali=kali jemarinya memencet bel dipintu, Sementara tempias hujan mulai membasahi ujung celananya,
Akhirnya daun pintu terkuak.
“Oh kau....”
Di pintu, Henggarmenatap kaget. Mundur beberapa langkah ketika Gun nekat menyeruduk masuk.
“Aku kehujanan, Kau kaget ya? Mana Mama?”
“Ke Jakarta.”
“Semua?”
“ya.”
Ladalah! Dasar nasib lagi mujur. Hujan-hujan begini Cuma berdua sama pacar. Bukan main! Rejeki nomplok namanya. Tangannya terjulur hendak memeluk. Namun kebahagiaan itu mendadak musnah ketika dikejutkan oleh munculnya seseorangdari dalam. Seorang lelaki muda yang gagah dan tampan!
“Ada tamu siapa?” lelaki itu bertanya sambil memeluk pinggang Henggar,
Ragu, Hengga rmenjawab.
“Kawan lamaku.”
Gun merasakan telinganya berdenging, Kawan? Kawan lama, katanya? Sejak kapan aku jadi kawan lama?
“Gunadi,” Gun menyebutkan nama ketika bersalaman.
“Wang,” sahut lelaki itu,
Telapak tangan Gun gemetardan mendadadk berkeringat. Saat itupun dia mengerti. Melihat tindak tanduk dan sikap penerimaan Henggar yang dingin dan hambar, mendengarbagaimana cara dia memperkenalkan dirinya pada lelaki bernama Wang itu, bagi Gun itu sudah merupakan isyarat bahwa dirinya sudah ditendang diam-diam. Pantas saja tak ada waktu baginya untuk sekedarmenerima telepon. Alasannya sibuk. Inilah rupanya kesibukan itu. Gun menatapnya dengan hati sakit. Dirasakannya kesunyian tiba-tiba membentang diantara mereka. Dan Gunadilah yang pertama memecahkan kesunyian itu.
“Sorry bung, saya ingin bicara empat mata dengan nona ini.”
“Oh, silakan,”
Lelaki itu menyahut dengan lagak bajingan intelek.
“Saya rasa tidak apa-apa. Antara kami tidak adarahasia lagi, Bukankah begitu ‘yang’?” Wang menambahkan.
Henggar menunduk. Wajahnya pucat, Namun apa yang kemudian dia ucapkan justru membuat kulit wajah Gun jadi lebih pucat.
“Apa yang akan kau sampaikan?” Tanya Henggar datar.
Laki-laki muda bernama Wabf=g itu memandang enteng kearahnya, Dada Gun gemuruh. Lalu terdengar suaranya. Nadanya menakutkan bagi telinganya sendiri.
“Dia ini siapa?”
“Kau sudah mendengar tadi, Namanya Wang,”
Api berkoba rmembakar kepala Gun,
“Pacar kamu?” sergahnya.
“Dia baru menamatkan sudinya di Jerman, Dia....”
“Aku tidak perduli dia baru menamatkan studi di Jerman atau di hutan, yang kutanyakan dia ini pacar kamu atau bukan!”
“...yyya..”
“Dan aku ingin tau, siapakah ini?” Gun menunjuk dadanya sendiri.
“Apa maksudmu?”
“Benarkah aku kawan lamamu?”
“Kenapa kau tanyakan itu?”
Gun mencibir pahit, Akhirnya dia memutuskan.
“Baiklah. Baiklah. Sandiwara yang tidak lucu ini memang harus diakhiri. Basa=basi inipun sudah tak berguna lagi,”
Semua terdiam untuk beberapa saat, kemudian Gun menatap wajah wang dengan tajam.
“Baiklah bung, cintai dia dengan baik-baik.Dan bila kemiudian kau menemukan kata-kata cinta di ponsel miliknya anggap saja itu dari seseorang yang iseng2 belajar menuliskan kata-kata cinta. Tak perlu dirisaukan, Tak perlu cemburu,”
Kemudian Gun keluar, Hujan yang turun tak lagi dia rasakan. Dadanya panas. Pijar, Semakin dirasakan semakin dibayangkan semakin membara. Alangkah liciknya betina itu. Sebagai laki-laki dirinya sudah membatasi diri sedemikian rupa demi kesucian cinta. Padahal dia hidup dikota besarsemacam Jakarta yang selalu bergolak, kota yang tak pernah tidur, yang dengan gampang akan membawa lelaki-lelaki muda yang kesepian padasuatu jalan dimana nilai-nilai kesetiaan akan hancur digilas roda kehidupannya, Gun memang seorang laki-laki normal. Tetapi dia tetap menghormati arti kesetiaan didalam hidup. Dia menilai gadis miliknya terlalu tinggi, Menganggapnya bagaikan sebutir permata yang harus dijaga baik-baik keindahan dan keutuhannya. Harus dihormati Dn disetiKndengN SEPENUH HATI.
Ternyata dialah yang berkhianat. Padahal ketika terjadi penundaan perkawinan karena Gun merasa belum siap secarafinansiil, tak bisa dihitung sedu sedannya, Dan penundaan itu belum lagi satu tahun dan cinta itu sudah mati. Betapa waktu telah mampu merenggutkan cintadari hati manusia,
Gun terus berjalan. Diguyur hujan. Rambutnya basah kuyup. Berkali-kali tangannya menempiaskan hjan dari wajah, pakaiannya sudah sejak tadi basah, apa pedulinya? Hujan telah menyiram hatinya yang luka hingga terasa benar pedihnya. Berkali-kali dimaki orangkarena jalannya terlalu ke tengah. Apa pedulinya? Ketabrak mobil? Apa pedulinya? Yang jelas dia hanya basah, basah, basah. Namun Gun kaget sekali ketika menyadaribahwa matanya juga basah,
Oh!Gun kemali menyipratkan air dari wajah, Tubuhnya yang tadi dia rasakan cukup kuat untuk mengadu tinju, kini pelan-pelan kehilangann tenaga, Ia berjalan dengan gontai bagaikan serdadu kalah perang, Ia tau kini semuanya telah selesai.
Gila! Gun mengumpat sendirin lelaki yang kebetulan berpapasan dengannya dan kebetulan menatapnya sekejap. Ia tak peduli, Sungguh ia baru adaperempuan yang gila saat melihat laki-laki yang dianggapnya sukses, Melihat gelar yang didapat dari luar negeri, matanya jadi ijo! Melihat mobil mengkilat, matanya jadi ijo!. Melihat duit bertumpuk, matanya jadi ijo! Payaaah,,,payah, Tetapi bagaimana dengan Amel? Tanpa dia tau apa sebabnya wajah Amel-lah yang kemudian membawa langkahnya pulang.
Melinda ternyatabelum tidur ketika Gun naik ke beranda, Dia masih masih asyik menyelesaikan tulisannya di depan komputer bahkan pintu depan tidak dikunci, maka dengan leluasa Gun masuk. Berharap ada pertanyaan atau komentaryang dilontarkan saat melihatair hujan menetes dari ujung celananya ke lantai,. Namun ternyata Amel diam saya, bahkan seakan tidak terganggu sama sekali melihat Gun basah kuyup mengotori lantai rumahnya.
Dengan perasaan hampa Gun berjalan ke arah ruang tengah, berdiri tepat di depan Amel yang hanya menatapnya sekilas.
“Sedap ya, berhujan hujan sama pacar.” komentarnya tetap asyik menulis,
Gun teretawa pahit. Mengambil handuk dari rak dan mulai mengeringkan rambut, Tanpa semangat dia duduk didepan televisi yang masih menyala.
“Mel,” katanya pelan.
Amel menoleh. Matanya mengerjap indah, namun senyap,
“Apa,” sahutnya karena lama Gun terdiam.
“Kau belum mengantuk?”
Amel menggeleng.
“Tolong, kau punya obat sakit kepala?”
Gun meremas-remas rambutnya. Amel bangkit meninggalkan kursinya dan ketika kembali dia menyodorkan aspirim dan segelas air putih kepada Gun.
“Trims.”
Amel masih berdiri mengawasinya selagi dia minum obat.
“Tidurlah. Kau terlihat letih,” katanya.
Hati Gun terasa semakin pedih. Untuk beberapa saat dipejamkannya mata. Berusaha keras menyembunyikan kepedihan yang membasahi mata.
“Apa perlu kupijit?” tanya Amel khawatir,
“Tidak. Tak usah.” Jawab Gun cepat. “Duduk sajalah disini, aku ingin mengobrol denganmu,”
Amel duduk disebelahnya. Menggodanya, : “Kau genit sih, pakai hujan-hujanan segala.”
Gun teretawa tanpa suara.
“Kalau sakit lebih baik cepat tidur, ganti baju dulu.”
“Hatiku yang sakit, Mel.”
“Hatimu?”
“Ya.”
“Kenapa dengan hatimu?”
“Sakit.”
Amel tertawa.
“Sakit hati obatnya bukan aspirin, tolol!”
“Kepalaku juga sakit.”
Sunyi sekejap. Lalu,:
“Eh Mel....”
“Kenapa dengan pacarmu, sakitkah?”
“Dia berkhianat.”
“Berkhianat?”
“Ya.”
Kembali sunyi. Hanya suara hujan yang kian gemuruh disertai guruh dan petir, Alampun seakan marah sama marahnya dengan hati paling dasar yang dirasakan Gunadi.
“Mel, kenapa sih perempuan selalu silau oleh derajad dan kekayaan lelaki sehingga nilai-nilai kesetiaan harus jatuh dan dicampakkan bagaikan sampah?”
Melinda tidak menyahut, dia bahkan berdiri untuk mematikan televisi.
“He, mau kemana?” Gun menahan lengannya.
“Tivi itu dimatikan saja. Tak ada acara yang bagus, dan kau perlu segera istirahat.”
“Tidak usah, duduk sajalah disini.”
Amel kembali duduk. Namun hanya duduk saja tanpa ekspresi,
“Mel, berapa kali sudah kau patah hati?”
“Sudahlah Gun tak perlu lagi kau ributkan. Saat ini kau sedang emosional. Tak perlu kita perbincangan soal cinta dan patah hati, terlalu cengeng bagi kita, susia ini kau masih saja bingung soal itu.”
‘Patah hati,...” Gun tertawa sumbang. “Baru sekali ini kurasakan betapa pedihnya hati yang dilukai. Kurasakan bagaimana pijarnya dibakar cemburu Apa yang harus kukatakan? Rasa-rasanya aku sudah tak ingin memulai lagi. Perempuan! He Mel. Pernahkah kau begitu benci kepada lelaki hingga menyumpahi mereka? Apakah kau juga menganggap lelaki seperti... seperti racun< ular biludak< atau setan belang? O tidak. Tidak mungkin. Matamu begitu bening. Senyummu tulus. Tidak sedikitpun nampak kebencian di dalamnya. Tidak dendam. Tidak juga sakit hati. Kau tidak seperti itu. Mereka itu perempuan matrek< gila harta, gila pangkat. Lebih-lebih bila mereka merasa dirinya cantik. Kau juga cantik< apakah kau....”
“Gun, kau ini apa-apaan sih? Bicarangalor ngidul makin nggak keruan saja arahnya.”
“Ayolah Mel. Untuk apa kau tutup-tutupi semuanya dengan kemunafikan semu seperti ini? Kenapa?”
Amel diam tak mengacuhkannya. Dilipatnya tangan< berssidekap menahan dongkol di hati, orang ini, pikirnya. Ngomong apa sih dia?
“Mel...”
Amel berdiri. Berjalan masuk kekamar.
“Mel.”
Langkahnya terhenti.
“Mel,...” suara Gun melunak. “kau tidak sedang menunggu raja kapal, kan Mel?”
Amel menatapnya tanpa kedip. Dibawah cahaya lampu kedua mata beningnya berkilau, bibirnya bergetar . Gun melihat genangan dimata beningnya kian menggumpal. Perlahan dia mendekat dan dihapusnya cairan bening di pipi Amel. Sesuatu yang pernah hilang kini mendadak kembali memenuhi rongga dadanya. Mengisinya penuh. Begitu nyaman, begitu indah dirasakan. Gun meraih dan mengecup keningnya lembut. Dan ketika isak itu meluapkan kesedihan dari bibir Melinda, Gun merengkuhnya lebih dalam. Inilah cintanya, inilah kelembutan, inilah kehangatan yang selama ini lepas dari hati dan hidupnya . Amel merasakan dekapan Gunadi kian kuat, seakan-akan takut kehilangan sesuatu yang begitu berharga.. kecupan Gunadi pada keningnya sangat lembut. Ada kemudian yang berbaur dalam hati mereka. Cinta, kesetiaan dan airmata.
**********
Rabu, 06 Oktober 2010
SUATU HARI DALAM HIDUP SITA

EPISODE SATU
PERPUSTAKAAN FAKULTAS TEKNIK.
Perpustakaan terasa lebih sepi dari biasanya. Barangkali karena sedang musim liburan akhir semester, tak banyak dijumpai teman-teman sefakultas disini. Sutan membuka beberapa lembar buku tebal di hadapannya, namun….busyet! Tak satupun huruf masuk di kepalanya. Pada saat Sutan ingin segera pergi, seseorang masuk dan mendatangi mejanya.
“Hai!” sapa gadis itu melempar sejumput senyum.
Entah kenapa dada Sutan sedikit berdebar.
“Hai juga!” sahutnya.
“Boleh duduk di sini?”
Sutan menyingkirkan sebagian bukuku dari atas meja.
“Silakan. Ini kan milik umum,” tawa Sutan.
Gadis berambut panjang dan ikal itu duduk dengan manis. Bibirnya yang dipoles lipstik warna merah jambu tipis-tipis itu, tersenyum padanya, sama manisnya dengan tatapan mata yang diarahkannya tepat ke manik mata Sutan.
“Gimana kabar Syam?” tanya gadis itu.
“Syam?” Sutan mengerutkan kening. Mengapa pula gadis itu bertanya tentang Syam, abangku? pikirnya.
“Ya, Syam. Dia abang kamu kan?”
“Oh, Syam. Ya, ya. Dia itu abangku satu-satunya. Memang, kau kenal dengannya?”
Gadis itu tertawa.
“Jelas kenal dong,” ujarnya dalam tawa. “Dia itu kan….”
“Teman lama?” potong Sutan dengan gaya sok akrab.
“Lebih dari itu.”
“Sahabat?”
Gadis itu melebarkan tawa. Oh, betapa tololnya aku, pikir Sutan. Menebak dua kali, dua-duanya salah pula! Pastilah gadis itu tertawa karena dia adalah…
“Kami berpacaran sejak sebulan yang lalu,” katanya.
Ya Tuhan! Begitu, ya?
Sutan menggaruk kepala yang tidak gatal.
Betapa lucunya saat dia mengakui bahwa Syam adalah pacarnya. Sungguh, apakah dia yang keterlaluan, ataukah aku yang bodoh? Siapa di dunia ini yang tidak tau bahwa Syam adalah play boy kampung? MasyaAllah! Naifnya gadis ini…pikir Sutan.
“Oh, sori, …” kata Sutan kemudian, seraya memperbaiki posisi duduk agar lebih tegak.
“Nggak apa-apa. Kami juga baru saja kok. Pastinya Syam belum bilang apa-apa padamu tentang aku, kan?”
“Oh,…aku bahkan belum tau namamu.”
”Namaku Sita.”
Dia mengulurkan tangan, Sutan menyambutnya dengan sebuah genggaman erat yang cukup kuat. Ada setitik kemarahan menodai perasaan Sutan yang sebenarnya telah sejak awal tadi mengagumi parasnya. Gadis itu mirip seekor angsa yang manis, tapi kenapa mendadak Sutan benci sekali saat dia mengakui Syam sebagai pacarnya? Syam yang angkuh, arogan, kasar dan …cilakanya, banyak diminati para gadis! Sutann merasa, dirinya yang selalu penuh hormat pada orang lain, lembut dan baik hati kata teman-temannya, dan pandai di kelas kata dosen, alangkah sulit memiliki satu saja penggemar seorang gadis secantik angsa.
“Aku Sutann,” Sutann membiarkan dia menarik tangan dari genggamanku. Sakit, rupanya!
“Kau juga kuliah di sini?” tanya Sita.
“Ya.”
“Ambil Mipa juga?”
Oh, rupanya dia sudah tau, Syam kuliah di Mipa.
“Aku di Arsitektur.”
Sita kembali tersenyum manis dan lembut. Seakan-akan senyumnya itu terbuat dari agar-agar.
“Kau sendiri, kuliah dimana?”
“Aku masih di SMU, namun aku juga menulis.”
“Menulis?”
Kepalanya yang cantik, mengangguk lucu.
“Kau…seorang jurnalis juga?” tanya Sutan mulai dirambati rasa kagum. Gadis sekecil itu, sudah bisa menjadi seorang jurnalis? Pikir Sutan
“Bukan. Aku penulis cerita fiksi.”
“Fiksi?”
Oh betapa tololnya aku, pikir Sutan. Selalu mengulang perkataannya, mirip seekor burung beo!
“Aku menulis novel.”
“Wah…hebat. Sudah pernah diterbitkan?”
“Lumayan, ada beberapa yang sudah dipublikasikan, di majalah atau di Koran.”
“Kau hebat.”
“Apa yang hebat. Lebih hebat kalian, anak-anak eksak yang pandai dan…mmmm…ganteng.”
Sutan tertawa.
“Maksudmu, …Syam?”
“Bukan hanya Syam. Tapi ternyata dia juga punya adik yang ganteng kayak kamu.”
Terus terang Sutan jadi kepengen ngakak.
“Ala…jangan berbasa-basi deh!” kata Sutan geli.
“Enggak. Aku serius. Kaupun ganteng, sama seperti Syam. Hanya saja…mmmm…apa ya?”
Sutan mengerutkan kening menyaksikan Sita mempermainkan bibirnya sambil senyum-senyum.
“Hanya saja….Apa?” tanya Sutan tak sabar.
“Sori ya, sebagai cowok kau terlalu tampan.”
“Apa sih maksudmu dengan ‘terlalu tampan’? Apa aku mirip perempuan, gitu?”
“Nggaklah! Kau terlalu tampan. Itu saja.”
“Ah, lucu!”
“Apa yang lucu?”
“Kata-katamu itu, kata-kata bersayap.”
“Maksudmu?”
“Ya seperti kelelawar gitu…bersayap. Bersayap….terbang kemana-mana.”
Sita tertawa. Renyah sekali tawa gadis itu. Giginya nampak semua, putih dan amat rata. Kedua matanya menyipit, terdesak oleh pipi yang menyembul ke atas karena tawa besarnya itu. Andai saja dia belum jadian dengan Syam….
“Kau boleh menertawakan aku,” kata Sita setelah tawa kami reda.
Sutan hanya tersenyum, membiarkan gadis itu melanjutkan kalimatnya.
“Karena aku sudah terbiasa ditertawakan orang. Setiap kali aku mengaku bahwa diriku adalah seorang pengarang cerita, mereka akan selalu tertawa. Mereka bilang, profesi yang tengah kutekuni ini bukan pekerjaan, tetapi pengkhayalan. Padahal, bukankah menulis sebuah cerita, bagaimanapun jeleknya, juga membutuhkan tenaga, pikiran dan financial? “
Sutan meringis mendengar kata-katanya. Bagi Sutan yang tak paham soal tulis menulis,, menulis adalah….apa ya? Mnulis novel! Ah, sulit membayangkan bagaimana proses kreatifitasnya. Bukan bidangnya sih! Namun adalah sebuah kenyataan bahwa gadis muda nan cantik itu adalah seorang penulis. Seorang novelis! Kayaknya menarik berpacaran dengan seorang novelis. Pastilah dia amat romantis.
“Tapi sungguh, aku menghargai semua profesi. Termasuk profesi seperti yang kau jalani.” Kata Sutan sekenanya.
Keningnya terjungkit ke atas.
“Oh ya?”
“Akupun sebenarnya pecinta seni. Kalau tidak punya rasa seni, mana mungkin bisa betah di teknik arsitektur?”
“Tetapi seorang arsitek bukankah lebih membanggakan?”
“ Menurutku, semua profesi sama saja membanggakannya, asalkan benar-benar ditekuni dengan sepantasnya.Sejujurnya, apa kau sakit hati karena orang memandang sebelah mata profesimu?”
“Oh, tidak. Tidak samasekali. Untuk apa sakit hati? Adalah menjadi hak semua orang untuk tidak menyukai profesi orang lain. Semua orang bebas berpendapat mengenai pekerjaan orang lain. Terserah saja. Yang penting aku merasa happy berada dalam ranah kepenulisan, dan menjadikannya bagian dari jiwaku, …bagiku, it’s okay.”
“Kau bertekat menjadikannya bagian dari jiwamu, artinya kau akan menulis sampai tua?”
“Kalau bisa sampai mati. Tetapi masa-masa produktif seseorang tidak sama. Siapa tau, nanti aku kehilangan rasa dan tak bisa menulis lagi? Maka aku akan mengisi masa-masa dimana aku masih produktif dengan terus menerus membuahkan karya-karya yang diminati pembacaku.”
“Selain menulis, apa yang kau lakukan?”
“Banyak.”
“Apa?”
“Makan, tidur,, mandi, be’ol….” Sita tertawa ngakak.
“Hahaha…” Sutan tertawa terbahak-bahak.
“Tapi kadang aku juga mewawancarai orang,” potong Sita meredam tawaku.
“Kalau begitu kau sudah melanggar garis batas, bukankah itu sudah termasuk ranah jurnalis?”
“Bisa, bisa. Toh kadang-kadang menyenangkan mendatangi seorang tokoh masyarakat lalu bertemu dalam suatu tempat yang menarik, di taman misalnya, atau di pantai, atau di lobby kantor mereka.”
“Menarik dong!”
“Ya, menyenangkan juga sih.”
“Tentu menyenangkan cara hidup seperti itu. Bebas melakukan apa saja, bebas terbang kemana-mana.
Tanpa ikatan, tanpa target. Kalaupun boleh aku tau, sebagai wartawan , bidang apa yang kau jadikan sasaran?”
“Budaya.”
Sutan mengangguk-angguk.
“Tadi,.. begitu masuk, kau segera mengenaliku sebagai adiknya Syam. Bagaimana bisa?”
“Semua orang akan tau, karena kau amat mirip dengannya.”
“Cuma karena mirip?”
“Syam juga pernah bercerita tentang dirimu.”
“Apa katanya?”
“Bahwa dia amat bangga padamu. Kau hebat, katanya.”
“Dia bohong. Aku tidak ada apa-apanya dibanding dia. Dialah yang hebat. Syam membesarkanku setelah kedua orangtua kami pergi. Dia yang memberiku makan, minum, …semuanya!””
“Bisa juga karena itu aku menyukainya.”
“Semoga kau tidak salah memilih orang, Sita.”
Sita meraih tasnya, kemudian berdiri.
“Mau kemana?” tanyaku.
“Syam. Aku janji menemuinya di bengkel.”
“Oh.”
Rupanya Sita juga sudah tau selain kuliah di Mipa,Syam juga bekerja di bengkel mobil milik Abah Umar. Sebenarnya, seberapa jauh mereka saling mengenal? Satu bulan berpacaran, kata Sita. Tetapi Sutan yakin mereka saling kenal sudah lebih dari itu. Dan selama ini Syam tidak pernah bercerita tetang Sita. Tak seperti biasanya, kali ini Sita seperti disembunyikannya.
“Yuk ah! Senang bisa ngobrol denganmu.”
“Senang juga bisa mengenalmu, Sita.”
Sita tersenyum, meninggalkan Sutan dalam keadaan ngilu di hati. Entah, apa yang membuatku ngilu. Yang jelas Sutan tak ingin Sita mengalami sesuatu yang menyakitkan berdekatan dengan Syam! Sebab dari semua orang di dunia ini, Sutanlah yang paling tau siapa Syam, dan bagaimana Syam…!
DI RUMAH KOS.
Syam menyedot rokoknya dalam-dalam. Sambil berbaring di dipan, dia menatap Sutan dari balik kepulan asap tipis yang dihembuskannya lewat mulut.
“Jadi kau sudah bertemu dengan Sita?” tanya Syam datar.
“Ya. Dia yang mendatangiku. Bagaimana bisa dia tau aku kuliah di Arsitektur? Kau yang bilang padanya?”
“Aku pernah bercerita tentangmu ke dia. Bagaimana menurutmu, dia cantik, kan?”
Sutan cuma tertawa kecil. Tak ada keinginannya untuk menyatakan pendapat tentang Sita.
“Ayahnya sudah meninggal,” kata Syam lagi sambil menjentikkan abu rokok ke lantai. Satu hal yang paling tak disukai Sutan adalah caranya mengotori lantai dengan abu rokok.
“Ibunya bekerja sama dengan salah satu kawan ayahnya. Namanya Alex. Sangat kaya. Dia punya pabrik emas di Rungkut Industri. Dia juga punya toko emas di TP Tiga.” Lanjut Syam tetap asyik dengan batang rokoknya.
Sudah kuduga! Pikir Sutan.
Kedekatannya dengan Sita, sepertihalnya kedekatannya dengan gadis-gadis lain, adalah selalu punya kaitan dengan harta dan kekayaan. Maunya apa sih, dia?
Syam tersenyum. Sepasang matanya menerawang ke langit-langit kamar.
“Seandainya kita bisa sekaya Alex!” ujarnya penuh makna.
“Apa maksudmu?” tanya Sutan tak suka.
Syam mengalihkan pandang ke arahnya..
“Kau tak ingin jadi orang kaya seperti Alex itu?”
“Aku mau.”
“Nah. Itu dia!”
“Tapi dengan cara halal, Bang! Bukan dengan cara seperti yang sedang Abang pikirkan saat ini.”
Syam tertawa keras. Sutan tau, dia bahkan merasa, bahwa Syam sudah mulai tersinggung.
“Apa kau tau yang sedang aku pikirkan, hah? Kau tau?”
“Aku bisa merasakannya.”
“Sok tau! Anak kecil tau apa kau tentang semrawutnya hidup. Cari duit yang banyak, itu penting, Sutann. Kita kan butuh makan, butuh tidur nyaman, nggak kepanasan, nggak kehujanan. Kau pikir, darimata kau dapatkan motor kau itu? Dari langit?”
“Aku tau itu semua Abang yang berikan, tetapi kalau dengan cara yang tidak benar, bagaimana aku bisa diam, Bang?”
Syam kembali menghisap rokok kreteknya dalam-dalam.
“Sejak orangtua kita pergi menelantarkan kita berdua di tengah pasar, aku sudah bersumpah kepada dunia ini, bahwa akulah yang akan menjagamu. Memberimu kehidupan yang layak dan pendidikan yang bagus. Namun setelah kita hidup sekian tahun, kurasakan betapa sulitnya hidup di kota besar seperti ini. Mencari yang haram saja susah, apalagi yang halal!”
“Masya Allah, Bang!”
Perih kedua mata Sutan mendengar semua yang dikatakan Syam. Pedih dan sakit pula jantung Sutan bagaikan ditusuk seribu jarum.
“Maafkan aku kalau selama ini telah membuat Abang susah.”
“Hm.”
“Bagaimana kalau aku ikut Abang kerja di bengkel Abah Umar saja?”
Syam menoleh. Matanya menyipit saat menatapku. Terlihat dia tengah berpikir keras. Setelah lama tak menyahut, akhirnya dia mengangguk.
“Kau mau?” tanyanya.
“Kalau ada tempat di sana, aku mau Bang.”
“Ada. Selalu ada tempat di bengkel. Kami memang tengah kekurangan tenaga. Kau mengerti mesin?”
“Sedikit-sedikit taulah, Bang. Kan Abang yang ngajarin .”
“Oke. Deal!”
Kami bersalaman.
“Kau bisa kerja setelah kuliah. Sore, sampai malam kalau bisa.”
“Bisa, bisa. Makasih, Bang.”
“Yap.”
TEMPAT PARKIR MOTOR FAKULTAS TEKNIK.
Siang-siang Sutan sudah harus pulang. Menurut kesepakatannya dengan bang Syam, hari ini Sutan sudah bisa mulai kerja di bengkel mobil Abah Umar. Kemarin tak ada sekalipun k mereka membicarakan soal gaji. Selama ini Sutan percaya saja pada apa kata bang Syam. Karena bagi Sutan dialah suluh bagi kehidupannya. Mati dan hidupnya seakan tergantung pada tali yang dipegang Syam, ditarik, diulur, terserah pada maunya saja. Itu mungkin, yang membuat teman-temannya mengatakan betapa bego’nya Sutan, yang mau dan mandah saja abang satu-satunya itu mengatur hidupnya.
Ya, Sutan memang selalu menurut saja pada Syam. Siapa yang mau memberiku makan, minum, dan uang SPP kalau tiba-tiba aku memberontak dan menentangnya? pikir Sutan selalu. Sejak dari ingusan, sampai bisa naik motor begini, siapa yang mengajarkannya? Dari cuma makan nasi bungkus, hingga bisa menikmati spaghetti, siapa yang memberikan uangnya? Semua orang di dunia ini bisa saja mengatai Sutann sebagai apa saja, seperti monyetlah, bego’lah, atau apapun. Bahkan ada yang bilang ‘banci loe’! Oho…terserah saja. Sutan bisa cuek. Bisa menutup telinga dan mata, meski terkadang ---terkadang saja-- dia punya pemikiran yang bertentangan dengan abangnya. Namun segala macam perbedaan pendapat atau apapun itu namanya, segera saja bisa disingkirkan begitu Sutan ingat bahwa dialah satu-satunya saudara yang lebih dari sekadar pengganti orangtua. Jelas, bagi Sutan. Bahwa dirinya bukanlah seseorang yang lupa kacang pada kulitnya. Dirinya bukan seseorang yang tidak bisa membalas budi. Maka dengan sepenuh hati, dia serahkan hidup dan matinya untuk bang Syam.
Sutan naik ke atas motor, mengenakan helm ..dan siap menghidupkan mesin tatkala Rio, teman sefakultas Syam juga sedang mendorong motornya keluar dari areal parkir.
“Hai Sutann!” sapanya.
“Siang bang Rio! Pulangkah?”
“Ya, mau apa lagi? Sepi di sini. Kau?”
“Ya pulang juga sih, Cuma tidak terus ke rumah.”
“Mau kemana lagi, ke rumah pacar?”
Sutan tertawa lebar.
“Mana ada sih Bang, yang mau sama aku?”
“Hooo…selalu saja nggak pe-de kau ‘ni. Kenapa? Kau tak seperti Syam. Kau terlihat halus, lembut, kayak agar-agar.”
“Itulah yang membuatku tak laku.”
“Bisa juga begitu. Eh, tapi sudah lama Syam tidak masuk kuliah. Kemana dia? Kerja?”
Beberapa saat Sutan susah menelan ludah. Dilepaskannya helm dari kepala. Rambutnya yang agak gondrong dan ikal, terburai begitu saja layaknya rerumputan tertiup angin kencang.
“Apa katamu, Bang?”
“Sudah tulikah kau, Sutann? Abangmu itu sudah satu semester ini nggak nampak batang hidungnya di kampus. Aku sendiri heran, kemana saja anak itu ya? Kudengar dia kerja di sebuah bengkel mobil. Apa kau tidak tau bahwa sudah lama dia tidak kuliah?”
“Yang aku tau, memang bang Syam bekerja di bengkel. Akupun mulai harini mau kerja juga Bang. Separuh hari saja. Tapi kalau bang Syam tidak kuliah lagi…mana aku tau?”
Rio menstarter motor sambil tertawa.
“Nah, sekaranglah kau tau, Sutann. Bilang padanya, suruh kuliah. Sayang kan, orang seperti abangmu itu harus mandeg kuliah?”
“Ya, ya. Akan kusampaikan kepada bang Syam.”
“Sampaikan juga salamku. Yuk, aku duluan Sutann!”
“Ya, Bang.”
Lama setelah bayangan Rio menghilang, Sutan masih saja terhenyak di parkiran motor. Rasanya tak percaya, mana mungkin bang Syam mandeg dari kuliahnya? Bagaimana mungkin? Mendadak saja Sutan merasa, abangnya itu sedang tenggelam dalam kesulitan ekonomi. Sedang sudah mencari uang untuk mengongkosi kuliah mereka berdua. Lantas dialah yang mengalah, tidak kuliah, Abangnya itu memilih kerja saja dari pagi sampai sore. Ah! Sungguh durhaka aku kalau diam saja membiarkan dia tenggelam dalam kerja dan kerja melulu demi aku, demi kelangsungan hidup kami, demi kesejahteraan dan berharap dengan begitu bisa menyelesaikan semua hutang kredit atas motor-motor kami. Sutan merasa dadanya sesak.
Seperti kalap, Sutan menghidupkan mesin motor, dan meraung keluar dari halaman kampus. Lalu lintas yang amat padat tak lagi dihiraukan. Motornya melaju bagai alap-alap. Membuat beberapa pengguna jalan terpaksa minggir dan bahkan melontarkan caci maki atas kelakuannya. Masa bodoh! Yang ada dalam benaknya hanya ingin secepatnya bertem Syam dan bertanya mengapa harus begini kejadiannya.
Hampir tiga-perempat jam dia di jalan, sampailah di depan bengkel mobil nan mewah milik Haji Umar yang biasa mereka panggil Abah. Motor dimatikan. Sutann melompat turun sambil melepas helm. Dilihatnya Syam tersenyum. Bibirnya yang membentuk garis tipis dan matanya yang setajam rajawali terlihat lebih ramah saat melihatadik semata wayangnya itu berjalan ke arahnya.
“Gimana, kau siap bekerja?” tanya Syam begitu Sutan berdiri di depannya.
“Tadi aku bertemu Rio,” jawab Sutan tanpa prolog.
“Rio?”
Syam seperti berpikir sejenak. Lantas tertawa sambil melanjutkan kalimat, :
“Oh…Rio yang itu?”
“Dia titip salam sama Abang.”
“Walaikumsalam, kuterima salamnya.”
Bang Syam berbalik dan berjalan lebih ke dalam bengkel, meninggalkan Sutan begitu saja. Seakan tak ingin lagi mendengar cerita tentang Rio.
“Bang!” Sutan memanggilnya agar kembali.
Saym berhenti, berbalik dan menatap adiknya dengan mata menyipit.
“Tadi Rio bilang, Abang sudah lama nggak ke kampus.” Lanjut Sutan.
Syam tidak memberikan reaksi apa-apa. Tetap saja menatap adiknya dengan menyipitkan kedua matan, seakan orang yang silau menatap matahari.
“Apa benar, Abang lama nggak kuliah?” desak Sutan lagi.
Bibir Syam mengembang, tersenyum tipis.
“Ya,” jawabnya pendek.
“Kenapa, Bang?”
“Kenapa? Kenapa tanyamu? Hehehe…kau ‘ni! Kadang pandai, tapi kadang keterlaluan juga bodohnya.”
“Aku tanya, kenapa Abang nggak kuliah lagi?”
“ Siapa bilang aku sudah nggak kuliah lagi. Aku masih kuliah.”
“Tapi kata Rio…”
“Ah dia tuh, tau apa? Aku mengajukan cuti selama setahun. Memang kenapa?”
“Betul, Abang memang cuma cuti? Nggak berhenti kuliah?”
Syam berbalik, meninggalkan Sutan menuju ke arah mobil yang tengah dibuka kap mesinnya oleh seorang temannya. Acuh tak acuh dia bilang pada Sutan,:
“Kau bisa mulai kerja dengan membantu Tarjo. Sini! Biar kau juga bisa sekalian belajar padanya. Jo’, itu adikku. Namanya Sutan. Tolong kau ajari dia soal mesin. Aku mau ke Bank bersama Abah,”
Tarjo, menyalami Sutan. Dalam sekejab saja mereka sudah mulai terlihat akrab.
Sungguh Sutan jadi benar-benar salah tingkah. Di bengkel, dia lihat Syam seakan bukan lagi abang, tetapi boss. Sama seperti kepada Tarjo, sikapnya jadi lebih keras dan dingin. Mukanya tak lagi ramah seperti pada saat Sutan datang pertama kali, namun wajah itu seakan topeng, yang tak pernah terlihat berekspresi, datar saja bagaikan kaca. Dingin dan seakan-akan sulit diterka. Kadangkala Sutan mencuri-curi pandang, namun tak sekalipun dia menoleh kepada Sutan. Hingga sore, saat Syam pulang, tak juga terucap kata apa-apa. Dia hanya bilang,:
“Sutan, kau kerja sampai jam sembilan. Sesudah itu kau dan Tarjo menutup semua pintu, menggemboknya, dan menyerahkan semua kunci kepada Abah di rumahnya, di belakang bengkel. Tarjo akan memperkenalkanmu pada Abah. Tadi sudah kuberitaukan bahwa kau adalah adikku. Jadi baik-baiklah kau jaga perilakumu.”
Lalu kepada Tarjo, Syam berkata pula nyaris sama dengan kalimat-kalimat yang diutarakannya pada Sutan.
“Jo’, selesai menutup bengkel, antarkan Sutan ke rumah Abah.”
“Ya, Pak,” kata Tarjo.
“Sutan?”
Sutan mengangguk kaku.
“Ya,…Bang.”
“Oke, semua jadi tanggungjawab kalian sekarang. Kau dan Tarjo. Besok pagi kau datang lebih pagi, Jo’. Awas kalau terlambat lagi!”
“Beres, Pak.” Sahut Tarjo.
Hanya itu, Syam kemudian pergi. Suara motornya masih terdengar, tetapi makin lama semakin jauh.
“Aku baru tau, pak Syam punya adik,” kata Tarjo. “…Sampeyan juga kuliah to, Mas.” sambungnya.
“Iya.”
“Dimana?”
“Sama dengan Bang Syam. Di Fakultas teknik.”
“Oh, jadi pak Syam itu juga kuliah to? Ck…ck…ck…tidak kelihatan bahwa dia seorang mahasiswa. Penampilannya sudah sangat mantap, mapan, seperti layaknya bapak-bapak.”
Sutan tertawa dalam hati. Namun dengan tetap membisu dia membereskan semua peralatan dan memasukkannya ke dalam kotak perkakas.
“Jangan semua diberesin, Mas,” kata Tarjo “Kita kan belum selesai. Ini mobil bu Hasyim, belum selesai. Kita harapkan besok sore sudah bisa diambil, Mas.”
“Oh ya, maaf.”
Tarjo tertawa lepas.
“Ndak apa-apa, Mas Sutann kan belum terbiasa kerja di sini. Nanti pelan-pelan juga biasa. Yuk, mas. Sini! Kita benahi kabel-kabel mesinnya ini.”
Kami bekerja tanpa banyak bicara hingga jam sembilan malam. Kemudian bersama-sama pula kami menutup bengkel. Menyerahkan semua kunci ke bagian belakang bengkel, rumah Abah Umar. Sayangnya, Abah tengah tafakur di mushallanya.
“Mas Sutan mau makan dulu, atau terus pulang?” tanya Tarjo sambil mendorong motor keluar.
“Saya terus pulang saja, mas Tarjo.”
“ Nggak makan dulu? Saya biasanya makan di warung depan situ loh, Mas. Rawon setannya enak. Pedas! Lagian malam-malam begini makan yang hangat, nikmat juga loh Mas.”
Sutan tertawa sambil menepuk pundak Tarjo.
“Terimakasih. Saya pulang saja. Capek. Belum terbiasa membongkok-bongkok ke bawah mobil, sih.”
Tarjo tertawa semakin lebar. Pemuda ini memang terlihat baik, dan rasanya Sutan bisa segera menyukainya. Akhirnya mereka berpisah. Tarjo menyeberang jalan, sementara Sutan terus melaju ke rumah kos yang selama ini ditinggalinya bersama Syam. Hari ini rasanya merupakan hari terpanjang dalam hidupnya. Tak bisa dia membayangkan, apakah seperti ini hari hari yang selama ini dijalani abangnya Syam? Baru dia sadar, beginilah susahnya mencari uang. Ya Allah,…dihelanya napas dalam-dalam. Kasihan kau Bang,…kasihan kau.
BENGKEL ABAH UMAR
Pukul satu siang.
Siang terasa menyengat. Keringat mengucur deras, namun kerja harus terus berlanjut. Menjelang sore, Syam baru datang ke bengkel. Tarjo bilang, sudah sejak pagi Syam keluar, kebetulan Abah Umar tengah pergi ke luar kota.
“Jadi beginikah kalau Abah nggak ada?” tanya Sutan sambil lalu pada Tarjo.
“Maksud sampeyan pak Syam? Mungkin karena Abah sudah amat percaya pada pak Syam, maka seluruh urusan diserahkannya padanya. “ sahut Tarjo panjang lebar.
“Justru kalau sudah dipercaya, menurut aku nggak bisa seperti ini, Mas.”
“Apa mas Sutan juga tau, bahwa bengkel ini bisa seperti ini karena pak Syam?”
“Dia yang membuatnya jadi besar. Begitu maksud mas Tarjo?”
“Yah, begitulah. Pak Syam yang jadi boss disini. Abah sih, tau beresnya saja Mas. Bahkan sepagi tadi, pak Syam mudah saja membawa mobil pak Hardono yang tengah diservis di sini. Saya sih, ndak bisa bilang apa-apa, Mas. Abah sendiri tidak berkomentar, masa saya harus begini begitu sama pak Syam?”
Sutan terdiam. Keningnya berkerut, berpikir lama, naumun ujung-ujungnya jadi buntu. Tak tau harus bilang apa lagi. Lama setelah mereka saling terdiam, Sutan bertanya pada Tarjo.
“Pernah, nggak. Ada tamu yang mencari bang Syam kemari, Mas?”
“Banyak, mas.”
“Maksud saya, seorang gadis cantik berambut panjang.”
“Gadis cantik berambut panjang? Apa yang selalu mengenakan seragam sekolah itu?”
“Ya, ya.”
“Oooh, yang itu. Setau saya sering. Bahkan kalau datang selalu pada waktu makan siang, mereka lantas keluar. Balik lagi sekitar jam dua. Siapa dia, mas? Apa Mas Sutan mengenalnya?”
“Gadis itu bernama Sita. Pacar bang Syam.”
Tarjo melebarkan senyum.
“Mereka itu sangat serasi, Mas. Kayaknya,…mesra sekali.”
“Apakah begitu menurut pendapat sampeyan?”
“Malah Abah juga suka pada gadis supel itu.”
Sutan mengelap tangan yang berlepotan oli dengan lap.
“Saya juga menyukainya.”
“Mas Sutan juga mencintainya?”
“Suka, bukan cinta.”
“Oh.”
Tarjo tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepala.
“Pak Syam itu orang hebat,” katanya kemudian.
Sutan terdiam lama. Tangannya kini semakin trampil membetulkan segala sesuatu yang rusak dalam bongkahan mesin di depannya. Kini seakan makin cepat dan trampil pula setelah tau bahwa gadis itu sering menjemput Syam. Namun, kenapa mendadak ada rasa tak nyaman dalam hati Sutan? Kenapa ada debaran jantung yang lebih cepat? Cilaka kalau tiba-tiba dia juga jatuh cinta pada gadis itu! My God! Sutan mengeluh dalam hati dengan dada kian berdebar. Jangan biarkan hati ini tumbuh makin kuat ingin merengkuhnya. Jangan biarkan aku jatuh cinta pada Sita!
Apa yang Sutan takutkan akhirnya terjadi. Pada sekitar jam dua siang Syam datang ke bengkel bersama Sita. Memang benar kata Tarjo, mereka datang mengendarai mobil mewah milik salah satu pelanggan bengkel, yang tak bakal terbayangkan dalam benakku berapa ratus juta harganya. Kabarnya pula, pemilik mobil itu adalah seorang pejabat tinggi di kota ini.
Sutan jadi gerah saat Sita berjalan ke arahnya.
“Halo, Sutan!” suara Sita terasa sebening telaga. “Apa kabar?”
Sutan tersenyum kaku. Wajahnya malah terlihat seperti orang meringis kesakitan.
“Kau tinggalkan Tracker Drafting Machine hanya untuk membiarkan tanganmu berlepotan oli?” sambung gadis itu sambil memegang tangannya, membalikkan telapak tangan Sutan dan mengelapnya dengan kertas tissue.
“Seorang arsitek tak boleh kotor begini, Sutan. Lebih baik kau merancang saja gedung-gedung daripada membolak balik onderdil mobil,” lanjut Sita.
Syam menyulut sebatang rokok. Mematikan batang kayu korek api dengan sekali kibas. Matanya tajam di balik asap rokok yang mengepul deras. Sutan segera menjauhi Sita, berpura-pura membereskan peralatan. Demi Tuhan, dia tau bahasa tubuh Syam bila tak suka pada sesuatu. Dan kini, dia pasti sedang tak suka melihat Sita bersikap sedikit mesra pada Sutan
“Jangan salah,” kata Syam kemudian. “Seorang arsitek tak hanya merancang gedung-gedung, dia juga bisa merancang model terbaru Mitzubishi!”
“Oh ya?” mata indah itu membelalak.
“Dia akan cepat selesai kuliah, dan lihat saja, aku akan segera mengirimnya ke Jepang.” Kata Syam lagi.
Sita mendekati Syam, bertolak pinggang di depannya sambil mencibir.
“Hmmm….sombong!” katanya. “Dari mana kau dapatkan uang untuk menyekolahkannya ke Jepang?”
“Itu urusan nanti, yang penting niatnya dulu.”
“Niat terus sampai tua?”
“jangan merendahkan aku, Sita. Kau tak pernah tau isi kepalaku, kan?”
“Apa?”
“Rahasia.”
“Asalkan bukan rencana jahat saja, Syam!”
“Semua yang ada di kepalaku adalah jahat. Termasuk keinginanku untuk menjahatimu!”
“Idih!”
Syam meraih pinggang Sita dan secepat sambaran kilat, dia menancapkan bibirnya ke bibir Sita. Menggilasnya dan menekankan bibir manis itu kuat-kuat ke bibirnya. Sita menggeliat, Syam makin ganas meremas dadanya yang kecil. Mereka itu serupa dua ekor lintah yang saling pagut dan saling menggigit.
Sutan hampir pingsan menyaksikannya. Peluh dingin mengaliri punggungnya. Dilihatnya di sudut sana, Tarjo berpaling muka. Ya Tuhan! Ampuni aku. Dan Sutan benar-benar marah pada ketiadaan daya dalam dirinya untuk mencegah semuanya terjadi begitu saja di depan matanya. Tangannya gemetar saat memegang ember, dan ember itupun jatuh bergedombrangan, memisahkan mereka yang sedang berpagut ria.
“Oh, maaf…” Sutan gemetar berdiri sambil membuang muka ke luar.
Syam menghapus bibir, Sita berusaha menutup kancing blus yang terbuka sebagian.
Lelaki tinggi besar dan kekar itu segera menyeret Sita masuk ke dalam kantoran yang hanya dipisahlan selapis kaca bening dari ruang bengkel. Di sana dia merebahkan tubuh gadis itu dengan kasar ke sofa dan menindihnya. Jeritan jeritan kecil Sita segera tenggelam dalam busa asmara yang amat kotor dimata Sutan. Sutan meludah, bergegas keluar dan mengendarai motornya menghilang entah kemana. Meninggalkan Tarjo yang berdiri kaku bak patung Sudirman di depan pintu pagar. Sutan tak bisa membayangkan, bagaimana kalau Abah tau kantor bengkelnya dikotori oleh perbuatan mesum karyawan kepercayaannya? Mungkin saja Haji yang sudah berusia enampuluh tahun itu langsung stroke karena serangan jantung. Atau bahkan bisa meninggal sekalian.
Di tikungan jalan ada sebuah rumah makan. Kesanalah ASutan menuju. Distandardnya motor, melepas helm dan mengaitkannya pada kaca spion. Rambutnya yang ikal disisirnya dengan jemari, lalu dipesannya es campur . Saat ditawarkan nasi, pemuda itu menggeleng. Tak ada lagi nafsu makannya siang itu. Ludes sudah oleh bayangan yang menggantung di pelupuk mata.
Sambil mengaduk-aduk es campur dalam gelas besar Sutan terus berpikir. Apa yang terjadi sekarang di kantor Abah Umar? Apakah Syam sudah berhasil memerawani gadis itu, atau…memang gadis itu sudah tidak virgin lagi sejak awal? Kalau saja Sita adalah gadis baik-baik, pastilah takkan terjadi perilaku mereka semacam itu. Apalagi dilakukan di tempat yang tidak tepat, dan persis di depan mata karyawan lain. Betapa bedebahnya mereka, pikir Sutan. Masihkah hal yang seperti itu bisa ditolerir? Masihkan bisa dirinya mengakui bahwa Syam, abangnya, adalah satu-satunya panutan baginya?
Sutan meletakkan sendok es. Gelas yang masih utuh isinya itu cuma dipandanginya tanpa kedip. Bibirnya terkatup keras. Keningnya saling bertemu. Dan keringatnya jatuh serupa pipilan jagung.
Sutan berdiri. Meletakkan lembaran uang di meja, kemudian pergi. Motornya meraung-raung sesaat sebelum melaju kembali ke bengkel. Dilihatnya Sita dan Syam sedang bersenda gurau di bengkel. Tak ada tanda-tanda pergumulan. Mereka terlihat baik-baik saja dan tetap rapi seperti semula.
“Hei Sutan! Ayo kita keluar sebentar!” kata Syam setengah berteriak ketika Sutan memarkir motor di depan bengkel.
Sutan diam saja.
“Kita mengantar Sita pulang,” kata Syam lagi tanpa terlihat bersalah, atau tanpa tanda-tanda yang memperlihatkan bahwa dia merasa bersalah.
Sutan menoleh sejenak ke arah mereka. Namun bibirnya masih tetap terkatup.
“Nih, kau yang bawa. Aku dan Sita di belakang,” kata Syam lagi sambil melemparkan kunci mobil. Sutan menangkapnya, dan menatap tajam wajah mereka. Dilihatnya kemudian Sita yang masih tertawa-tawa, saling berpelukan dengan Syam menuju mobil.
Tarjo mendekati Sutan, dan berbisik.
“Pergi saja, Mas. Ndak apa-apa, ada saya di sini.”
“Betul, tidak apa-apa?”
“nanti kalau ada konsumen, bisa saya tangani. “
Sita dan Syam sudah duduk di jok belakang saat Sutan mulai memasukkan gigi satu dan meluncur pergi.
“Kemana ini, Bang?” tanya Sutan di tengah perjalanan.
“Kau bawa saja terus, nanti kupandu.”
Busyet! Ternyata mereka menuju ke daerah dingin tak jauh dari Pasuruan. Mereka naik ke daerah perbukitan dan berhenti pada sebuah motel. Sutan hampir saja berteriak-teriak dan minta turun saja dari mobil mereka, namun mereka tentu tak perduli lagi sebab sejauh perjalanan dari Surabaya ke tempat itu, keduanya begitu berasyik masyuk, berciuman dan saling berhimpit-himpitan tak henti-hentinya di jok belakang.
Sutann menggigit bibir kuat-kuat. Mengatupkan geraham sampai sakit. Dan selalu menatap ke depan tanpa berani mengalihkan pandang ke kaca spion.
“Kau tunggu disini, atau boleh pergi mencari warung. Nih, duit. Makan sana!” kata Syam.
Sutann merasakan nafasnya berhenti.
Sebegitu rusakkah dunia ini, Tuhan? Keluhnya. Dan rupanya gadis itu juga sama rusaknya dengan abangnya. Bagaimana bisa? Sutan mungkin tak pernah membayangkan sebrengsek itulah abangnya. Namun hari itu, semuanya jadi jelas. Abangnya bukan saja ahli merayu wanita karena hartanya, namun juga pandai pula merogoh milik wanita dengan ketegapan tubuhnya. Ya ampun….semoga dijauhkanlah aku dari hal-hal kotor seperti itu Tuhan….!!
Jam delapan malam, mereka keluar dari motel. Perjalanan menuju Surabaya memakan waktu kurang lebih satu jam. Maka bisa dipastikan, sampai di rumah Sita jarum jam tangan Sutan sudah menunjukkan setengah sepuluh malam.
Rumah megah yang ada di daerah elit sebelah Barat Surabaya itu terlihat masih terang benderang. Pintu pagar besi tebal setinggi hampir tiga meter tertutup rapat dengan pos penjaga di sisi kanan pagar, dan segera pula dua orang satpam menyongsong mereka. Menjengukkan kepala ke kaca jendela yang gelap, hingga kaca itu diturunkan.
“Aku, pak! Tolong bukakan pagarnya!” teriak Sita dari dalam mobil.
Satpam itu segera membungkuk memberi hormat dan cepat-cepat membukakan pagar. Mobil yang dikemudikan Sutan meluncur pelan, masuk ke sebuah halaman yang luas dengan pepohonan dan taman yang mahal. Mobil dianjurkan terus meluncur ke depan teras.
Sita dan Syam turun. Namun belum sempat mengetuk pintu kayu berukir itu, tiba-tiba pintu rumah itu terbuka. Seorang ibu, masih nampak muda dan terawat, cantik pula, muncul dari dalam rumah.
“Darimana saja, malam-malam?” tanya perempuan itu yang tak lain adalah orangtua Sita.
“Ma, kami baru saja pulang latihan tari di sekolah.”
“Oya?”
“Ini temanku, namanya Syam.”
Orangtua Sita menatap tajam. Uluran tangan Syam tidak disambutnya.. Wanita cantik itu bahkan membukakan pintu lebih lebar dan menyuruh Sita masuk.
“Masuk!” katanya.
Sita menyentuh tangan Syam, mengajaknya masuk. Namun wanita itu menarik lengan Sita dan mendorongnya masuk ke rumah. Pintu besar itupun kemudian ditutup keras,..blam!
Untuk beberapa saat Syam terpaku di depan daun pintu berukir yang tak ramah itu. Namun Sutan melihat, ada segaris senyum sinis pada bibir abangnya itu. Syam memasukkan tangan ke saku celana dan langsung balik kiri, kembali naik ke mobil. Kali ini dia duduk di samping Sutan.
Mobil meluncur keluar dari halaman rumah megah, yang menurut Sutan cukup tidak ramah pada abangnya. Mereka jalan begitu saja, hingga tiba-tiba Syam berkata datar pada Sutan,:
“Kita pulang.”
“Maksud Abang,kita pulang ke rumah?”
“Ya.”
“Tapi Bang…”
“Nggak apa-apa, Tarjo juga paling sudah pulang, bengkel sudah ditutup. Besok kita berangkat lebih pagi, kau turunkan aku di bengkel, lantas kau naiki motor kamu yang masih di bengkel, ke kampus.”
“Ya, Bang.”
Malam merambati kota. Namun Surabaya serasa tak pernah tidur. Lampu bergemerlapan sepanjang jalan. Banyak toko yang sudah tutup. Namun ada beberapa yang belum. Mereka melewati Pubs, Karaoke and Café. Namun Syam tak lagi bicara. Suasana sepi diantara mereka berdua. Hingga akhirnya mereka memasuki sebuah jalan kecil, tidak terlalu sempit, namun hanya cukup dilewati dua mobil bersimpangan, kemudian dari sekian rumah yang berjajar, mereka menemukan rumah mereka. Lebih jelasnya, rumah tempat kos mereka!
RUMAH SITA.
Mama menutup pintu besar berukir itu dan menarik Sita ke kamarnya.
“Katakan,” kata Mama. “Siapa dia?”
“Kan sudah Sita bilang tadi, namanya Syam.”
“Syam. Syam siapa? Apa pekerjaannya? Mama yakin dia bukanlah teman sekolahmu. Kok bisa kau bareng sama dia? Ketemu dimana? Teman apa?”
Sita merebahkan diri di ranjang empuk miliknya.
“Aduh, Mama. Pelan-pelan dong!”
“Lihat dirimu. Apa’an ini, semrawut semua. Rambut dan wajahmu kotor sekali. Dan baumu….”
Mama mengendus-endus, mengerutkan kening.
“Baumu aneh!” katanya.
Sita, si bocah delapan belas tahun itu, tertawa lebar. Samasekali tidak menampakkan kegelisahan atau rasa bersalah kepada orangtua.
“Ya jelas aneh, Mama. Kan seharian ini Sita belum mandi. Aduh, capek Mama. Kita ngobrolnya besok pagi aja, ya?”
“Dengar, Sita. Mama tidak mau kamu bergaul dengan orang-orang yang nggak bener.”
“Siapa yang nggak bener itu, Ma? Syam? Dia itu anak kuliahan, Ma. Dia kuliah di Mipa semester Sembilan. Udah? Mama nggak usah kuatir deh. Bener!”
“Tapi Mama tetap nggak suka. Kelihatannya dia tidak seperti mahasiswa.”
“Ya udah. Sekarang Sita mau mandi dulu. Boleh ya?”
“Ingat Sita, kita harus bicara lagi. Besok!”
“Ya, ya. Besok! Oke mama…selamat malam.”
Mama menatapnya tajam, setengah ragu. Ada sesuatu yang dia rasakan aneh pada putrinya. Tetapi apa?
Tak ada sesuatupun bisa disembunyikan. Namun kali ini dugaan buruk yang tiba-tiba muncul sengaja ditepis oleh Mamanya Sita. Sungguh, dia tak ingin percaya pada kebenaran naluri seorang ibu. Dia ingin yang baik-baik saja. Dibunuhnya prasangka jelek, dan ditumbuh-suburkannya prasangka terbaik bagi putrinya. Mungkin benar, Syam, pemuda tinggi tegap dan berwajah tampan itu adalah orang baik-baik, seorang mahasiswa Mipa, yang…yang…kaya, barangkali? Mobilnya tadi,…mewah bener! Anak siapa dia ya? Ah, wanita itu segera menggeleng keras mengusir sebongkah dugaan yang dirasakannya tidak terlalu baik.
Perlahan dia melangkah pergi, menutupkan pintu kamar dan turun ke lantai bawah. Sesekali masih menengok ke atas, siapa tau ada yang dilihatnya disana. Sebuah kebenaran, mungkin? Yah…wanita itu menghela nafas dalam-dalam,…semoga saja firasatku salah. Semoga!
(bersambung)
Sabtu, 02 Oktober 2010
TROWULAN (32) - TAMAT

Di beranda rumahnya, Niken terisak, didepannya duduk Darji sambil menundukkan kepala. Sungguh, situasi yang sulit bagi Darji, sebab gadis didepannya sejak tadi tak pernah berhenti menangis. Sudah berpuluh lembar kertas tissue dihabiskannya dan kini masih juga airmatanya mengalir deras.
“Sudahlah, Niken. Apa yang kau tangisi?” sesal Darji.
Lagi-lagi Niken sibuk mencabut kertas tissue dari kotaknya, membersit hidung sebentar, kemudian mencoba menatap wajah Darji.
“Aku menyesal, Ji. Sungguh. Kalau saja dia mati saat itu….” sahutnya tersendat.
“Tetapi dia masih hidup.”
“Kalau saja,…bukankah aku yang menanggung dosanya?”
Darji tersenyum.
“Sekarangpun kau sudah memikul dosamu, Nik. Kau sadar dengan siapa kau melakukannya hingga kejadian ini harus ada?”
Niken kembali membuang ingus.
“”Sekarang, katakana padaku dengan sejujur-jujurnya, benarkah kau tengah mengandung?”
“Ap…apa Aryo tidd…tidak bilang apa-apa mengenai diriku, Ji?”
“Maksudmu, apa?”
“Anak dalam perutku ini,…tidakkah dia mengatakannya padamu siapa ayahnya?”
Darji menggeleng pelan.
“Dia tidak ingin mencoreng namamu bahkan denganku sekalipun.”
Niken kembali membersit hidung.
“Katakan padaku, siapa ayahnya?” tanya Darji.
“Banyak.”
Darji tersentak kaget. Untuk beberapa saat pikirannya mendadak buntu. MasyaAllah!
Dilihatnya Niken tersenyum kecut.
“Ya, aku melakukannya dengan banyak orang…” katanya seraya menyibakkan rambut ke belakang.
“Apa katamu?”
“Sejak Aryo menghilang ke Surabaya, aku mendadak jadi menyimpan kebencian yang amat sangat kepadanya. Dendam kesumat yang tak bisa kuucapkan pada siapapun. Rasanya bagai sampah diriku ini, Ji. Sakit sekali….”
“……………”
“Untuk melampiaskan kekesalan itu, aku…”
“Cukup, jangan diteruskan lagi ceritamu itu. Hanya saja aku tidak mengerti mengapa kau membuat semuanya jadi kacau seperti ini. Seolah-olah kau tengah menuntut pertanggungjawaban dari Aryo. Bukankah itu merupakan corengan yang tak termaafkan bagi masyarakat kita di sini terhadap Aryo wangking? Setega itu, kau Niken. Seolah kau ingin mencemarkan namanya. Kau korbankan tahun-tahun persahabatan kalian?”
“Maafkan aku, Ji.”
Darji berdiri dengan kesal.
“Jangan minta maaf padaku, mintalah maaf pada Aryo Wangking, meski menurutku itu belumlah cukup bagimu.”
“Jadi,…apa yang harus kulakukan?”
“Ikhlaskan dia menikahi Rayun Wulan.”
“Tapi aku mencintainya, Darji. Sangat!”
“Kalau benar kau mencintainya, buktikan dengan keikhlasanmu melepaskan dia memilih jalannya sendiri.”
Kembali Niken mengucurkan airmata.
Darji kembali duduk, kali ini dia mengambil tempat di samping Niken. Lengannya memeluk pundak gadis itu dan berbisik pelan di telinganya,:
“Aku mengerti bagaimana perasaanmu saat ini, Niken. Tetapi ketauilah, bahwa semua ini adalah buah dari perbuatanmu sendiri. Seharusnya kau tetap tegar dan berani, sama seperti saat kau memutuskan untuk mengambil langkahmu saat itu.”
“Pasti dia sudah amat jijik kepadaku. Pasti dia sudah bisa melihat apa yang kulakukan saat itu…”
“Ssshh…sudah, sudah. Tak ada gunanya lagi menangisi yang sudah lalu. Sekarang, kuminta kau ikut denganku.”
“Kemana?”
“Menjenguk Rayun.”
“Tidak,…aku tidak mau. Aku tidak sanggup!’
“Harus. Kau harus sanggup mengatakan semuanya ini dengan jujur kepadanya. Tidakkah kau tau, Rayunpun hampir saja tewas karena perbuatan Dewa Pamugaran. Untung saja, pelurunya tak tepat pada jantung, meleset sedikit saja, entah apa jadinya.”
Niken tersedak.
“Takkah kau sadari semuanya bisa saja berakibat sangat fatal?”
“Tetapi bukankah Raki Keleng dan Pamugaran ….”
“Bisa saja Raki Keleng jadi kejam karena takut kehilangan dirimu, Niken. Dia amat mencintaimu, sama seperti kau mencintai Aryo. Apapun kau lakukan untun mendapatkannya, bukan? Sama, Raki Keleng juga akan melakukan apa saja demi dirimu. Akibatnya mereka kini sama-sama berada di rumah sakit, sama-sama tidak bisa bertemu. Bahkan menurut keluarganya, hubungan mereka sudah putus.”
“Putus?”
Sepasang mata Niken terbelalak.
“Ya. Mereka putus. Karena Rayun sudah tidak bisa lagi memaafkan Aryo atas perbuatannya kepadamu. Dia beranggapan Aryo telah membohonginya.”
“Seharusnya dia bisa memaafkan Aryo.”
“Nyatanya tidak.”
“Kalau dia benar-benar mencintainya, pasti bisa memaafkan.”
“Semuanya tergantung dirimu.”
“Tergantung diriku?”
“Katakan kepadanya apa yang terjadi, dengan siapa kau melakukan hubungan, dan mintalah maaf kepadanya.”
“Apakah,…dengan begitu mereka bisa kembali…?”
“InsyaAllah.”
Niken meremas jemarinya sendiri. Lama terdiam, seakan berpikir dan menimbang-nimbang.
“Baiklah,” ujarnya kemudian dengan suara gemetar. “Kapan kau mau pergi menjenguk Niken?”
“Sekarang?”
“Sekarang?”
Darji tersenyum menatap mata yang masih berselimut airmata itu, mengangguk pelan seraya meremas pundaknya perlahan.
“Sore ini?” masih juga Niken menawar.
“Ya, sore ini.”
“Baik, aku ikut.”
“Alhamdulillah….”
Sore itu di rumah sakit, Rayun sudah kelihatan segar. Dia menerima kedatangan Niken Pratiwi dan Darji dengan seulas senyum yang cukup manis. Wajahnya memang masih terlihat pucat, namun menurut Darji, mungkin itu dikarenakan gadis itu tidak memakai make-up di wajahnya. Darji membiarkan Niken meminta maaf dan menjelaskan semuanya kepada Rayun. Ada terbersit rasa kasihan dan iba terhadap Niken di hati Darji, namun itulah sesungguhnya tanggungjawab Niken atas semua trik yang pernah dilakukannya untuk merebut kembali kekasih hatinya. Kenapa dia harus melakukan itu? Menurut Darji sungguh tidak masuk akal, walaupun kadang orang bisa membuat kita kecewa, tak semestinya Niken membabi-buta, sama seperti Raki. Kita tau, bahwa semua dari kita memiliki kelemahan. Seharusnya pula kita bisa memahami dan memaafkan orang lain. Namun, pernyataan Rayun sungguh mengejutkan Darji.
“Sebetulnya,… “ kata Rayun. “….aku sudah menerima tawaran untuk bekerja pada sebuah majalah di Jakarta. Kuterima tawaran itu karena sudah sejak lama aku ingin bekerja pada sebuah majalah. Apalagi majalah besar di Jakarta. Aku tak ingin melepaskan kesempatan ini. Aku tak ingin melepaskan kemerdekaanku memilih jalan hidupku sendiri. Tanpa campur tangan orang lain, tanpa harus dipengaruhi oleh segala macam tetek bengek yang tidak penting untuk mengubah pilihanku.”
Darji memasukkan tangan ke saku. Sombong bener kedengarannya, pikir Darji.
“Namun ada seseorang yang membutuhkanmu saat ini, Rayun.” Kata Darji.
“Siapa? Aryo Wangking?” Rayun Wulan tertawa. “Dia tidak membutuhkan siapa-siapa, apalagi membutuhkanku. Dia orang yang mandiri. Dan bukankah ada kalian? Kenapa pula harus ada aku?”
“Kau masih marah kepadanya?”
“Oh, sama sekali tidak, Darji. Maafkan kata-kataku kalau itu kau anggap cetusan dari perasaan marah seseorang pada orang lain. Tidak, aku tidak lagi merasakan apa-apa. Yang kupikirkan justru kalian. Kalian membutuhkan dia, jadi apa gunanya semua ini dibicarakan?”
“Rayun, dengarkan aku,…” kata Darji. “….dia amat membutuhkanmu. Saat ini. Mungkin sedang sekarat, mungkin justru akan sembuh seperti sediakala. Tidakkah kau ingin bertemu?”
“Lakukanlah, Rayun. Demi aku, maafkan dia.” Sahut Niken.
Rayun tertawa kecil.
“Waktu berjalan seperti sungai, Darji. Akan mengalir terus dan tak pernah kembali. Ambillah apa yang masih dapat kau ambil. Jangan dibiarkan lewat dengan sia-sia. Berpikirlah. Jangaan hanya dua kali, tapi berpikirlah ribuan kali. Maka setelah kupikir ribuan kali, aku memutuskan, menerima pekerjaan pada majalah terkenal itu.”
“Rayun, kau mencintainya?” tajam tatap mata Darji menusuk ke hati Rayun.
Setelah terdiam beberapa saat, Rayun menjawab dengan suara gemetar.
“Dulu aku sangat mencintainya,…”
“Sekarang?”
“Sekarang,…rasanya tidak lagi.”
“Astaghfirullah….” Darji menutup wajah dengan telapak tangan. Betapa keras hati kamu, Rayun. Betapa dalam pikiranmu cuma ada hitam dan putih!
“Rayun….” Niken mendesah kelu.
“Dunia yang kumiliki barangkali berbeda dengan dunia kalian,” kata Rayun getas. “Terus terang, aku tak tau apa yang harus kulakukan bila berada bersama kalian, dimana tiada lagi batas-batas, semuanya tampak rancu, mana sahabat mana kekasih, mana teman tidur…”
“Dia tidak meniduriku!” sentak Niken lebih pedas.
“Oh ya?”
“Memang nasibku jauh lebih jelek disbanding nasibmu, Rayun. Tapi jujur, anak dalam kandunganku ini bukan milik dia!”
“Aku sudah tak peduli lagi anak itu milik siapa. Tapi sudah jelas bagiku bahwa kalian pernah saling memiliki.”
“Itu dulu sebelum bertemu dirimu, Rayun!”
“Ya, itu dulu. Apakah tidak mungkin semuanya berjalan melingkar bagai roda? Kembali dan kembali lagi? Bagiku ujung dari pembicaraan ini semacam bentang panjang padang kesepian dimana kita ini jadi seperti orang-orang bodoh yang sia-sia memaknai hidup dan tak mengerti akan arti mencintai.”
Darji menggigit bibir.
“Tega sekali kau bicara seperti itu, Rayun,” ujarnya kehilangan simpati.
Dilihatnya kemudian, Rayun melepas cincin belah rotan yang melingkar di jari manisnya. Ditariknya tangan Darji, dan meletakkan cincin itu pada telapak tangannya.
“Ini,…” ujarnya. “…berikan kepadanya, dan katakan bahwa aku bukan Rara Ireng seperti yang diyakininya selama ini. Aku adalah manusia masa kini yang tak terbawa arus moral papa.”
“Rayun, kau sadar dengan yang kau lakukan ini?”
“Sepenuhnya aku sadar.”
“Sungguh, tak pernah kusangka kau….”
“Sebaiknya kalian segera menemuinya,” potong Rayun . “Katakan juga aku sudah pulih seperti sediakala, dan besok sudah bisa keluar dari rumah sakit. Segera luka yang ada di dalam sini sudah mulai mengering dan emosiku sudah kembali stabil.”
Darji sungguh terpana. Tak tau lagi harus mengatakan apa pada gadis selembut angsa, namun berhati baja, keras dan dingin, yang tengah tersenyum di depan matanya itu. Digenggamnya cincin belah rotan dalam telapak tangannya kuat kuat, diremas, seakan ingin meluluh-lantakkannya jadi debu. Perlahan-lahan dia melangkah mundur diikuti langkah Niken yang berwajah seputih kapas menahan amarah.
“Ada keadilan yang lebih tinggi dari keadilan manusia,…” desis Darji tertahan.
Rayun membuka telapak tangan ke udara, tersenyum manis tanpa beban.
“Ya,…” sahutnya. “…Dia yang akan mengadili kita semua!”
Darji mengusap muka dan beristighfar. Satu lagi kekejaman dia saksikan. Kekejaman yang dilakukan tanpa senjata, namun tikamannya jauh lebih mematikan.
Ya Allah….
Dia berpaling sekali lagi. Ingin melihat atau mendengar imbauan Rayun untuk bisa kembali menyatukan hatinya dan hati Aryo Wangking sahabatnya. Namun yang dilihatnya adalah gadis cantik itu bahkan sudah memejamkan mata, tidur laksana malaikat. Siapa akan menyangka, ternyata dia bukan sekadar malaikat, namun manusia berhati singa.
Di rumah sakit lainnya, Darji melihat Aryo terbaring apatis. Beberapa selang infuse seakan lengan-lengan octopus, mencengkeram tangannya yang terikat ke pinggir ranjang tanpa daya.
“Gimana keadaanmu, Yok?” tanya Darji.
“Seperti yang kau lihat. Sudah kautemui Niken?”
Darji mengangguk.
“Rayun juga?”
Darji kembali mengangguk. Dilihatnya Aryo tersenyum seraya menatap langit-langit kamar. Mendesah lirih seakan ada yang pedih di dadanya.
“Kenapa, Yok?”
“Aku merasa aku bakal kehilangan dia, Ji.”
“Maksudmu?”
“Kami tak bisa lagi bertemu, seakan ada tembok yang tiba-tiba berdiri kaku diantara kami. Kami tak bisa saling bicara. Komunikasi terputus total. Kubayangkan, seandainya aku bertemu dengannya, apa yang akan kukatakan?”
“Ya, menurutmu apa?”
“Rasa-rasanya tidak ada lagi yang bisa kukatakan kepadanya. Sejak awal aku tau, dia adalah gadis yang keras hati. Namun ada sesuatu dalam dirinya.”
“Apa?”
“Rara Ireng.”
Darji tertawa perlahan.
“Dia bukan Rara Ireng,” ujar Darji.
“Itu yang dikatakannya? Bahwa dia adalah manusia masa kini yang tak terbawa arus moral papa?”
“Kau sudah mendengarnya sendiri?”
“Tidak. Aku hanya mendengar bisikan di telinga hati, bahwa itulah yang dia katakan padamu untuk menolakku. Lantas, apa lagi katanya?”
“Dia akan bekerja di sebuah majalah. Di Jakarta, katanya.”
“Kapan?”
“Katanya, dia berangkat ke Jakarta Minggu depan. Oh ya, ini ada titipan untukmu.”
Darji merogoh saku celananya, dan meletakkan cincin itu di tangan Aryo yang kemudian menatap kosong benda itu seakan tak mengerti dari mana asalnya.
Aryo mengelus dada yang mendadak sesak. Kedua matanya memejam beberapa lama. Kelopak mata itu memanas. Bibirnya terkatup kuat mencoba menahan raungan yang nyaris meledak. Kulit wajahnya memutih kapas. Perlahan dia mendesah. Mohon diampuni segala dosa yang pernah digoreskan memenuhi lembaran kehidupannya. Barangkali inilah hukuman Tuhan atas semua perbuatannya di masa lalu. Meniduri isteri orang, memerawani seorang gadis, dan semua itu dianggapnya tidak berakibat apa-apa. Nyatanya? Sumirah bunuh diri karena kecewa, Niken hamil tanpa ketauan siapa laki-laki yang menghamilinya. Bukankah itu dosa besar? Ya Allah…masihkah mampu mengaku bahwa dia adalah titisan Nambi?
Kesedihannya kini sudah tak mampu lagi dia atasi atau sembunyikan. Pada akhirnya manusia sendirian saja menanggung rasa sedih. Rasa sedih memang tak bisa dibagi dan tak bisa diminta dari seseorang. Pada akhirnya manusia sendiri seorang yang terpencil, tanpa kawan, tanpa pengawal. Dan bila manusia punya pengawal di belakangnya, yang mengawalnya adalah kesepian juga pada akhirnya.
Minggu ini adalah minggu penghabisan yang hilang batas. Kalau benar Rayun akan segera pergi, itu artinya mereka memang hanya mampu menjangkau rakit hitam yang terdampar pada putaran pitam. Mata Aryo membatu. Masih dapatkah kedua hati mereka berdekapan kalau sudah begini?
Hati Aryo menjeritkan sebuah rintih pilu. Pedih bagai disayat sembilu. Dengan cepat disadarinya bahwa sesungguhnya dunia ini tidak kekal. Disimpannya seluruh cinta untuk dirinya sendiri, dilipatnya hati. Kedua matanya memejam, basah.
Darji menghela nafas panjang. Sambil memasukkan kedua tangan ke saku celana, perlahan dia melangkah keluar dari ruang rawat inap itu. Di ujung lorong rumah sakit dia bertemu beberapa perawat yang menyapanya dengan lemparan senyum. Di tepi jalan, Darji mencegat angkot, dan segera naik ke dalamnya. Dibalasnya lambaian tangan anak-anak jalanan yang berlarian di belakangnya. Suara adzan maghrib teramat jernih terdengar dari arah masjid di ujung jalan. Matahari kian tenggelam.Langitpun tak lagi bening.
Mungkin benar kata orang, bahwa dunia ini alangkah komplit. Senantiasa bergerak antara kepuasan dan kekecewaan. Amat banyak yang kita tidak tau. Adalah bahagia, sebenarnya, orang yang sederhana dan wajar dalam arti proporsional terhadap keterbatasannya. Bagi Darji, Aryo wangking adalah kesenjangan. Merupakan awal dari simpang berbelok lepas. Dia memang harus memilih untuk dijemput anugerah panjang yang meresap melalui kisi-kisi dan cukup bahagia berada pada lantai dunia. Tak penting lagi haruskah ada Rayun Wulan atau tidak. Tak penting lagi. Karena semuanya memang kembali kepada yang di atas, Robb Yang Maha Kuasa.(kupersembahkan untuk suami, anak2, dan cucuku Dipa).
SELESAI
Langganan:
Postingan (Atom)