Sabtu, 14 Agustus 2010

TROWULAN (28)


HATI YANG TERLUKA.
PERKEBUNAN KARET, CURAHMAS.
Rayun Wulan duduk sendirian di ruang makan, mencoba menikmati sepiring nasi goreng dan segelas sari jeruk. Dia makan pelan-pelan, seakan sambil melamunkan sesuatu. Kendati pagi ini ingin segera bekuda, namun rasanya tak perlu tergesa-gesa. Beberapa kali matanya mengerjap. Aneh, nasi goreng bikinan mbok Yem biasanya cukup enak. Kenapa hari ini seperti menelan beling saja rasanya? Untuk yang ke sekian kali, Rayun menenggak sari jeruk sekadar mendorong gumpalan nasi yang menyesak di tenggorokan.
“Enak sarapannya?”
Tiba-tiba Om Harso, adik mamanya, muncul dari kamar. Wajah Om Harso nampak segar dan senyum lebarnya seakan air sejuk pegunungan yang menyiram benaknya.
Rayun mengangguk-angguk, sekedar menyenangkan hati Om Harso.
“Enak,” sahutnya pendek.
“Bikinan mbok Yem, pastilah mak nyus…hehehe…”
“Mbok Yem awet juga ya, ikut sama Om?’
“Yah,…orangtua itu sudah tidak punya siapa-siapa lagi.”
Om Harso menarik kursi lalu duduk di depannya. Membuka piring yang sejak tadi tengkurap, lalu menyendok nasi.
“Kau sedang ingin kemana, pagi ini, Rayun?”
“Saya? Mmmm….mungkin berkuda saja Om.”
“Ingat, jangan dekati gua macan di bukit kecil sebelah Selatan itu.”
“Kenapa? Bukankah sejak kecil dulu saya sering main kesana, Om?”
“Lain dulu, lain sekarang.”
“Iya, tapi kenapa dong.”
Om Harso menyuapkan nasi ke mulut, menelannya sejenak, baru menyahut,
“Bukit di sana itu sekarang sudah tidak berproduksi lagi. Pohon-pohonnya sudah tua dan tidak lagi menghasilkan getah. Jadi sepi sekali sekarang di sana itu. Om hanya kuatir, ada orang iseng mengganggumu di gua itu.”
Rayun tersenyum sambil mengelap bibir dengan tissue.
“Masa ada penjahat di daerah ini, Om? Sepertinya penduduk atau penderes getah karet itu selalu berseliweran saja di bukit-bukit, bahkan mereka sudah sejak lama mengenal saya, kan?”
“Sudah kukatakan, lain dulu lain sekarang.” Si Om bersikeras. Sepasang matanya menjeling dari balik kacamata yang dikenakannya.
“Omong-omong, aku ingin tau mengapa mendadak saja kau datang dan tetirah di tempat sepi ini?” lanjut Om Harso sambil meneruskan sarapannya.
“Saya kangen Om.”
“Kangen kepadaku?” Om Harso tertawa lebar. “Masa?”
“Iya, sumpah! Saya juga kangen dengan masa kecil saya disini bersama Putri dan Rudy, putra-putra Om.”
“Dulu kalian sering berpacu, berlarian layaknya sekumpulan ‘laron’.”
Rayun tertawa kecil. Kedua matanya merawang. Diam-diam Om Harso menatapnya, tak pelak lagi, dia melihat ada segurat kesedihan dalam mata nan cantik di depannya.
Om Harso meletakkan sendok dan garpu di piring yang telah kosong, mengelap bibir sejenak, kemudian berkata seolah mengingatkan.
“Dengan hari ini, kau sudah seminggu berada disini.”
“Mmmm….saya bahkan ingin sebulan disini. Boleh, kan?”
“Boleh boleh saja, asalkan kau mau berterus terang dan berkata jujur padaku. Mamamu mengatakan bahwa ada satu masalah antara kau dan pacarmu. Pemuda itu semalam datang ke rumahmu, menemui orangtuamu, bahkan dia sudah menghubungi sahabatmu pula. Apa betul, kau sedang melarikan diri?”
Rayun tergelak.
“Melarikan diri dari siapa? Hahaha….memang saya seorang buronan?” Rayun menjeling dalam tawa yang terdengar sumbang di telinga Om Harso.
“Sebenarnya ada apa antara kau dan pacarmu itu?” tanya Om Harso telak.
Rayun ragu sejenak.
“Maksud Om,…antara saya dan… Aryo?”
Om Harso tersenyum.
“Jadi nama dia, …Aryo…?”
Rayun meremas serbet seakan sedang meredakan amarah.
“Kenapa tak kau ajak dia ke sini?”
“Mengajaknya? Ow…nggak deh!”
“Mengapa?”
“It’s all over now.”
Om Harso terbatuk.
“Secepat itukah?”
Rayun memainkan garpu dengan kedua tangannya.
“Yap!” sahutnya pendek dan mantap.
“Masalah cemburu?” Om Harso menebak. Telak menonjok ulu hati Rayun.
“Yaa…semacam itulah, Om. Dulu kami bertemu di pantai Puger. Dia menyelamatkan saya. Saya akui, saya sangat tertarik kepadanya. Mabuk kepayang, malah. Kata orang-orang, dia semacam titisan raja pertama Majapahit. Tapi bukan itu yang membuat saya jatuh cinta kepadanya. Menurut saya, dulu… dia adalah seorang pria yang amat menarik. Tapi akhirnya, saya jadi kecewa.”
“Apa yang membuat kau kecewa terhadapnya?”
“Ternyata dia tak seindah bayangan saya, Om.”
Om Harso menyungging seulas senyum arif.
“Apa, yang kau bayangkan tentang dia?” tanyanya.
“Semula saya membayangkan dia adalah seorang pria yang lain dengan pria-pria pada umumnya.”
“Jangan lupa, Om juga seorang pria.”
Rayun tertawa mendengar canda Om Harso.
“Teruskan, Yun.”
“Saya menganggap dia adalah seorang lelaki yang hanya punya satu cinta: ‘saya’. Sebab pada setiap ucapan dan bahasa tubuhnya yang saya dengar dan saya lihat, adalah semacam gambaran tentang cinta dan kesetiaan yang unik. Yang cuma dimiliki para kesatria jaman dulu kepada kekasihnya. Seolah dialah sang Romeo dan sayalah Yulietnya. Sungguh, sangat menyanjung. Dan saya, demi Allah, jadi tersanjung. Merasa bahwa diri saya adalah perempuan paling beruntung dan paling berharga di dunia ini mengingat begitu banyak wanita dikecewakan oleh cinta gombal lelaki. Saya merasa tak lagi menginjak bumi pada setiap pertemuan saya dengannya, tapi…nyatanya….”
Om Harso melipat tangan di atas meja makan, menatapnya tajam, lurus ke manik mata yang mulai berselimut cairan bening di depannya.
“Nyatanya….apa?”
“Ada perempuan lain yang mengaku dihamili olehnya.”
“Masya Allah!”
Kini Om Harso melihat cairan bening itu runtuh, bergulir di pipi gadis yang tengah berusaha menghapusnya dengan tangan gemetaran.
“Barangkali itu cuma fitnah,” kata Om Harso.
“Fitnah atau bukan, saya sudah terlanjur terluka mendengarnya, Om. Yang saya rasakan saat perempuan itu mengaku bahwa dia hamil, adalah seperti sebuah sambaran petir di siang bolong. Saya betul-betul merasa ditonjok, dilukai, ditipu, sekaligus dipermainkan. Lantas saja saya berpikir, kalau orang seperti dia berkelakuan semacam itu, apa bedanya dengan lelaki lain?”
“Mmmm…maksudmu,…dengan Pamugaran, begitu?”
“Om sudah mendengar juga tentang dia?”
“Ya pasti dong. Memang kaupikir aku siapa? Aku ini paman kesayanganmu. Pastilah berita itu sampai juga ke telingaku, nduk!”
“Yah, begitulah. Ternyata dia itu sama saja bajingannya dengan Pamugaran. Mempermainkan perempuan lalu meninggalkannya kala sudah bosan. Jangan-jangan kepiwaiannya di dunia mistik seperti yang selama ini saya dengar, malah disalahgunakan untuk hal-hal yang menguntungkan dirinya saja. Saya jadi nggak ngerti apa seperti itu, laki-laki di dunia ini, Om?”
“Tenang, tenang. Jangan emosi begitu dong. Pemikiranmu yang seperti itu sungguh keliru. Tidak semua laki-laki seperti itu, Yun.”
“Maaf, Om. Saya tidak men-judge semuanya seperti itu. Om laki-laki, papa juga laki-laki. Semuanya terlihat baik-baik saja. Memang begitu ya, Om?”
“Kamu betul.”
“Saya mendengar, Aryo itu masih keturunan Nambi….”
“Nambi sang senapati pamungkas di jaman Majapahit? Kok bisa? Dan kamu percaya?”
“Semula saya percaya bahwa dia itu titisan Nambi. Sayapun semula melihat memang dia sangat berkualitas di bidangnya. Terlihat lebih unggul dibanding manusia lain. Tapi demi Allah, saya tidak mengkultuskan dia seperti kebanyakan orang, saya hanya melihat bahwa dia memang mempunyai kelebihan baik dalam cara bersosialisasi maupun dalam keahliannya menembus waktu. Kalaupun saya pernah mencintainya, itu karena saya mencintainya, karena dirinya, bukan karena pengkultusan. Saya kecewa tatkala mengetahui bahwa dia tak lebih baik dari manusia lain di daerahnya.”
“Kita tidak pernah diijinkan mengkultuskan orang lain. Itu syirik namanya. Sebab kelebihan itu hanya ada pada Tuhan, bukan pada manusia seperti kita, kecuali Nabi-Nabi. Dia adalah manusia biasa yang darahnya masih tetap merah, dan kekhilafan masih tetap saja bisa menimpanya.”
“Yang jelas, saya tak bisa menerima semuanya ini. Seharusnya sejak awal dia berterusterang pada saya bahwa dia pernah…pernah…”
Tangis Rayun pecah.
“Bayangkan, Om. Dia memacari saya bahkan hampir saja bertunangan, sementara di sisi lain ada perempuan yang menderita karena kehamilan akibat dirinya. Sungguh, saya tidak terima. Bagi saya kesetiaan itu adalah mutlak….” Lanjut Rayun dengan suara tercekik.
“Tak ada yang mutlak di dunia ini, nduk!”
“Kejujuran…itu yang saya inginkan dalam sebuah hubungan. Kesetiaan dan kejujuran! Masa tidak bisa? Sakit hati saya, Om. Janji-janjinya pada saya ternyata palsu!”
“Setiap orang bisa saja berbuat salah.”
“Ya, tapi saya tidak pernah sedahsyat itu berbuat kesalahan. Belum lagi dia mengucapkan sumpah setia pada saya, tau-tau…”
“Yun…sabar nak…”
“Cinta saya kepadanya habis seketika. Saya rasakan harga diri saya terinjak lumat. Kepedihan saya luar biasa. Seperti butir-butir gandum yang ditumbuk sampai polos telanjang, diketam digosok, diremas, kemudian dimasukkan kedalam api!”
“Begitulah pekerti cinta atas diri manusia. Itu supaya kamu bisa memahami tentang rahasia hati. Kesadaran itu akan menjadikanmu kian dewasa.”
“Bodoh sekali saya!”
“Sudahlah, jangan diteruskan lagi kemarahanmu itu. Ingatlah, bahwa diri kita ini juga tak pernah luput dari kesalahan. Kita ini ibaratnya sedang berbicara tentang orang yang - menurut kita – bersalah. Seolah dia bukanlah orang yang kita kenal, tetapi orang asing. Seseorang yang hadir di dunia kita bagai duri yang mengganggu. Ingatlah juga kata-kata ini, bahwa orang bijaksana dan paling keramatpun tak akan lebih unggul dari sebuah percikan api tertinggi yang bersemayam dan tersembunyi dalam setiap pribadi. Maka ketahuilah bahwa yang jahat dan paling lemah wataknyapun jadi tak lebih hina dari unsur terendah manusia yang bersarang dalam diri manusia.”
Ditatapnya wajah Rayun yang penuh airmata. Ingin sekali dipeluknya seperti dulu semasa gadis itu masih kecil. Ingin dihiburnya dengan segenggam gula-gula kesukaannya seperti masa Rayun masih berumur sepuluh tahun. Tapi Om Harso tak ingin keponakan kesayangannya itu jadi cengeng. Dia tau, kedua orangtua Rayun selalu mengajarkan hal-hal yang riil. Maka tak heran bila gadis itu jadi tumbuh dengan sikapnya yang sangat realistis ketika harus menatap langit.
“Sebaiknya kita mengambil hikmah dari semua ini,” kata Om Harso. “Jangan terlalu dipikirkan. Masa depan bagimu masih panjang dan cemerlang. Terjunkan saja dirimu dalam kesibukan kepenulisanmu itu. Walaupun itu Cuma sekadar hobi, tapi bisa saja menunjang kehidupanmu di kelak kemudian hari. Bisa jadi akan menjadi karis utamamu, dan aku yakin kau bakal sukses di dunia tulis menulismu itu.”
“Ya Om.”
“Bagus.”
Om Harso melempar senyum tipis, dan Rayun membalasnya walau masih dengan linangan airmata sakit hatinya.
“Oke, Om berangkat ke pabrik dulu ya?”
“Ya Om.”
“Ingat, kalau berkuda jangan jauh-jauh. Di bagian bukit Macan itu, sekarang sepi. Aku tak ingin terjadi apa-apa atas dirimu. Kudamu, si Kacung, sudah menunggu di halaman belakang.”
Rayun berdiri, memeluk Om Harso dan mengucapkan terimakasih.

(Kudanya lari ke episode berikut. Sabar yaaaa..)

TROWULAN (27)


DYAH SUGIHAN.
Pagi-pagi sekali Aryo mencoba menghubungi salah seorang sahabat Rayun, Dyah Sugihan. Sejak kejadian di museum itu, Rayun tiba-tiba menghilang begitu saja tanpa meninggalkan pesan apa-apa. Saat dicari ke rumahnya, orang-orang yang ada di rumah itu mengatakan mereka sama tidak taunya dengan Aryo Wangking. Bahkan Rayun tidak pamit, tidak minta ijin pada kedua orangtuanya atau mengatakan kemana dia pergi. Bahkan saat dihubungi lewat telepon selulernya, hape Rayun selalu off line.
Di rumahnya, saat ditemui Aryo Wangking, Dyah Sugihan terlihat kaget.
“Aneh,” katanya sambil mengerutkan kening. “Tidak biasanya Rayun seperti ini. Menurutku, dia sedang marah. Kenapa ya, dia menghilang begitu saja? Kau tau apa yang membuatnya pergi seperti itu? Atau…kalian sedang bertengkar, barangkali?”
Lama Aryo terdiam.
“Aryo…? Apa kalian sedang bertengkar?” Dyah Sugihan mengulang pertanyaannya.
Sesaat Aryo menyulut rokok. Setelah menghembuskan asap ke udara, barulah dia menjawab perlahan,
“Kami tidak bertengkar. Cuma…”
“Cuma…. Apa?”
“Panjang ceritanya, Dyah.”
“Ceritakan saja padaku. Toh kau sudah berada disini.”
“Ada seorang temanku, arkeolog juga, yang menuduh aku telah menghamili seorang gadis di kantor.”
“Astaghfirullah…” Dyah Sugihan membelalakkan mata sambil mendekap dada.
“Tolong, jangan pandang aku seperti itu.”
“Bagaimana sampai ada tuduhan semacam itu? Pasti ada alasannya. Kurasa tidak ada asap tanpa api!”
“Ya, ya. Aku mengakui dengan jujur bahwa gadis itu dulu memang kekasihku.”
“Tuh, kan!”
“Itu dulu, Dyah. Sebelum aku mengenal Rayun.”
“Katakan dengan jujur, Aryo, apa kau pernah tidur dengannya?”
Leher Aryo bagai dicekik.
“Dulu. Ya.”
“Nah kan! Keterlaluan kamu Aryo. Sungguh mati aku tiddak pernah menyangka, membayangkan saja tidak, bahwa kau…kau sebrengsek itu. Bayangin saja, kalau gadis itu benar-benar hamil…bayangin Aryo!”
“Ssst…” Aryo menahan suaranya. Menurunkan tangan sebagai isyarat agar Dyah lebih menurunkan suaranya satu oktaf.
“Jadi pantas saja kalau dia marah. Pantas kalau dia nanti tidak mau lagi menemuimu. Coba, seandaianya saja aku tau pacarku pernah tidur dengan orang lain…uuuuh….Mungkin aku langsung memutuskan hubungan. No way!”
“Dyah…Dyah…Tolong jangan membuatku semakin tertekan.”
“Tertekan katamu? Hoho…seorang Aryo Wangking tertekan? Nonsens!”
“Aku mencintainya. Sungguh!”
“Oh ya?”
“Aku begitu takut kehilangan dia.”
“…………..”
“Tolong, kasih tau aku kemana kira-kira dia pergi…”
Dyah menatap tajam wajah brewok di depannya. Kemana kegagahan kamu itu Aryo? Saat ini dirimu seperti wayang kehilangan gapit. Lemas, lunglai, pucat…
“Maaf, aku tidak tau.”
“Dyah…”
“Aku tidak tau.”
“Aku yakin kau tau. Dalam penglihatanku, dia pergi ke arah Timur. Tapi tepatnya,…kau pasti tau. Kalian berteman sudah lama. Pasti kau tau.”
Lama Dyah terdiam sambil melipat tangan ke dada. Ada perasaan marah kepada Aryo Wangking. Namun ada juga rasa belas kasihan kepada lelaki yang duduk dengan wajah lelah di depannya, menunggu jawaban dengan wajah harap-harap cemas.
“Kalau gadis itu benar-benar hamil, bagaimana?” cetus Dyah tajam.
“Dia hamil karena orang lain, bukan karena aku.”
“Kau yakin?”
“Masya Allah, Dyah! Aku punya kacamata rangkap. Mana bisa keliru?”
“Kau bukan Tuhan, Aryo! Ingat itu. Jangan sombong karena kelebihanmu itu.”
“Oh ya, maaf. Mungkin dimatamu aku terlihat sombong, jubriyo, atau sok! Tapi kalau kukatakan aku bisa melihat yang orang lain tidak bisa melihat, dan itu adalah kelebihan yang diberikan Tuhan kepadaku, apa aku salah? Aku tau, Rayun tengah terbakar rasa cemburu, dan aku tau, barangkali kesempatanku untuk memilikinya tinggal limapuluh persen, namun ada hal yang ingin kubuktikan kepadanya …”
“Apa? Apa yang akan coba kau buktikan?” potong Dyah keras.
“Aku ingin buktikan bahwa aku benar.”
“Benar? Benar dalam hal apa?”
“Bahwa aku benar-benar tidak menghamili gadis itu.”
“Bagimana caranya?”
“Itu urusan nanti. Sudahlah, tolong katakan saja kemana dia pergi.”
“Baiklah. Aku Cuma ingin tau kapan kau bisa membuktikan bahwa gadis itu tidak mengandung anakmu.”
“Nanti kau akan tau. Aku janji.”
“Oke, kupegang kata-katamu! Menurut ingatanku, Rayun punya seorang paman di luar kota.”
“Dimana?”
“Jember.”
“Jadi benar, dia berada di arah Timur Surabaya.”
“Ya.”
Aryo mengatupkan kedua mata. Mencoba melihat dengan kemampuan spiritualnya, lalu mulai menebak.
“Di sebuah rumah, di daerah pegunungan,…ada hutan…hutan karet…!” ujarnya sambil tetap memejam.
Dyah mengangguk.
“Ya, sebuah perkebunan karet, perusahaan swasta, bukan PTP.”
Aryo membuka mata dan tersenyum.
“Kenapa tidak sejak tadi saja kau katakan itu,” katanya.
“Maumu! Sudah sana, kau pasti bisa menemukannya.”
“Tunggu. Tepatnya dimana?”
“Di sebuah daerah perkebunan, namanya Curahmas.”
Aryo kembali mengembangkan senyum, mematikan rokok ke dalam asbak, berdiri sambil menepiskan belakang celana jins, memakai topi koboinya, kemudian mengambil anak kunci motor yang berhasil dipinjamnya dari Darji.
“Aku ke sana sekarang.”
“Sekarang? Naik apa?”
“Tuh, dapet pinjeman motor.”
“Astaga. Jadi kau mau naik motor ke perkebunan itu?”
Aryo hanya tertawa melihat Dyah tercengang.
“Itu perjalanan yang cukup jauh, Aryo.”
“Aku tau. Memang, kenapa?”
Dyah Sugihan bersidekap, menyaksikan Aryo mengenakan helm dan jaket kulitnya, kemudian menstarter motor.
“Hati-hati di jalan, Aryo.” pesannya.
“Yap!”
Motor yang dikendarai Aryo melaju cepat keluar halaman, menghilang di balik tikungan. Dyah terpaku di beranda rumah dengan perasaan galau. Entah, yang dirasakannya hanyalah semacam kesedihan. Kesedihan yang mungkin saja ada dalam relung hati Aryo Wangking. Atau boleh jadi semacam kesedihan yang tengah dirasakan juga oleh Rayun. Ingin rasanya dia ikut ke perkebunan di Curahmas, menemui Rayun dan ikut membujuknya untuk tidak memutuskan hubungannya dengan Aryo. Sungguh, dia tak ingin melihat Aryo kehilangan Rayun!

MUSEUM.
Pagi itu memang terlihat kesibukan yang lebih ketimbang biasanya. Sebab ada beberapa patung lagi yang berhasil ditemukan setelah benda-benda antik itu sempat menghilang karena penjarahan tatkala terjadi reformasi beberapa tahun yang lalu di Jakarta yang merembet sampai ke Jawa Timur.
Ada patung emas Pradnya Paramita yang dikembalikan dari Jerman. Kali ini beberapa patung berharga lain ditemukan di negeri Belanda. Entah bagaimana caranya benda-benda itu bisa sampai ke negeri salju itu. Yang jelas, benda-benda bersejarah itu kini telah kembali.
Di tengah kesibukan itu, mendadak sebuah sedan merah masuk ke halaman musem. Jelas, pengendaranya adalah Dewa Pamugaran. Dia datang bukan untuk benda-benda kuno itu, melainkan karena ingin bertemu dengan Niken Pratiwi.
Saat dia menapakkan kaki ke lantai museum, dia melihat begitu banyak orang. Ada beberapa karyawan, ada arkeolog-arkeolog senior maupun yunior, dan beberapa mahasiswa dari Fakultas Ilmu Sosial jurusan Antropologi, ikut menyaksikan kedatangan benda-benda bersejarah itu dari luar negeri. Saat itu rupanya waktu yang tepat bagi Pamugaran untuk menyelinap masuk. Orang-orang yang berseliweran disitu bahkan akan menyamarkan kedatangannya.
Sejak kegagalan Raki Keleng tempo hari dalam usahanya meledakkan Aryo Wangking, Pamugaran memang sengaja tidak keluar dari sarangnya. Dia mengurung diri dalam apartemen, melakukan beberapa kegiatan spiritual, minta dukungan kepada arwah leluhur , dan melakukan ritual untuk sang gaib yang dipujanya selama ini, guna menghancurkan Aryo Wangking sang pesaing. Ambisi, ego, dan arogansi membutakan matanya. Dengan cara apapun, dia akan melakukannya asalkan Aryo Wangking bisa musnah dari muka bumi. Dalam apartemennya, dia melakukan sebuah ritual khas leluhur, yakni membuat semacam lingkaran pada permukaan ubin di ruang tengah. Lingkaran itu dibuatnya dari tepung, dengan diameter tujuh meter. Lalu dengan bantuan kompas, dia menentukan arah Utara. Diletakkannya sebatang lilin di situ, dan menyalakannya.. Kemudian menyusul arah mata angin lainnya. Lalu dia duduk di tengah lingkaran, menghadap ke arah Utara.Dari upacara ritual itulah dia kemudian mendapat petunjuk gaib yang membawanya datang ke museum, bertepatan dengan ditemukannya kembali patung dan benda kuno yang pernah dijarah orang.
Kini dia telah berada di dalam musem, di tengah orang-orang. Sepasang matanya mencari-cari, dimana Niken? Secara sembunyi-sembunyi dia terus masuk, menelusuri setiap ruang. Nah itu dia, pikirnya girang.
Dekat toilet, dia melihat Niken sedang berbincang dengan beberapa orang yang tak dikenalnya. Aryo wangking sendiri tidak terlihat disitu, apalagi Raki Keleng. Doanya terkabul, untuk tidak perlu bertemu dengan Aryo Wangking. Pamugaran mendekati Niken, mengendap, perlahan, bagaikan kucing.
Riiiinnngggg…..!
Telepon kuno di atas meja dekat Niken berdering.
Dengan sigap Niken mengangkatnya. Pamugaran memasang telinga lebar-lebar. Menurut firasatnya, telepon itu dari Aryo.
“Hallo, selamat pagi!” suara Niken.
“………”
“OH, kau Aryo! Posisimu dimana sekarang? Apa? Jember? Edan kau ini. Ngapain disitu? Tau, nggak, ribut sekali disini. Patung-patung dari Nederland itu sudah datang. Mestinya kau ada disini menyaksikan mereka membuka peti-peti itu. Bolos lagi, ya? Enak bener.”
“……..”
“Baik, baik! You are still the boss. Polisi memang sering menanyakanmu, jadi apa harus kujawab?”
“…….”
“Alamatmu? Oke.”
Niken mencabut sebuah bolpoin dari dalam saku bajunya, mengambil sebuah blocknote, lalu menuliskan sesuatu di sana. Merobek kertas paling atas, dan menyimpannya di saku bersama dengan bolpoin sekalian, kemudian kembali sibuk.
Pamugaran mendekati meja, mengambil blocknote. Dengan sebuah pinsil, dia mengarsir bekas tulisan yang tembus ke atas kertas di bawah kertas yang di robek Niken tadi. Pamugaran membuat arsiran yang amat halus dengan cara menggeser-geserkan ujung pinsil secara miring di atasnya. Perlahan-lahan timbul tulisan yang kini bisa dibaca. Sebuah alamat, sepertinya nama sebuah perkebunan karet di sebuah daerah pedalaman tak jauh dari pusat kota Jember.
Pamugaran menyeringai, lalu merobek kertas itu. Matanya menyipit. Lebih kejam dari biasanya. Dia yakin,kali ini tak mau lagi ada kegagalan. Harus bisa, ya…dia harus berhasil melenyapkan Aryo Wangking, lelaki kurangajar yang menghancurkan karirnya sebagai pelukis tenar. Dengan langkah lebar dia keluar, menuju kendaraan mewah di areal parkir. Tak lama kemudian mobil berwarna merah menyala itupun meluncur pergi, melaju dengan kencang ke jalan raya.
(lukanya hati ada di episode berikutnya).

Jumat, 30 Juli 2010

TROWULAN (26)


PENCETUSAN SEBUAH DOSA.

Tapi sebuah tangan kokoh mendadak menahannya. Memegangnya kuat hingga membuat Raki Keleng menoleh dengan sangat marah. Sepasang matanya bersitatap amat getas dengan sepasang mata milik Aryo Wangking.
“Apa yang sedang kamu lakukan, Raki?” ujar Aryo Wangking dingin.
“Sialan kau Aryo! Kenapa sih, selalu mencampuri urusanku?”
“Sebenarnya aku tak ingin, kalau urusanmu benar. Tapi kalau tindakanmu tidak benar, masa iya aku harus mendiamkanmu saja? Sekarang katakan, kenapa kau ingin menamparnya? Apa kau pikir, dengan memukuli seorang perempuan kau bakal menang dengan gagah, begitu? Tentu saja dia tidak bisa menandingi kekuatanmu. Sebaiknya kalau kau mau berkelahi, cari lawan yang seimbang dong!”
Raki Keleng mengatupkan geraham dengan geram.
“Dengar, Brewok! Apa kau tau dia sedang hamil, ha? Dia itu sedang mengandung janin di perutnya, tau! Sebentar lagi perut itu akan menggembung. Lantas aku ingin bertanya padamu, siapa ayahnya? Kau tau siapa ayahnya, Brewok?”
Aryo Wangking merasakan darahnya tersirap. Di sampingnya, Rayun Wulan berdiri dengan kening berkerut. Pembicaraan sekasar itu tak pernah ditemuinya seumur hidupnya. Komunitas yang dimiliki Aryo seakan-akan begitu asing baginya.
Aryo sudah tau kemana arah pertanyaan Raki Keleng. Maka dia tak ingin menanggapi. Diseretnya Rayun menuju pintu keluar. Namun dengan wajah beringas, Raki menghadang jalannya.
“Jawab dulu pertanyaanku,” ujarnya tandas. “Kau tau siapa ayahnya?”
“Siapa? Kau tentu lebih tau, Raki!”
“Ya!” Raki mengangguk angguk dengan bibir tersenyum miring. “Aku!”
Aryo menghela napas dalam. Diulurkannya tangan dan diterima Raki keleng dengan sinis.
“Selamat,” ujar Aryo pendek.
“Sama-sama,” jawab Raki sama pendek.
“Bohong!” tiba-tiba Niken berdiri dan berteriak.
“Aku tidak merasa kau ayahnya,” lanjutnya dengan wajah pias dan mata sembab. “Aku tidak mau! Tidak!”
“Niken, apa ….maksud…kamu…?” Aryo mendadak merasa dadanya berdebar. Dia merasakan ada sesuatu yang bakal dikatakan Niken, yang akan membuat hubungannya dengan Rayun memburuk, firasatnya mengatakan….
Namun sebelum Aryo mencegah, tiba-tiba Niken sudah berkata lantang sambil menudingkan jari ke muka Raki Keleng.
“Orang macam kamu mana bisa bertanggungjawab atas semua ini? Mana bisa menghidupinya? Orang kamu tidak punya masa depan, tidak punya penghasilan, pekerjaanmu berjudi melulu, kesana kesini tanpa tujuan seperti daun kering. Jadi untuk apa kamu berlagak pahlawan mengakuinya kalau sesungguhnya bukan kamu pelakunya? Kau tak punya hak…”
Lalu…bla…bla…bla…segala kata-kata pedas dilontarkan Niken kepada Raki Keleng. Semuanya itu membuat lelaki itu jadi naik pitam. Harga diri di injak-injak sampai lumat. Maka tanpa dapat dicegah, tangan kanannya terayun kuat. Dan….
Plaaaak!!
Sebuah tamparan keras mendarat di wajah Niken. Semua itu begitu tiba-tiba, dan sangat mengejutkan bagi Aryo Wangking dan Rayun Wulan. Dengan hati tercekat mereka menyaksikan betapa wajah Niken jadi berbarut bekas telapak tangan Raki Keleng.
Niken terhuyung sejenak. Namun sebentar kemudian dia erdiri tegak dengan mata merah membelalak kea rah Raki Keleng.
“Kurang ajar!” teriaknya.
Matanya tersaput cairan bening, bergumpal-gumpal, lalu turun deras ke pipi. Menggelinding jatuh ke lantai. Bibirnya gemetar merasakan sakitnya, bukan hanya di pipi namun juga tembus ke dalam hati. Jauh di dasar hati yang paling dalam, Niken merasakan dirinya mati. Kosong. Hampa, saat sekilas menyaksikan Rayun memeluk lengan Aryo dengan ketakutan. Kecemburuan membuncah, membakar sekujur tubuhnya. Menyengat panas, menusuk getas.
Kini dia jadi terguguk. Menangis tersedu-sedu hingga sesak napas.
“Aku benci kamu, Raki. Sampai matipun aku tak sudi membiarkan diriku jadi istri kamu. Aku benci kamu!”
Raki Keleng berkacak pinggang, menatap lurus wajah Niken bagaikan Burisrawa. Marah, uring-uringan, kesal, dan kecewa menjadi satu dalam jilatan sorot mata Raki keleng.
“Baik,” katanya. “Kalau bukan aku, lantas siapa? Dia? Ya, pasti yang kau maksud adalah dia, kan? Sama saja! Aku atau dia! Sama! Hahaha…Aryo, kita patungan saja menghidupinya, hahahaha….”
Niken jadi makin gelap mata. Dia menjerit-jerit, memaki-maki, berteriak dengan histeris. Dia membalas ejekan Raki Keleng dengan cara mencakarinya, memukulinya dengan membabi buta. Gila, pikir Aryo kebingungan. Ada apa ini? Terus bagaimana melerainya, sementara disisinya ada Rayun Wulan yang gemetar menahan ketakutan?
Beberapa karyawan masuk.
Mereka memandang dengan keheranan semua peristiwa itu. Bahkan ada yang tiba-tiba nyeletuk,
“Barangkali benar,” katanya. “Dengan ditemukannya kembali patung emas dari Jerman itu mendadak saja museum ini jadi sering mengalami hal-hal yang aneh. Mungkin setan-setan sudah pada bergentayangan disini, ya?”
“Hush!” sahut temannya berbisik. “Tahayul. Semua ini tak luput dari pelakunya, Cak. Peristiwa semacam ini manusiawi sekali. Orang namanya cemburu tak iye!”
Raki keleng menahan cakaran Niken dengan tangannya yang kuat, mendorongnya hingga jatuh ke sofa. Sungguh, Aryo tak tega melihat keadaannya. Dicobanya menyabarkan Raki keleng. Namun lelaki berkulit hitam itu malah menjadi salah paham. Dia mendorong Aryo dengan beringas. Menatap benci ke arahnya.
“Semua ini karena kamu!” katanya.
“Kenapa aku?”
“Kamu yang mempermainkannya. Ngaku sajalah!”
Kini Aryo jadi ikut-ikutan marah.
“Kamu yang selalu bikin onar di sini. Jaga sikap kamu, Raki. Jaga omongan kamu. Sebab disitulah letak harimau kamu!”
“Oya?” ejek Raki keleng. “Lantas, harimau kamu ada dimana? Selalu sok baik, sok suci. Apa kamu lupa, berapa kali aku memergoki kalian berciuman sepenuh gairah di ruang pustaka hah? Berapa kali aku melihat kalian ngobrol berjam-jam di rumah kamu dengan pintu dan jendela yang tertutup rapat hingga subuh? Berapa kali kalian berjam-jam mengurung diri di ruang naskah dengan pintu tertutup? Maka sungguh, aku tak perlu heran kalau dia hamil. Aku sudah mencoba menolongnya dengan memberikan status yang jelas. Sayangnya, dia tetap saja keras kepala memilih kamu. Jadi jelas toh, siapa yang membuntinginya?”
“Itu fitnah!” desis Aryo dengan bibir memucat.
Jadi inilah arti dari firasatnya, pikir Aryo. Inilah saatnya!
“Oho….Jelas kamu nggak mau ngaku, Brewok. Sebab disini sedang ada putri salju yang menjadi saksi pengakuan Niken. Semuanya terkupas disini hingga tandas. Pastilah kamu mau mungkir!”
Tangan Aryo merenggut kerah kemeja Raki dan menengadahkannya ke wajahnya.
“Katakan kalau itu adalah kebohongan terbesarmu!”
Dengan sedikit menyungging senyuman di bibir liciknya, Raki mengangkat kedua tangannya ke atas tanda menyerah.
“Itu semua terserah kamu, Brewok. Ter-se-rah…kamu. Disinilah hati nuranimu diuji. Apa benar, pengkultusan itu pantas untuk dirimu, ataukah kamu akan sama bejatnya denganku yang selalu dipandang sebelah mata oleh orang-orang di Trowulan ini. Menurutku, kau sama saja denganku. Doyan yang itu, huahaha…”
“Kamu memang bedebah. Bangsat!”
Aryo Wangking mengangkat tangannya tinggi, siap membanting lawannya ke lantai. Namun Raki Keleng sudah lebih dulu mendaratkan sebuah tinju telak ke ulu hatinya, membuat Aryo jadi serasa ingin muntah.
Niken menjerit saat melihat mereka jadi baku hantam. Cuma sekejap, dia lantas jatuh pingsan. Beberapa karyawan yang ada di ruangan itu jadi heboh melihat Niken roboh ke lantai. Beramai-ramai mereka menolongnya dengan membaringkannya ke atas sofa.
“Yok! Dia pingsan, Yok!” mereka meneriaki Aryo. “Hentikan perkelahian kalian!”
Aryo melompat kaget, mendekati mereka. Menepuk-nepuk pipi Niken dan memanggil-manggil namanya. Sementara itu, dengan lagak tengil Raki malah tertawa-tawa kecil.
“Itulah namanya orang hamil muda, gampang pingsan,” katanya sampil ngeloyor pergi. “Yuk ah! Aku pergi. Urus saja pasienmu itu, Brewok! Heheheh…..”
Aryo memeluk kepala Niken ke dadanya. Seakan dirinya lupa bahwa masih ada Rayun Wulan disitu, menyaksikan semua kejadian itu tanpa putus. Rayun juga melihat dengan jelas, betapa penuh perhatian Aryo kepada Niken. Kedua matanya tiba-tiba saja merebak, basah, dan mulai berkunang-kunang.
Rayun pernah percaya pada sumpah dan cinta yang diucapkan Aryo Wangking pada setiap pertemuan mereka. Seolah semuanya sudah menjadi sumsum dan darah yang sehari-hari dia kunyah dan mamah. Namun tatkala dia menyaksikan semuanya itu, mendengar semua percakapan dan umpatan yang baru saja diucapkan oleh masing-masing mereka, Rayun mendadak jadi bimbang. Beginikah kehidupan mereka yang sebenarnya? Kehidupan yang sangat kasar, keintiman yang cenderung bebas tanpa batas. Semuanya menjadi rancu bagi Rayun, mana teman, mana kekasih? Mana yang baik, mana yang jahat? Mana yang berbuat dosa, dan mana yang berbohong?
Bagaikan direnggut, dada Rayun Wulan mendadak kosong melompong. Hampa. Sepi. Tak ada apa-apa lagi di sana. Dirinya ingin lari dari semuanya itu. Bebas. Terlepas. Merdeka. Seakan tak ada lagi cinta yang mengakar, tak lagi ada kekaguman yang bersemi. Lingkaran kehidupan seputar Aryo Wangking, Niken Pratiwi, Raki Keleng, dan siapa siapa lagi,…begitu membingungkan bagi Rayun yang terbiasa hidup dalam lingkungan yang teratur, bersikap sopan terhadap siapapun, berkata-kata baik dan terkendali. Ah, dadanya mungkin terlalu kecil, kepalnya mungkin terlalu kecil. Terpaan badai semacam ini begitu saja meruntuhkan bukit yang tengah dibangunnya. Menanggalkan ranting ranting mati dan menghunjamkannya ke akar jantung.
Rayun merasa tak lagi dibutuhkan berdiri di tempat itu. Semuanya bukan suasana kehidupannya. Mereka begitu asing. Mereka juga tak mengenalnya. Mereka tidak tau siapa gadis lampai berwajah pucat , dan mengapa pula dia berada di tempat itu.
Rayun Wulan mundur perlahan. Tanpa suara dia melangkah cepat meninggalkan tempat yang menurutnya sangat aneh dan menyiksa. Dalam sekejap, anak-anak tangga sudah berada di belakangnya. Berlari kecil dia menuju Innova warna perak di areal parkir, lalu melompat kedalamnya. Seakan tengah bermimpi buruk, tangannya memutar kunci kontak, menghidupan mesin, dan meluncur kencang meninggalkan museum yang penuh pepohonan di halamannya, menuju jalan raya.
Aryo tersadar begitu mendengar derum mesin mobil milik Rayun. Dia ingin mengejarnya, tetapi saat itu terdengar Niken merintih perlahan, memangil namanya. Gadis itu sudah sadar dan tengah berusaha untuk duduk.
“Apa aku pingsan?” tanya dia terbata-bata.
“Ya, kamu pingsan. Bagaimana, sekarang?”
Niken mengusap kedua mata dengan telapak tangan, mendesah lirih seakan menanggung beban berat di hati.
“Alhamdulillah, aku sudah merasa enakan. Maafkan aku, sudah membuatmu repot,”
“Ah, tidak apa. Jangan dipikirkan.”
“Boleh minta minum?”
Aryo mengulurkan segelas air mineral.
“Lebih baik kamu pulang saja,” kata Aryo. “Mau kuantar?”
Bibir pucat itu tersenyum, mengangguk.
“Ayolah. Kita naik motor saja. Kamu masih kuat, kan?” kata Aryo sambil membimbingnya keluar.
“Ya, mudah-mudahan.”
Mereka keluar lewat pintu samping, kemudian dengan motor milik Niken, Aryo mengantarkannya pulang. Selama dalam perjalanan, batin Aryo seakan terkoyak-koyak. Matanya menyaksikan Rayun pergi begitu saja tanpa pamit. Pasti dia tak suka melihat dirinya merawat Niken seperti itu. Parsti cemburu. Pasti marah. Marah? Marahkah gadis itu melihatnya memeluk Niken? Bukankah semua itu dilakukannya hanya sekadar sebagai wujud kemanusiaan saja? Tetapi bagaimana kalau Rayun benar-benar marah? Bukankah dia juga mendengar ucapan-ucapan Raki keleng yang disampaikan dengan cara amat vulgar? Bagaimana kalau Rayun memutuskan hubungan mereka?
Aryo menghela napas panjang. Dia tak ingin bermain tebak-tebakan dengan diri sendiri. Dia harus bertanya langsung kepada Niken, benarkah dia hamil, dan siapa pula ayah dari janin yang ada di perutnya itu? Kalau benar, sungguh dunia ini sudah carut marut. Seingatnya sudah sejak enam bulan yang lalu dia tak lagi berkencan dengan Niken. Ya, sejak dia mengenal Rayun dengan dekat. Niken juga dekat dengan Raki Keleng. Bahkan dengan beberapa penghayat di Siti hinggil,…kata orang sih begitu. Lantas apa bedanya antara Niken dan Yu Mirah?
“Stop! Kita sudah sampai.”
Suara Niken memutuskan lamunannya.
“Oh. Sorry, “
Aryo menghentikan laju motor tepat di depan pagar rumah Niken.
“Kurasakan kau ngelamun saja sejak tadi.” tegur Niken dengan suara yang diwarnai perasaan kecut dan cemburu.
“…………”
“Kau melamun tentang Rayun, atau tentang aku?”
Aryo tersenyum tipis. Ditatapnya wajah di depannya. Sejenak dia menghembuskan napas yang menyesak.
“Aku terus saja ya?” ujarnya sambil memasukkan motor ke garasi.
“Bawa saja motor itu, Yok.”
“Tidak ah, terimakasih. Aku jalan saja.”
“Tidak mampir dulu?”
“Terimakasih, aku terus pulang saja. Sebaiknya kamu istirahat dua atau tiga hari di rumah, jangan masuk kantor dulu. Kalau perlu apa-apa, kamu bisa menghubungi aku di rumah kang Empul. Kalau ingin periksa ke dokter, biar kuantar.”
“Terimakasih, kau baik sekali. Sorry atas kejadian tadi.”
“Nggak apa-apa. Yuk. Aku pergi dulu, Ken.”
“Ya, sekali lagi terimakasih.”
Aryo mengangguk.
“Assalamualaikum,” ujarnya bersalam.
“Wa alaikumsalam.”

(Nyambung di episode yang akan datang)

Minggu, 25 Juli 2010

TROWULAN (25)


ANCAMAN.
Pemakaman sudah selesai.
Sebetulnya siapa yang dimakamkan? Bukankah yang ada cuma serbuk kehitam-hitaman bercampur serpihan tulang belulang? Mengapa manusia seputih Rustam, mendadak menjadi arang hitam seperti itu? Sungguh, Aryo tak habis mengerti, mengapa tak juga ada firasat tertentu yang menandai kepergian Rustam?
Seperti gila rasanya, saat dia menyaksikan kematian tragis sahabatnya itu. Tak pernah dibayangkan, justru mobilnyalah yang dijadikan pembantainya. Dia harus menyadari bahwa target pembunuhan adalah dirinya. Tetapi, apa dan siapa yang menginginkan kematiannya?
Setelah kejadian itu, Aryo harus rela berjalan bolak=balik ke Mapolsek sekadar memberikan penjelasan dan kesaksian atas kejadian itu. Beberapa karyawan museum bahkan sudah mengisyaratkan bahwa pelakunya adalah Raki Keleng, si biang kerok atau si trouble maker. Namun itu saja tak cukup untuk dijadikan bukti atas semua saksi yang bernyanyi menurut lagu semau gue. Polisi takkan sebodoh itu. Padahal ada satu saksi kunci yang sempat melihat bahwa ada dua orang yang berjalan mondar-mandir di sekitar jip celaka itu pada pagi hari sebelum kejadian. Salah satunya, …tak salah lagi, dialah orangnya. Raki Keleng. Tetapi mereka tidak yakin, sebegitu jahatkah Raki Keleng menjadi manusia? Atau…bisakah dia, mampukah dia…meletakkan bom di mesin Jip Nissan itu? Sepandai apakah dia? Sebab memasang bom pada mesin yang dihubungkan dengan kabel stater bukanlah pekerjaan yang gampang dan dapat dilakukan dengan waktu yang singkat. Maka satu-satunya harapan, polisilah yang harus membuktikannya. Sementara itu, Aryo Wangking seolah sudah tak mau memikirkannya lagi. Hatinya begitu terluka, dan semakin membicarakannya, semakin lebar luka itu menganga. Seharusnya dia sudah tau, ya, memang dia sudah tau. Tetapi apa gunanya? Dia hanya tak ingin mengatakannya pada orang lain, apalagi pada polisi. Sebab bisa saja itu dianggap sebagai sesuatu yang ‘ngoyo-woro’. BUkankah semua orang tau, Raki selalu memusuhinya? Dan apakah mereka tidak berpikir, dengan mengatakan hasil penglihatan gaib atau terawangan yang diketauinya itu, adalah semacam aksi timbal balik atas kebencian Raki keleng kepadanya? Hati dan pikirannya terus berputar sekitar peristiwa itu, dan terus berputar menggulung penyebab dari kebencian Raki kepadanya.
Apa yang membuat Raki Keleng tega berbuat sekeji itu, apa tujuannya? Kalau hanya menginginkan Niken, kenapa pula harus mengorbankan jiwa seseorang? Kebencian dan rasa iri dengki yang menyumbat pikiran waras, membuat Raki Keleng seolah telah berubah sebagai serigala yang haus darah. Licik, dan penuh tipu muslihat. Dan pada saat dia sudah tidak sabar lagi, inilah yang terjadi. Kegalauan pikiran yang bertentangan dengan suara hati nurani, bahwa sesungguhnya tak ada seorang manusiapun yang punya hati keji, kecuali sudah berubah menjadi setan, membuat Aryo malas melakukan kegiatan apapun selain terpekur saja di rumah. Termasuk : lupa mengapeli Rayun Wulan!
Hingga pada suatu siang, Aryo memaksakan diri masuk kantor. Ada perasaan tidak nyaman saat dia melangkah masuk ke halaman Museum. Rasa kesepian yang amat menyayat, sebab wajah Rustam yang selalu bijak, tak lagi bisa ditemui di sana. Hatinya serasa ‘gothang’. Kosong. Ada bagian yang hilang, yang tak lagi bisa ditemukan. Siang itu dirinya hanya menemukan Niken Pratiwi di teras depan Museum. Gadis itu duduk termenung sendirian sambil memeluk tas di dada. Wajahnya, alangkah murung. Sepertinya sedang memikirkan sesuatu. Sepasang matanya tak lagi bercahaya. Bibirnya tak lagi tersenyum ‘kenes’.
Aryo menjatuhkan diri duduk di sebelahnya.
Lama saling diam, akhirnya Aryo menyapa lebih dulu.
“Kamu kenapa, sakit?’
Niken menggeleng pelan.
“Aku sedang berpikir,” sahutnya.
“Apa yang kau pikirkan?”
“Banyak hal. Salah satunya adalah kejadian tempo hari. Kau tau? Aku sedang berpikir, jangan-jangan yang melakukannya adalah Raki Keleng.”
Aryo tertawa lirih.
“Kita serahkan saja pada pihak yang berwajib.” Ujarnya.
“Memang, tapi tak ada yang bisa melarangku untuk…”
“ Apa yang membuat kau menduga-duga seperti itu?”
“Kau kan tau, dia sangat membencimu, Aryo. Dia cemburu padamu, pada kelebihanmu, pada karirmu…!”
“Ah!” Aryo menepis dingin. “Apa kelebihanku, karirku? Omong kosong semuanya.” Katanya.
“Yang terutama, dia cemburu. Dia cemburu karena aku sangat emncintaimu.”
“Apa katamu?” Aryo menoleh dan tertawa ringan. “Kau mencintaiku? Benarkah masih ada cinta di hatimu, Ken? Orang seperti kamu, ….hahahaa….”
Niken menatap tajam wajah Aryo. Bola matanya merah, berselaput bening. Dia hampir saja tak bisa menahan jatuhnya cairan bening itu dari matanya.
“Apa kau pikir, aku seorang maniak, atau monster, yang…yang tak mengerti apa itu cinta? Ha? Kau tega menertawakan aku, Aryo, kau tak kenal siapa diriku…Kau melecehkan perasaanku…!”
Aryo menutup mulutnya rapat.
“Sori, Ken. Sesungguhnya memang, aku tidak kenal siapa dirimu. Kau bagaikan seekor kupu-kupu yang begitu indah dan menawan, tetapi rasanya sulit bagi seorang pria menangkapmu. Terbangmu terlalu cepat, kesana kemari…”
Niken mulai terisak.
“Kau bergaul dengan siapa saja. Semuanya seakan tidak ada yang lebih istimewa. Semuanya kau perlakukan sama. Tiada beda satu dengan yang lain. Jadi,…yah…” kata Aryo melanjutkan.
Dengan perasaan iba, Aryo memeluk bahunya.
“Nah, kau melamun lagi. Apa sih, yang ada dalam kepalamu, Ken?”
“Kau.”
“Aku?”
“Kalau saja kau jadi menikah dengannya, bagaimana dengan aku?”
Aryo mengulum senyum tipis, disentuhnya tangan Niken dengan lembut. Lalu katanya,
“Kita akan tetap berteman. Aku akan tetap mengingatmu sebagai salah satu teman terbaikku, bukankah selama ini kita selalu menjalaninya bersama dalam susah dan senang?”
Niken terdiam, mengangkat bahunya seakan tak percaya.
“Sudahlah, jangan terlalu dipikirin.” Dan Aryopun tertawa menghibur. Meringis sedikit, lalu katanya,
“Aku pipis dulu, yah? Kebelet, nih!”
Tanpa menunggu jawaban, Aryo sudah melompat pergi ke arah toilet di bagian belakang Museum.
Niken menarik nafas panjang, mendesah lirih. Dibiarkannya Aryo masuk ke dalam. Seperti bicara dengan dirinya sendiri, Niken mulai menggerumeng tak menentu. Bibirnya bergerak terus mengikuti jalan pikirannya.
Salahku sendiri, katanya menggumam. Seminggu belakangan ini aku emang muntah-muntah terus. Mencium bau kamar mandi, muntah. Mencium aroma bedak, muntah, makan buah segigitan, eh yang keluar malah seliter. Gila, aku memang sudah gila. Menagap semua itu kulakukan hanya karena perasaan cemburu yang menggosongkan hati? Kenapa aku jadi membabi membuta seperti itu? Siap ayah dari bayi diperutku ini? Ingat-ingat,…ayo…ingat-ingat…!
Masa lalu, sebelum mengenal Aryo Wangking, memang Niken amat dekat dengan Raki Keleng. Lalu datang Aryo singgah di hatinya. Laki-laki itu datang dari Yogya, bertubuh tinggi tegap, berbrewok, berkumis, gagah, ganteng, hangat, ramah, dan…Ya Allah, mengapa pula saat bersentuhan tangan sekujur tubuhku jadi merinding? Pikir Niken. Sentuhan tangannya saat menndekap dan meraba punggung, leher, dagu, bibir, dan dada….ya ampuuun… ciumannya sangat dahsyat. Lidahnya memelintir,bibirnya mengulum….
Lalu, saat Aryo sibuk mondar mandir Surabaya-Mojokerto,…Niken dibelit perasaan bingung dan cemburu. Begitu banyak laki-laki yang menginginkannya, mengapa harus seperti menunggu jatuhnya rembulan? Tak apalah melampiaskan hasrat kerinduan dengan laki-laki lain. Mereka itu ada yang pengusaha, kontraktor, pegawai perum,…dan semuanya begitu pandai merayu, menjilatinya bagaikan anjing geladak. Hingga mampu sejenak membuatnya lupa akan Aryo Wangking yang dikultuskan masyarakat setempat.
Hidupnya bukannya tambah terhormat, namun hanya semakin nista saja di mata orang. Laki-laki itu, semuanya, tak ada yang diketahuinya bertempat tinggal dimana. Merekapun tak lagi datang, atau peduli kepadanya. Lantas,…janin ini milik siapa?
Brengseknya aku, keluh Niken perlahan dengan leher penuh keringat. Begoknya aku! Mengapa aku menjalani semuanya itu tanpa rasa malu? Benarkah kata Raki, aku ini pelacur? Pelacur yang bagaimana? Pantaslah kalau orang seperti Aryo Wangking tak pernah bisa kuyakinkan tentang perasaanku kepadanya. Bukankah dia bisa melihat dengan kacamata spiritualnya bahwa aku….bahwa aku…
O Allah, Gusti!
Nyuwun ngapuro!
Ampunilah saya Tuhaaaannn….!
Niken membungkuk, menghapus air mata dengan ujung gaun dan telapak tangan yang gemetar karena takut akan azab Allah yang barangkali saat inilah ditimpakanNya kepadanya. Hatinya merintih, pedih, perih. Sekarang baru disadarinya, alangkah berbeda dirinya dibanding Rayun, di mata Aryo. Perbedaan itu begitu mencolok. Bagaikan menatap matahari, mata Niken jadi silau membelek.
Penyesalan memang selalu datang belakangan. Namun niatnya untuk memiliki Aryo tetap kuat. Biar saja orang mengira janin ini adalah milik Aryo. Niken sudah tak peduli lagi. Justru barangkali Rayunlah yang mundur teratur apabila tau Aryo sudah menghamili orang lain. Biar saja dia mati terkejut, mati berdiri atau mati membelalak. Pret, prêt!
Tiba-tiba…
Tuli luli lulit…. tula lula lulit…..
Niken Pratiwi tersentak kaget, menengok ke samping. Suara itu terdengar dari arah dalam tas ransel milik Aryo yang ketinggalan di kursi sebelahnya. Niken melongok ke dalam. Sepi. Bayangan tubuh Aryo saja tidak kelihatan. Barangkali masih di toilet.
Tuli luli lulit,…tula lula lulit…
Telepon itu berbunyi lagi. Niken memberanikan diri membuka tas ransel milik Aryo dan mengeluarkan sebuah telepon genggam dari dalamnya. Dengan jelas, Niken bisa melihat bahwa yang menelpon adalah Rayun Wulan. Tertera di layar kaca telepon genggam itu. Perlahan, didekatkannya ke anak telinganya. Suara lembut mengalun memasuki otaknya.
“Halo sayang,…”
Niken menggigit bibir. Suara itu betapa indah. Dadanya terasa beku sesaat.
“Ar, kamu ada dimana sekarang?” suara itu mengalun lagi. Niken hampir saja tersedak, namun dengan sigap telapak tanganny mendekap bibir sendiri.
“Aku sudah hampir dekat Museum. Nih, Innovanya aku bawa sekalian buat kamu mondar mandir ke Surabaya, biar nggak repot naik bis. Jip kamu masih di bengkel, kan? Tolong dong, kamu siap aja di depan ya, supaya aku nggak usah turun. Kita langsung saja, oke?”
Niken memutuskan hubungan telepon dengan jemari gemetaran. Cepat, ponsel itu dimasukkannya lagi ke dalam ransel. Segera dia sadar, bahwa hubungan Aryo dan Rayun tak lagi main-main. Mereka akan segera melangsungkan pernikahan, kata Aryo. Benarkah? Memang Niken sempat tidak percaya, dan berpikir, ‘mana mau, gadis seperti Rayun mau sama Aryo’? Lantas, kini gadis itu datang mengantarkan Innova! Wah, bukan main! Apakah seperti itu anak orang kaya merayu lelaki? Dengan memberikan hadiah mahal? Seperti handphone, misalnya. Dan mobil? Atau, rumah gedung berlantai dua? Sekalian jalan-jalan ke luar negeri, begitu?
Huek….huek…!
Niken mau muntah rasanya karena mendadak jadi stres.
Oh, bukan hanya ingin muntah. Namun kini dia benar-benar harus berlari masuk karena benar-benar sudsah muntah. Masih sempat dilihatnya, sebuah Kijang Innova silver masuk ke halaman Museum. Seorang gadis turun, tubuhnya lampai, berkulit bersih, rambut hitam legam, dan wajah sedikit keindo-indoan. Tumitnya memakai selop yang serasi dengan gaunnya. Melangkah bagaikan seekor angsa, mendekat,…mendekat…
Aaaaggghh!
Niken berlari masuk, makin cepat makin baik. Hatinya perih, dadanya sesak. Niken makin merasa dirinya hanyak seekor itik yang buruk rupa. Kakinya bergerak cepat bagai dikejar setan. Namun belum lagi sampai ke depan pintu toilet, perutnya sudah tak tahan lagi. Dia sudah hoek hoek lagi. Menabrak Aryo di lorong, lalu ambruk ke dalam dadanya.
“He! “ Aryo berteriak. “Ada apa ini?”
Namun mendadak tubuh Niken terasa amat berat. Gadis itu menggelandot, dan hampir saja menggelosor ke lantai kalau saja Aryo tak cepat tanggap atas sesuatu yang terjadi.
“Ken…Ken! Kau pingsan, ya? Waduh, gimana sih kau ini. Ken…Ken…”
Aryo segera mengangkat tubuhnya, menggendongnya ke sofa. Membaringkan tubuh gadis itu pelan-pelan, namun mendadak saja Niken memeluknya erat dan mencium bibirnya kuat-kuat. Aryo kian gelagapan tatkala tiba-tiba dari arah pintu, muncul wajah Rayun.
“Ar…yo…?”
Cepat Aryo berusaha menguraikan lengan Niken yang melingkar di lehernya.
“Oh,…kau Rayun…”
“Kenapa dengan dia?” tanya Rayun keheranan seraya melangkah mendekat.
Aryo mengangkat bahu dengan sikap kikuk.
“Entahlah, tahu-tahu pingsan begitu saja.”
“Tadi kulihat dia nggak apa-apa di teras depan.”
“Ya, akupun merasa tadi dia tidak apa-apa.”
Aryo mencoba tersenyum.
Rayun membalas senyumnya dengan sebuah seringai pedih.
“Tadi kulihat dia…menciummu,” ujar Rayun pelan.
“Oh, masa? Aku…tidak merasa…”
“Itu seperti sebuah eksekusi kejam bagiku, Aryo.”
“Sori, tapi sejak beberapa hari yang lalu dia memang terlihat kurang sehat. Entah mengapa hari ini tiba-tiba dia…Kurasa…kurasa,…mmmm…”
Aryo kian tidak enak hati melihat wajah Rayun tak terlihat marah. Hanya saja lebih pucat dari biasanya. Mungkinkah dia sakit hati? Cilaka, kalau benar begitu, pikir Aryo gelisah.
“Coba tanyakan, sudah ke dokter, belum?”
“Katanya sih, belum. Entahlah.”
“Siapa namanya?”
“Niken. Niken Pratiwi.”
Niken tetap memejam. Bibirnya membungkam. Airmatanya seakan ingin tumpah. Namun ditahannya meski ada duka nestapa yang meruyak di dada. Kalau gadis cantik itu bisa menahan diri, mestinya aku juga harus bisa menahan diri, pikir Niken.
Terakhir, dirasakannya ruangan lebih sepi. Niken beranjak duduk. Benar, Aryo telah mengajak Rayun ke ruang pustaka. Mereka berbicara lama di ruang itu.
Niken mengatupkan telapak tangan ke wajah, menangis diam-diam. Wajahnya tengadah saat terdengar gereten Raki yang bermerk Zippo berbunyi ‘cling’ saat dinyalakan. Dilihatnya Raki Keleng tengah duduk di depannya sambil menyulut sebatang rokok.
“Kau menangis?” tanya lelaki berkulit hitam berambut ikal itu dengan lagak tengik.
“Cemburu?” ujarnya lagi sambil menghembuskan asap dari hidung.
Niken menghapus sisa airmata dengan sehelai tissue.
“Ken, Ken! Kau mimpi barangkali. Lihatlah si Rayun itu. Bukankah dia sangat cantik dan anggun? Bandingkan dengan dirimu, betapa jauh bedanya. Sebesar apapun usahamu merebut Aryo kembali, kau takkan berhasil. Seberapa kuat usahamu, tak akan bisa lagi merenggut jagoanmu itu dari tangannya. Lebih baik kau dengan aku saja. Kwinlah denganku. Jadi istriku! Aryo Brewok itu sudah amat dekat ke pelaminan, Ken. Sadar, dong! Dia bahkan gembar gembor ke sana ke sini. Gadis itu anak orang kaya, Ken. Anaknya konglomerat. Apalagi yang kau tunggu? Aku sanggup kok, menghidupi kamu lahir batin. Tak ada gunanya menunggu bulan runtuh dari langit!”
“Kamu ini ngomong apa, Ki! Membual terus!”
“Aku bicara tentang realita. Kenyataan> Sekarang kau mau bilang apa pada dunia? Ha?” Bahwa kau dan Aryo masih…?”
“Aku memang akan bilang begitu pada dunia, memang kenapa?’
Hebat! Rasa percaya dirimu memang cukup besar. Tak salah aku memilihmu sebagai sebuah damba yang tak pernah padam. Cuma,…apa kau tidak terlalu berlebihan?”
“Aku akan bisa membuktikan bahwa aku sedang mengandung anaknya.”
Raki Keleng terlonjak.
“Uts! Jadi benar kau hamil?
Raki Keleng tertawa ngakak.
“Kau mencoba menjeratnya, begitu? Hahaha….dasar perempuan. Seharusnya kau tau bahwa di sana ada tetesan darahku. Anak itu, kalau ia memang harus lahir, pasti punya bapak lebih dari satu. Hahaha….gila. Dunia ini memang sudah gendeng. Hahaha….”
“Tutup mulut kamu yang busuk itu, Raki! Kau memang bedebah!”
Raki keleng masih menyisakan tawa besarnya. Namun sepasang matanya menyambar tajam.
“Dengar Niken, aku ini laki-laki normal. Sebusuk apapun aku, tak suka dihina perempuan yang sama bedebahnya dengan diriku. Atau kutampar mulutmu!”
“Tampar! Tampar! Sekali saja kau menamparku…”
“Baik. Ini. Rasakan!”
Tangan Raki Keleng bergerak cepat.

(Berlanjut sabtu depan, bye bye)

Kamis, 27 Mei 2010

TROWULAN (24)


TERBAKAR CEMBURU.
Perselisihan dengan Raki Keleng yang tersulut secara tiba-tiba pada akhirnya membuat hati Aryo Wangking jadi tidak tenteram. Dirasakannya ada sesuatu dalam sorot mata Raki Keleng yang membuat Aryo Wangking jadi gelisah. Setiap kali berpapasan dan bersitatap dengannya, perasaan Aryo Wangking bergetar. Dia rasakan, seperti berpapasan dengan serigala buas yang siap menerkam dan mencabik-cabik dirinya. Apabila dia berlalu dan meninggalkan Raki Keleng di belakangnya, dia merasakan sekujur punggungnya dingin membeku. Bulu kuduknya meremang dan kegelisahan akan terjadinya sesuatu yang mengerikan mendadak saja datang menyergap dan menyelinap di segenap relung hati.
Hal seperti it uterus saja berlangsung. Ada serigala yang mengintip, ada gadis manis yang seakan semakin demonstratip memperlihatkan kasmarannya kepadanya. Niken kian gigih untuk selalau bisa berdekatan dengannya, tak peduli pada sepasang mata serigala buas yang siap mencabik-cabik dagingnya. Ada saja hal-hal remeh dijadikan alasan agar bisa dekat dengannya di ruang pustaka yang sempit. Kadang bahkan dengan sengaja, gadis itu menempelkan payudaranya ke lengan Aryo. Atau memeluknya dari belakang, atau bersandar ke bahunya, atau….aaggghhhh! Pusing Aryo memikirkannya. Seakan-akan Aryo dihadapkan pada satu situasi yang sulit.
Hingga pada suatu siang, di ruang kerja itulah Niken bersandar ke dada Aryo yang tengah duduk menyadur di mejanya.
“Hari ini aku lelah sekali,” keluh Niken seraya menggeliatkan badan.
Aryo mendorong perlahan, dan memaksa Niken duduk lebih tegak di kursinya.
“Kenapa?” tanya Aryo.
“Entahlah. Perutku ini rasanya nggak enak.”
“Ada yang nggak beres, Ken?”
“Iya sih, kayaknya.”
“Sudah ke dokter?”
“Belum. Kau antar aku, ya?”
“Mmmm….”
“Kenapa? Keberatan?”
“Keberatan sih, enggak. Cuma sibuk saja belakangan ini. Mengurus rencana pernikahanku.”
“Dengan Rayun? Jadi, kamu dengan dia?”
Aryo tertawa tanpa suara.
“Memang kenapa kau tanyakan itu, Ken? Kami sudah saling mencintai, saling mengerti, dan dia mau kuajak menikah. Apalagi? Kdua orang tua dari dua belah pihak juga sudah merestui.”
“Menurutku, kau terlalu terburu-buru.”
“Maksudmu?”
“Yaaa….Masih banyak yang harus kau pikirkan sebelum memasuki jenjang pernikahan. Misalnya, latar belakang kehidupan kalian, status ekonomi kalian, gaya hidup, dan ah…masih banyak lagi hal-hal yang menurutku tidak cocok!”
Aryo melepas tawa lebar.
“Apa, yang tidak cocok? Kau cemburu, atau hanya berlebihan saja menilai sesuatu?”
“Cemburu? Jelas itu!”
“Ah, apa pasal?”
“Selama ini kau anggap apa hubungan kita ini, Yok? Aku kuatir, yang dikatakan Raki benar.”
“Apa yang dikatakannya?”
“Bahwa aku hamil.”
“kau gila!”
“Aku memang gila. Lebih gila lagi, kalaupun aku dihamili laki-laki siapapun dia, aku akan bilang kalau kaulah ayah dari janin yang ada di perutku ini.”
Aryo membereskan tas ranselnya, dan bersiap untuk pergi.
“Aku tak percaya kau berani mengakui kehamilan itu, kalau kau benar-benar hamil.”
“Oh ya? Begitukah pikirmu?’
“Ya, kau tak akan segila itu.”
“Aku sudah gila, tidakkah kau mengerti. Aku gila karena kau!”
“Niken…”
“Aku akan mengatakannya pada orang-orang bahwa kau, titisan Nambi, adalah laki-laki pengecut yang tak berani mengakui kebejatanmu.”
Wajah Aryo merah padam. Namun senyumnya masih mengulas di bibir.
“Sebentar lagi aku menikah, artinya, aku akan menjadi milik orang lain.”
“Itu nanti, bukan sekarang. Sekarang kau masih milik bersama. Kau boleh dengan Rayun, boleh juga denganku. Enak kan?”
Kini Aryo tak lagi bisa tertawa. Dirinya sudah merasa benar-benar tak nyaman lagi berada dalam satu ruang dengan Niken.
“Barangkali kau sudah benar-benar tidak waras lagi, Ken. Kau merendahkan dirimu sendiri.”
“Aku mau jadi tidak waras kalau itu karenamu.”
Aryo menatapnya tajam.
Dia mulai berpikir bahwa gadis itu sudah amat keterlaluan. Tetapi sebelum sempat berpikir terlalu jauh, tiba-tiba Niken sudah meraih kepalanya, menundukkannya dengan paksa dan memagut bibirnya dengan sergapan yang dahsyat. Bibir mereka saling bertaut. Niken membiarkan bibirnya mengulum, menghancurkan pertahanan Aryo wangking. Seakan tak memberi ampun atas segala dosa, menikam lidah hingga ke hulu. Bagai mengairi kemurnian madu.
Aryo Wangking tersentak tak sempat mengelak. Semua kekuatan dalam dirinya sirna bergelayut rindu. Kehangatan dan kekuatan yang dimiliki NIken membuyarkan niat-niat baik yang mulai diukir dalam diri dan jiwanya. Tubuh Niken yang panas bagai bara api tak bisa dipungkiri, lebih brutal dibanding kesantunan yang dimiliki Rayun Wulan. Niken Pratiwi adalah perempuan yang hidup dalam diri. Yang selalu lincah mengelak dari pelukan gemas dan gelap. Bersikeras mencari kepuasan yang tak pernah selesai.
Beberapa lama mereka saling mengulum dan meremas, ketika tiba-tiba pintu digebrak keras, mengagetkan keduanya.
Raki Keleng berdiri di tengah bingkai pintu dengan sepasang mata serigala yang siap menancapkan taring ke dalam daging busuk di depannya.
“Kalian lupa mengunci pintu,” ujarnya tandas.
Niken Pratiwi tergeragap.
Aryo Wangking menghapus bibir dengan punggung tangan. Rasanya bibirnya jadi kotor sekali, penuh dengan bakteri atau setan-setan. Kalau bisa, dia ingin menyayatnya dengan pisau cukur dan menggantinya dengan bibir yang lebih baru dan bersih.
Sambil menyambar tas ransel dari sandaran kursi, Aryo Wangking berjalan keluar. Ketika melewati Raki keleng, dia sempat berujar,
“Maaf, aku harus pergi.”
“Tunggu, Yok!” Niken berteriak memanggil.
Namun Aryo sudah melesat pergi ke ruang depan, dimana meja Rustam berada. Dia menghempaskan diri duduk di samping Rustam dengan dada sesak. Rasa malu dipergoki seperti itu ditambah dengan kekuatiran lain akan datangnya fitnah, membuatnya berkeringat.
Niken Pratiwi ikut bergegas keluar. Namun lengan Raki Keleng menahannya di ambang pintu.
“Biarkan aku keluar,” kata Niken tajam.
“Aku sudah melihat semuanya,” sahut Raki Keleng tak kalah tajam. “Aku melihat kalian berciuman dengan penuh gairah. Aku juga mendengar pembicaraan kalian, kalau kau benar-benar hamil karena…”
“Ya, aku hamil karena dia. Sekarang, apa maumu ha? Apa pedulimu?”
Raki Keleng tertawa pahit.
“Ya, apa peduliku? Tapi aku memang peduli. Tidak banyak. Aku Cuma ingin tau apa kau cukup jujur menjawab pertanyaanku.”
“Apa pertanyaanmu?”
“Kalau kau sudah hamil karena dia, apakah kau masih mau dijamah lelaki lain? Ingat Niken, akupun,…sekali lagi,…akupun pernah melakukannya denganmu. Apa kau yakin anak itu anak Aryo? Atau anakku? Atau anak lelaki lain? Ha?”
Kedua mata Niken membelalak.
“Kurang ajar!” desisnya menahan marah.
Segera tangannya menepis lengan Raki Keleng yang tengah menghalangi jalannya. Namun dengan sigap Raki Keleng menangkap tangannya, dan menariknya ke dalam pelukannya. Bibirnya menancap langsung ke bibir Niken Pratiwi. Menggilasnya dengan kasar dan brutal.
Niken Pratiwi meronta dan menampar wajah Raki Keleng dengan sebuah taamparan keras. Lelaki berkulit hitam itu tidak berusaha mengelak. Dia bahkan tertawa sinis seraya memperketat pelukannya. Seperti ular terjepit besi panas, tubuh Niken meronta, mencakar, dan menggelinjang. Sumpah serapah terlontar. Jerit tangis menambah suasana jadi sangat giris. Aryo dan Rustam berlari kebali ke depan pintu raung pustaka. Keduanya terkejut melihat keadaan begitu mengerikan.
“Raki! Raki! Lepaskan dia. Kamu sudah gila, apa? Raki! Lepaskan!” teriak Rustam.
Tanpa diulang, Raki melepaskan Niken sambil tertawa-tawa.
“Ada apa ini?” tanya Rustam kebingungan. “Kalian ini sudah pada sinting semua. Ini kantor, bukan pasar. Ribut melulu! Ada apa, sih?”
“He, Rustam!” jawab Raki Keleng kurang ajar. “Kau lihatlah dulu siapa yang salah. Apa aku salah mencium perempuan seperti dia? Dia ini, memang harus dikasari. Jujur saja, apa harus dibujuk, dibeli, dirayu? Tertawa meringis. Dia itu pelacur. Kamu dengar? Kalau ndak percaya, tanyalah si Brewok. Berapa lama dia mencengkam malam menghancur luluhkan sepi jiwanya? Mari. Kaupun bisa terengkam. Aaaah, kita ini sama saja. Tak ada beda antara kau, aku, maupun si Brewok yang dikultuskan itu. Semua laki-laki suka yang itu. Turut saja!”
“Kurang ajar kau Raki! Aku tidak terima dengan omonganmu itu!” teriak Niken keras.
Raki Keleng Cuma tertawa-tawa bak orang sinting. Dia kibaskan tangan ke udara bagaikan mengusir lalat. Menatap jemu ke wajah-wajah pucat pasi di sekitarnya. Kemudian dengan lagak tengik berlalu, meninggalkan Rustam yang berdiri kaku dengan wajah bingung, meninggalkan Aryo yang geram dan berkeringat, meninggalkan Niken Pratiwi yang menangis karena marah dan benci. Dia menempelkan dua jari le bibir dan melambaikannya kepada semua orang, seakan mengucapkan bye bye.
“Aku tidak terima,” isak Niken Pratiwi.”Aku benci ucapannya. Aryo, kau harus berbuat sesuatu, jangan diam saja dia mengata-ngatai aku seperti itu…”
“Ah, sudahlah. Lupakan saja,” sahut Aryo dingin.
Rustam membimbing Niken ke sebuah kursi tak jauh dari situ, mengambilkan air minum dengan menghiburnya dengan lembut.
“Sudah, Ken. Tenang saja. Kita semua tidak ada yang mempercayainya. Kita tau betul siapa dia, siapa dirimu, dan siapa Aryo. Raki itu memang tidak beres otaknya, untuk apa ditanggapi serius?”
Aryo menengok arlojinya.
“Sori, aku pergi dulu, Rus.”
“Kau mau kemana?”
“Nengokin rumah kang Empul. Sudah lama tidak dibersihkan.”
Rustam berdiri di depannya.
“Sebetulnya aklu mau minta tolong padamu, Yok.”
“Apa yang bisa kubantu?”
“Aku ingin pinjam kendaraanmu. Sebentar saja. Tadi bapakku menelpon, katanya ibuku sakit dan perlu diantarkan ke dokter. Kalau boleh…”
“Oh, boleh saja, Atau…mau kuantar?”
“Tidak usah, terimakasih. Aku Cuma butuh waktu satu jam saja, Rumah bapakku kan tidak jauh dari sini.”
Aryo Wangking mengambil kunci kontak dari saku celana dan memberikannya pada Rustam.
“Surat kendaraan ada dalam dompet kunci, Rus.” Kata Aryo.
“Terimakasih, Yok. Aku buru-buru.”
“Jangan lupa sampaikan salamku pada kedua orangtuamu. Semoga cepat sembuh.”
“Insya Allah akan kusampaikan. Yuk !”
Rustam berpamitan, bergegas ke halaman. Aryo mengantarkannya sampai di anak tangga depan museum. Setelah melihat Rustam naik ke atas jip, dia berbalik masuk. Namun tiba-tiba….
Blaaaarrrrr….!!!!
Ledakan yang amat kuat mengguncang dinding gedung. Refleks, Aryo melompat , bertiarap merapatkan badan ke lantai. Serasa ada bom jatuh dari langit. Bom? Kening Aryo berkerut. Benarkah itu tadi ledakan bom?
Beberapa kerikil atau pecahan besi terlontar ke teras museum. Ada beberapa yang jatuh ke punggungnya.
Perlahan Aryo menggerakkan kepala, menengok ke belakang, ke arah halaman gedung. Astaga! Lidah api yang cukup besar menjilat-jilat ke udara. Apa sih, yang terbakar? Kembali Aryo mengernyitkan kening. Beberapa detik lamanya, dia tetap tengkurap tanpa gerak kecuali kelopak mata yang berkedip-kedip tanda dia berpikir keras.
Setelah itu, dia berdiri, menoleh, dan ….ya Tuhan…!
Aryo berlari ke halaman, ingin menerobos lidah api yang menjilat garang. Jip! Jip itulah yang meledak. Meledak? Meledak karena apa? Sungguh Aryo tidak pernah menduga bahwa ledakan itu terjadi karena sebuah bom yang sengaja dipasang di bawah mesin.
“Rustam!....Ya Allah, Rustam…!”
Aryo sudah ingin melompat ke dalam kobaran api kalau saja tidak ada tangan-tangan kuat para karyawan lain yang menahannya.
Tanpa sadar, Aryo menangis keras, berteriak, menggeram, menggerung….
Tak jauh dari tempat berkobarnya api, Raki Keleng menggertakkan gigi. Percobaan pembunuhan atas Aryo Wangking telah gagal. Yang mati justru Rustam, karyawan paling baik di dunia. Karyawan yang penuh dedikasi. Yang rela hidup pas-pasan hanya karena kecintaannya pada benda-benda kuno bersejarah.
Dia segera menghubungi Pamugaran melalui ponselnya yang baru dibelikan pelukis dari Gianyar itu.
“Berhasil?” tanya Pamugaran dari seberang sana.
“Gagal, Boss.”
“Bagaimana bisa, bukannya kau bilang pasti berhasil?”
“Sori Boss, ini semua di luar skenario.”
“Apa maksud kamu?!”
“Tanpa saya duga, seseorang meminjam jip itu. Jadi,…’
“Brengsek!”
“……………”
“Terus, sekarang bagaimana.”
“Kita coba lagi dengan cara lain.”
“Baik. Tapi saya nggak mau gagal lagi. Temui saya di tempat biasa, besok, dengan jam yang sama.”
“Baik.”
Raki keleng memasukkan ponsel barunya ke saku celana. Berdiri termangu memandang sisa kobaran api. Disaksikannya beberapa orang berusaha keras memadamkan api, Bibirnya yang kehitam-hitaman akibat nikotin, tersenyum tipis. Paling tidak, dia sudah berhasil meremukkan hati Aryo Wangking dengan tewasnya salah satu sahabat baiknya itu. Rasakan kau, Aryo! Sebentar lagi, tidak lama lagi, kau akan menyusul kea lam baka!
Aryo Wangking terduduk lemas menyaksikan beberapa karyawan tengah berusaha memadamkan api. Pemadam kebakaran sudah diberi tau lewat telepon, juga sudah melaporkan kejadian itu ke polisi. Tinggallah Aryo menatap kuyu sisa kobaran api yang menggosongkan sahabatnya tanpa mampu berbuat apa-apa lagi.
Matanya sembab. Bibirnya kering.
Rustam, rintihnya dalam hati. Ibumu sakit, Rus. Apa yang harus kukatakan kepada beliau tentang kematianmu ini? Apa? Bagaimana harus kuhadapi bapakmu? Sanggupkah aku mengabarkan tragedi ini kepada beliau? Kalau bukan aku, lalu siapa?
Aryo menghapus air di sudut mata dengan kasar. Sakit hatinya. Sakit sungguh! Sebetulnya dia sadar, bom itu diperuntukkan dirinya, bukan Rustam. Mengapa justru Rustam yang kena? Ya Allah, ya Robb…semua itu akan tetap menjadi rahasiaMu. Dan hanya Engkaulah yang tau bahwa kejadian ini sudah Kau rencanakan.
“Mas Aryo, polisi sudah datang.” Seseorang membangunkannya dari kesedihannya.
Aryo mengangguk lemah. Berdiri dengan lemah. Berjalan dengan kaki lemah.
“Suruh mereka ke ruanganku,” ujarnya pelan.
“Ya, mas.”
Aryo terus berjalan, melewati meja Rustam, berhenti sejenak dengan dada perih. Kemudian meneruskan langkah ke ruang pustaka. Sepi, suram, gelap. Niken entah kemana. Yang ada cuma kegalauan yang membelit dan kesedihan yang tiada tara.
Selamat jalan Rus. Semoga jalanmu lapang.

(Berlanjut ke episode depan)

TROWULAN (23)


SEBUAH RENCANA.
Sebuah mobil mewah masuk ke halaman museum. Raki Keleng memicingkan mata, mencoba melihat dengan jelas siapa yang ada di dalamnya. Sementara itu tangannya tak pernah berhenti mencungkil geraham dengan sebatang tusuk gigi. Tungkai kiri diangkat ke atas paha kanan. Duduk bersandar di kursi depan museum dengan hati kesal, Raki Keleng seakan mendapat tontonan mengasyikkan tatkala dari mobil itu turun seorang pria keren dengan T-Shirt ketat warna hitam celana krem, dan sepatu yang ‘wah’ berwarna senada.
Ya, Raki Keleng memang sedang merasa uring-uringan, sebab sudah sejak tadi Niken tak juga mau keluar dari ruang pustaka. Gadis itu ada di dalam bersama Aryo. Itu, yang membuatnya kesal setengah mati. Kekesalan itu mendadak harus disingkirkan ketika pria keren itu naik ke beranda museum. Pria itu mengangguk sopan, dan melempar seulas senyum kepadanya.
“Selamat siang,” ujarnya menyapa.
Raki Keleng berdiri dari kursi pelan-pelan seakan-akan terperangah. Sepasang mata pekat miliknya menatap lekat tamu yang datang. Seperti terkesima, dia membalas senyum pria itu.
“Sebentar,” kata Raki Keleng. “Bukankah Anda Dewa Pamugaran? Ya, ya. Tebakan saya pasti tidak salah. Andalah pelukis yang terkenal itu, kan?”
Pria tampan yang ternyata memang Pamugaran, mengulurkan tangan mengajaknya bersalaman. Raki keleng cepat-cepat memindahkan rokok dari tangan kanan ke tangan kiri, membersihkan tangannya pada belakang celana, lalu bergegas menerima uluran tangan Pamugaran.
“Saya memang Pamugaran, apa kabar?” kata Pamugaran luar biasa ramah. Membuat Raki Keleng semakin terperangah.
“Saya baik-baik saja. Terimakasih. Nama saya Raki Keleng. Saya sudah membaca semua berita tentang sampeyan di Koran. Wah, sampeyan memang hebat. Lukisan sampeyan juga hebat. Harganya pasti tinggi, bahkan dibeli juga oleh orang bule, hehehe.”
Pamugaran tersenyum mendengar pujian panjang itu. Ia justru berpikir, orang ini pastilah teman Aryo Wangking. Kata-katanya itu barangkali sebuah sindiran, sebab tidak mungkin orang ini tidak tau soal perkelahian di apartemen tempo hari.
“Sampeyan mencari siapa?” tanya Raki Keleng ketika melihat Pamugaran celingak celinguk ke arah dalam.
“Saya mencari Niken Pratiwi.” sahut Pamugaran.
Raki Keleng mengerutkan kening.
“Ada perlu apa, sampeyan mencari Niken?”
“Cuma sebuah urusan kecil. Dimana saya bisa bertemu dengannya?”
“Sori, dia sedang sibuk.”
‘Sibuk?”
“Ya, di ruang pustaka bersama Aryo Brewok. Kalau sampeyan nekad masuk, ketok dulu pintunya. Tuh, pintu ruang yang di sebelah Barat itu. Pintunya terkunci dari dalam. Silakan saja.”
Pamugaran tertegun.
Dia merapatkan bibir dan berpikir. Bagi Pamugaran, laki-laki bernama Raki Keleng itu terlihat sekali tidak menyukai Aryo Wangking. Apakah dengan sikap sinis seperti itu dia berusaha memberitakan sebuah gasip murahan, bahwa ada hubungan istimewa antara Aryo Wangking dan Niken Pratiwi? Bagaimana tidak? Laki-laki itu seakan tengah mencurigai keberadaan Niken dan Aryo Wangking yang tengah berdua saja di ruang pustaka yang tertutup rapat. Perasaan cemburu yang tergambar dengan sangat jelas pada sikap, gerak bibir dan ucapan. Kemudian kekesalan itu seakan dengan sengaja ditiupkannya kepada Pamugaran. Jadi, apa maksudnya dengan memperlihatkan kecemburuan dan kebenciannya pada Aryo wangking kepada dirinya?
“Ha! Sampeyan pasti sedang berpikir ke arah sana,” kata Raki Keleng tiba-tiba seraya membuang puntung rokok ke halaman.
“Saya justru tidak mengerti maksud sampeyan, Mas.”
“Masa?”
“Betul, saya tak mengerti sebetulnya ada apa dengan… Yang sampeyan maksud…”
“Main!”
“Main? Maksud sampeyan…?”
“Kita ini bukan anak ileran, Mas Pamugaran. Kita sudah tau apa maksudnya. Jangan pakai pura-pura…!”
Pamugaran berkacak pinggang, tertawa dalam hati. Siapa yang tidak tau? Tapi mana mungkin begituan di kantor. Itu Cuma fitnah saja dari orang yang lagi kesel dan sedang dibakar perasaan cemburu.
“Baik, baik. Jadi saya harus mengetuk pintu kalau ingin menemui seseorang di sini, begitu maksud sampeyan?”” tanyanya kemudian.
“Tidak semuanya. Lihat saja, cuma satu pintu. Ruang itu saja.”
Raki keleng menyulut sebatang rokok, lalu menghisapnya dalam-dalam.
“Sebab,” lanjutnya sambil mengebulkan asap dari mulut dan hidung, “…ada dua orang penting di dalamnya. Yaitu Aryo Brewok dan Niken Pratiwi. Dan pastinya sampeyan ingin tau mengapa pintu itu tertutup rapat?”
“Karena mereka…main?” tanya Pamugaran menahan tawa.
“Ya, sampeyan akan malu sendiri kalau lupa mengetuk, karena akan menyaksikan sebuah adegan yang sangat jorok!”
“Ah, sampeyan terlalu mengada-ada.”
“Sampeyan nggak percaya? Ya silakan saja dicoba. Itu, disitu, ruangannya terlihat dari sini. Silakan saja!”
Pamugaran menatap dengan pandangan aneh. Dia melihat ke dalam, ya, memang di ujung Barat ada sebuah ruangan dengan pintu yang tertutup. Percaya nggak percaya, Pamugaran mendadak dirasuki rasa tak suka melihat ke arah pintu itu. Tumbuh satu pertanyaan dalam hati, kalau memang omongan orang ini benar, apakah lelaki semacam ini yang di inginkan Rayun menjadi calon suami? Lelaki yang tidak setia. Terbukti dia sudah meninggalkan Niken, tetapi sekarang berselingkuh pula setelah menjadi kekasih Rayun. Taukah Rayun, bahwa lelaki jagoannya itu ternyata suka main perempuan? Bukankah Niken pernah bilang, bahwa mereka adalah sepasang kekasih, dan menantangnya untuk membuktikan dengan cara bertanya pada semua orang tentang kebenaran kata-katanya?
“Akhir-akhir ini mereka memang lebih akrab,” kata Raki Keleng tiba-tiba. “Sampeyan sudah lama kenal Aryo Brewok?”
“Belum.”
“Saya sudah bertahun-tahun mengenal dia. Saya tau betul siapa dia!”
“Sampeyan tau banyak tentang dia?”
“Tentu saja. Saya tau dia luar dalam. Memang, kenapa?”
“Jadi benar, mereka adalah sepasang kekasih?”
Sebelum menjawab pertanyaan itu, Raki Keleng tertawa miring.
“Soal itu, sori, saya tak mau menjawab.” sahutnya kemudian.
“Oke, kalau demikian, rasanya lebih baik saya pulang saja.”
“Loh, kok begitu? Sampeyan nggak jadi masuk?”
“Lain kali saja. Permisi.”
“Eh, eh. Tunggu.”
Pamugaran menghentikan langkah. Dia menunggu saat Raki keleng mendekatinya.
“Sebaiknya kita keluar dari sini,” kata Raki Keleng. “Saya ingin ngobrol dengan sampeyan mengenai Aryo Brewok. Tetapi jangan di sini. Bagaimana kalau kita cari tempat lain yang enak untuk bicara?”
Pamugaran mengikuti saran dan permintaan Raki Keleng. Mereka berdua berjalan menuju mobil dan masuk ke dalamnya. Tanpa banyak bicara, Pamugaran menghidupkan mesin. Mobil mewah itupun kemudian meluncur perlahan ke jalan raya. Mereka mencari sebuah rumah makan tak jauh dari Museum. Setelah memesan makanan dan minuman, Raki Keleng membuka pembicaraan dengan serius.
“Sebetulnya saya sudah tau bahwa sampeyan punya masalah tersendiri dengan Aryo Brewok,” katanya.
“Sampeyan juga membaca berita dalam Koran itu?”
“Ya. “
“Dan sampeyan percaya?”
Raki Keleng tertawa.
“Saya percaya. Sayang sampeyan tidak pernah menggunakan hak jawab sampeyan. Jadi saya pikir, berita itu benar seratus persen. Tapi,…sudahlah. Bukan itu tujuan saya membawa sampeyan kesini. Sebetulnya, orang-orang di daerah sini sudah tau semua tentang cinta segitiga kalian, antara sampeyan, Aryo Brewok dan penulis dari Surabaya itu. Tentu, itu dikarenakan kalian adalah merupakan public figure. Jadi ndak heran kalau berita itu justru mengganggu pribadi maupun karir sampeyan.”
Raki keleng menyulut rokok sejenak, menghisapnya dalam-dalam, kemudian menghembuskan asap dari mulutnya.
“Begini, Mas,” lanjutnya. “Sebaiknya saya to the point saja. Kita ini bernasib sama. Karir dan nama baik sampeyan telah rusak karena ulah si Aryo Brewok itu. Hubungan percintaan sampeyan dengan rayon Wulan boleh dikata sudah hancur-hancuran. Sementara itu, hubungan saya dengan Niken Pratiwipun sudah bubrah karena dia. Maka…”
“Sebentar,” potong Pamugaran cepat. “Jadi sampeyan dan Niken pacaran…?”
Raki Keleng mengangguk kuat.
“Bisa dibilang begitu, kalau saja Brewok tidak terlalu mencari-cari perhatian Niken Pratiwi dengan lagak dan gaya yang sok pahlawan itu.”
“Tetapi saya mendengar sendiri dari Niken bahwa dia dan Aryo adalah sepasang kekasih.”
“Itu karangan dia saja. Lebih parah dari itu, mereka itu justru menuduh saya sebagai pengganggu. Mereka selalu menghina dan menuduh saya yang bukan-bukan tanpa mempertimbangkan perasaan saya sama sekali. Bahkan kini semakin menjadi saja lagak mereka. Kantor ini mau dijadikan apa? Setiap saat selalu bermesraan, ngendon dalam ruangan tertutup berdua-duaan. Siapa yang ndak keki, coba!”
“Saya tau bagaimana rasanya ceemburu,” kata Pamuagaran. “Tapi bagi saya, kecemburuan itu tidak ada apa-apanya disbanding karir yang hancur seperti yang sedang saya alami ini. Sungguh, saya tidak terima. Karir ini sudah saya rintis sejak saya berumur delapan belas. Begitu nama saya booming, tau-tau dia menghancurkannya begitu saja.”
“Barangkali karena sampeyan kurang hati-hati. Kedekatan sampeyan dengan Rayun Wulan kurang matematis. Bisa juga karena sampeyan sedang sial saja maka peristiwa itu tiba-tiba masuk Koran.”
“Sayapun tidak mengerti, bagaimana nyamuk-nyamuk pers tau dan datang ke apartemen saya? Apa ada yang memberi tau mass media?”
Raki Keleng menahan tawa di bibir.
“Mungkin saja begitu, siapa tau?” tanya dia balik.
Asap rokok terus mengepul. Sejak tadi Pamugaran memperhatikan, Raki Keleng tak henti-hentinya menyulut rokok. Begitu tinggal seujung jari, dia akan menarik lagi sebatang rokok dan menyulutnya. Terus begitu, dari satu batang rokok ke batang rokok lainnya. Asap terus mengepul dari lubang hidungnya, persis seperti asap lokomotip.
“Saya punya usul,” kata Raki Keloeng tiba-tiba.
“Apa itu?”
“Bagaimana kalau kita habisi saja si Brewok itu?”
“Ah! Jangan berlebihan.”
“Menurut saya itu tidak berlebihan,” ujar Raki Keleng dengan sudut bibir naik ke atas. Lanjutnya lagi,
“Dia telah melakukan sesuatu yang sangat buruk terhadap kita. Sampeyan telah kehilanagn karir samapeyan. Sayapun demiukian. Perasaan saya kepada Niken yang sudah saya bangun selama bertahun-tahun, harus kandas di tengah jalan. Sering dia bersikap baik kepada saya, kalau lagi marahan sama Aryo Brewok. Kalau sudah berbaikan, dia berubah jadi judes kepada saya. Demikian berulang-ulang. Lama-lama saya berpikir, dia menganggap saya ini apa? Ban serep? Mau dibawa kemana hubungan kami ini? Perasaan saya dipermainkan seenaknya oleh mereka. Saya laksana tambal butuh baginya. Selama berhari-hari saya berpikir, apa ndak lebih baik kalau saya habisi saja?”
Pamugaran menyandarkan punggung ke belakang.
Menurut penilaiannya, Raki Keleng adalah tipe anak muda yang terlalu menggebu-gebu. Bicaranya ceplas-ceplos, tidak berpikir panjang, temperamental, namun terbuka dan berwatak kasar.
“Menurut sampeyan, gimana caranya?”
Raki Keleng mendekatkan bibirnya ke telinga Pamugaran.
“Dengan bom,” bisiknya.
Pamugaran terlonjak kaget.
“Bom?” jeritnya tertahan.
Pamugaran langsung tertawa ngakak. Bom, katanya! Pastilah anak muda ini suka sekali dengan hal-hal yang sensasional. Dan pastilah dia amat suka menonton acara criminal di televise.
“Ya! Dengan memasang bom, di mobilnya!” tegas Raki Keleng tanpa memperdulikan tawa ejekan Pamugaran.
“Oh ya? Gimana cara sampeyan memasang bom di mobilnya? Sampeyan bisa?” ujar Pamugaran masih dalam sisa tawa.
“Akan saya pikirkan. Saya punya teman yang bisa mengajari saya. Bom itu akan meledak begitu mesin dihidupkan. Kunci kontak diputar, lalu….bummm…!”
Di ujung kalimatnya, Raki Keleng tertawat ngakak.
Pamugaran tersenyum lebar.
“Jangan-jangan teman sampeyan itu teroris.”
“Ndak masalah, teroris atau bukan, saya ndak peduli. Kalau perlu dia yang merakitkannya untuk saya pasang di kendaraan Brewok. Yang penting, jangan sampai ketauan orang pada saat memasangnya.”
Hmmm. Pikir Pamugaran tersenyum dalam hati.
Pintar juga anak itu merencanakan sebuah kejahatan. Tetapi apalah arti kejahatan selain sebuah kebaikan yang tersiksa oleh lapar dan hausnya sendiri? Sebenarnya, jika kebaikan itu menanggung kelaparan, dia akan mencari makanan walau sampai ke lorong gelap. Dan apabila dia dahaga, dia akan minum walau yang direguknya adalah air beracun.
“Boleh juga rencana sampeyan itu,” kata Pamugaran sambil mengusap dagu yang tidak gatal.
“Jadi, sampeyan setuju?”
“Begini saja, susunlah rencana itu dengan seksama. Saya bukan hanya setuju, tetapi bahkan sangat mendukung pada segi pendanaan. Maka pikirkanlah dengan lebih cermat. Berapapun biayanya, saya bantu.”
“Bagus!”
“Saya tunggu sampeyan besok, di tempat ini?”
“Jam berapa?” tanya Raki Keleng.
Pamugaran menengok arloji di pergelangan tangannya.
“Sama seperti sekarang,” sahutnya. “Jam empat. Akan saya bawakan dananya.”
Raki Keleng tertawa lebar. Dia berdiri dan mengulurkan tangan kanannya.
Pamugaran berdiri, menyambut tangannya dengan hangat dalam sebuah genggaman kuat yang sedikit meremas. Raki Keleng membalas jabat tangan itu dengan tak kalah hangat, tanda kesepakatan yang sudah terjalin.
Sebuah senyum misterius mengambang di sudut bibir Pamugaran.

(Bomnya meledak di episode berikutnya.)

Sabtu, 15 Mei 2010

TROWULAN (22)


SERIGALA JAHAT.
Tiba-tiba saja Niken kembali merasakan perutnya mual. Entah kenapa, suasana dalam gedung itu membuatnya pusing dan mual. Maka dengan bergegas dia berlari ke toilet.
“Hei, kalau jalan jangan pakai ngelamun dong!”
Sebuah suara keras menegur kasar dari arah lorong museum. Niken tau, itu adalah suara Raki Keleng
“Ah, kamu!”
“Dari mana saja?” tanya Raki Keleng lagi.
“Kau melihatnya sendiri, aku mengantar tamu. Rustam ada?”
“Ada di dalam. Siapa sih, dia?”
“Dewa Pamugaran.”
Niken Pratiwi berjalan terus. Sementara Raki Keleng mengekor di belakangnya. Raki Keleng juga seorang arkeolog, sama seperti Aryo Wangking maupun Niken Pratiwi. Namun dia tidak bekerja di museum. Dia hanya senang saja datang dan pergi ke tempat itu mengejar-ngejar Niken Pratiwi. Dia bisa ada dimana saja. Kadang cuma menginap di pendopo Siti Hinggil, kadang tidur di Troloyo. Raki Keleng, lelaki bertubuh kecil, hitam dan berambut keriting itu sering berangan-angan bisa mempersunting Niken Pratiwi sebagai isteri bila suatu saat berhasil menjadi ‘orang’. Namun angan-angan itu ternyata tak semudah yang dia bayangkan. Sebab ternyata Niken Pratiwi sama sekali tidak tertarik untuk menjadi isterinya.
Dulu memang, pernah mereka sangat dekat. Namun entah kenapa, lama-lama Niken jadi muak kepadanya. Mungkin saja kemuakan itu muncul karena Raki Keleng tidak punya pekerjaan tetap, kasar, brutal, dan suka ‘nyepi’ ke tempat-tempat wingit. Laki-laki itu sering bercerita kesana kemari, suatu saat akan menemukan harta karun berupa keris, atau mas perak dari tempat-tempat wingit sekitar Trowulan. Niken sering menyebutnya gila. Namun dengan penuh percaya diri, Raki Keleng selalu sesumbar, keris berluk tiga belas itu pasti akan dia peroleh, dan itu harganya sangat mahal.
Memang, ternyata cita-cita menemukan keris berluk tigabelas itu pernah berhasil dia dapatkan. Keris itu memang terlihat sangat ampuh. Apalagi benda pusaka itu dia dapatkan sesudah mengadakaan penghayatan (samadi) selama tiga hari tiga malam nonstop di Makam Panjang, yang diyakini orang sebagai kubur Syech Syaid Donopuro, di dusun Ungguh Ungguhan.
Konon katanya, keris itu diminta oleh seorang pengusaha kapal di Surabaya dengan ‘mas kawin’ sebesar limapuluh juta rupiah. Sayangnya, uang itu dilipatgandakan di meja judi oleh Raki Keleng hingga mencapai tujuhpuluh juta rupiah. Barangkali nasibnya sedang baik, sehingga dalam sekejap mata saja, Raki Keleng berhasil mendapatkan uang sebesar itu di meja judi. Oleh Raki Keleng uang tersebut dijanjikan untuk beaya pernikahannya dengahn Niken Pratiwi. Tetapi Niken Pratiwi menolaknya mentah-mentah. Uang tersebut lama kelamaan habis juga entah kemana, tak keruan juntrungannya. Dan Raki Keleng tetap begitu-begitu saja tidak pernah berubah menjadi ‘orang’ seperti keinginannya, bahkan menurut kata orang, lelaki itu kian lama kian tidak beres saja. Dia berjudi, minum, dan main perempuan.
Raki Keleng terus mengikuti langkah Niken Pratiwi hingga ke pintu toilet.
“Apa aku mengenalnya?” kejarnya.
“Mana aku tau kau mengenalnya atau tidak,” sahut Niken.
“Sepertinya aku pernah mendengar nama itu, dimana ya?”
Niken masuk ke toilet dan menutup pintu rapat-rapat. Terdengar suara ‘ho-ek, ho-ek’, dari dalam. Raki Keleng mengerutkan kening. Dia mulai berpikir, jangan jangan….!
Tangannya menggedor pintu keras-keras.
“Ken! Kau muntah-muntah ya?”
“Ya.”
Suara ‘ho-ek ho-ek’ kembali terdengar.
“Apa…kau hamil?”
“………”
“Ken! Kau hamil ya?!”
Serunya lagi, mengagetkan Rustam yang kebetulan lewat dekat toilet.
Niken tetap saja ‘ho-ek ho-ek’.
Raki Keleng menggedor dengan berang. Otaknya yang selalu penuh kebusukan kian busuk saja. Dia menduga, pasti Aryo yang menghamilinya. Sebab selama ini dua orang itu kemana-mana selalu’runtang-runtung’ bak sepasang kupu-kupu saja. Selama ini pula Raki Keleng berusaha menarik perhatian Niken kepadanya, namun sama sekali tidak digubris oleh Niken. Kebenciannya kepada Aryo Wangking menumpuk kian lama kian tebal, seakan sudah mendarah daging menulang sumsum. Meracuni jiwa dan pikirannya.
“Ada apa, Ki?” tanya Rustam kepada Raki Keleng.
“Itu. Niken muntah-muntah di dalam. Aku jadi curiga melihat dia seperti itu.”
“Kau curiga kepadanya, alasannya apa?”
“Jangan-jangan dia hamil!”
“Gendeng!”
“Naluriku nggak pernah salah, Rus.”
“Halah! Omong kosong. Paling dia itu cuma masuk angin.”
“Masuk angin? Cuma masuk angin, katamu?”
Tiba-tiba Niken membuka pintu, keluar dari toilet, dan menatapnya dengan pandangan marah dan tersinggung. Raki Keleng membalasnya dengan tatap mata yang mengandung tanda tanya besar.
“Kau melihat apa?” tanya Niken tajam.
“Kau tidak apa-apa?”
“Memang, ada apa? Aku baik-baik saja. Hanya stress.”
“Stress?”
“Ya, melihat mukamu, aku jadi stress.”
Rustam menutup mulutnya rapat-rapat menahan tawa yang hampir meledak.
“Tuh, dengar kan? Dia Cuma stress. Masuk angin. Makanya jangan suka berpikiran ‘ngeres’. Sudah sana. Eh, iya Ken. Tadi Aryo mencarimu.” Ujar Rustam.
Sepasang mata Niken berpijar terang.
“Dimana dia sekarang?”
“Ruang pustaka. Kau sudah makan siang?”
“Belum. Kau?”
“Aku sudah, tadi bersama Darji. Sudahlah, sana makan dulu. Aryo juga sedang menunggumu. Kalau kau suka telat makan, begitulah jadinya. Masuk angin, sakit lambung, stress,…malah sialnya lagi, disangka hamil.”
”Hanya orang gila saja yang punya pikiran seperti itu.” Sungut Niken sambil ngeloyor pergi. Kembali Raki Keleng mengekornya.
“Kau mau makan siang bareng Brewok, Ken?” tanya Raki Keleng gerah. Sejak lama, dia selalu memanggil Brewok pada Aryo Wangking.
“Apa pedulimu?” sahut Niken benci.
“Bagaimana kalau makannya bareng aku saja? Di Sekar Putih ada sate enak. Kau sudah pernah mencobanya? Ayo, kutraktir.”
“Nggak sudi. Lagian aku nggak lapar!”
“Ayolah, Ken. Sekali saja kau turuti keinginanku, kenapa? Sombong sekali kau ini.”
Niken Pratiwi menghentikan langkahnya sebentar di depan pintu masuk ruang pustaka, mendelik ke arah Raki Keleng dengan sebal.
“Aku sedang tidak lapar, dan aku sibuk. Kau mengerti?”
Kemudian gadis itu lenyap di balik pintu ruang pustaka yang dibantingnya dengan keras, tepat di depan hidung Raki Keleng. Sepasang mata Raki Keleng seketika memerah saga. Kalau saja tak ingat betapa gilanya dia pada Niken, pastilah pintu itu sudah ditendangnya kuat-kuat.
Begitu melihat Niken masuk sambil membanting daun pintu, Aryo Wangking berdiri dari kursinya. Tergopoh-gopoh ditariknya sebuah kursi dan dipersilakannya Niken duduk. Niken duduk dengan nafas tersengal menahan amarah. Aryo kembali ke kursinya, berpura-pura sibuk dengan kertas-kertas kuno, dan membiarkan Niken sejenak meredakan amarahnya. Di luar, Raki Keleng merasakan darahnya menggelegak. Naik ke ubun-ubun. Dengan langkah besar, laki-laki itu keluar dari museum. Dalam hati dia bersumpah akan menyingkirkan siapapun yang mencoba menghalangi keinginannya mempersunting Niken Pratiwi. Kalau saja si Brewok bertubuh tinggi tegap itu merupakan kerikil tajam bagi niatnya, dia tidak takut. Raki Keleng mengambil motor Kawasakinya dengan kasar, dan memacunya ke Pendopo Agung.
Rupanya sepi sekali di Pendopo Agung.
Terik matahari musim kemarau terasa membakar. Udara dalam gedung besar itupun seakan-akan tak mampu meredam udara panas yang masuk. Darji keluar dari ruang kerjanya, berjalan ke lorong terbuka yang menuju ke arah belakang gedung. Sambil berkipas-kipas dengan sehelai Koran lawas, dia duduk berselunjur di lantai di bawah selasar. Matanya segera menangkap bayangan Raki Keleng yang mendatanginya. Laki-laki berusia tigapuluhan itupun segera duduk di sebelahnya. Dia menyulut sebatang rokok kretek, sementara dengan cuek Darji tetap berkipas-kipas sambil menatap raut wajah Raki Keleng yang muram.
Merasa tak tahan dengan suasana tegang yang diciptakan oleh raut wajah jelek di sisinya, Darji menegur,
“Ada apa lagi, Ki? Wajahmu mendung begitu, apa kau kalah lagi di meja judi?”
Raki Keleng membuang abu rokok ke lantai.
“Sudah lama aku tidak main,” katanya.
“Syukurlah kalau begitu. Aku senang kau sudah sadar. Lebih baik mulai mencari pekerjaan tetap yang bisa diandalkan. Kau kan tau, manusia itu tidak selamanya muda dan kuat. Pasti akan menjadi makin tua dan lemah. Kalau kau tidak mempersiapkan masa tua sejak sekarang, dan terus menerus hidup tidak menentu, bagaimana kau nanti kalau sudah tua dan jompo? Mending kalau tua itu sehat terus. Apa kau tak ingin menikah dan membina sebuah keluarga yang sakinah, hidup bahagia bersama isteri, anak, dan cucu?”
Raki Keleng tertawa kecil tanpa suara.
“Pikiran kau itu terlalu jauh, Ji. Tau tidak, pikiranmu itu terlalu muluk! Terbang ke awan bagaikan asap, blowing with the wind.” sahutnya sinis.
“Menurutku, itu bukanlah sesuatu yang muluk. Hanya sebuah pemikiran paling sederhana bagi seorang manusia seperti kita. Kecil, kemudian dewasa, mencari nafkah, menikah, beranak dan bercucu. Itu amat sederhana. Tidak perlu aku menganjurkan sesuatu yang muluk atau tinggi menembus awan bagimu. Aku hanya ingin kau memikirkan masa tua. Itu saja kok!”
“Semua orang juga, maunya seperti itu, Ji!”
“Apalagi kau. Iya, kan? Kau punya latar belakang pendidikan tinggi. Kau adalah seorang sarjana arkeologi lulusan Universitas negri yang cukup terkenal di Negara kita ini. Coba pikirkan, apa tidak sia-sia hidupmu kalau kau menjalaninya seperti sekarang ini? Kalau saja bekas guru besarmu tau, betapa malunya dia.”
“Agh. Mencari pekerjaan tetap yang menjanjikan jaman sekarang ini susah, Ji. Apalagi yang benar-benar cocok untukku.”
“Pekerjaan apa sih, yang kau rasakan cocok untukmu? Apakah yang tinggi jabatannya, banyak duitnya, enak pekerjaannya, begitu? Oalah, Ki. Kau ini. Angan-anganmu kurasa terlalu tinggi, Ki!”
“Tidak juga,” sahut Raki sambil menyedot rokok dalam-dalam.
“Kau pernah bilang padaku, ingin punya isteri cantik, rumah gedung di pinggir jalan besar, mobil sedan yang larinya kencang, dan sekali-sekali bisa liburan ke luar negeri. Apalagi namanya itu, kalau bukan angan-angan yang tinggi, dan sulit dicapai oleh orang-orang seperti kita? Kau ini ibarat menggapai bintang di langit sementara dirimu hanyalah si pungguk.”
“Kau merendahkan aku, Ji. Menghina, tau tidak?!”
“Aku tidak menghina. Tetapi kalau kau tidak berusaha dengan bekerja keras, apakah kau bisa memujudkan semua impianmu itu? Sulit, Ki. Sulit.”
Raki Keleng membuang muka sambil meludah di pasir dekat ubin teras. Wajahnya semakin rusuh.
“Kau tadi, darimana?” tanya Darji kemudian.
‘Biasa. Dari museum.”
“Bertemu dengan gadis idamanmu?”
“Gadis idaman apa? Kayaknya malah sulit didekati.”
“Pakailah strategi.”
“Sudah kulakukan. Bahkan sudah kuiming-iming dengan uang puluhan juta, tak juga mau jadi isteriku.”
“Tentu saja dia menolak. Uang itu uang nggak bener.”
“Nggak bener bagaimana? Aku ini orang ‘lelaku’, Ji. Kalau kemudian Sang Ghaib memberiku sesuatu yang kemudian diminta orang dengan mas kawin berpuluh juta, apa itu salah?”
“Sebetulnya tidak ada yang salah dengan barang hasilmu ‘lelaku’ itu, yang salah adalah ketika uang itu kau gandakan di meja judi, maka uang itu berubah menjadi uang haram.”
“Itu namanya rejeki,” sahut Raki Keleng tandas. “Tanpa ijin Allah, mana mungkin aku menang.”
“Pandangan yang seperti itu lebih salah lagi,” kata Darji. “Janganlah kau mencampur-adukkan bujukan setan dengan karunia Allah. Dosa, itu. Sebab kalau kau punya pemikiran seperti itu, sama saja dengan menghalalkan perampokan, pencurian, atau pembunuhan sekaligus.”
Raki Keleng tampak kian emosional, namun dengan cepat Darji meneruskan kalimat petuahnya,
“Dengar, Raki. Kalau saja kau mau bekerja seperti aku, misalnya. Mungkin di mata Niken kau lebih terhormat ketimbang uang berjuta-juta itu. Seharusnya kau bisa. Lihat saja Aryo Wangking itu. Dalam latar belakang pendidikan, kau sama dengannya. Wajah dan penampilanmu juga tidak kalah. Tetapi mengapa orang memandang dia lebih?”
“Agh! Lama-lama aku jadi muak mendengar semua orang mengelu-elukan Aryo Brewok. Memang, apa sih kelebihan dia dibanding orang lain?”
Darji menghela nafas panjang.
“Ya, sudahlah. Lebih baik kita tidak beragumentasi lagi tentang orang lain,” kata Darji seraya berdiri.
Dia tak ingin suasana jadi kian panas. Darji tak mengerti, apa yang membuat Raki Keleng demikian benci kepada Aryo Wangking? Kalau hanya karena kalah tenar di kawasan pelataran Majapahit, pastilah tidak demikian sikap permusuhan yang diperlihatkan Raki Keleng.
“Aku masuk, Ki. Kau tak ingin masuk?” tanya Darji.
“Aku di sini saja cari angin. Eh, pinjam kipasnya, Ji.”
Darji mengangkat Koran lawas yang sejak tadi dipakainya berkipas-kipas.
“Ini, maksudmu?”
“Ya.”
Darji memberikan Koran itu kepada Raki Keleng, kemudian berpamitan masuk.
Raki Keleng merebahkan diri. Tidur-tiduran di lantai berbantal tangan. Dia berpikir keras tentang sikap Niken yang tak pernah lunak menghadapinya. Malah belakangan ini dia jauh lebih judes daripada sebelumnya. Benarkah Niken telah menjatuhkan pilihannya pada Aryo Brewok? Namun bagaimana dengan gossip yang beredar mengenai hubungan Aryo dengan novelis dari Surabaya itu? Selama ini Raki Keleng melihat hubungan antara Niken dengan Aryo memang tidak jelas. Kadang mereka begitu dekat, bahkan seringkali Raki Keleng memergoki Niken tengah bertamu ke rumah Aryo di depan Paduraksa itu selama berjam-jam lamanya, bahkan hingga larut malam. Padahal Aryo Cuma tinggal sendiri di rumah. Apa saja yang mereka bicarakan hingga larut malam seperti itu? Bahkan pintu dan jendela rumah itu sering dalam keadaan tertutup. Alasannya, takut nyamuk masuk. Lantas, apa yang mereka lakukan berdua-duaan dalam rumah yang pintu dan jendelanya tertutup rapat seperti itu? Dan siang ini, tiba-tiba saja gadis itu muntah-muntah. Apa dia hamil, ya. Atau masuk angin? Sakit mag, barangkali? Stress?
Bara api dalam dada Raki Keleng kian marak menyala. Dia rasakan dadanya sesak. Ingin berteriak keras-keras agar sebongkah batu yang menyumbat dadanya bisa terlempat keluar oleh raungannya. Tanpa sadar, tangannya meremas Koran di tangannya. Selembar Koran lama yang baru saja dipergunakannya untuk mencari angin guna meredakan leleran keringat, kini kian lusuh.
Raki Keleng menghempaskan nafas kuat-kuat. Diluruskannya kembali Koran itu dari keriput remasannya, dan mencoba membaca sekena-kenanya. Semua beritanya sudah basi. Tentu saja, karena Koran itu memang Koran terbitan enam bulan yang lalu.
Raki Keleng iseng saja membolak-balik lembaran Koran, dari satu halaman ke halaman lain. Beberapa baris iklanpun ditelusurinya. Lalu, tiba-tiba matanya melotot. Pada halaman sekian, baris sekian, dibacanya sebuah berita lama. Tentang sebuah percobaan pemerkosaan seorang penulis novel oleh seorang pelukis dari Gianyar, di sebuah apartemen di daerah elit bagian Barat Surabaya, yang digagalkan oleh seorang arkeolog dari Trowulan bernama AW.
AW.
Arkeolog dari Trowulan!
Siapa lagi kalau bukan Aryo Wangking!
Raki Keleng tersedak sejadi-jadinya. Hingga berair kedua matanya karena kepedihan yang menyengat di kerongkongannya. Jadi betul, pikirnya setelah batuknya reda. Berita tentang kejadian yang sudah jadi buah bibir orang-orang pelaku penghayat di Trowulan itu, benar. Kalau tidak salah, tamu yang tadi datang ke museum itu adalah pelukis dari Gianyar itu. Namanya, Pamugaran. Dewa Pamugaran, kata Niken.
Raki Keleng duduk bersila. Dia membaca lebih cermat lagi, baris demi baris berita di Koran itu. Ini Koran lama, pikirnya. Jadi begitulah kejadiannya. Pamugaran, 52, berusaha memperkosa seoranag gadis yang berprofesi sebagai penulis, 28, telah digagalkan oleh AW 33, seorang arkeolog …dan seterusnya,…dan seterusnya.
Wah!
Hebat si brewok itu. Tak heran bila kian banyak saja orang di Trowulan yang berebut memuji-muji kehebatannya. Pantas. Pantas saja! Dan pantas pula kalau belakangan ini Niken Pratiwi jadi lebih ngebet dengan lelaki itu. Gigih mengakrabi Aryo Wangking.
Raki Keleng mengatubkan bibir. Awas kau, Aryo! Aku bukanlah Pamugaran. Ingat itu, bangsat. Aku bukanlah pelukis yang lemah lembut, penuh warna. Aku, adalah aku. Raki Keleng yang hanya mengenal satu warna. Hitam pekat! Lalu dengan kesal dia berdiri, menuju motor, dan dengaan kecepatan tinggi balik lagi ke museum.
……
Rustam kaget di cecar pertanyaan seputar tamu dari Gianyar itu, oleh Raki Keleng. Dia bahkan minta diceritakan peristiwa pergumulan di apartemen Citra Land.
“Mestinya kau baca di Koran,” kata Rustam jengkel.
“Ya, aku sudah baca itu.”
“Lalu? Kenapa pula kau suruh aku bercerita padamu, memang aku wartawan, apa?”
“Aku kurang jelas. Kurang detil!”
Rustam tertawa mengejek.
“Lucu, ketinggalan berita kok ngamuk!”
“Tadi dia datang ke sini, kan? Pasti ada alamatnya di buku tamu. Perlihatkan padaku.”
”Untuk apa?”
“Tak usah kau tanyakan. Berikan saja buku tamu itu padaku, biar aku cari sendiri.”
“Tidak.”
“Tidak?”
“Tidak. Sikap memaksamu itu membuat aku jadi curiga, jangan-jangan…”
“Jangan-jangan…., apa?”
“Siapa yang tidak tau kesukaanmu menteror seseorang?”
“Jangkrik!” Raki keleng mengumpat keras. “Kau pikir aku akan memeras lelaki kaya itu, begitu?”
“Aku bahkan berpikir lebih dari itu.”
“Apa yang kau pikirkan?”
“Aku takut kau bahkan membabi buta, lalu membunuhnya, sebab kau sepertinya sedang mabuk minuman keras. Kau barusan minum? Atau…kalah judi? Nggak angin, nggak hujan, datang-datang malah marah-marah….”
“Kurang ajar! Sompret! Kau pikir aku ini apa, he! Pembunuh, gitu? Kenapa sih, semua orang di sini berpikir miring tentang aku? Peminumlah, penjudilah, bahakan sekarang aku dituduh pembunuh. Kalau aku jadi pembunuh, kaulah orang pertama yang bakal jadi korbanku, tau! Ayo ngomong, ngomong…!!!” Raki Keleng berteriak-teriak bagai orang kesetanan seraya merenggut kelepak baju Rustam. Keributan itu terdengar sampai ke ruang pustaka. Aryo Wangking dan Niken Pratiwi keluar. Mereka begitu terkejut melihat kejadian itu.
“Raki!” Niken berteriak. “Apa-apaan kau ini!”
Raki Keleng berbalik menatap Niken Pratiwi dan Aryo Wangking. Bibirnya terkatub keras.
“Dia tanya alamat Pamugaran padaku,” kata Rustam.
“Untuk apa?”
“Bukan urusanmu, berikan saja alamatnya.”
“Tidak.”
“Kau tak berhaak menghalangiku untuk bertemu dengan dia.”
“Memang tidak. Tapi aku tau siapa dirimu. Segala sesuatu yang bisa memberikan keuntungan dan bisa kau manfaatkan sebagai pohon uang, pasti tak pernah selamat di tanganmu. Kau kejar sampai kemanapun. Aku tidak ingin orang memandang kita-kita ini busuk, rendah, mata duitan, tak punya harga diri,…seperti dirimu. Sebaiknya kau urungkan niat menemui dia.”
“Begitu, ya?” ejek Raki Keleng. “Seberapa bagusnya diri kau itu, Niken? Seberapa bersih? Ha ha! Orang juga tau, siapa dirimu, Niken. Siapa pula Aryo Wangking. Tak seindah itu kalian di mataku. Kalau selama ini aku diam dan tidak bekoar kesana kesini tentang kalian, tak berarti kalian luput dari pandanganku. Jangan dikira aku tidak tau. Aku tau semuanya. Se-mu-a-nya!”
“Apa yang kau tahu? Dasar pembual, pemabok!”
Raki Keleng menepiskan tangan seolah mengusir lalat.
“Sudahlah,” katanya. “Apa itu ya, yang membuat kau muntah-muntah pagi tadi? Sudah periksa ke dokter? Siapa yang menghamilimu, non? Siapa?”
“Tutup mulutmu, Raki!” bentak Aryo Wangking.
Raki Keleng tersenyum sinis.
“Ini mulut, mulutku sendiri,” katanya. “Kau tak berhak melarangku bicara. Kalau perlu, aku akan bicara pada pers tentang siapa dan bagaimana dirimu sebenarnya.”
“Silakan saja, apa maunya dirimu. Tapi kuminta, kau minta maaf pada Niken.”
“Munafik!”
“Apa katamu?”
Tangan kokoh Aryo segera menarik leher kemeja Raki Keleng dan mendekatkan wajah Raki Keleng ke wajahnya.
“Dengar, bajingan,” desis Aryo menahan amarah. “Ini memang bukan perselisihan kita. Sekali lagi kuingatkan, mintalah maaf pada Niken. Kalau tidak…”
“Kalau tidak, apa?”
“Kau akan benar-benar berurusan denganku!”
“Dengar, Brewok. Aku bahkan siap melayanimu kapan saja. Aku, Raki Keleng. Tak takut pada siapapun. Tidak pada dirimu, apalagi pada Pamugaran. Tujuanku terhadapmu cuma satu. Menghancurkanmu. Mengerti?”
Aryo Wangking tertegun. Melepaskan cengkeramannya pada leher baju Raki Keleng. Menghela nafas dalam, dan berpikir. Tak menyangka pengangguran itu demikian nekad. Sebenarnya tak ingin bersikeras seperti itu. Namun ketika Raki Keleng mengangkat kapak peperangan seperti itu, akankah dia mundur?
Tidak. Tentu saja, tidak.
Kalaupun Raki Keleng sudah edan seperti itu, Aryo akan melayaninya. Tetapi tanpa kekerasan, kalau bisa. Dia akan melayaninya dengan cara yang lebih berbudaya. Maka dengan perlahan didorongnya Raki Keleng agar menjauh darinya.
“Pergilah,” kata Aryo akhirnya.
Raki Keleng merapikan kerah bajunya, menatap mata Aryo dengan gaya tengik, dan tersenyum mengejek. Kemudian setelah berpaling kea rah Rustam dengan mata mengancam, dia keluar dari museum.
Aryo Wangking bertolak pinggang. Menundukkan wajah sambil menghela nafas dalam-dalam. Ada kekecewaan merebak dan mengalirkan darah di relung hati yang paling dalam. Sebenarnya dia tak suka ada permusuhan, apa lagi bermusuhan denga Raki Keleng, si serigala berhati culas. Tapia pa mau dikata, semuanya terjadi begitu saja. Mau tak mau, dirinya harus menerima sebagai suatu keadaan yang harus dihadapi, apapun resikonya.
“Yok. Sori, kau jadi terlibat seperti ini,” kata Niken.”
“Aku juga minta maaf, “ timpal Rustam. “Kenapa dia jadi seperti itu, ya?”
“Sudahlah, lupakan saja semua ini,” balas Aryo tersenyum sambil menepuk punggung Rustam.
“Kau tidak apa-apa, Yok?”
“Tidak, aku tidak apa-apa.”
“……..”
“Sebaiknya aku keluar dulu,” tambah Aryo setelah lama terdiam.
“Mau kemana?”
“Asal keluar saja, mencari udara segar. Sesak rasanya di sini,” Aryo menunjuk ke dadanya.
Rustam tersenyum tipis.
“Baiklah, Yok. Sebaiknya kau cari udara segar di luar. Kau, ikut dengannya Ken?”
“Aku kembali saja ke pekerjaan. Hati-hati di jalan, Yok!”
“Yak!”
Aryo ngeloyor pergi. Bahunya seakan jatuh ke bawah. Wajahnya tunduk, menatap anak tangga yang menuju pelataran. Tak lama deru mesin jip kesayangannya terdengar kian jauh dari museum. Niken masuk kembali ke ruang pustaka, sementara Rustam kembali ke belakang mejanya sendiri. Udara panas menyengat masuk melalui kisi jendela dan pintu yang terbuka lebar. Mungkin sepanas itulah isi kepala Raki Keleng, pikir Rustam seraya menggelengkan kepala.

(sebuah rencana jahat, di episode berikutnya).