Jumat, 16 April 2010

TROWULAN (15)


Malam itu memang ditakdirkan sebagai milik Dewa Pamugaran. Begitu memasuki Ruang Kahuripan, beberapa gadis cantik segera menyodorkan sebuah buku panduan yang dicetak dengan sangat elok. Pun kepada setiap tamu disarankan untuk mengisi buku tamu.
Aryo Wangking mengajak Dyah Sugihan masuk lebih ke dalam. Dalam ruang yang sangat megah dengan pendingin yang sangat adem, mata Aryo sibuk mencari-cari sebuah bayangan cantik yang diimpi-impikannya. Namun jangankan manusianya, bayang-bayangnya saja tidak ada, entah dimana dia sekarang. Aryo dan Dyah terus melangkah mengikuti arus para pengunjung yang lain, menyusur ruang demi ruang, sambil menikmati beberapa puluh karya lukis Dewa Pamugaran yang dipamerkan dengan cara digantung di dinding. Karpet tebal membuat langkah kaki teredam. Musik yang lembut mengiringi.
Dyah Sugihan membuka buku panduan. Mencocokkan lukisan di dinding dengan gambar di buku. Di buku itu dicantumkan semua judul lukisan maupun medium dari lukisan itu. Ada yang memakai cat minyak, ada yanag dengan tinta cina di atas kanvas, namun ada juga yang menggabungkan cat air dan pastel dalam kanvas. Sungguh pelukis yang berbakat. Semua karyanya mencitrakan segala sesuatu yang manis. Dalam buku panduan dikisahkan juga riwayat hidup si pelukis maupun karya-karyanya. Semuanya seakan-akan menyingkirkan segala sesuatu yang buruk. Pada prinsipnya, isi lukisan karya Dewa Pamugaran tersirat lewat pertemuan karakter obyek dengan mood dirinya ketika sedang menghadapi obyek. Atas hal itu, maka sejumlah karya potretnya merupakan amsal yang menarik.
Di dalam hati secara diam-diam Aryo mengakui kelebihan lelaki itu. Seandainya Rayun Wulan harus menjadi milik Pamugaran, barangkali akan cocok bagi mereka. Mereka itu sama-sama pelaku seni, sama-sama ahli di bidangnya, dan sama-sama punya nama. Sedangkan dirinya ini,…apa?
Akhirnya mereka sampai pada sebuah lukisan potret diri Rayun Wulan. Di tempat itu Aryo Wangking dan Dyah Sugihan berdiri cukup lama. Menatap lukisan berukuran raksasa itu dengan perasaan yang bercampur baur, antara kekaguman dan kegalauan yang sulit digambarkan. Mereka menghembuskan nafas dalam-dalam. Memang tak dipungkiri,lukisan itu sangat indah. Di situ digambarkan seorang gadis berwajah sangat mirip dengan Rayun Wulan, berbaring miring bertelekan lengan kanan, dan membiarkan seekor ular sanca berukuran sebesar paha, menjalar dari kaki hingga ke perut. Kepala ular itu berada persis di pusar si gadis yang terbuka lebar hingga ke dada. Gadis itu nyaris bugil, namun kesan porno tak nampak sama sekali. Malah terlihat sangat artistik.
Wajah gadis dalam lukisan itu adalah wajah Rayun Wulan. Kulit gadis dalam lukisan itupun kulit Rayun Wulan. Bibirnya yang manis berwarna merah jambu, mengulas sebuah senyuman misterius, dengan sedikit menengadahkan kepala, sepasang matanya jadi redup menatap kepada setiap orang yang mendatanginya. Tak jauh dari lukisan itu, persisnya tepat di ujung kanan bingkai, diletakkan sebuah meja marmer kecil dimana diatasnya ada dua batang lilin berwarna merah mengapit setangkai mawar merah dalam sebuah jambangan Kristal yang bernilai nominal sangat tinggi.
Dyah Sugihan terpaku di situ cukup lama. Aryo berdiri di belakangnya dengan perasaan gamang. Seakan berdiri di sebuah tanjung dimana gelombang besar sebuah samudera raya sedang marah di bawahnya. Mendadak saja ada yang terbelah dalam dadanya. Dan mendadak saja dia merasa tak bisa bernafas. Dadanya sesak. Pepat.
Diam-diam, Aryo Wangking menyingkir dari tempat itu, menyisih dari kerumunan orang-orang yang berdecak-decak mengagumi lukisan itu. Dia berjalan keluar dari ruang pamer. Berpikir, apa maksud dari meja dan lilin merah itu? Teringat dia akan janji Kanjeng Ratu Kidul dan kepada ancaman Naga Tatmala. Lalu muncul sebuah tanya dalam hati, masihkah mereka memegang janjinya?
Hingga saat coffe break, Aryo tetap tak ingin masuk lagi ke ruang pamer. Para pengunjung keluar dan menuju lobby untuk menikmati hidangan snack dan berbagai jenis minuman sambil terus menerus berceloteh mengomentari lukisan-lukisan karya Pamugaran. Terlebih lukisan tentang gadis dan ular itu.
Sebentar lagi acara lelang akana dimulai. Kabarnya lukisan besar itulah yang akan dilelang, dan hasil pelelangan itu akan disumbangkan, entah kemana. Aryo tak peduli pada itu semua. Namun dia sangat peduli tentang proses pelukisan itu sendiri. Dirinya merasakan kedua tungkainya jadi tegang, tak ingin beranjaak lagi ke dalam, hingga datanglah Dyah Sugihan mendekati.
Dengan gerakan dagu, Dyah menunjuk ke satu arah.
“Itu dia,” ujarnya berbisik.
Aryo memicing, menatap kea rah yang dimaksud Dyah.
“Ya, aku sudah melihatnya,” jawabnya dingin.
“Dia cantik, kan?”
“Dia memang cantik sekali malam ini.”
“Kau menyukainya?”
Aryo menghela nafas panjang sebelum balik bertanya.
“Kenapa kau tanyakan itu?”
“Kalau benar kau menyukainya, rebut dia dari pelukis itu.”
“Kau ini ngomong apa?”
“Entah kenapa, sejak dulu aku kurang menyukai pelukis itu. Kau sendiri, bagaimana?”
“Entahlah, aku hanya merasa ada yang aneh saja pada dirinya.”
“Kau benar. Aku juga merasakan perasaan yang sama. Sepertinya dalam dirinya ada kekuatan supranatural di balik semuanya ini. Lihat, orang mulai mngantre untuk memberikan selamat kepada mereka. Yuk, kita ikut memberikan salam.”
“Ayo.”
Dyah Sugihan segera menggamit lengan Aryo Wangkin. Sambil terus bergandengan tangan mereka mendatangi pasangan Rayun wulan dan Dewa Pamugaran. Mereka terlihat sibuk menerima ucapan selamat dari para tamu kehormatan dan wartawan. Aryo menyalami Rayun dan Pamugaran. Dia juga berkenan untuk berhenti sejenak mengobrol dengan pelukis ganteng separuh baya itu.
Sementara itu, pada kesempatan yang amat sempit itu, Rayun menarik Dyah ke samping, agak jauh dari mereka.
“Kalian datang bersama-sama?” tanya Rayun berbisik-bisik.
Dyah hanya mengangguk sambil tertawa.
“Dia datang menjemputmu tepat jam tujuh?”
“Ya, kenapa, kau cemburu?”
“Jangan bicara seperti itu, aku jadi nggak enak.”
Dyah tetap tertawa tanpa suara.
“Apa kau senang malam ini?” tanya Dyah.
“Jujur saja, aku tak begitu suka suasana seperti ini. Nanti kalau kalian pulang, aku ikut bersama kalian, ya?”
“Yang benar saja. Bukannya kau sedang menjadi primadona pada mala mini? Dan lukisan besar yang mau dilelang itu,…apa kau tidak merasa geli melihatnya? Lihat, tubuhmu nyaris telanjang, dan ular besar itu….iih!”
“Jangan bodoh! Itu hanya lukisan. Dia membuatnya juga berdasarkan imajinasi saja kok, weee. Selalu saja pikiranmu ke situ-situ juga!”
“Meski cuma imajinasi, orang yang melihatnya jadi membayang-bayangkan seperti itulah kau kalau lagi bugil.”
“Ih!”
“Iya, kalau aku jadi kau, amit-amit deh. Meski cuma imajinasi, nggak mau aku!”
“Itu sebabnya dia tidak memilihmu sebagai model, hehehe…”
“Coba lihat, gaunmu itu.” Kata Dyah serius tanpa mempedulikan tawa ejekan Rayun.
“Kenapa dengan gaunku, bagus kan?”
“Bagus sih bagus, tapi kenapa harus bersulamkan ular dengan benang emas seperti itu sih? Benarkah dugaanku, bahwa Pamugaran itu seorang penganut ilmu ular?”
“Ah, kau ini. Bicaramu itu semakin nggak karuan deh, Dyah!”
“Omong-omong,…apa benar kau serius sama dia?”
“Maksudmu,..Pamugaran?”
“Pamugaran, ya! Siapa lagi?”
“Stt, pelankan suaramu Dyah. Nanti dia mendengar.”
“Biar saja dia mendengar, itu akan lebih bagus kan? Biarkan dia tau bahwa kau sedang bimbang akan memilih siapa, dia atau Aryo!”
“Ya ampun, Dyah… kau ini!”
“Tau nggak, dia suka padamu, lho.”
“Pamugaran?”
“Aryo! Bukan Pamugaran!” suara Dyah lebih tinggi. Membuat Pamugaran dan Aryo menolehkan kepala ke arah mereka.
“Oh…” Rayun Wulan meutup mulut dengan telapak tangan.
“Pelankan suaramu,” bisiknya pada sahabatnya.
“Dalam keadaan emosi seperti ini suaraku susah disuruh pelan.”
“Hahaha,…kau ini. Bicaramu membingungkan sih. Melompat-lompat nggak karuan. Jadi, …apa katamu tadi? Aryo menyukaiku, begitu? Betul nih…?”
“Jangan meledek. Aku serius.”
“Jadi bener, tidak bohong?”
“Tadi sempat kulihat dia cemburu berat melihat lukisan dirimu itu.”
“Oh ya? Aduuuh, kau tidak sedang membuatku senang kan, Dyah?”
“Demi Tuhan, Rayun. Tidak pernah aku seserius ini pada orang!”
Namun pembicaraan itu terhenti ketika beberapa wartawan datang mendekati mereka. Tiba-tiba saja kamera mereka menyala,..blap blap! Sinar lampu blitz berkali-kali menyalak. Pamugaran mendekat, kemudian berdiri di sisi Rayun sambil tersenyum lebar kepada kerumunan wartawan. Kembali sinar lampu blitz menyalak. Blap blap. Maka bisa dipastikan besok pagi photo mereka itu sudah akan nampang di halaman depan Koran lokal dan beritanya menyebar, menulis tentang seorang gadis tenar sekaligus novelis terkenal dari Surabaya ternyata adalah kekasih seorang pelukis besar termasyur dari Gianyar, Bali. Kedua orang itu mendadak jadi seperti selebritis. Mereka berdua bahkan diboyong oleh para wartawan menjauhi Dyah Sugihan yang tinggal berdiri di tempatnya semula dengan tatapan mata keruh. Terlihat oleh Dyah, mereka berdua kemudian sibuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan para pemburu berita mengenai hubungan antara mereka.
Di kejauhan, Aryo Wangking bersidekap, menatap semua itu dengan bibir terkatup rapat. Berada dalam suasana seperti itu Aryo bahkan seakan ditelan kesunyian. Dirinya merasa sendirian di tengah riuh rendahnya pengunjung yang membaur dengan nyamuk-nyamuk pers yang bakal membawa nama Pamugaran kian mencuat seiring tampilnya Rayun Wulan di sisinya. Tampak olehnya sebentar sebentar Rayun Wulan melayangkan pandang ke arahnya. Sementara Aryo berdiri diam seakan patung bisu, bersandar ke dinding dan menatap aneh ke arahnya. Sebenarnya Aryo senang melihat tawa Rayun berkali-kali pecah seiring canda dan godaan para tamu, namun ada goresan pedih tatkala menyadari bahwa tawa itu bukanlah untuknya.
Ketika diumumkan bahwa acara lelang akan segera dibuka, para tamu masuk kembali ke ruang pamer. Disitu telah disiapkan beberapa deret kursi menghadap ke arah lukisan besar tentang “gadis cantik dan ular sanca’ yang sedianya akan dilelang. Saat itulah, tanpa diduga, Rayun Wulan malah keluar dan berjalan mendekati Aryo Wangking. Dia menegur Aryo dengan keramahan yang dirasakan Aryo begitu istimewa.
“Boleh mengobrol sedikit denganmu?” ujarnya.
Aryo Wangking tertegun sesaat.
“Aku baru saja akan pulang,” jawab Aryo.
“Kalau begitu aku juga akan pulang.”
“kau akan meninggalkan semua ini begitu saja?”
Rayun Wulan membalas tatapan mata Aryo Wangking. Kemudian memandang sekelilingnya. Tampak olehnya betapa mentereng ruangan itu. Mendadak saja dia merasa muak melihatnya.
“Terus terang, aku tidak suka acara ini. Tak dapat kujelaskan kepadamu betapa aku muak dengan ini semua.”
“Kalau begitu kita keluar saja dari tempat ini,” kata Aryo tersenyum.
“Ya. Kita cari Dyah ke dalam, lalu kita pulang.”
Aryo membantu Rayun membetulkan penutup bahunya yang jatuh. Tanpa disengaja matanya singgah ke leher belakang Rayun. Beberapa anak rambut yang sangat halus tumbuh dibawah sanggulnya yang berhiaskan permata mainan. Saat itu Aryo merasakan getar-getar aneh yang menjalar ke seluruh permukaan hatinya. Seketika rongga dadanya terasa hangat. Dia rasakan kembali perasaan yang sama dengan saat bersama Rara ireng, beratus-ratus tahun lalu yang sering muncul kembali lewat mimpi-mimpi malamnya.

(Bersambung)

Jumat, 09 April 2010

TROWULAN (14)


Rayun Wulan baru saja menyelesaikan bab terakhir novel terbarunya ketika sahabatnya, Dyah Sugihan datang. Gadis bertubuh subur itu berdiri petentang petenteng di beranda depan menunggu pintu dibukakan tuan rumah. Dengan cepat Rayun berlari membukakan pintu, menyambutnya dengan hangat. Kedatangan Dyah Sugihan selalu membuatnya senang. Sebab dengan sahabatnya itu, Rayun bisa bicara apa saja tanpa kuatir rahasianya bocor kemana-mana.
“Memangnya, aku periuk borot?” kata Dyah saat hal itu dikatakan Rayun kepadanya.
Bahkan seluruh perasaannya terhadap Pamugaran dan Aryo Wangking tak luput dari pembicaraan mereka. Tiga hari saja tidak bertemu dengan Dyah, Rayun rasanya kangen. Itu sebabnya, dengan riang, Rayun membukakan pintu lebar-lebar dan langsung memeluknya.
“Ada apa datang?” sindir Rayun sambil menyeretnya masuk.
Dyah Sugihan tersenyum sambil menyerangnya balik:
“Bdetul nih, sudah tak ingin aku datang?”
“Asem! Ayo masuk. Aku lagi sendirian, nih.”
“Mama kemana?”
“Ke Bandung.”
“Semua?”
“Iya. Mau minum apa? Jus, kopi, the, atau apa?”
“Restoran ‘kali. Pakai tanya mau minum apa?”
Rayun tertawa lebar. Dia meletakkan beberapa toples kue ke atas meja. Lalu berbalik ke belakang menyiapkan dua gelas air sirop.
“Selama tiga hari ini, kau kemana saja?” tanya Dyah Sugihan.
“Kau datang kesini?”
“Ya. Tapi Cuma bertemu dengan baying-bayangmu. Rumah ini kosong melulu. Lama-lama bisa berubah menjadi rumah hantu.”
“Ih, maunya!”
Mereka tertawa. Dyah mencomot sepotong kue keju dari dalam toples. Cepat-cepat Rayun menyorongkan sebuah piring kecil untuk menampung remah-remah kue sebelum jatuh ke lantai.
“Aku ke Balekambang,” sahut Rayun.
Mereka duduk dengan santai di ruang tamu. Masing-masing memeluk bantal kursi sambil menikmati alunan musik lembut dari taperecorder mungil yang sengaja dibawa Rayun dari kamar tidurnya.
“Dimana itu?” tanya Dyah.
“Di sebelah Selatan kota Malang. Apa kau belum pernah kesana?”
“Uh, dengan siapa? Tak ada seorangpun yang mengajakku kesana.”
Rayun tergelak melihat mulut temannya jadi manyun.
“Ohhh ya, lupa. Kau belum punya pacar, ya?” godanya sambil terus terbahak-bahak.
“Nggak lucu! Kau sendiri, bagaimana? Apa kau perginya dengan Pamugaran?”
“Dengan siapa lagi kalau bukan dengan dia?”
“Mmmm….seneng dong!”
“Ya,..gitu deh! Tapi tau nggak, disana aku bertemu dengan siapa?”
“Mana aku tau?”
“Dengan Aryo Wangking!”
“Shiit! Seru dong!”
“Seru, bagaimana! Orang aku kesananya sama Pam?”
“Lantas?”
“Ya,..aku Cuma pandang-pandangan saja dengan dia. Kau tau, kedua matanya menatapku dengan tajam..O, Gusti,… rasanya badanku ini tersengat listrik ribuan volt!”
“Bisa mati dong loe, kena strum.”
“Ih. Kasih komentar yang bagus dong, gimana gitu.”
Dyah tersenyum saja. Diambilnya lagi sepotong kue dan menggigitnya pelan-pelan sambil matanya merem melek. Rayun menunggu dengan pandangan aneh ke arahnya.
“He! Kasih komentar dong, masa diam saja?”
“Bener nih, aku boleh kasih komentar?”
“Kenapa tidak. Bukannya aku sudah bilang, menurutmu bagaimana?”
“Kalau kau minta pendapatku, aku pasti akan ngomong kalau si Pamugaran itu memang terlalu tua untukmu. Sori, jangan tersinggung.”
Rayun tertawa kecil.
Melihat Rayun tidak marah, Dyah Sugihan melanjutkan,:
“Kecuali kalau kau punya pertimbangan lain. Penampilan, misalnya. Atau ketenaran, barangkali?”
“Umurnya baru limapuluh dua. Menurutku tidak terlalu tua, kok.”
“Tidak terlalau tua, katamu? Hehehe,…Jangan bilang kalau kau tak memikirkan hubungan seks kalian di masa sepuluh tahun mendatang, dimana saat kau sedang gila-gilanya, dia sudah …ppfft…!!”
Rayun Wulan tertawa ngakak.
“Pikiranmu selalu kesitu-situ juga, Dyah! Hahaha…”
“Eh, jujur. Seks merupakan salah satu factor terpenting penunjang keutuhan rumahtangga loh! Coba, kalau saja dia tidak bisa ngapa-ngapain, apa kau tidak cuma menghitung nyamuk saja setiap malam? Makanya, kalau aku boleh kasih saran, pilih selagi kau bisa. Ambil Aryo Wangking sebelum semuanya teerlambat!”
“Maumu!”
Sepasang mata Rayun berkedap-kedip.
“Tapi memang kau benar,” kata Rayun. “Aku sedang berada dalam kebimbangan.”
“Nah, lho!”
“Ya. Beberapa hari belakangan ini, sejak kami bertemu di Balekambang itu, diriku selalu dihantui mimpi tentang dia. Bahkan pada saat Pamugaran menciumku, bayangannya selalu datang menyelinap di antara kami. Dan kalau sudah seperti itu, napsuku jadi drop ke titik nol. Aku jadi tak ingin meneruskannya.”
“Jadi menurutmu, apa arti dari semua itu?”
“Entahlah.”
“Gimana kau ini, Rayun! Aku jadi benci sekali melihat kebimbanganmu seperti itu!”
“Aku ingin…”
“Sttt! Kedengarannya ada orang datang,…” sela Dyah Sugihan cepat.
Beberapa detik mereka saling berpandangan dan berusaha menajamkan telinga. Benar saja, terdengar suara gerendel pagar dibuka. Ya, pasti ada yang datang. Dyah berdiri dan mengintip keluar jendela melalui celah-celah tirai.
Rayun ikut berdiri dan bersembunyi di balik punggung Dyah.
“Siapa..?” bisik Rayun. “Apakah dia Pamugaran?”
“Bukan,” sahut Dyah berbisik-bisik. “Orang ini membawa jip terbuka. Waduh, gagah sekali dia dengan topi koboinya itu. Ck..ck..ck.”
Rayun terkesiap.
Dia jadi ikut mengintip. Dilihatnya tamu itu, yang tak lain adalah Aryo wangking, tengah mengatupkan pintu pagar kembali. Kemudian dengan tegap berjalan ke arah teras rumah.
“Itu dia Aryo Wangking,” desis Rayun.
“Apa katamu?” Dyah menoleh cepat ke arah Rayun dengan wajah kaget.
“Itu Aryo Wangking, bodoh!”
“Jadi…itu dia orangnya?”
“Hmmm..mmm..”
Dyah menatap wajah Rayun lama. Otaknya berputar, membandingkan penampilan Pamugaran dan Aryo Wangking. Betapa jauh berbeda. Bagaikan langit dan bumi. Kalau saja dirinya yang harus memilih, pasti seleranya akan segera jatuh pada lelaki bertopi koboi di teras depan itu. Namun dirinya bukanlah Rayun. Rayunlah yang dihadapkan pada dua pilihan itu. Dan Dyah Sugihan sangat paham, Rayun bukanlah dirinya yang selalu pandai memilih.
Dyah kembali mengintip. Sepertinya pria bertopi koboi itu ragu-ragu untuk mengetuk pintu.
“Kalau kau lebih memilih Pamugaran, aku tidak menolak kok untuk yang satu ini, hehehe…” Dyah terkekeh.
“Enak saja!”
“Jadi…kau mau juga sama dia?”
“Ssstt…!”
Pintu depan mulai diketuk.
“Ra, buka pintunya!” kata Dyah mendelik.
Rayun beranjak ke pintu, dan memutar kunci. Begitu daun pintu terkuak, dirinya segera menatap sepasang mata yang dikatakannya mengalirkan tenaga listrik ribuan volt itu. Bibir lelaki itu tersenyum tipis. Masih tetap dengan topi warna gelap, namun kali ini dia nampak lebih rapi dan lebih keren dari biasanya. Diam-diam Rayun membenarkan suara hatinya yang paling dalam, bahwa lelaki itu memang gagah.
“Apa kabar, rayon,” sapa Aryo Wangking.
“Oh, baik,…baik.” Sahut Rayun terbata-bata.
“Kaget ya?”
“Iyyya,…wah, tadi sempat kusangka siapa…”
“Kaupikir, siapa?”
Rayun hanya tertawa seraya mempersilakan tamunya masuk.
“Kupikir, seorang pangeran yang datang, habis, keren sekali sih.”
Aryo tertawa tertahan tahan. Membuat dua gadis didepannya jadi terpana melihat tawa yang ditahan-tahan seperti itu. Seperti ingin mengurai busa yang memuai, Rayun ingin sekali bisa jatuh ke dalam pelukannya.
Dyah mencubit pinggangnya, menyadarkan Rayun bahwa disitu masih ada Dyah Sugihan yang ingin diperkenalkan.
“Oh ya, kenalkan. Ini temanku,” kata Rayun seperti bangun dari mimpi. “Namanya Dyah Sugihan. Dyah, kenalkan, dia Aryo Wangking.”
Dyah Sugihan menyodorkan tangan, Aryo menyambutnya dalam sebuah genggaman yang kuat. Mereka saling memperkenalkan diri, lalu duduki bersama dan berbasa-basi. Obrolan yang hangat segera memenuhi segenap sudut ruang. Hingga suatu saat Aryo bertanya tentang kabar Pamugaran.
Dyah mengerutkan kening. Dia mulai menebak, jawaban seperti apa yang akan dikatakan Rayun untuk pertanyaan Aryo Wangking.
“Dia baik-baik saja,” jawab Rayun.
“Kapan berpameran?”
“Dia memang tengah mempersiapkannya. Akhir-akhir ini kelihatannya mulai ngebut melukis. Rencananya akan berpameran tunggal di Sheraton.”
“Bagus. Dia memang pelukis handal. Apa obyek utamanya kali ini?”
“Judul pamerannya kali ini, ‘Wajah Wajah’.”
“Wah, kalau tebakanku benar, pasti kebanyakan berupa lukisan potret. Iya?”
Rayun meringis, membenarkan tebakan itu.
Dengan tak sabar, Dyah menyela cepat,:
“Kebanyakan Rayun yang jadi modelnya.”
Aryo memicingkan mata.
“Oh ya?” cetusnya.
Rayun menyodok perut Dyah dengan siku.
“Ah, tidak banyak,” ujarnya buru-buru. “Malah lebih dominan wajah-wajah pria Bali dan laut. Seperti yang diambilnya di Balekambang itu. Bagus semuanya. Sangat natural.”
Tolol! Pikir Dyah. Secara tidak langsung kau malah memuji karya-karya Pamugaran, Ra!
Aryo cuma tersenyum. Mencoba meredam api cemburu yang mendadak membakar segenap rongga dadanya.
“Boleh merokok?” tanyanya sambil membuka bungkus baru.
“Oh, silakan.”
Cepat-cepat Rayun menyodorkan asbak.
“Sebenarnya aku ingin sekali bisa ikut hadir pada pembukaan pameran itu,” kata Aryo seraya menyulut rokok dengan geretan.
Rayun terus menerus menatapnya sambil menelan ludah. Dia menikmati bagaimana indahnya gaya lelaki itu saat menyelipkan sebatang rokok di bibir, dan menyulutnya dengan mata terpejam. Rayun tidak pernah tau, bagaimana pedihnya sayatan kecemburuan itu dalam hati Aryo hingga mampu membuat matanya berair. Dengan memejam, Aryo berharap kedua gadis di depannya tidak melihat betapa mendadak saja dia jadi demikian cengeng.
“Pameran itu akan dibuka hari Sabtu depan,” kata Rayun begitu Aryo mengangkat wajahnya kembali.
“Tolong dikabari, aku akan datang.”
“Pasti akan dikabari. Ada undangannya, nanti.”
“Kita datang sama-sama?”
Rayun terdiam, mendegut ludah. Dyah segera menolongnya.
“Kalau nggak keberatan, mas Aryo datang bersama aku saja, Bagaimana, bisa?”
Aryo menoleh ke arahnya, menatap kosong, seakan baru sadar bahwa masih ada manusia lain di ruangan itu. Sebelah alis matanya terangkat naik, mengguratkan senyum penuh pemahaman atas ucapan Dyah Sugihan. Taulah Aryo, bawa Rayun pasti akan datang ke pembukaan pameran tunggal itu bersama sang maestro.
“Tentu bisa, tapi bagaimana?”
“Ini alamatku, mas Aryo menjemputku pukul tujuh malam. Oke?”
Aryo menerima kartu nama mungil milik Dyah Sugihan, dan menyimpannya di saku.
“Baiklah. Rayun sendiri bagaimana?” tanyanya berbasa-basi.
“Ah, Rayun berangkat lebih pagi bersama sang maestro. Betul kan, Ra?”
“Oh, ya. Ya.”
“Dia akan mendampingi Dewa Pamugaran, sebagai mascot, katanya.” ujar Dyah lagi making getas.
Aryo merasakan dadanya sesak.
Dia segera bersandar. Kini dirinya sudah hampir tidak tahan lagi. Baik, pikirnya geram. Kini sudah tercacar semua di wajahku. Jangan diteruskan lagi ceritamu itu, nanti darahku jadi beku. Mengaum di telingaku.
Brengsek kaau, Pamugaran! Brengsek!
Sambil mematikan rokok di dalam asbak, Aryo bertanya pada Dyah.
“Jadi kujemput kau pukul tujuh, Sabtu depan?”
“Oke! Aku tunggu mas Aryo.”
Aryo Wangking kemudian berpamitan, Dia bangkit dari duduknya, menyelipkan bungkus rokok dan geretan kedalam genggaman tangan, kemudian berjalan keluar. Dan begitu mereka cuma tinggal beerdua saja, Rayun terlihat marah.
“Loh, kok kau marah?” tanya Dyah kalem.
“Seharusnya kau tidak usah menceritakan kepadanya tentang pameran lukisan yang melibatkanku sebagai mascot itu,” cetus Rayun hampir menangis.
“Kenapa?”
“Dia pasti tidak menyukainya. Dia pasti tak ingin bertemu lagi denganku karena mengira aku sudah amat serius dengan Pamugaran.”
“Kau pikir begitu?”
Rayun mengusap matanya yang sebak.
“Menurut aku, dia tidak seperti itu,” kata Dyah Sugihan. “Aku justru yakin, sama seperti kau, dia juga selalu diganggu mimpi.”
“Maksudmu apa?”
“Aku yakin, dia juga menyimpan perasaan yang sama denganmu.”
“Kau yakin?”
“Yakin seyakin-yakinnya. Apa kau tidak melihat ekspresi wajahnya saat kukatakan bahwa kau adalah mascot dalam pameran itu? Aku bahkan melihatnya dengan sangat jelas, perubahan wajah dan kegeraman dari sorot matanya. Menurutku, dia bukan sejenis laki-laki yang gampang menyerah. Taruhan, dia akan datang dan akan terus datang untuk merebutmu dari tangan Pamugaran”.
“Jangan terlalu memberikan harapan padaku, Dyah.”
“Seharusnya kau berbesar hati. Itu memang kenyataan kok. Aku tidak ingin hanya memberikan angin surga padamu. Aku bahkan yakin bahwa sebenarnya kau lebih suka kepadanya ketimbang kepada pelukis tenar itu. Ayo, jangan membohongi diri sendiri, Rayun. Apa yang kukatakan ini, benar kan?”
“Entahlah, aku bingung jadinya.”
“Dasar! Ayolah Rayun,…keluarlah dari inferiority feelings yang berlebihan itu. Ini dunia nyata, nona. Kendati kau seorang penulis jangan seperti pujangga melankolis yang selalu melukiskan segala kehidupan ini harus selalu ideal, selalu harmonis. Sebagai manusia kau berhak memilih yang terbaik, dan kau boleh melakukannya kapan saja. “
“Kalau aku memilih Aryo wangking,..?”
“Itu bagus.”
“Tetapi Pamugaran sangat baik kepadaku, dia tidak pernah berbuat kesalahan. Apakah aku tidak menjadi orang yang kejam dan tidak tau membalas budi seandainya meninggalkannya tanpa alasan, begitu saja, padahal…”
“Rayuuun, Rayun!” Dyah menghembuskan nafas keras-keras. “Kenapa sih, kau selalu saja takut melakukan kesalahan yang belum tentu salah? Ayolah, hiduplah dengan sikap tegar dan realistis. Yang akan kau bangun itu adalah hidupmu sendiri, kebahagiaanmu!”
Rayun menyandarkan kepala ke sandaran sofa. Sepasanag matanya menerawang jauh.
“Sebenarnya,” lanjut Dyah. “…dalam hidup ini tak ada yang terlalu berat atau terlalu keras untuk dihadapi, Rayun. Tapi usahakan kau tidak melakukan sesuatu yang bagimu berakibat tidak menyenangkan bagi masa depanmu.”
Rayun Wulan mengalihkan pandang matanya kea rah Dyah Sugihan. Dirinya hanyaa tak ingin melukai perasaan orang-orang yang dekat dengannya, seperti Pamugaran maupun Dyah Sugihan. Kebimbangannya muncul saat menatap kedua mata Dyah sahabatnya. Namun tali kerinduan pada Aryo demikian kuat. Benar kata Dyah Sugihan, bahwa dirinya harus segera memilih sebelum semuanya terlanjur dalam dan rancu. Sepertinya penampilan dan gaya hidup sederhana yang dimiliki Aryo lebih dia suka daripada kehidupan glamor seperti yang dihayati Pamugaran selama ini. Tetapi bagaimana dengan perasaan Pamugaran apabila dia tiba-tiba mengalihkan hatinya kepada Aryo Wangking?
Ah,…!
Rayun Wulan memejam.
Dyah Sugihan menghirup gelas siropnya perlahan, membiarkan gadis peragu di depannya berpikir dan terus beerpikir, sampai hari kiamat!

(Bersambung).

TROWULAN (13)


Ternyata doa dan keinginan Rayun wulan terkabul.
Entah bagaimana, mendadak saja pada pagi itu tumbuh dalam hati Aryo Wangking keinginannya untuk pergi menemui Rayun Wulan. Dia akan nekad. Semalam-malaman dia berpikir keras, dan sampai pada satu kesimpulan bahwa tidak bisa tidak, dia harus berhasil memiliki gadis itu. Ancaman Naga Tatmala kembali terngiang di telinganya. Ini bukan berarti Aryo Wangking mau percaya begitu saja pada ancaman seekor naga siluman. Kalau tiba-tiba saja dia ingin memilikinya itu adalah semata-mata karena dorongan yang muncul dari lubuk hati yang paling dalam. Pendapat yang dia katakan pada Pamugaran tempo hari, tidak bisa memungkiri nalurinya sebagai seorang laki-laki. Dengan jujur dia katakan pada diri sendiri bahwa ada keinginan pada tubuhnya yang didorong oleh kebutuhan jasmaniah. Itu terbukti dengan semakin seringnya dia bermimpi tentang gadis itu. Apakah selama hidup dirinya hanya akan berpuas diri dengan mimpi-mimpi yang tak pernah menjadi kenyataan? Tentu saja tidak! Sudah sampai waktunya dirinya harus memiliki seseorang untuk melabuhkan segenap cinta dan hasrat nalurinya.
Sambil berdendang kecil, Aryo merapikan kumis dan jenggotnya. Semenjak kuliah, kumis dan jenggot tebal itu hampir tidak pernah lepas dari penampilannya. Barangkali itu yang menyebabkan teman-teman kuliahnya dulu lebih suka memanggilnya Aryo Brewok. Kini dengan hati berbunga-bunga, Aryo merapikannya, lebih tipis dari biasanya. Kini tampak wajahnya lebih terang. Brewoknya lebih tipis dan rapi. Sambil tersenyum, Aryo menatap puas penampilan wajahnya. Setengah mengagumi paras sendiri dia merasa bahwa dirinya tidak jelek jelek sekali. Kalau dibandingkan dengan Pamugaran, sepertinya dirinya lebih jantan, lebih manly. Pamugaran memang tampan,tetapi terlalu halus kulitnya.
Tiba-tiba Sumirah muncul begitu saja di ambang pintu.
Menyelinap masuk, dan menatapnya dengan pandangan heran.
“Tumben,” katanya. “Pagi-pagi sudah rapi, mau kemana sih?!”
Aryo membubuhkan cairan wangi ke dagu. Sumirah merebut botol itu, mengendus, dan membaca tulisan ‘After Save Lotion’ dengan wajah bodoh. Cairan apa ini, pikirnya. Wangi banget!
“Harum sekali kamu,” celetuknya curiga. “Biar kutebak. Kau sedang mau ke kondangan? Betul kan?”
Aryo Cuma tersenyum dikulum. Dia sedang tak ingin menanggapi kata-kata Sumirah. Kadang-kadang bermain tebak-tebakan adalah salah satu kebiasaan Sumirah kalau sedang ingin memancing pembicaraan agar lebih panjang atau supaya lebih bisa ngelantur kemana-mana. Kelihatannya memang itulah tujuannya. Terbukti, Sumirah kembali meneruskan permainannya.
“Atau…kau sedang mengincar seorang perempuan?”
Kali ini suaranya terdengar menyimpan cemburu.
Kini Sumirah bersandar ke bingkai pintu. Dilihatnya Aryo mengeluarkan sebuah kemeja warna biru pucat dari sebuah gantungan. Seingat Sumirah, kemeja itu adalah kemeja kesayangan Aryo, yang hanya akan dikeluarkan dari dalam lemari kalau pas ada sebuah acara penting. Selebihnya, pria macho itu lebih suka hanya mengenakan sebuah T-Shirt yang ditutup jaket kulit saja. Pria itu lebih percaya diri dengan penampilan sederhana, T-Shirt berkerah dan celana jins. Maka tak heran kalau pagi itu mendadak Sumirah mengernyitkan kening melihat Aryo berdandan lain daripada biasanya. Salahkah kalau dia jadi curiga?
Aryo mengait sepasang sepatu dari bawah kolong tempat tidur.
“Sepatu baru ya?!” celetuk Sumirah lagi tanpa mampu menahan rasa cemburunya.
“Ah, kebetulan yang lama sudah jebol.” Sahut Aryo sekenanya.
“Kau ini mau kemana sih?”
Aryo tetap sibuk dengan kaus kaki dan sepatunya.
“Ar! Kau mau kemana! Jawab dong!! Apa kau mau menghadiri sebuah hajatan?”
Acuh saja, tapi Aryo akhirnya mengangguk.
“Dimana?” kejar Sumirah tak sabar.
“Di Surabaya.”
“Akhirnya kau bisa bicara,” sindir Sumirah sinis. “Siapa yang punya hajat? Apa aku mengenalnya?”
Aryo berdiri. Dia telah selesai dengan sepatu barunya. Kini terlihat mulai bersiap-siap akan berangkat. Kedua tangannya bertolak pinggang, dan sepasang mata rajawalinya menatap keras paras Sumirah.
“Sampeyan tidak kenal. Maaf. Sekarang, biarkan aku pergi Yu.”
“Tunggu,…tunggu!”
“Apalagi?”
“…..”
“Oh ya, ini ada sedikit uang untuk belanja. Seratus, cukup?”
Sumirah menepis uang di tangan Aryo dengan gemas.
“Sialan kamu, Aryo!”
“Loh…”
“Aku tidak butuh ini, tauk!”
“Lantas, apa maunya sampeyan?”
“Kamu…! Ternyata kamu sama jahatnya dengan semua laki-laki di dunia ini.”
“Jujur saja, aku tidak mengerti yang sampeyan maksud.”
“…..”
“Ayolah Yu, cepatlah dikit. Aku tak ingin terlambat.”
“Gayamu! Apa sih yang sedang kau kejar? Pakai takut terlambat segala!”
“Terus terang, ada Yu.”
“Apa? Apa yang sedang kau kejar?”
“yang jelas, ada.”
“Sebuah proyek besar? Poyek harta karun?”
“Lebih dari harta karun.”
“Apa yang lebih dari harta karun,…apa?”
“Perempuan, Yu! Seorang gadis cantik.” Suara Aryo mulai naik satu oktaf.
“Apa kau bilang?” Sumirah melengking.
Sumirah memegang keningnya. Tiba-tiba saja kepalanya terasa mumet. Berputar tujuh keliling. Ya Allah! Begini hinakah aku hingga dua orang lelaki telah Kau beri kesempatan menolakku seperti ini? Kepalanya jadi lebih pening lagi tatkala dilihatnya Aryo malah menyungging sebuah senyuman sinis. Sumirah merasakan dadanya sesak. Darahnya seketika tumpat padat. Aryo Empul, …Aryo Wangking…sama saja! Sungguh, seharusnya Sumirah lebih tau mengapa dua orang itu menolaknya tanpa perasaan. Namun apakah tidak cukup mereka hanya bersikap lembut dan sedikit berbaik hati saja kepadanya, meskipun dirinya tidak seperti perempuan harapan mereka, yang berbudi dan bersih dari segala dosa dan kesalahan? Apakah hanya lelaki saja yang boleh berbuat dosa, sementara perempuan kesepian macam ini tidak boleh? Haruskah dia hidup bagaikan ranting kering yang suatu saat akan dipatahkan oleh kesombongan manusia yang tentunya tak lebih baik daripada dirinya?
“Maaf Yu, aku pergi dulu.”
Aryo keluar pintu. Sumirah terpana. Mendadak sekali dia jadi benci sekali melihat Aryo. Pertama kali dalam hidupnya, dia begitu ingin mencakarnya. Atau kalau bisa: membunuhnya sekalian!
“Aryo!” teriaknya begitu melihat Aryo Wangking melompat ke atas jip terbukanya.
Aryo menengok ke arahnya.
“Ya?”
“Siapa nama gadis itu?” dengan suara gemetar, Sumirah bertanya.
Aryo mengulas senyum di bibir.
“Namanya Rayun Wulan.”
Jadi benar dia,…pikir Sumirah dengan dada terasa pecah oleh kecemburuannya yang membuncah. Jadi benar kartu nama yang pernah dikoyak-koyaknya dulu itu adalah milik gadis yang sedang dikejar-kejar Aryo saat ini. Kenapa pada waktu itu Aryo berbohong kepadaanya dengan mengatakan bahwa mereka tidak punya hubungan apa-apa selain pertemanan?
Setan. Kurang ajar. Sumirah jadi uring-uringan sendiri. Ingin sekali dia tau bagaimana sih, rupa gadis itu? Dia juga ingin sekali bisa menyakiti Aryo Wangking dengan berbagai cara. Tiba-tiba dia merasakan jiwanya kering, yang tanggal bagai ranting ranting. Sumirah merasakan jiwanya mati. (bersambung)

Sabtu, 20 Maret 2010

TROWULAN (12)



Pada malam yang sama, di tempat yang sama, Aryo Wangking tengah memimpin satu upacara ritual. Ada beberapa orang ikut di dalamnya. Sebagian besar adalah penduduk setempat, sebagian lagi adalah anggota keluarga dokterandus Bondan Kejawan. Mereka semua duduk mengitari nasi tumpeng dengan lauk pauk pendampingnya yang semuanya terbuat dari daging kerbau bule pancal panggung. Sedangkan kepalanya dibungkus kain putih dengan segala uba rampe, diletakkan di atas sebuah rakit kecil, siap untuk dilabuhkan ke laut.
Seseorang membaca doa, memohon keselamatan kepada Yang Maha Kuasa. Kemudian setelah semuanya siap, dengan sebuah perahu motor Aryo Wangking dan dokterandus Bondan Kejawan membawa rakit kecil berisi kepala kerbau itu ke laut lepas. Setelah mencapai limapuluh meter dari pantai, rakit itu dilepas. Didorong lebih ke tengah. Laut yang tadinya cukup tenang dengan riak-riak kecil, mendadak sontak mulai bergolak. Konon, ombak selalu mendahului kehadiran Sang Penguasa Laut menerima labuhan yang dilakukan penghayat.
“Apa artinya itu, mas Aryo?” bisik Bondan Kejawan.
“Artinya sedekah Bapak telah diterima. Insya Allah keduanya selamat. Kalaupun berbeda, itu semua adalah takdir Allah. Untuk selanjutnya, jangan lupa menyantuni anak yatim dan bersedekah bagi fakir miskin,” sahut Aryo Wangking.
“Insya Allah akan saya laksanakan, Mas.”
“Amien.”
Rakit dengan dua kepala kerbau itu berputar-putar bagaikan berada di atas pusaran air. Makin lama makin cepat. Makin lama makin tenggelam, lantas menghilang bagai dihisap ke dasar laut.
“Bapak lihat,” kata Aryo Wangking. “Perjanjian antara nenek moyang Bapak dengan Kanjeng Ratu Kidul sudah selesai. Semuanya larut malam ini bersama dengan sedekah yang Bapak berikan.Bersyukurlah bahwa Tuhan telah memberi petunjuk kepada Bapak untuk menyelamatkan sisa keluarga yang ada dari sukerta.”
“Alhamdulillah,” kedua mata Bondan Kejawan berkaca-kaca.
Aryo Wangking menepuk bahunya sambil tersenyum. Kapal motor itupun berputar, kembali ke darat. Disana warga setempat tengah asyik makan bersama menghabiskan sisa nasi tumpeng. Aryo Wangking melepas keluarga dokterandus Bondan Kejawan sampai ke mobil. Mereka berpamitan pulang langsung ke Banyuwangi.
Aryo mendekat ke arah orang-orang yang tengah mengelilingi nasi tumpeng. Dia tidak ingin mengganggu mereka, tetapi mengambil tempat duduk tak jauh dari mereka di bibir pantai, diatas sebatang pohon nyiur tumbang yang diletakkan orang begitu saja disitu. Dicabutnya sebatang rokok dari bungkusnya lalu disulut. Dia nikmati aroma khas yang ditebarkan angin dari arah laut ke darat. Debur ombak dan bau yang khas, membuat pikiran Aryo menerawang kemana-mana. Dirasakannya kedua matanya demikian lelah. Sejak kemarin, sudah duapuluh empat jam dia tidak tidur. Dia berdzikir terus menerus nonstop memohon kepada Tuhan agar didengar doanya, diijabahi niat baiknya untuk menyelamatkan sisa keluarga dokterandus Bondan Kejawan dari perjanjian antara leluhurnya dengan Penguasa Laut pemilik mas picis raja brana yang berasal dari alam gaib yang kebanyakan diminati para manusia yang serakah.
Tiba-tiba Aryo merasa terganggu oleh sesuatu di seberang sana, di atas ombak yang bergelora, jauh sekali disana. Dipicingkannya mata dan berharap dengan kacamata spiritualnya dirinya bisa melihat apa yang sedang terjadi disana. Bagai disengat kala, dia terlonjak. Sepasang matanya kini bisa melihat dengan gamblang dua makhluk sedang berposah-pasih, berkasih-kasihan di atas lidah ombak yang menjilat ke langit tinggi. Dalam wujud lain, sesuai dengan trawangannya, Naga Tatmala tampak menjelma sebagai seorang pria tampan, gagah pideksa, yang dengan lengannya yang kokoh melontarkan lalu menangkap tubuh seorang gadis berpakaian setengah dada, kemben kain parang, cantik sekali. Pria itupun berpakaian aneh. Dia bertelanjang dada, bersorjan kain parang klitik, berjamang kain destar hitam yang dililit benang emas di kepalanya.
Dengan lebih menajamkan mata, Aryo melihat wujud asli kedua makhluk itu adalah Naga Tatmala dan Rayun Wulan. Mereka itu tampak gembira sekali. Tawa dan jerit manja Rayun Wulan demikian nyaring, menyengat anak telinga Aryo Wangking. Menusuk-nusuk. Dilihatnya pula keceriaan Rayun Wulan dari gerak kepalanya yang kadang tengadah saat ditangkap lengan kokoh kesatria berjamang kain wulung. Di saat yang lain, ia seperti bocah kecil yang asyik bermain lompat-lompatan diatas gelung seekor Naga besar yang dengan mesra memeluknya.
Sebuah torehan panjang melukai hati Aryo Wangking. Dia memejam dengan dada perih. Dirasakannya kecemburuan meruyak rongga dada. Astaga, cemburukah aku? pikirnya kaget. Cemburukah aku pada seekor naga siluman? Pantaskah itu? Tiba-tiba tumbuh dalam hati sebuah tuduhan kepada Kanjeng Ratu Kidul akan janjinya yang ingkar. Dalam kemarahan dan kecemburuan yqang menyengat, Aryo menahan nafas. Bibirnya bergerak merapal sebuah doa andalan, memohon kekuatan kepada Yang Maha Kuasa untuk mengalahkan siluman raksasa berbentuk naga itu.
Secepat kilat, bagai sebutir meteor, secara gaib kekuatan tubuhnya melesat. Menyambar dan menghantam kepala Naga Tatmala hingga naga raksasa itu terpental. Sebelum sadar akan apa yang terjadi, Naga Tatmala kembali merasakan sebuah hantaman dahsyat pada bawah lehernya. Naga Tatmala tersedak. Hampir tak dapat bernafas. Orang kecil ini sungguh hebat, pikirnya. Dibandingkan dengan tubuhnya yang raksasa, orang kecil itu tak punya arti. Tetapi pukulan dan hantamannya hampir saja membuat nafasnya putus. Tatmala jadi lebih geram tatkala harus menyaksikan tubuh Rayun Wulan tergelincir jatuh ke laut.
Naga tatmala segera bertiwikrama, mengubah wujudnya menjadi seeorang kesatria gagah. Dalam kemarahan, dia melihat Aryo Wangking juga berubah wujud menjadi aslinya seorang kesatria tampan yang dikenalnya bernama Nambi, sang Rakryan Mahapatih Hamengkubumi yang tak kalah perkasa dengan dirinya.
“Pergi kamu, enyah!” seru Nambi seraya terus melancarkan serangan serangan yang mengandung petir.
Tatmala terus menerus mengelak, tak ingin melawan.
“Apa maumu, Nambi?” balasnya.
“Dalam satu peristiwa di Puri Agung Kanjeng Ratu Kidul kau telah kukalahkan, Tatmala. Dan Kanjeng Ratu sudah merelakan gadis itu kepadaku. Sesuai dengan perjanjian seorang Ratu, kaupun tak boleh mengingkarinya.”
“Siapabilang? Selama kau belum menepati janji, apakah aku harus menjaga janji itu?”
“Apa maksudmu?”
“Kau berjanji akan menjaga gadis itu dan menjauhkannya daroi sukerta yang ditimpakan padanya oleh pelukis dari Gianyar itu.”
“Memang.”
“Tapi mana buktinya?”
“Aku tak mengerti maksudmu, Tatmala.”
“Buktinya, gadis itu masih terus lengket dengan pelukis itu. Kau lihat? Nyawanya masih terus diupayakan untuk menjadi jaminan ketenarannya. Selama kau tidak mampu menjaganya, Nambi, sebaiknya kauserahkan saja gadis itu padaku.”
“Kurang ajar!”
“Hahaha, Nambiiii, …Nambi! Dari dulu kau tetap saja bodoh dalam soal wanita. Ketauilah, Nambi, kalau sampai batas waktunya tiba dan kau tetap saja lelet, jangan salahkan aku kalau aku terpaksa memboyongnya ke alamku. Menjadikannya istriku. Jangan kuatir, aku mampu membahagiakan dia, huahahaha….”
“Dasar siluman! Kau tak berhak apapun atas dirinya. Ada tangan-tangan yang lebih berkuasa dari siapapun di dunia ini atas diri manusia. Yaitu Allah Ta’ala. Seharusnya kau tau itu.”
Tatmala masih tetap tertawa lebar. Sambil menarik wiron kain sorjan dan mengibaskannya ke samping dia membalas kata-kata Nambi.
“Baiklah Nambi, jagalah anak gadis itu baik-baik. Sekali kau lengah, maka akan kubuktikan ucapanku. Selamat tinggal.”
Nambi menggertakkan gigi. Kurang ajar! Gaya kurang ajar dan tengil seperti itu memanglah menjadi ciri khas Naga Tatmala. Kini disaksikannya naga siluman itu kembali berubah wujud menjadi seekor naga raksasa, dengan jamang dan tanduk kecil di kepalanya. Naga itu meliuk, bergelung, kemudian meluncur pergi. Ombakpun ikut bergulung-gulung. Menggelora bagaikan diaduk oleh tangan-tangan raksasa. Angin beerhembus kencang mengiringi hujan yang deras turun dari langit. Semua itu diikuti oleh petir dan guntur.
Di bibir pantai, Aryo membuka mata. Sesaat dihapusnya mata dengan telapak tangan lalu menengok ke arah orang-orang yang sedang melakukan kenduri. Dilihatnya mereka semua kini membubarkan diri sambil mengemasi sisa nasi tumpeng, membawanya ke warung terdekat. Hujan turun mendadak semakin deras. Aryo Wangking sendiri segera berlari kecil menuju teritisan warung nasi bersama orang-orang itu.
Setengah berdesak desakan, mereka duduk di bangku bangku warung.
“Aneh,” terdengar seseorang berkomentar. “Langit yang tadi begitu cerah, kenapa mendadak jadi mendung gelap dan hujan deras begini ya.”
“Ini bukan hujan biasa, ini badai,” sahut teman bicaranya.
Yang lain membenarkan. Bahkan rembulan yang tadi sempat membiaskan sinarnya ke permukaan laut, mendadak tersaput awan hitam bergumpal gumpal. Ombak setinggi rumah menghempas ke pantai. Hampir menjilat atap teritisan warung. Orang-orang menyingkir lebih jauh ke dalam, menghindari tempias hujan. Tukang warungpun cepat-cepat menutup[ dagangannya. Dia bercerita , kalau laut sudah marah seperti ini, lidah ombak bisa masuk ke dalam warung dan rumah-rumah penduduk di sepanjang pantai.
“Banjir?” tanya seseoranga kepada pemilik warung.
“Ya banjir, permukaan air bisa mencapai sepuluh senti.”
“Wah!”
Mereka memandang keluar, kea rah derasnya angin. Pohon-pohon nyiur seakan sedang berusaha keras untuk tetap berdiri tegak, meliuk ke kiri, meliuk ke kanan. Nyaris roboh. Butiran air hujan yang sedemikian rapat membentuk sem,acam tirai kabut yang tebal.
Mendadak mata Aryo menangkap bayangan dua orang berlari-larian ke arah mereka. Kedua orang itu masuk ke teritisan warung. Beberapa orang menyingkir, memberi ruang kepada mereka untuk masuk lebih ke dalam.
Aryo merasakan darahnya berhenti. Dua orang baru itu ternyata Rayun Wulan dan Pamugaran. Mereka basah kuyup. Dan atas saran orang-orang, mereka masuk lebih ke dalam lagi menghindari tempias hujan. Beberapa detik, pandangan mata Rayun Wulan berhenti ke satu titik dimana sepasang mata rajawali menatapnya tajam, memagut dari sudut agak gelap di dalam warung nasi itu.
Untuk sesaat Rayun membiarkan matanya membalas tatapan rajawali itu. Alangkah anehnya ketika kemudian dia merasakan ada getar-getar ajaib menyelinap di hati tatkala kedua pasang mata mereka saling bertemu. Kalau saja…
Sayangnya, dirinya sudah terlanjur amat dekat dengan Pamugaran. Bahkan kini lengannya bergayut manja pada lengan Pamugaran.
Pemilik warung mempersilakan mereka duduk dan menawarkan teh panas atau kalau mau, semangkuk mie telor kepada sepasang merpati itu. Namun Pamugaran menolak dengan halus. Dia duduk dan membantu Rayun menepis sisa iar hujan dari mantel wol yang dikenakan Rayun Wulan. Sehelai saputangan daikeluarkannya dari saku celana, lalu dikeringkannya rambut gadis itu.
Semua itu tak luput dari tatap mata cemburu Aryo Wangking. Dia menaksir-naksir umur Pamugaran. Kira-kira saja, berapa umur laki-laki itu? Dan bagaimana Rayun bisa tertarik kepadanya? Sudahkah dia tau, siapa sebenarnya Pamugaran?
Sekali dua, mata Rayun membalas tatapannya. Aryo tak ingin berpaling, hingga dua pasang mata mereka jadi sering bersirobok pandang. Dengan tidak sabar, akhirnya Aryo Wangking berdiri. Berjalan kea rah mereka. Ditepuknya bahu Pamugaran dan diulurkannya tangan.
Kaget, Pamugaran menengok.
“Oh, mas Aryo!”
Diguncangnya tangan Aryo dan diguncangnya dengan hangat.
“Bagaimana kabarnya?” imbuhnya seraya mempersilakan duduk. Aryo sengaja mengambil tempat duduk berseberangan dengan Rayun Wulan. Dia ingin tau, bagaimana reaksi gadis itu bila berdekatan dengannya.
“Baik, Alhamdulillah. Mas Pamugaran sendiri bagaimana, baik-baik saja?” balasnya.
“Beginlah. Sehat. Sendirian saja, Mas Aryo?”
“Tadinya saya datang berombongan dengan orang-orang Banyuwangi. Tetapi mereka sudah pulang sejak sebelum turun hujan itu. Tadi berlari-lari, kalian darimana?”
“Dari atas.”
“Sanggar?”
“Ya. Dari Pura.”
“Oh.”
Aryo tersenyum. Jadi Pamugaran menyebut sanggar di atas Pulau Kambang itu Pura.
“Ada kepentingan khusus rupanya, sampeyan,” ujar Aryo.
“Ah, hanya sedang mencarin obyek lukisan saja. Tadi pagi hingga sore, saya ada di atas sana. Melukis bukit karang itu.” Kilah Pamugaran.
“Sudah selesai?”
“Tinggal finishingnya saja.”
“Boleh saya lihat?”
“Wah, itu suatu kehormatan bagi saya loh. Lukisan itu ada di pondok yang saya sewa tak jauh dari sini. Kita kesana sekarang?”
Aryo mengalihkan pandangannya ke Rayun. Seolah menuduh dengana marah. Jadi kalian menyewa sebuah pondok, berdua saja disana? Rayun tak kuasa menghindar. Ia tampak geragapan menerima tatap mata seperti itu.
Untunglah Pamugaran segera menariknya berdiri. Mereka keluar dari warung. Aryo merapatkan kelepak jaket kulitnya sebelum mengikuti mereka. Berlari-larian ketiga orang itu menyeberang ke pondok sewaan, tak jauh dari warung.
“Ini pondoknya,” kata Pamugaran seraya membuka pintu.
Aryo menatap sekitar.
Hmm, romantis! geramnya. Diikutinya mereka masuk. Udara agak lebih hangat di dalam. Beberapa gulungan kain kanvas tergeletak di sudut ruang. Kuas, cat minyak dan pakaian pria berserak di atas ranjang bambu. Seperangkat meja tamu ada di sudut yang lain. Ada bungkus makanan, permen, dan tas milik Rayun.
“Maaf,” kata Pamugaran. “Berantakan.”
Aryo duduk. Matanya kembali menyambar wajah Rayun.
Apa yang telah kamu lakukan sejak datang kesini? Tuduhnya. Berciuman, atau apa?
“Ini,” kata Pamugaran seraya memperlihatkan lukisan batu karangnya. Aryo melihatnya. Lukisan itu secara umum, memang bagus. Namun sama sekali dia tidak tertarik. Dia hanya tertarik pada peergulatan-pergulatan yang ada di kepalanyaa sendiri. Tentang sesuatu yang mungkin saja terjadi antara pelukis dari Gianyar dengan penulis dari Surabaya itu! Sesuatau yang bisa jadi menyeramkan. Tetapi bisa saja sedemikian romantisnya hingga membuat Aryo meremang. Bukankah mereka berdua sama-sama pelaku seni? Pasti romantis sekali bila sedang pacaran. Namun kalau bukan cuma berciuman, namun lebih jauh lagi, bagaimana?
Tanpa sadar Aryo mendesah.
“Ah!”
Pamugaran menatapnya, kuatir bahwa itu adalah reaksi jelek atas lukisannya.
“Bagaimana?” tanya Pamugaran.
“Oh, bagus. Ini bagus sekali.” Sahut Aryo sekenanya. Padahal, tau apa dia tentang lukisan?
“Sekali waktu kalau sampeyan ikut pameran, saya harus diberi tau,” tambahnya tersenyum.
“Pasti,” kata Pamugaran tertawa senang.
Mereka kemudian tenggelam dalam sebuah obrolan yang panjang. Dan karena belum puas, maka Aryo mengajaknya keluar. Mereka minum kopi di warung, sementara Rayun tetap tinggal di pondok.
Sambil menghisap rokok, Aryo berkisah tentang dirinya, sejak kecil hingga lulus perkuliahan. Kemudian oleh panggilan jiwa, diapun lebih suka tinggal di situs purbakala Trowulan. Bekerja di Musium, dan bertempat tinggal tak jauh dari Candi Bajangratu atau lebih dikenal oleh para arkeolog, sebagai Gapura Paduraksa. Pamugaran juga mengisahkan perjalanan hidupnya hingga menjadi pelukis terkenal di Ubud.
Hingga jauh malam mereka mengobrol. Suatu ketika setelah melantur kemana-mana, akhirnya Aryo bertanya,:
“Kalian berpacaran?”
Pamugaran terlihat kaget menerima pertanyaan itu.
“Saya? Berpacaran dengan Rayun?” tanya dia balik.
Dilihatnya Aryo tengah menghisap rokok dalam-dalam, kemudian menghembuskannya dengan mata menyipit ke arahnya. Entah kenapa tanpa dapat dijelaskan, mendadak Pamugaran merasa rikuh menerima pertanyaan sekaligus tatap mata seperti itu.
“Kami hanya berteman,” jawabnya kemudian.
“Masa? Sepertinya antara sampeyan dan saya tak jauh berbeda. Kita ini kaum laki-laki tau apa arti pertemanan dengan seorang perempuan? Barangkali yang ada cuma sesuatu yang didorong oleh keinginan,” kata Aryo sambil tertawa kecil.
“Maksud mas Aryo, apa?” tanya Pamugaran diliputi perasaan tidak suka atas gaya bicara Aryo yang kelihatan sok itu.
“Begini, menurut saya, ada keinginan dalam tubuh kita bila kita berdekatan dengan perempuan berwajah cantik. Keinginan yang semata-mata didorong oleh kebutuhan jasmani.”
Pamugaran mengerutkan kening.
“Kalau begitu, mas Aryo sudah salah menilai saya,” bantahnya.
“Baiklah, ini jujur saja mas Pam. Apa sampeyan suka kepadanya?”
“Pertanyaan itu terlalu menohok, mas Aryo,…saya…”
“Jawab saja, kenapa musti bingung sih?”
Lama, Pamugaran baru menjawab,:
“Saya akui, sepertinya saya mulai menyukai dia.”
“Nah! Itu dia masalahnya. Lantas, apakah itu bisa dikatakan sebuah pertemanan? Sebab, perasaan suka kalau dilanjutkan akan berubah bunyinya loh mas Pam!”
“Mas Aryo ini berpikiran terlalu jauh. Memang saya akui, perempuan cantik selamanya menimbulkan pesona. Apakah saya salah, kalau kemudian saya lupa pada arah arus hanya karena perempuan cantik?’
“Saya tidak menyalahkan sampeyan. Jiwa yang terluhurpun tak mungkin mengelakkan diri dari dahaga jasmani. Apalagi mas Pamugaran pasti sudah pernah berkeluarga, sudah pernah punya istri. Lantas, bagaimana dengan istri sampeyan?”
“Saya memang pernah berkeluarga. Anak saya satu-satunya meninggal saat dilahirkan. Lalu kami bercerai. Orang seusia saya, mana ada yang belum pernah berkeluarga? Tahun ini saja umur saya limapuluh dua. Cukup tua untuk kembali jatuh cinta. Itu maksud anda kan mas Aryo? Tetapi kata para filsuf, cinta itu buta. Dia akan mendatangi siapa saja yanag dia kehendaki tanpa pandang bulu. Orang sudah mau masuk liang lahat saja, kalau dikehendaki, tiba-tiba bisa jatuh cinta pada penggali kuburannya kok.”
Mau tak mau Aryo Wangking jadi tertawa ngakak.
“Jadi bener nih, dia adalah calon yang sampeyan pilih?” sindirnya.
“Apa mau dikata. Sejak bercerai dan menduda tiba-tiba saja saya ingin kembali menikah.”
Mata Aryo kembali menyipit.
“Saya tidak tau,” tambah Pamugaran. “Apakah dia mencintai saya atau tidak, setidak-tidaknya menaruh hati pada saya,…rasanya kami hanya berteman mengobrol dan kemudian muncul niatan dalam hati saya menjadikan dia model lukisan saya. Selebihnya teergantung…”
“Siapa yang tau?” sela Aryo cepat.
Bibirnya mengguratkan sebuah senyumman sinis.
Pamugaran melihatnya, namun perasaan tak suka pada lelaki bertopi koboi itu mendadak saja menyodok ulu hatinya. Geraam melihat gayanya. Ingin membunuhnya, kalau bisa!
“Jarang ada lelaki mau berteman dengan seorang perempuan cantik hanya sekedar teman ngobrol saja,” kata Aryo Wangking masih dengan mengulum senyum sinis.
“Rata-rata lelaki kalau dengan perempuan pasti mau yang itu. Yah…, tentu saja tidak dengan semua perempuan. Tapi kalau perempuan itu seperti dia, mana bisa sih, cuma berteman ngobrol?” tambahnya.
Raut wajah Pamugaran seketika pucat pasi. Kapalanya bagaikan dihantam palu godam berton ton beratnya. Egonya yang lumayan besar mendominasi segenap perasaan membuat darahnya mendidih.
Aryo menyimpan senyumannya dalam hati. Dia puas melihat perubahan wajah Pamugaran seperti itu. Siapa yang tidak tau bagaimana dia mengawini Ni Darni? Gadis lugu dari Ubud itu pertama-tama dijadikan model, dirayu, dihamili, dinikahi, lalu diceraikan begitu saja tatkala melahirkan seoranag bocah laki-laki berwajah naga. Bayi itu memang mati. Tapi rohnya tetap hidup dan diambil oleh penguasa Laut Selatan sebagai abdi, atau budak. Dijadikan wadal oleh pelukis ganteng dari Gianyar itu demi sebuah ketenaran yang melejit bak meteor. Harta tentu datang dengan sendirinya bila karya-karyanya seakan berkharisma dan berbau magis serta diminati oleh banyak kolektor besar dalam negeri maupun manca Negara. Dan namanya bakal melebihi para maestro di jagad belantara ini.
Aryo mematikan rokok. Menggilasnya di piring kopi. Matanya mengerling ke arah Pamugaran dengan hati ngakak. Menertawakan kebingungan bercampur kemarahan yang tersirat di wajah culun itu.
Haha!
Wajah culun yang seakan tak mengenal dosa itu bahkan merelakan gadis yang dicintainya untuk ditiduri oleh seekor naga siluman. Naga inilah yang ikut berperan dalam menyelesaikan karya-karyanya. Gerakan tangannya yang cekatan saat menorehkan cat di atas kanvas, sesungguhnya adalah gerakan cakar-cakar naga siluman. Untuk itulah maka dalam setiap memulai membuat karya, Pamugaran tak pernah lupa melakukan sebuah upacara ritual yang disertai asap dupa bagi sesembahannya. Aryo tidak tau, apakah Naga Tatmala yang menjadi sesembahan Pamugaran itu melakukan persetubuhan dengaan Ni Darni atau tidak, yang jelas bayi yang dilahirkannya mirip naga, berhidung pesek, dan berkulit kering bersisik.
Namun anehnya, Naga Tatmala sangat peduli dengan Rayun Wulan. Kenapa? Apakah karena dia inkarnasi dari Rara Ireng? Atau apa? Naga itu seakan-akan tak ingin melihat Rayun dijadikan wadal. Dia selalu mengawasinya dengan caranya sendiri. Apakah sang naga jatuh cinta kepada gadis itu, atau bagaimana? Bagaimanapun, Aryo tidak ridho apabila Rayun harus disatukan dengan siluman naga, sebaik apapun siluman itu. Manusia jodohnya adalah manusia juga, bukan siluman!
Hingga subuh datang, mereka masih duduk di bangku panjang warung nasi dekat bibir pantai. Saat suara adzan berkumandang dari surau tak jauh dari perkampungan nelayan, Aryo berpamitan akan mandi sekalian mengambil air wudhu. Pamugaran kembali ke pondok dengan gontai. Tubuhnya lemas. Hatinya tak keruan. Marah dan tersinggung bercampur aduk, rasanya sulit dilerai begitu saja.
Di pondok, tampak Rayun tengah mengemasi barang-barang.
“Kita pulang, Pam?” tanya Rayun begitu Pamugaran muncul di pintu.
“Ya. Tolong kau bereskan semuanya. Aku pergi mandi dulu.”
Dia menyambar handuk, dan bergegas keluar, menuju kamar mandi umum yang memang disediakan bagi para tamu dan penghayat di Balekambang. Di sana dia bertemu Aryo. Lelaki itu tampak segar sesudah semalam suntuk tidak tidur. Tak terlihat sedikitpun dia mengaantuk. Rambutnya yang basah peertanda dia sudaha selesai mandi dan berwudhu. Setelah bertegur sapa sejenak, Aryo bilang dirinya telah melakukan shalat dia akan segera pulang.
“Terus ke Surabaya?” tanya Pamugaran.
“Sampeyan lupa, atau bagaimana? Rumah saya di dukuh Kraton, dekat Gapura Paduraksa, Trowulan.”
“Oh, sori. Lupa.”
Mereka tertawa bersama seolah olah tidak pernah ada ganjalan.
“Tolong pamitkan saya sekalian pada Rayun Wulan,” kata Aryo.
“Akan saya sampaikan.”
“Mari mas Pam. Sampai ketemu lagi kapan kapan.”
Pamugaran melambaikan tangan.
“Jangan lupa, undang saya kalau mas Pam berpameran.”
“Pasti.”
“Kalau perlu sama saya, Mas bisa menemui saya di museum Trowulan, atau di Siti Hinggil.”
“Musium dan Siti Hinggil,..beres!”
Aryo melompat ke atas jip Nissan, menstarternya, dan melaju ke tikungan. Menghilang dari pandangan mata Pamugaran. Topi koboi yang menjadi ciri khasnya, dan Nissan tanpa kap menjadi jati dirinya. Sekilas, sebuah senyum tipis mengulas bibirnya.
Manusia, pikir Aryo sambil memacu mobilnya dengan cepat, selalu ingin tau kebenaran yang kadang diungkapkan kadang disimpan dalam keheningan. Sesungguhnya, kebenaran itu bukanlah dalam apa yang diungkapkan kepada kita. Namun dalam segala yang tak dapat diungkapkan kepada kita. Oleh sebab itu apabila kita hendak memahaminya, jangan dengarkan apa yang dikatakan, melainkan apa yang tak terkatakan.
Dari dalam pondok, melalui jendela yang terbuka lebar, Rayun melihat jip tua tanpa kap itu melintas sangat cepat. Menyadari ketidakpastian akan pertemuan berikutnya dengan laki-laki itu, mendadak saja Rayun merasakan sebuah keheningan yang menyesak dada. Dia tau bahwa hidup itu harus dihadapi dengan keberanian dan kejujuran. Namun Rayun tak tau masihkah ada kejujuran itu dalam hatinya? Cukup jujurkah dia memperlakukan perasaan dan kebersamaannya dengan Pamugaran apabila ada baying-bayang lelaki lain yang selalu menyelinap di relung hati paling gelap di dadanya?
Barangkali batas itu menjadi jelas baginya, antara naluri dan rasa, yang muncul kemudian. Cinta memang memiliki seribu wajah. Dan rasa kepada Aryo Wangking yang tumbuh dalam hatinya, adalah rasa yang tak mudah dipungkiri. Di matanya, Aryo Wangking adalah merupakan gambaran pribadi yang penuh semangat hidup, penuh cita-cita, optimis, namun tanpa basa-basi menerima kodratnya. Diam-diam dalam hati Rayun berdoa, semoga masih ada kesempatan bisa bertemu dengan Aryo Wangking kembali.

(Bersambung).

TROWULAN (11)



BALEKAMBANG, MALANG SELATAN
Pantai Balekambang terletak di sebelah Selatan kota Malang. Orang setempat mengatakan pantai laut Selatan ini seringkali meminta korban. Namun menurut penuturan juru kunci Mbah Imam, para korban itu kemungkinan sedang diambil menantu oleh Penguasa Laut. Buktinya, mayat mereka tak pernah ditemukan.
Masih kentalnya kepercayaan masyarakat setempat terhadap pamor Sang Penguasa Laut dibuktikan dengan upacara labuhan setiap tahun. Konon acara ini diadakan untuk melindungi warga masyarakat setempat dari mara bahaya. Di pesisir Selatan Pulau Jawa, acara serupa juga diadakan. Seperti misalnya, di Banyuwangi, Tulungagung, Parangtritis, atau Cilacap. Kendati konotasinya berbeda. Yakni untuk keselamatan para nelayan di laut.
Banyak orang percaya, ketika acara itu berlangsung, Penguasa Laut juga ikut hadir. Dia akan menjaru sebagai penonton. Begitu juga dengan para pengawalnya. Acara acara tersebut tak jarang dipergunakan oleh Sang Penguasa Laut untuk mencari menantu. Sebagai akibatnya, bisa saja secara tiba-tiba ada yang jatuh menjadi korban. Ditelan ombak. Dan mayatnya hilang begitu saja tak pernah kembali. Mereka yang menjadi korban biasanya dikarenakan telah melanggar pantangan yang telah digariskan. Misalnya, mereka yang mengenakan baju hijau, atau mereka yang suka berbicara sombong tak keruan di tempat dimana upacara sedang berlangsung.
Pada hari itu, Rayun Wulan ikut beersama Pamugaran ke pantai Balekambang. Udara terasa sejuk sejak hujan semalam. Angin sepoi bagaikan hembusan nafas bidadari. Rayun sangat menikmati panorama di bibir pantai. Dia duduk melamun diatas sebatang pohon nyiur yang tumbang dan diletakkan orang begitu saja dipinggir pantai. Dipandangnya ombak yang mirip buih sabun, membentuk lingkaran-lingkaran kecil, berputar putar bersama air laut yang menghijau (bukan biru). Rayun tidak tau, kenapa air laut di bibir pantai pulau Balekambang bukan biru atau kesoklatan, namun serupa dengan hijaunya batu topas.
Di langit burung camar melayang-layang menghampiri, serumpun demi serumpun. Begitu tengadah, Rayun melihat langit terbentang luas, biru bersih. Sementara di depannya sana, laut berbusa-busa menghamtam pantai, naik ke bukit karang, lalu pecah dan disusul ombak berikutnya saling kejar mengejar dan berlomba menghantam karang.
Di atas bukit batu karang itulah kini Pamugaran berada untuk mengambil panorama indah bagi lukisannya. Bisa dipastikan, lelaki paruh baya itu akan turun setelah lewat tengah hari. Atau bahkan selewat senja. Sebab kalau sedang berhadapan dengan kanvas dan ebrmain-main dengan cat minyaknya, Pamugaran bisa lupa segala. Dia akan benar-benar tenggelam dalam keasyikan yang sulit dilerai. Gerak dan bahasa tubuh serta jiwanya menyatu, menampakkan sebuah profesionalisme yang kental.
Sore berikutnya, mereka naik ke Pulau Kambang. Diatas pulau itu berdiri sebuah pura Hindu. Pamugaran menyampaikan keinginannya untuk bersamadi disitu. Kini Rayun Wulan tau, bahwa selain melukis, Pamugaran punya kebiasaan bersamadi, seakan dirinya masih memegang teguh budaya nenek moyangnya. Kemunculannya dalam kehidupan Rayun dirasakan bagai kebangkitan sebuah budaya. Pamugaran laksana seseorang yang memiliki daya linuwih karena produk budaya: Bali dan China. Tak sampai disitu, Pamugaran bahkan mengatakan bahwa sebelum mengenal Rayun Wulan, secara berkala dia pergi ke lereng Gunung Semeru mengunjungi Pura Mandara Giri Semeru Agung, yakni sebuah pura terbesar di lereng Gunung Semeru. Kata Pamugaran, di tempat itulah dirinya mendapatkan kemampuan gaib yang datang secara tiba-tiba seakan-akan dituntun oleh para leluhur. Maka ketika Pamugaran masuk ke dalam pura di bukit pulau Kambang itu, Rayun memilih untuk tetap berada di luat. Dia duduk bersandar ke dinding Pura sambil mencobamenggali inspirasi untuk tulisannya yang akan datang.
Tanpa terasa, Rayun Wulan jatuh tertidur.
Angin senja menjelang malam, bertiup lembut. Semilir, mengguncang pucuk pepohonan. Rasa kantuk itupun datang membuat sepasang kelopak mata Rayun jadi terpejam. Dirinya seakan ngelayup. Tidur tidur ayam. Pada saat itu, antara sadar dan tidak, dia melihat mata besar mengintip amat dekat ke wajahnya. Bukan sepasang, namun hanya sebelah. Rayun tersentak (masih dalam alam tak sadar), dan menyaksikan mata besar itu menjauh sebentar. Hanya sesaat. Namun waktu yang hanya sekejaran detik lonceng itu telah mampu membuat Rayun melihat jelas siapa pemilik mata besar itu.
Rayun melihatnya secara utuh.
Pemilik mata besar itu ternyata seekor naga bersisik perak. Sepasang tanduk pendek bertengger di kepalanya. Jenggot panjang berwarna putih melambai di rahangnya. Punggungnya bergerigi pajal, dan ekornya pipih berwarna perak kehitam hitaman. Naga itu panjang dan besar. Ada empat cakar kuat di bawah badannya. Namun anehnya, Rayun samasekali tidak merasa ketakutan saat dua pasang mata mereka saling bertatapan. Dirinya bahkan merasa amat senang seperti tengah bertemu dengan kawan lama yang dirindukannya.
Mendadak Rayun teringat pada Naga Siluman di Pantai Puger. Apakah yang sedang berhadapan dengannya adalah Naga di Pelawang Maut itu? Bagaimana bisa sampai di tempat yang jauh seperti ini? Rayun tidak memahami. Bagaimana hebatnya alam siluman. Sebagai makhluk tak berbadan kasat, pastilah bagi siluman dunia ini tanpa batas waktu dan ruang. Mereka bisa datang dan pergi ke suatu tempat dan masa, dengan sekehendak hati mereka. Tanpa keterbatasan bagai manusia biasa. Kalaupun mereka kadang bisa menampakkan diri ke dunia nyata yang dimiliki manusia, pasti ada sesuatu yang membuat mereka bisa saling bertatap mata, bahkan saling berinteraksi layaknya manusia biasa. Semua itu karena kehendak Yang Maha Kuasa, yang memiliki kehendakNya sendiri, Mengaturnya, dan membuat segalanya yang tidak mungkin terjadi jadi mungkin terjadi.
Rayun tersenyum. Dirasakannya ada segerobak rindu yang luruh dari hatinya. Ingin bisa memeluk Naga itu, namun bagaimana caranya? Apakah bisa? Bagaikan sebuah lukisan, rindu yang ada seolah begitu kental meleleh membasahi kanvas hati. Seakan akan mengerti, Naga itu menjulurkan lidahnya yang bercabang, menjilat wajah Rayun sekilas.
Rayun tertawa geli.
“Siapa nama kamu?” dia bertanya dalam sisa tawa.
Naga itu mengangkat kepala. Dia bergerak dengan gesit melingkari Rayun Wulan seakan-akan mengajaknya main tebak-tebakan.
Masa kau lupa namaku? Bisikan itu, Rayun yakin, adalah suara sang Naga.
“Ya, aku lupa. Tapi tak kusangkal, aku merasa sangat mengenalmu. Apakah kita pernah bertemu sebelum ini?”
Mungkin dengan ini kau akan ingat siapa aku
Naga itu makin cepat bergerak, melingkar-lingkar di sekeliling Rayun Wulan. Kemudian melesat ke udara, meliuk-liuk. Lalu dengan caranya sendiri dia mendekatkan lehernya yang besar ke Rayun Wulan, yang dengan senang hati kemudian memeluknya erat.
Naga besar itu kemudian terbang tinggi, meliuk-liuk, kemudian melemparkan Rayun ke udara. Dengan cepat dia meluncur turun mendahului Rayun mencapai permukaan laut, menggulung tubuhnya dan siap menerima tubuh Rayun yang jatuh. Begitu Rayun jatuh ke atas tubuhnya yang bergelung di atas lidah ombak, Naga itu melemparkannya kembali ke udara dan menerimanya kembali jatuh ke tubuhnya. Demikian berkali-kali, sehingga serupa dengan anak kecil yang bermain lompat-lompatan di atas kasur ibu. Suara jerit kesenangan terdengar sangat nyaring dari bibir Rayun Wulan. Membelah udara malam yang kian datang menjelang. Ombak berdebur kencang. Tinggi menghempas karang.
Rayun tergelak senang, teringat masa kecil bermain lompat-lompatan di ranjang busa. Perasaan serupa itu hampir tak lagi pernah dia rasakan. Kebahagiaan yang aneh merasuk amat dalam ke hati dan jiwanya. Tubuh rampingnya seakan dilempar dan ditangkap sepasang tangan kokoh seorang pria tampan perkasa. Naga itu mengayun, melempar, menangkap. Mengayun lagi, melempar, menangkap. Demikian seterusnya, hingga mendadak ada hempasan angin yang amat kuat, membuat sang Naga menggelepar. Dia tak mampu lagi menangkap jatuhnya Rayun ke permukaan laut. Rayun menjerit kaget saat dirinya jatuh. Bibirnya meneriakkan sesuatu, …sebuah nama…
“Rayun!”
Rayun tersentak bangun. Pertama yang dilihat oleh bola matanya adalah wajah Pamugaran.
“Kau kenapa?” tanya Pamugaran.
Rayun menegakkan punggung dan menjilat bibir yang kering.
“Aku…apakah aku tertidur?”
“Ya, kau tertidur. Sepertinya kau bermimpi. Tadi kau sempat menyebutkan sebuah nama.”
“Apa? Nama?”
“Mimpi apa kau? Nyenyak sekali tidurmu.”
Rayun menggeleng pelan. Nama, kata Pamugaran. Nama…? Siapa?
“Kau tidak apa-apa?” tanya Pamugaran kuatir.
“Tidak, aku tidak apa-apa.”
“Tetapi mukamu pucat sekali. Kau berkeringat.”
“Ah, aku tidak apa-apa. Kau sendiri bagaimana? Sudah selesai samadimu?”
“Ya, baru saja. Kucoba menembus alam gaib. Kata orang, disinilah gerbang menuju ke alam sana. Dan….aku berhasil.”
“Maksudmu,.. kau …berhasil menemui…”
“Ratu kidul? Ya.”
“Apa yang kaubicarakan dengan beliau?”
Pamugaran tersenyum. Dipeluknya Rayun, dan mengajaknya turun ke darat. Mereka menuju ke pondok. Setelah menuruni puncak pulau melalui tangga batu yang cukup tinggi, mereka akan sampai ke jembatan penghubung yang teerbuat dari kayu. Jembatan itulah yang menghubungkan Pulau Kambang dengan daratan.
Rayun terus berpikir.
Naga itu, Naga Tatmala. Ya, nama itulah tadi yang dia jeritkan saat akan jatuh ke laut. Tanpa sengaja dia menjeritkan nama itu. Barangkali itulah maksud Naga Tatmala mengingatkan namanya pada rayon. Ah. Rasanya Rayun jadi ingin bertemu lagi dengan Naga Tatmala. Diam-diam Rayun tersenyum. Malam itu dia telah menorehkan warna merah dalam kanvas kehidupannya dengan sebuah nama baru: Tatmala!
“Hujan.” Kata Pamugaran tiba-tiba.
“Cepat cepat, kalau tidak bisa basah kuyup kita.”
Mereka berdua berlari kecil melintasi jembatan kayu dikejar hujan yang mendadak berubah menjadi badai.

(Bersambung)

Minggu, 28 Februari 2010

TROWULAN (10)


KUBUR PANGGUNG.
Matahari bersinar terik. Jalan berbatu yang panjang menuju Kubur Panggung terasa membuat kulit kian tersengat. Aryo membenamkan topi ke wajah. Langkahnya besar-besar ke arah gundukan tanah setinggi dua setengah meter yang dibatasi dinding-dinding yang membujur dari Utara ke Selatan, dari Timur ke Barat, dan terbuat dari susunan batu bata kuno yang direkatkan tanpa menggunakan semen.
Konon, Kubur Panggung adalah bangunan peninggalan Ratu Tribuwanatunggadewi Wishnuwardhani (ibunda Hayam Wuruk). Tempat itu dibangun untuk menjamu tamu-tamu yang datang agar bisa melihat pemandangan sekitar kerajaan dari ketinggian. Para ahli mengatakannya sebagai salah satu pendopo keraton yang disebut dengan Bangsal Witana. Aryo Wangking menuju ke sana. Setelah dari Bangsal Witana, dia akan ke Pendopo Agung. Dulu, sebelum tahun 1966, di situs Kubur Panggung terdapat duapuluh enam umpak batu yang berjajar dari arah Timur ke Barat. Kini sejumlah enambelas batu umpak kuno telah digunakan untuk tiang-tiang Pendopo Agung. Satu diantaranya untuk tempat Candrasangkala pendirian bangunan Pendopo Agung. Sedangkan sisanya diletakkan begitu saja di halaman.
“Mas!” sebuah suara memanggilnya.
Aryo menghentikan langkah, menengok ke belakang, dan melihat juru kunci Sikan berlari-lari kecil mengejarnya. Aryo berbalik dan menunggu hingga Sikan benar-benar mendekat.
“Ada apa?” tanya Aryo.
“Ada tamu tengah menunggu di Siti Hinggil. Katanya dari Banyuwang8i. Saya sudah coba menyusul ke Musium, tetapi kata orang-orang yang ada di Musium, mas Aryo sedang menuju ke Kubur Panggung. Syukurlah saya bisa mengejar sampeyan, Mas.”
“Siapa tamu itu?”
“Namanya doktorandus Bondan Kejawan.”
“Oh.”
“Mereka menunggu sejak pagi-pagi sekali, di Pendopo Siti hinggil. Bagaimana, apa mas Aryo bisa menemui sekarang atau disuruh menunggu?”
Aryo tersenyum.
“Jauh-jauh datang masa disuruh menunggu,” ujarnya. “Kita temui saja beliau. Yuk!”
Aryo mengurungkan niatnya ke Kubur Panggung. Bersama-sama dengan Sikan, dia kembali ke mobil dan mengendarainya menuju pendopo Siti Hinggil.
Benar juga, di pendopo ternyata sudah banyak orang menunggu. Diantaranya, tamu-tamu dari Banyuwangi itu. Rupanya beliau datang bersama keluarganya. Kedatangan Aryo Wangking mereka sambut dengan uluran tangan dan salam. Mereka dipersilakan duduk kembali di lantai pendopo. Setelah berbasa-basi sebentar, Aryo Wangking mengarahkan pembicaraan ke pokok masalah.
“Begini,” kata drs Bondan Kejawan. “Kakak perempuan saya menderita penyakit kulit menahun. Penyakit itu sudah dideritanya sejak dia berusia sepuluh tahun. Mula-mula gatal-gatal biasa. Tapi lama-lama tumbuh bercak-bercak pada kulitnya yang menyerupai sisik. Dan itu terus berlanjut, tidak pernah sembuh hingga sekarang. Saya sudah mencari obat kemana-mana, dari usaha ke dokter spesialis kulit hingga ke orang-orang pinter. Tapi hasilnya nol besar. Saya hampir putus asa. Hingga pada suatu malam saya bermimpi didatangi seseorang…”
“Seorang perempuan cantik?” potong Aryo.
“Ya. Seorang perempuan yang sangat cantik. Perempuan itu bilang pada saya, coba kau temui seseorang berdarah Majapahit. Dia yang akan menolongmu.”
Aryo wangking tersenyum samar.
“Begitukah katanya?”
“Ya. Lantas saya berpikir. Berdarah Majapahit. Apakah itu artinya saya harus ke Trowulan? Saya bingung lagi, kepada siapa saya harus bertanya untuk menemukan orang yang dimaksud? Maka mulailah saya berburu. Dari satu orang, ke orang yang lain. Saya bertanya tanya dimana bisa saya menemukan seseorang yang dimaksudkan perempuan dalam mimpi saya itu.”
Aryo mendengarkan sambil terus memejam. Seakan merekam dalam alam pikirannya semua kisah yang dituturkan drs. Bondan Kejawan kepadanya.
“Hampir dua bulan lamanya saya mencari, hingga akhirnya saya bertemu dengan Ki Sumari di Troloyo. Beliau yang mengatakan pada saya, bahwa yang dimaksud itu kemungkinan besar adalah mas Aryo Wangking dari desa Temon, dukuh Keraton, tanah pelataran Majapahit. Ki Sumari mengatakan pada saya bahwa andika adalah titisan…”
“Stop. Jangan diteruskan.”
“Oh, maaf.”
“Saya sudah tau semuanya. Sekarang katakan, berapa umur kakak perempuan Bapak?”
“Sekitar limapuluh tahun.”
“Hmm.” Aryo tersenyum. “Cukup lama beliau menderita. Dan sekarang bagaimana keadaannya? Masih bisa jalan?”
Drs. Bondan Kejawan menunduk, tak kuasa menjawab pertanyaan itu.
Aryo Wangking membuang asap rokok ke langit.
“jadi beliau sudah tidak bisa apa-apa,” kata Aryo menjawab pertanyaannya sendiri.
“Bapak percaya kepada Allah?” tanya Aryo selang kemudian.
“Ya, saya percaya kepada Allah.”
“Maka Bapak percaya, hanya Allah yang dapat meletakkan jariNya pada batas antara kebaikan dan keburukan. Batas baik dan buruk pada hakikatnya dapat merasakan rahasia semua ciptaanNya. Kedok kehidupan hanya merupakan topeng misteri yang lebih dalam. Tak ada suatu jalan untuk membebaskannya kecuali dengan bersedekah. Bersedekahlah sebatas puncak kemampuannya.”
“Maksudnya…?”
“Selama ini Bapak berenang dalam kemewahan. Sangat berlebih-lebihan. Maaf, saya ingin tau, seringkah bapak bersedekah kepada fakir miskin dan kepada anak-anak yatim piatu?”
Drs. Bondan Kejawan kembali menundukkan wajah dalam dalam.
“Kalau tidak, maka harus diganti dengan bersedekah seekor kerbau bule pancal panggung. Kepalanya dilabuhkan ke Pantai Selatan, sedangkan daging dan jerohannya untuk fakir miskin. Mengapa harus dilabuhkan ke Pantai Selatan, tentu Bapak sudah mengerti maksudnya.”
Semua yang hadir di pendopo segera bisa melihat betapa drs. Bondan Kejawan menitikkan airmata. Aryo tau, lelaki separuh baya itu tau betul mengapa harus demikian. Kekayaan yang berlimpah itu darimana asalnyapun, dia tau. Jadi penyesalannya itu sesungguhnya tidak ada artinya lagi. Beberapa orang dari beberapa generasi terdahulu, hampir seluruhnya meninggal dengan cara yang aneh. Selalu mengidap penyakit yang tak bisa disembuhkan hingga mereka tewas. Menurut trawangan Aryo, generasi drs. Bondan Kejawan adalah generasi terakhir, yakni generasi ke tujuh. Artinya, perjanjian yang dilakukan nenek moyangnya, sudah harus berakhir sampai disini. Semua itu sudah ginaris oleh suratan takdir. Bahwa kemewahan yang diberikan penguasa Segara Kidul sudah harus selesai sampai disini, dan tumbal-tumbal yang dikorbankanpun sudah mencukupi. Hanya Aryo yang tau, sesungguhnya dirinya hanyalah sebagai pemicu saja. Sebab disukai atau tidak, memang sudah waktunya bagi anak-anak drs. Bondan Kejawan untuk tidak akan bisa hidup mewah lagi seperti generasi sebelumnya.
Aryo kembali memejamkan mata.
“Adik perempuan Bapak, bagaimana?” tanya Aryo tiba-tiba.
Drs. Bondan Kejawan tersentak mengangkat wajah dengan terperanjat.
“Apakah juga mulai ada tanda-tanda penyakit kulit yang sama dengan kakak perempuan Bapak? Hati-hati. Saya lihat, kalau adik Bapak ini lebih bisa diselamatkan. Tolong perhatikan dia sebelum terlambat.”
Kini drs. Bondan Kejawan benar-benar menangis. Dia terisak-isak dengan bahu yang terguncang-guncang. Suasana di pendopo jadi mencekam. Orang-orang yang hadir baik itu keluarga dari Banyuwangi maupun para penghayat yang ada, jadi merasa ikut prihatin. Mencari pesugihan dari Pantai Selatan, ternyata berat akibatnya. Tujuh turunan! Bayangkan.
Aryo mengulurkan saputangan miliknya, namun dengan halus drs. Bondan Kejawan menolak dan mengambil saputangannya sendiri dari saku celana.
“Maafkan saya,” kata Aryo lembut.
“Ssssayyya pasrahhh kepppada mas Arrryo,” jawab drs. Bondan Kejawan tersendat-sendat.
Aryo mengerutkan kening.
“Maksud Bapak, apa?”
Drs Bondan Kejawan menghapus mukanya dengan saputangan, lama baru menjawab,:
“Saya pasrah. Semua uba rampe saya serahkan saja kepada mas Aryo.”
“Apakah Bapak percaya kepada saya?”
“Saya percaya. Saya pasrahkan semuanya kepada mas Aryo. Mimpi saya itu mungkin merupakan sebuah petunjuk dari Yang Maha Kuasa dalam bentuk seperti itu. Dan inilah jalan terakhir yang harus saya tempuh dalam usaha menyelamatkan keluarga saya. “
“Maaf,” kata Aryo. “Maafkanlah saya kalau saya harus berterus terang kepada Bapak bahwa sebetulnya, pembebasan pada penderitaan itu bukanlah hanya sekadar penyembuhan.”
Wajah drs. Bondan Kejawan memucat tiba-tiba.
“Itulah yang saya maksud. Saya tegaskan sekali lagi, bahwa pembebasan dari penderitaannya bukanlah penyembuhan.”
Suara Aryo mengalun tenang, mantap dan kharismatik. Beberapa orang penghayat yang sudah lama menjalankan tirakatan dan memiliki sedikit mata rangkap bisa melihat bahwa yang tengah berbicara itu bukanlah sekadar sosok manusia biasa. Ada aura terang berwarna kebiru-biruan yang melingkari sekujur tubuh Aryo pada saat itu. Cahaya aura itu sangat benderang dan menyilaukan mata. Seakan akan tengah bersaing dengan bias cahaya matahari siang setengah sore yang menyengat.
“Jadi…?” sepasang mata drs. Bondan Kejawan menatap bingung.
“Memang sudah terlambat,” ujar Aryo. “Tapi yang terpenting, beliau bebas dari sangkala. Perjanjian antara nenk moyang Bapak dengan Penguasa Laut yang dipuja, telah larut bersamaan diterimanya labuhan yang dilakukan nanti. Nanti saya yang akan mengantarkannya ke laut. Bapak yang melakukannya.”
Drs. Bondan Kejawan kembali menghapus wajah dengan saputangan, membersit hidung, dan menghela nafas panjang.
“Lantas, bagaimana dengan adik saya?”
“Kalau yang itu, belum terlambat.”
“Jadi bagaimana?”
“Sedekahnya sama. Seekor kerbau bule pancal panggung. Cari yang mulus tanpa cacat.”
Kemudian mereka mencari hari yang baik, dan disepakati melabuhkannya di pantai Balekambang.

(Bersambung).

TROWULAN (9)


TROLOYO.
Semua orang tau, Troloyo memang kompleks penuh misteri. Beberapa makam yang kurang dikenal identitasnya di tanah pelataran berumput itu, tampak tidak terawat. Tetapi sengaja didatangi peziarah.
Misalnya, sebuah makam dibawah pohon beringin besar di sudut Barat Daya lapangan, oleh warga setempat dikenal sebagai makam seorang waranggana. Tetapi anehnya, mereka bingung menyebutkan namanya. Konon yang sering berziarah kesitu adalah mereka yang berprofesi sebagai waranggana. Tentunya dengan maksud agar suara dan penampilannya punya greget.
Kesanalah Aryo Wangking pergi.
Selepas sholat Isya’, dia mengendarai jip kunonya ke tempat itu. Disanalah Aryo berharap bisa beertemu dengan Aryo Empul maupun istri mudanya sinden Sragen itu. Karena biasanya Sinden itu sering bertafakur di dekat makam waranggana tanpa nama itu untuk pencapaian maksud-maksud tertentu yang dimilikinya.
Aryo menunggu di teritisan rumah Ki Sumari, juru kunci Troloyo. Ditemani Ki Sumari, Aryo menunggu sambil mengobrol, namun hingga hampir satu jam menunggu, tak juga nampak sosok orang yang dicari.
Akhirnya Ki Sumari berkata,:
“Aku memang mendengar berita tentang Ki Empul, kakangmu itu, tetapi maaf, aku tidak yakin dia akan senekad itu mengawini perempuan dari Sragen itu.”
Aryo menatap heran wajah Ki Sumari.
“Begitukah menurut Ki Sumari?”
“Aku punya alasan. Akulah orangnya, kalau memang berita itu benar, yang paling tau soal pernikahan Empul. Sebab baru saja perempuan itu datang dan berziarah, tampaknya dia sendirian saja.”
“Barangkali benar, tapi bisa saja Kang Empul tinggal di suatu tempat, bukan disini.”
“Menurut penerawanganmu, bagaimana?”
“Menurut kacamata supranatural yang saya miliki, dia tinggal di Sooko. Masalah kawin atau tidak dengan perempuan itu, rasanya sama saja dengan kumpul kebo. Kawin siri atau kumpul kebo, nyaris sama saja kan?”
“Itu tidak mungkin,” Ki Sumari tertawa. “Kalau saja benar perkiraanmu, dia pasti datang bersama Anjasmara.”
“Anjasmara? Siapa Anjasmara?”
“Sinden Sragen itu namanya Anjasmara. Apa kau tidak tau?”
“Tidak. Saya tidak tau namanya Anjasmara. Beraninya dia memakai nama itu!”
Sumari tertawa menyadari kegeraman yang tersimpan dalam sorot mata rajawali muda di depannya. Bisa saja Aryo merasa harus geram, karena yang dimakamkan di Troloyo ada tokoh legendaris yang bernama sama. Seharusnya perempuan itu memakai nama yang lain sebagai nama populernya, jangan yang itu.
“Kurasa yang dikatakan orang-orang itu belum tentu benar, Yok.”
“Kalau itu mengenai perselingkuhannya, saya rasa orang-orang benar. Sebab saya melihat dengan mata kepala sendiri, yu Mirah juga melihatnya. Masalah mereka tinggal serumah, resmi maupun tidak, rasa-rasanya sudah tidak bisa ditolerir lagi, Ki. Maksud saya, kalaupun mau kawin atau berselingkuh, janganlah dengan orang-orang di sekitar sini. Carilah perempuan yang tidak pernah dikenal di Trowulan. Berita yang menyebar, membuat saya jadi tidak enak.”
“Sudah, sudah. Bagaimanapun dia adalah darah dagingmu sendiri. Tidak baik menyesalinya. Sepertinya jadi kayak menepuk air di dulang terpercik muka sendiri.”
“Darah memang lebih kental dari air, itu benar. Saya hanya tak ingin melihat Yu Mirah menderita lebih jauh. Kasihan dia.”
Sumari menghela nafas dalam dalam.
“Ya, kasihan dia,” ujarnya mengiyakan kata-kata Aryo.
“Tolong saya, Ki. Carikan berita yang benar. Saya sendiri jadi tak enak tinggal serumah dengan Yu Mirah berdua saja. Takut menimbulkan fitnah.”
“Insya Allah, Amin. Oh ya, Yok. Beberapa hari yang lalu ada seseorang datang kepadaku, minta tolong agar saudara perempuannya yang sedang sakit disembuhkan. Kukatakan kepadanya, aku ini tidak memiliki ilmu apa-apa. Lantas saja aku teringat kepadamu. Kau pasti bisa menolongnya.”
Kini giliran Aryo yang tertawa geli. Disulutnya sebatang rokok, menyelipkannya di bibir sambil bertanya,:
“Lucu, sepertinya Ki Sumari telah menganggap saya ini dukun?”
“Bukan begitu maksudku,” jawab Sumari ikut tertawa lebar. “Paling tidak, doamu lebih makbul ketimbang doaku. Betul begitu, kan?”
“Ah, Ki Sumari ini ada ada saja. Teruskan, Ki. “
“Begini, nama orang itu drs. Bondan Kejawan, asal Banyuwangi. Katanya, dia sudah pergi mencari pengobatan kemana-mana, namun hasilnya nihil. Bahkan sering dikerjain sama dukun-dukun yang dia datangi. Hingga sudah begitu banyak dana yang dia keluarkan tanpa menghasilkan apa-apa. Suatu malam, dia bermimpi.”
Sumari menghentikan bicaranya, sebab dia melihat senyum Aryo yang penuh misteri kian jelas tersungging di bibir, seakan mengatakan padanya bahwa semua kisah tentang Bondan Kejawan itu sudah bisa ditebak melalui terawangannya.
“Kau sudah bisa menebaknya?” tanyanya pada Aryo.
Yang ditanya membuang abu rokok dalam asbak dengan sikap cuek.
“Ya,” sahutnya tanpa basa-basi.
“Jadi…?”
“Saudara perempuan drs. Bondan Kejawan itu memang sedang dijadikan wadal.”
“Wadal?”
“Nenek moyangnya semuanya penganut Segara Kidul. Mereka rata-rata kaya raya hingga tujuh turunan, namun dengan ada salah satu dari keturunannya dalam setiap generasi, akan menderita penyakit kulit yang sangat parah.”
“Cocok! Drs. Bondan Kejawan juga bilang begitu. Saudara perempuannya itu memang sudah amat parah. Dia sudah tidak bisa bangkit dari tempat tidur. Aku jadi tidak bisa membayangkan penyakit kulit macam apa yang membuat seseorang seperti itu?”
“Menurut penglihatanku, kulitnya jadi bersisik seperti ular. Makin lama makin banyak dan membuatnya jadi tidak leluasa untuk bergerak. Penyakit itu akan segera menggerogoti sekujur tubuhnya hingga dia meninggal dalam sebuah kesengsaraan yang menggigit.”
“Astaghfirullahaladziiim….”
“Dimana rumah beliau, Ki?”
“Aku punya kartu namanya, sebentar, kuambilkan dulu.”
Sumari mengambil sebuah kartu nama dan memberikannya kepada Aryo Wangking. Aryo membacanya sebentar, menyentuhkan ujung ibu jari tangan kanannya pada nama pemilik kartunama itu, kemudian mengangguk.
“Simpan saja kartu ini, Ki. Kalau sewaktu-waktu beliau datang lagi, suruh menemui saya di…”
Lama dia terdiam, hingga dengan tak sabar Sumari bertanya,:
“Di…Siti Hinggil, atau di rumahmu?”
“Sulit bagi saya mengatakannya.”
“Ada apa, Yok? Katakan saja, siapa tau aku bisa membantu kesulitanmu itu.”
“Sebetulnya, menyimpang dari pembicaraan kita ini, saya ingin segera memisahkan diri dari Kang Empul. Saya pikir, memang sekaranglah waktunya yang tepat. Toh selain saya jarang pulang, Kang Empul juga tidak lagi kembali ke rumah itu. Namun saya merasa tak enak juga dalam situasi seperti ini oncat begitu saja dari rumah mereka.”
“Apa sudah bulat tekadmu untuk pergi dari rumah itu?”
“Ya, Ki.”
“Tega kau meninggalkan mbakyumu sendirian seperti itu tanpo rowang?”
“Saya rasa itu terbaik yang bisa saya lakukan. Saya tak ingin ada fitnah.”
“Tak ada yang berani memfitnahmu. Semua orang di petilasan Majapahit ini tau siapa dirimu.”
“Diantara yang banyak pasti ada sedikit yang tidak menyukai saya. Itu pasti. Dan saya tak mau menjadi orang yang tidak disukai karena persoalan yang satu itu.”
“Kau benar. Akupun dulu pernah jadi orang muda. Kekhilafan itu begitu dekat dengan urat nadi di leher kita. Karena itukah kau mencari kepastian tentang keberadaan kakangmu?”
“Saya hanya ingin bicara dengannya tentang status Yu Mirah dan perempuannya itu. Kalau memang betul dia lebih memilih Anjasmara, bagaimana dengan Yu Mirah? Dimadu, atau diceraikan? Kalau dicerai, pasti ada caranya. Tidak seperti membuang barang bekas ke tong sampah begitu saja. Tetapi kalau dimadu, juga ada caranya. Kang Empul harus bisa bersikap adil terhadap kedua istrinya. Biasanya itu akan sulit dilakukan para lelaki di dunia ini. Mokal, bisa. Apalagi Kang Empul egonya amat tinggi. Maksud saya, kalau semuanya jelas kan enak. Yu Mirah bisa menikah lagi kalau mau, dan kang Empul insya Allah tidak dibebani dosa.”
“Aku senang melihatmu bijak, Yok.”
“Mudah-mudahan, Ki.”
“Lantas sekarang, bagaimana?”
“Lebih baik saya pulang dulu, mau beres-beres. Siapa tau besok atau lusa saya sudah menemukan tempat lain yang saya maksud.”
“Nanti kubantu mencarikannya.”
“Terimakasih.”
“Jadi kalau drs. Bondan Kejawan datang, aku harus bilang apa?”
“Beliau bisa menemui saya di Musium. Setiap hari saya ada di sana. Atau bisa menitipkan pesan kepada pak Sikan di Siti Hinggil.”
“Baik.”
“Aryo menggamit bungkus rokok dan geretan dari atas meja. Dibenamkannya topi koboinya lebih dalam ke kepala. Pria itu terlihat semakin penuh misteri. Ki Sumari mengantarkannya hingga Nissan tanpa kap itu menghilang di kegelapan malam.

(Bersambung).