Sabtu, 27 Februari 2010

TROWULAN (8)


SUMIRAH.
Setelah beberapa hari tidak pulang, akhirnya Aryo Wangking memilih untuk kembali ke rumah Aryo Empul, kakang kandungnya. Apa boleh buat, pikir Aryo. Selama belum menemukan sebuah rumah kontrakan atau kamar sewaan, dia memang harus bisa menahan diri dan perasaan untuk selalu menerima sikap tak enak dan muka masam Aryo Empul.
Sejak kejadian malam itu, saat Empul mengusirnya, kemudian diteruskan dengan perbuatan seronoknya dengan Sumirah yang seolah menyeretnya jadi tidak waras, Aryo Wangking tak pernah lagi bertemu dengan kakangnya itu. Selain merasa terusir, Aryo juga menjadi jengah menatap wajah Aryo Empul.
Kedatangan Aryo kembali ke rumah itu disambut ceria oleh Sumirah. Perempuan itu segera mengingatkan untuk segera mandi, makan dan menurunkan baju kotor untuk dicuci di sumur. Aryo tau betul, Sumirah amat sayang kepadanya. Dia selalu saja terlihat ikhlas melakukan apapun untuknya. Yang sangat tidak disukai Aryo adalah berkembangnya perasaan itu menjadi lebih besar melebihi kewajaran. Jauh di dasar hati, ternyata Sumirah memendam perasaan cinta seorang perempuan kepada seorang laki-laki, pada Aryo. Mula-mula perempuan itu berusaha menyembunyikannya. Tapi belakangan semenjak Aryo Empul mulai bersikap kasar, Sumirah merasa sudah tak perlu lagi merahasiakan perasaan hatinya. Secara terbuka dia mulai memperlakukan Aryo Wangking bagai memperlakukan lelaki yang sangat istimewa baginya.
Mula-mula, memang, dia cuma butuh kawan bicara. Sekadar kawan bicara yang mampu menampung seluruh duka kecewanya. Namun lama kelamaan, Sumirah jadi betul-betul terpikat dengan gaya bahasa dan gaya bicara anak asuhannya itu. Dia jadi suka keasyikan membayangkan senyum dan sorot mata Aryo Wangking. Semua kelebihan itu tidak pernah dia dapatkan dari Aryo Empul yang cenderung brangasan dan grasa-grusu. Maka kian hari mimpi itupun kian erat digenggamnya.
Pada akhirnya Sumirah punya kegemaran baru. Dia suka sekali pergi malam-malam ke Siti Hinggil dan bercanda atau saling menggoda dengan para penghayat di tempat itu. Mula mula dia menganggap semuanya itu hanya seladar penghilang kegundahan kaarena disisihkan dan disepelekan oleh suaminya, Ki Empul. Namun lama kelamaan itu merupakan satu kesenangan yang tak bisa dijelaskan. Meskipun kesenangan berkumpul dengan para penghayat itu tidak bisa dibandingkan kebahagiaannya tatkala bersama Aryo Wangking, namun sepertinya Sumirah mengalami satu kegiatan yang mengasyikkan. Sesekali godaan lelaki yang menjeratnya tak mampu dia tolak. Maka pergilah dia dengan lelaki itu ke Sekar Putih, sebuah hotel mini tak jauh dari Siti Hinggil.
Ketika dengan bangga sambil memanas-manasi , dia ceeritakan itu kepada Aryo Wangking yang cenderung dingin terhadapnya, pria gagah itu mengatakan bahwa Sumirah sudah tidak waras lagi. Bagaimana tidak? Perempuan itu adalah istri kakangnya, namun dia malah menceritakan perselingkuhannya kepada Aryo. Bukankah itu menandakan bahwa perempuan bahenol itu sudah tidak waras lagi?
Aryo Wangking sudah menganggap Empul dan Sumirah sebagai pengganti orangtua sendiri. Karena sejak berusia empatbelas tahun, Aryo mulai ikut dan ddibesarkaan di rumah mereka. Mereka memberinya ruang untuk tinggal, memberinya makan dan beaya sekolah hingga lulus SMA. Ketika Aryo menyatakan bahwa dia ingin meneruskan sekolahnya hingga ke perguruan tinggi, mereka mempersilakan Aryo mencari beaya sendiri karena kemampuan mereka hanya bisa memberikan kesempatan kepada Aryo hingga SMA saja. Aryo harus membeayai kuliahnya di Yogyakarta dengan hasil keringaat sendiri. Namun walaupun berjauhan, Aryo tetap tak ingin kehilangan keluarga satu-satunya itu. Dia masih sering pulang. Bahkan bila liburan semester, dia tetap meneympatkan diri untuk pulang dua atau tiga hari lamanya. Barangkali itu yang membuatnya dekat dengan Sumirah. Apalagi Sumirah dan Empul tak juga dikaruniai momongan. Maka bagi Sumirah, Aryo Wangking adalah pengisi dan penghibur bagi kesepiannya.
Belakangan Aryo Empul mulai terlihat aneh.
Dia mulai sering pulang dalam keadaan mabuk berat. Suka main judi bersama komunitas bengkelnya sendiri. Sering marah dan main gampar sama istri. Aryo Wangking bahkan mendengar selentingan kakangnya itu mulai tertarik kepada seorang sinden asaal Sragen yang suka melakukan tirakatan di Troloyo. Kata mereka, Empul sudah tergila-gila pada perempuan Sragen itu. Dia lupa pada istri, bahkan membencinya. Hingga akhirnya baik Sumirah maaupun Aryo melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana Empul Dan sinden itu berkencan di sebuah pondok dekat Troloyo. Hal yang sungguh tak pantas dan memalukan mendapati suami istri saling berselingkuh tanpa kendali seperti itu. Aryo kian lama kian tak suka pada Empul. Dan kian hari kian tidak nyaman untuk tinggal bersama mereka. Namun satu hal yang tak mungkin dilakukan oleh seorang Aryo Wangking, yakni ketidak mampuannya membuang darah dagingnya sendiri.
Kejadian pada malam jahanam itu, membuat batas menjadi kabur. Mana cinta, mana benci. Kini mampukah dia mengatakan Sumirah dan Empul manusia yang tidak waras sementara dirinya sendiri ikut terseret di dalamnya?
Aryo memasukkan anak kunci ke pintu kamar. Memutarnya dua kali lalu membukanya lebar-lebar. Untuk sesaat bau pengab menyebar, membuatnya terbatuk-batuk. Sebuah teguran membuatnya menoleh. Sumirah berdiri tak jauh darinya sambil tertawa kecil.
“Buka lebih lebar pintu dan jendelanya, Yok! Kamarmu itu lama tak dimasuki udara bersih.”
“Ya. Berapa lama aku tidak pulang?”
“Luupa menghitung hari?”
“Biasalah Yu, aku tak pernah menghitung apapun. Bagaimana keadaan Kang Empul?”
Aryo meletakkan ransel ke atas meja tanpa taplak di kamarnya. Lalu duduk di kursi satu-satunya yang ada. Dia biarkan saja Sumirah berdiri di bingkai pintu.
“Sama denganmu, dia sudah tidak pernah pulang selama dua minggu.”
“Sejak kapan?”
Sumirah melangkah masuk, menggulung tirai jendela ke samping dan mengikatnya hingga udara makin leluasa menerobos ke dalam kamar.
“Sejak malam itu.”
“Jadi selama ini yu Mirah sendirian saja?”
Sumirah tertawa.
“Ya iyalah! Memang sama siapa? Kau dan dia, sama saja. Kerjaannya ngelayap melulu.”
“Aku tidak ngelayap, aku kerja.” Jawab Aryo ketus seraya membuka jaket dan melepas sepatu. Didorongnya sepatu itu ke sudut bawah meja.
“Mestinya kau tetap di rumah menemaniku.”
“Maaf Yu, aku tidak tau kalau sampeyan sendirian saja di rumah.”
“Jadi kemana saja kau selama ini?”
“Kerja yu, kerja.”
“Kerja? Apa? Ke kuburan, ke situs purbakala, ke museum?”
“Lha itu. Nyatanya yu Mirah sudah tau.”
“Apa yang kau dapatkan dari pekerjaan itu?”
Aryo tak ingin menjawab. Dia turunkan baju-baju kotor yang selama ini tergantung di dinding lalu memasukkannya ke dalam keranjang besar yang ada di sudut kamar. Sumirah mengeluarkan sisanya dari tas ransel. Memeriksa semua saku celana dan kemeja.
“Mengapa sampeyan selalu memeriksa saku baju-baju itu setiap kali aku menurunkannya?” tanya Aryo merasa aneh dengan kebiasaan itu.
“Siapa tau ada yang tertinggal di dalamnya,” jawab Sumirah enteng. Dia mengeluarkan lembar kertas iuran jalan tol dan karcis parkir dari dalam saku sebuah kemeja.
“Seperti ini,” kata Sumirah sambil membuangnya.
“Ah, itu cuma kertas.”
“Kalau uang, kan yang untung aku?”
“Itu tidak mungkin,” ejek Aryo sambil teersenyum.
“Kenapa tidak?”
“Darimana aku punya uang yang bisa aku simpan hingga lupa menaruhnya dimana, kalau semuanya impas?”
“Impas,…bagaimana maksudmu?”
“Impas, ya impas. Artinya, begitu kudapat begitu pula habisnya.”
Sumirah mengangkat keranjang baju kotor ke sumur. Aryo tertawa membiarkan dia keluar. Tetapi…uts, ada sebuah celana yang kelupaan. Celana itu memang sejak tadi dibiarkan saja oleh Aryo tergeletak di atas kasur, mungkin Sumirah tidak melihatnya. Dengan sigap Aryo menyambarnya dan membawanya ke sumur.
“Ada yang tertinggal, Yu. Ini! Tangkap ya? Hup!”
“Kurang ajar, kau Yok!” kata Sumirah sambil tertawa. “Masa celana kotor dilempar kepada orang yang lebih tua!”
Namun Sumirah tidak tampak marah. Dia justru merasakan keakraban yang amat manis. Seakan-akan tiada lagi batas yang memisahkannya dari Aryo Wangking. Mana kakak, mana adik. Tapi, ah! Masih pantaskah dia menganggap pria dewasa itu sebagai adik? Bukankah mereka telah melakukan sesuatu yanag terlarang pada malam itu? Malam dimana jiwa dan jiwa Aryo menyatu. Tubuhnya tidur dalam pelukannya. Indahnya malam yang dihias dengan suara lolongan anjing… ah. Indahnya malam itu…
“Yu, melamun ya!”
Sumirah tersentak mendengar teguran Aryo. Segera kulit wajahnya memerah jambu saat menerima tatap mata Aryo yang menghunjam telak. Dia merasa, Aryo bisa membaca alam pikirannya, bisa merasakan getaran di dadanya saat mengingat kembali kejadian yang itu.
“Maaf Yu, cuciannya ternyata banyak juga ya,” kata Aryo mencoba memecahkan kebisuan yang menggantung.
Sumirah menggilas cucian dengan tangannya yang kuat di ember penuh deterjen.
“Mmmm, ya. Lumayan. Mau membantu?”
“…………” Aryo berpikir-pikir.
Sumirah tertawa.
“Sudah, tak apa. Tak perlu lagi berbasa-basi. Aku hanya ingin ditemani saja. Kau mau?”
“Boleh.”
Aryo duduk agak jauh, bersandar di tembok dan mulai merokok. Dia mengawasi Sumirah memasukkan baju-baju kotor itu ke dalam ember yang lain. Memisahkan antara celana panjang dan kemeja.
“Sebenarnya, apa yang kau lakukan di situs-situs purbakala itu?” tanya Sumirah sambil mengucek.
“Biasalah,” jawab Aryo.
“Menggali juga?”
“Ada kalanya harus ikut menggali.”
“Kau menemukan benda-benda purbakala?”
“Kadang-kadang ya, kadang-kadang tidak.”
“Lalu?”
“Kalau ada yang ditemukan, kami akan membersihkan, memeriksa dan memberi catatan-catatan kecil sebelum membawanya ke museum.”
Sumirah memasukkan tangan ke saku jins yang tertinggal tadi.
“Kalau kau mau, kau bisa kaya karenanya,” katanya.
Aryo mengangkat wajah, menatap Sumirah tak mengerti.
“Maksud sampeyan, apa?”
“Dengan mengambil benda-benda itu saja, kau bisa kaya.”
Aryo menunduk. Dia tau kemana arah angin membawa pembicaraan itu. Hanya saja dia tidak pernah menyangka bahwa Sumirah memiliki keinginan seperti itu, sama saja dengan orang-orang serakah lainnya yang seakan-akan manusia manusia yang tidak berbudaya.
“Kita hidup butuh makan,” kata Sumirah lagi.
“Aku tau,” sahut Aryo lesu.
“Untuk makan kita butuh duit. Kau juga tau itu, kan?”
“Ya, aku tau.”
Sumirah berbalik, duduk menghadap ke arahnya. Sepasang bola matanya yang besar itu menatap nyalang, seakan-akan menahan amarah, atau kekecewaan yang berat, yang sebenarnya tak pernah Aryo bayangkan sebelumnya.
“Kalau kau menemukannya, ambil. Jual!”
“Masya Allah …Yu!”
Aryo berdiri.
“Jadi sampeyan menyuruh aku jadi maling?”
“Itu bukan maling.”
“Lalu apa?”
“Taruhlah itu hakmu. Berapa duit kau dibayar untuk melakukan pekerjaan berat itu, oleh pemerintah? Tidak akan pernah cukup untuk kau kawin nanti. Tak ada perempuan mau diajak melarat terus!”
Aryo menggigit bibir. Kelu. Marah, kecewa, berbaur menjadi satu.
“Untuk itukah sampeyan sekolahkan aku, Yu? Untuk sampeyan jadikan maling? Yu Mirah, Yu Mirah… Kalau saja aku mau kaya mendadak, tak perlu harus mencuri benda-benda purbakala itu, Yu. Mana meerugikan Negara, mana kalau ketauan bisa jadi buronan. Mudah, Yu. Mudah saja kalau aku ingin kaya. Aku tinggal nyepi di Segara Kidul, minta pada Ratu Kidul, beres Yu…! Tapi, apakah hanya untuk itu kita hidup? Tidak. Menurutku tidak cuma untuk itu. Masih banyak hal lain yang harus kita lakukan di dunia ini.”
“Jangan terlalu idealis jadi orang, Yok!”
“Aku tidak merasa begitu. Tapi tolonglah, jangan lagi bicara soal harta karun. Tidak baik.”
“Jadi aku harus omong soal apa? Soal kakangmu?”
“Kenapa memang dengan kang Empul?”
“Ada kabar kakangmu menikahi sinden dari Sragen itu.”
“Apa kata yu Mirah? Kang Empul kawin lagi?”
“Ya, dua atau tiga hari yang lalu.”
“Dan sampeyan diam saja?”
“Aku harus berbuat apa? Laki-laki yang sudah tidak menghendaki perempuannya, untuk apa dipertahankan lagi? Percuma Yok, percuma!”
“Biar aku saja yanga menemuinya.”
“Tidak. Tidak perlu. Akupun sudah tidak menghendakinya lagi. Aku inginkan kau!”
Aryo terkejut bukan kepalang mendengar ucapan itu.
“Apa?!”
“Menikahlah denganku.”
Aryo merasakan denyut nadi dileherny berhenti berdenyut. Tiba-tiba saja dia takut Sumirah sedang hamil. Bukan karena dirinya, namun siapa tahu justru perempuan itu tengah mengandung janin orang lain. Otomatis, matanya melirik kea rah perut Sumirah.
“Kenapa,” ujar Sumirah sinis. “Kau takut aku sedang hamil dan menimpakannya padamu, begitu?”
“Kayaknya sampeyan stres, Yu.”
“Sialan! Kau tuh, yang stres! Enak saja bicara. Tidak mudah meninggalkan aku, Yok. Camkan itu. Kukatakan kepadamu, tidak mudah membiarkan aku seperti ini. Seperti sampah. Dicampakkan begitu saja. Kalian kakak beradik harus bertanggungjawab atas diriku. Kalau bukan kakangmu, maka kau!”
“Aku? Haha. Sudah gendeng barangkali dunia ini.”
“Kau bilang apa?”
Suhu kian memanas. Suara Sumirah sudah sejak tadi naik satu oktaf lebih tinggi. Kalau saja ada orang atau tetangga yang mendengar, alangkah malunya!
“Sudahlah, lebih baik aku tidur saja.”
“Tunggu!”
“Sudahlah Yu. Sudah. Capek mendengar sampeyan marah-marah seperti ini.”
Aryo tak pedulikan lagi teriakan Sumirah. Dia kembali masuk ke kamar. Tubuh dan jiwanya bagai melayang. Sejak semalam belum makan apa-apa. Minum teh saja belum. Eh, malah harus bertengkar pula. Dia bahkan dikagetkan dengan berita perkawinan Empul dan sinden Sragen itu. Lebih kaget lagi tatkala Sumirah minta dirinya menggantikan kang Empul-nya untuk menjadi suaminya. Tanggungjawab, katanya. Tanggungjawab apa? Edan!
Tiba-tiba…Brak!!
Aryo terlonjak saking kagetnya melihat pintu ditendang dan begitu saja Sumirah sudah ada di tengah pintu. Ditangannya ada dua lembar kartu nama. Aryo mendadak ingat bahwa kartu nama kartu nama itu adalah milik Pamugaran dan Rayun Wulan yang diterimanya dari Ki Mui, dua hari yang lalu di Pantai Puger.
“Nih, tertinggal di saku celanamu!” suara Sumirah getas.
Aryo menerimanya dengan perasaan tidak nyaman. Dan benar saja, Sumirah segera menyemburnya tanpa permisi.
“Siapa mereka!”
“Siapa? Oh…ini, Pamugaran.”
“Satunya?”
“Satunya? Rayun Wulan.”
“Aku tidak bertanya soal nama mereka. Aku tanya, siapa mereka.”
“Aku tidak mengenal mereka.”
“Tidak kenal, tapi menyimpan kartu namanya?”
“Mereka memberikannya setelah aku menolong mereka lepas dari bencana karam di Puger.”
“Begitukah?”
“Ya.”
“Untuk apa mereka memberimu kartu nama?”
“Mana aku tau!”
“Aku tau. Maksud mereka agar kau bisa berhubungan terus dengan mereka, begitu, kan?”
“Aku tidak tau. Begitukah menurut sampeyan?”
“Jangan pura-pura bodoh di depanku. Awas kau kalau main-main denganku!”
“Kok yu Mirah mengancam?”
“Berikan padaku, biar kurobek kartu kartu nama itu.”
Sumirah merampas kartu kartu nama itu dan dengan gemas merobek-robeknya menjadi serpihan kecil, kemudian menebarkannya di lantai seraya tersenyum puas.
“Apa-apaan ini?” protes Aryo keras.
“Itu pantas kau terima, Aryo.”
Aryo mengatupkan geraham menahan marah dan berusaha menahan diri agar tidak terjadi perang mulut yang besar. Bagaimanapun dirinya tidak jauh berbeda dengan Empul, yang berhati keras dan temperamental. Kalau saja Aryo selalu menuruti hawa nafsu, dan tidak berusaha mengekang dengan banyak-banyak tafakur, pastilah perilakunya tak banyak berbeda.
Dipandangnya Sumirah sambil mengelus dada.
“Aku tidak suka perlakuan seperti ini, “ katanya datar. “Aku capek. Biarkan aku tidur sebentar saja. Soal kartu nama itu, bukan siapa-siapa. Aku tidak kenal mereka. Merekapun cuma iseng saja ketika memberikannya kepadaku. Sudahlah, tak perlu diperpanjang lagi.”
“Apa kau memberitau mereka alamat rumahmu?”
“Untuk apa? Aku tidak bicara dengan mereka. Ki Mui yang menemani mereka ngobrol. Dia juga yang mengantar mereka saat akan pulang ke Surabaya. Kartu nama itupun sesungguhnya milik Ki Mui yang kemudian dia titipkan kepadaku.”
“Aku tak percaya,” ujar Sumirah dengan nada suara lebih rendah.
“Terserah. Itu hak sampeyan. Yang penting aku sudah mencoba jujur dan bercerita apa adanya.”
Sumirah terdiam. Merasa sudah keterlaluan, namun jengah untuk minta maaf. Dia hanya berdiri mematung tanpa tau harus bicara apa. Melihat itu, tiba-tiba timbul rasa kasihan Aryo kepadanya.
“Sudahlah Yu, jangan dipikirin hal-hal sepele yang sebetulnya tidak perlu. Sejak kemarin perutku belum kemasukan nasi, sampeyan punya nasi kan?”
Sumirah tersipu sesaat, namun segera mengembangkan senyum lebar.
“Kubelikan nasi pecel. Mau?”
“Wah, mantap itu. Nih, kebetulan aku masih ada uang sedikit. Pakailah untuk berbelanja.”
Aryo merogoh saku kemeja, dan mengulurkan beberapa lembar uang kepada Sumirah. Dibimbingnya perempuan itu keluar pintu dan membiarkan Sumirah keluar. Secepat itu pula pintu segera ditutupnya kembali. Dia bersandar dengan dada gemuruh. Kenapa bisa lupa pada kartu nama itu? Bodoh! Dilihatnya seerpihan kartu di lantai. Dikumpulkannya dan dicobanya merekatnya kembali. Lalu dicatatnya nomor telepon Rayun Wulan dan nomor ponselnya. Kemudian ditaburkannya kembali ke lantai.
Kemudian dicobanya untuk berbaring. Namun alangkah sulit menenteramkan hati yang sudah terlanjur kacau seperti ini. Berita tentang perselingkuhan Kang Empul yang kemudian berkembang lebih hebat dengan sebuah perkawinan, membuatnya resah. Sungguh, dia jadi bingung. Apakah itu artinya dirinya harus cepat-cepat pergi dari rumah ini dan mencari tempat tinggal yang baru? Kalau tidak, apa yang akan terjadi selanjutnya? Bukankah hanya akan menimbulkan fitnah, atau bahkan skandal antara dirinya dan Sumirah? Tanda-tanda kea rah itu semakin lama semakin nyata.
Lalu,…si Rayun Wulan!
Wajah cantik itu kembali terbayang. Wajah yang tak sing bagi Aryo. Bentuk raut mukanya yang bulat telur, dengan tulang pipi di atas, bibir yang manis, hidung yang kecil mancung, dan keningnya bulat, khas wajah Jawa. Dan wajah itu adalah…wajah Rara Ireng yang selama ini selalu datang dan terus datang menemani tafakurnya. Aryo tau betul bedanya antara kulit tubuh seseorang yang masih berdarah biru dengan orang kebanyakan. Kulit yang lembut dan lumer. Meski belum pernah menyentuhnya, namun Aryo merasakan benar bahwa kulit Rayun begitu lembut dan lumer. Telapak kakinya mungil, mungkin ukuran sepatunya antara nomor 36 atau 37. Tak lebih. Dia juga tidak pendek, tetapi juga tidak terlalu tinggi. Tidak gemuk, tidak kurus, namun sintal. Pas. Proporsional. Khas perempuan Jawa idolanya.
Baru tau namanya saja, Sumirah sudah seperti nenek kebakaran susur. Bagaimana kalau melihat orangnya? Seakan-akan cemburu. Cemburukah Sumirah kepada Rayun Wulan yang belum pernah dilihatnya itu? Padahal selama ini perempuan itu tenang-tenang saja melihat Aryo bergaul dengan gadis manapun juga. Bahkan bila melihat Aryo duduk berhimpitan dengan Niken Pratiwi, Sumirah cuek saja. Dia juga tidak pernah perduli bila Aryo pergi dengan Niken hingga larut malam. Sebenarnya, ada apa dengan Sumirah?
(bersambung).

Jumat, 26 Februari 2010

TROWULAN (7)


PERJANJIAN KANJENG RATU.

Hampir lewat dua pertiga malam ketika Aryo Wangking menghentikan kendaraannya di pelataran Siti Hinggil. Mendung kelabu menggantung di langit seperti menggantung di hati. Seakan menangisi sesuatu yang tiada berguna. Sesekali langit dibelah petir dan guntur.
Aryo Wangking menapak anak tangga ke atas Candi Kedungwulan yang tersisa berupa bujur sangkar berukuran sepuluh kali sepuluh meter persegi. Setelah menaiki anak tangga, Aryo harus pula melewati dua pohon tua, Kesambi dan Trenggulun, di kaki candi. Setelah itu Aryo harus membungkukkan punggung saat harus melalui gapura makam.
Di atas candi Kedungwulan itulah terdapat makam yang oleh masyarakat setempat dipercaya sebagai makam Raden Wijaya, raja pertama Majapahit yang bergelar Prabhu Jayakatyengrati Ripujaya atau Kertarajasa Jayawardhana, Brawijaya Pertama. Di depan makam Sri baginda Kertarajasa Jayawardhana itulah, Aryo wangking duduk bersimpuh, menaburkan sekar arum alias bunga rampai, ke atas makam. Dia membaca doa sebentar, kemudian menepuk batu nisan Sang Prabhu tiga kali.
Cukup lama Aryo Wangking bertafakur disitu. Tidak dihiraukannya angin malam berhembus kencang, mengguncang ujung daun pohon Trenggulun dan pohon Kesambi yang menaburkan percikan air di setiap guncangannya ke persada petilasan. Petir yang menggelegar memecah langit, sama sekali tidak membuat Aryo wangking terkejut. Hatinya seakan digayuti rindu. Rindu? Aryo tersentak. Rindukah dia akan sesuatu?
Dalam memejam, Aryo seakan sampai pada jalan setapak. Sendiri dia meniti jalan setapak itu. Mendaki bukit bukit sunyi. Gerimis turun seperti enggan putus. Jauh di sana, dia melihat sebuah bangunan kuno. Bukan, bukan bangunan tua yang menakutkan. Tetapi sebuah puri kecil yang indah.
Aryo meneruskan langkah kaki yang terayun. Tanpa menghiraukan gerimis yang kian rapat, dengan mantap dia mendaki bukit lewat jalan setapak. Sampai di depan puri, Aryo mendorong pintu dan masuk kedalamnya. Segera dia melihat begitu banyak orang berkumpul, duduk di tengah ruang yang sangat luas, mengelilingi seorang wanita cantik berpakaian aneh.
Lampu yang temaram membuat wajah semua orang hanya bagai bayang-bayang yang tidak jelas. Mereka saling berbisik, berbicara dengan suara pelan. Seakan-akan tengah membicarakan sesuatu yang amat rahasia. Menurut perkiraan Aryo, mereka tengah mengadakan sebuah sarasehan. Wanita cantik yang berada di tengah kerumunan itu duduk dengan anggun di atas sebuah dampar kencana. Kedua matanya bersinar terang, rambutnya yang hitam legam terurai menutup hampir seluruh punggung. Dia mengenakan jamang keemasan di kepalanya yang bertahtakan batu permata dan berlian. Setiap kali kepalanya bergerak, jamang emas itu menebarkan sinar terang berkilau-kilauan dibawah sorot lampu yang temaram. Diam-diam, Aryo ikut duduk di antara orang-orang yang samasekali tidak dikenalnya itu. Dia sengaja menyelinap dan mulai memperhatikan wajah-wajah di sekitarnya. Ketika dia tengadah, dia melihat ada balkon di sana, dimana ada beberapa perempuan dan laki-laki muda duduk berkumpul. Aryo memperhatikan mereka dengan seksama dan tiba-tiba darahnya berdesir kencang. Hatinya bagai disentakkan oleh tali yang kuat saat dia mengenali salah seorang diantara mereka adalah Rayun Wulan.
Seakan tak mau percaya begitu saja, Aryo menajamkan mata, mendekatkan wajah lebih dekat kea rah balkon. Ya benar. Itu memang Rayun Wulan. Gadis itu duduk ditempat paling pinggir, menguraikan rambut dan mengenakan kimono warna biru mengkilat.
Aryo tertegun lama. Benarkah itu Rayun, dan kenapa pula dia ada di tempat semacam ini? Perlahan-lahan Aryo berdiri, dan berjalan mendekat kearah tangga yang meliuk menuju balkon. Tetapi tiba-tiba wanita berjamang emas berlian itu menegurnya. Suaranya lembut diucapkan dalam bahasa yang halus. Namun seakan mengandung kekuatan magis yang kuat.
“Kau mau apa ke sana, Ngger? Kau tidak boleh naik tanpa ijin!” katanya.
Aryo berhenti melangkah.
“Dia temanku. Aku ingin menemuinya,” sahut Aryo.
“Aku tau, tetapi tidak berarti kau boleh datang kepadanya tanpa ijin dariku. Sebab sekarang temanmu itu berada dalam kekuasaanku. Dia milikku.”
Sebelah alis mata Aryo naik ke atas.
“Apa? Mengapa bisa begitu? Dia bukan milik siapa siapa. Dia milik Allah.”
Suara orang-orang yang hadir bergaung bagai suara dengung lebah. Puripun seakan terkena gempa. Wanita cantik itu mengangkat tangan, dan suasana kembali reda.
“Kau keliru,” senyum wanita itu. “Seseorang telah memujaku dan aku berkenan memberinya suatu imbalan sesuai dengan keinginannya. Sebagai rasa terimakasihnya diapun memberikan seseorang kepadaku sebagai hadiah. Sekarang, kau sudah mengerti mengapa aku mengatakan bahwa dia sudah menjadi milikku, bukan?”
Akal waras Aryo Wangking bekerja cepat. Dia asegera tau dengan siapa dia berhadapan. Namun rasa marah dan geram membuatnya jadi tak peduli lagi dengan siapa dia sedang bertutur kata. Sambil mengatupkan rahang, Aryo mendesis.
“Katakan kepadaku, siapa manusia tidak tau diri itu.”
Wanita berjamang itu berdiri perlahan. Pakaiannya yang terbuat dari kain yang lembut berkibar bagai ditiup angin. Melamabai lambai bagai sayap sayap transparan. Berjumbai-jumbai, berwarna hijau, biru, putih, berlapis lapis dan berselang seling. Rambutnya yang panjang dan indah, meriap kemana-mana. Seakan berjalan di dalam air, wanita itu melayang kea rah Aryo Wangking. Dia kemudian menggamit tangan Aryo dan mengajaknya ke sebuah meja besar dengan buku besar di atasnya.
“Pandang diriku baik-baik, Wangking. Kau lupa siapa aku?”
Aryo menatapnya tajam. Dia tau siapa wanita di hadapannya itu. Dia sadar akan akibatnya bila dia membangkang. Selama ini, wanita itulah yang sering ditemuinya dalam samadinya, wanita itu pula yang memberikan wewenang baginya untuk mengobati calon-calon korbannya. Ya, dialah Kanjeng Ratu Kidul yang amat ditakuti oleh masyarakat pesisir. Dalam samadinya, Aryo selalu memanggilnya Ibu, karena dia bukan pemuja, namun dia adalah seseorang yang telah dianggap kerabat keraton Laut Kidul. Bagi Aryo, karena dia bukan pemuja Laut Selatan, dia berhak marah atau tidak setuju dengan sesuatu yang dilakukan Kanjeng Ratu Kidul. Namun untuk membangkang terang-terangan, rasanya tidak pantas bagi seorang Aryo Wangking. Diapun menjatuhkan diri, bersila di depan ratu yang ternyata berkaki ular. Dengan hormat,dia menyapa, beruluk salam sebagaimana mestinya.
“Assalamualaikum, maafkan saya, Ibu.”

“Wa alaikumsalam. Kenapa baru sekarang kau mengenaliku. Kau marah? Atau terlalu sombong untuk menyapaku lebih awal? Dalam setiap persemedianmu dan setiap permasalahan, kau selalu datang untuk minta pencerahan. Tapi mengapa tiba-tiba kau datang dalam keadaan penuh amarah seperti ini? Bahkan tanpa kulonuwun kau datang dan masuk ke wilayah terlarang. Kalau saja kau bukan titisan Nambi, pasti sudah kuhajar. Sekarang tanpa basa-basi kau malah ingin menemui calon istri adikku begitu saja. Bagaimana kau ini, Wangking!”
Aryo Wangking terpana seketika. Segera dia menyembah dan meminta maaf atas kelancangan dan kecerobohannya. Ya, semua itu karena kecerobohan. Mana mungkin dia masuk begitu saja secara grusa grusu padahal seharusnya sudah tau tentang aler-aler dan tata krama yang berhubungan dengan alam ghoib?
Kanjeng Ratu Kidul menghela nafas panjang. Sesungguhnya, Nambi adalah kesatria yang telah dianggap sebagai putra baginya. Tentu, kesalahan yang diperbuat oleh anak cucu Nambi juga menjadi cucu kesayangan baginya.
“Baiklah, sekarang kau sudah kumaafkan,” ujarnya. “Kalau kau ingin tau orang yang kukatakan tadi, tengoklah buku besar di meja besar itu, maka kau akan tau dengan siapa kau bakal berhadapan.”
Aryo Wangking menuju meja besar berlapis kain beludru warna hijau di tengah ruang besar itu. Dibukanya buku besar diatasnya. Lalu dibacanya huruf huruf Jawa itu dengan sangat hati-hati. Jemarinya gemetar saat menelusuri barisan nama demi nama yang tercantum di dalamnya. Biasanya nama-nama yang telah tercantum di buku besar itu, pada manusianya di dunia nyata akan ada stempel ghoib di pundak masing-masing, sebagai tanda bahwa nantinya mereka akan pulang bukan kepada Allah melainkan,…
Astaga! Nafas Aryo berhenti. Ternyata benar, nama Rayun Wulan ada di dalamnya.
Darah Aryo Wangking menggelegak. Apalagi saat dia juga menemukan nama lain yang dia kenal ada di samping nama Rayun Wulan. Orang yang menghadiahkan Rayun kepada adinda Kanjeng Ratu Kidul adalah…Dewa Pamugaran. Ya Allah yang Maha Agung dan Perkasa! Pandangan mata Aryo serasa gelap. Seakan disambar halilintar.
Aryo berbalik dengan cepat menatap tajam wajah ayu Kanjeng Ratu Kidul yang dengan arif tersenyum kepadanya.
“Ya, benar,” katanya. “Memang laki-laki itulah yang memujaku. Naga Tatmala memintanya padaku namun bukan untuk korban, melainkan untuk istri. Ketauilah Wangking, kutukan atas Naga Tatmala telah berakhir. Dia sudah bisa menikah dengan siapapun yang dia kehendaki. Kebetulan, seleranya jatuh pada Rayun Wulan. Dia akan mengawasi sukma gadis itu di alammu hingga batas waktu yang ditentukan. Setelah itu Naga Tatmala akan menjemputnya dan akan menikahinya secara baik-baik sesuai dengan aturan alamnya.”
Kepala Aryo seakan berputar. Berpusing bagai gasing. Mana mungkin itu terjadi, mana mungkin?
Dia kembali menjatuhkan diri, lemas di kaki Sang Ratu.
“Saya mohon, Ibu” katanya terbata-bata. “Batalkan saja perjanjian itu. Kasihanilah gadis itu. Bebaskan dia dari kekuasaan Naga Tatmala. Bukankah mereka itu berbeda alam? Gadis itu manusia biasa, sementara Naga Tatmala adalah siluman. Bagaimana mungkin mereka bisa bersatu?”
“Batas waktu, Wangking. Selalu ada batas waktu. Kalau alam mereka sudah sama, mengapa tidak bisa?”
“Saya mohon, bebaskan dia demi saya.”
“Baru sekali ini kulihat kau demikian gugup. Ada apa denganmu? Kau mencintai gadis itu, Wangking?”
“Maaf, saya sendiri belum terlalu yakin. Saya hanya merasa bahwa dia adalah jelmaan Rara Ireng, kekasih Mpu Nambi. Kisah cinta mereka tak pernah sampai. Terus terang, saya memang menginginkannya.”
Kanjeng Ratu Kidul tersenyum.
“Kau boleh saja minta kepadaku untuk membatalkannya, namun ada syarat tertentu yang harus kau jalani.”
“Saya akan memenuhinya.”
“Syaratnya cukup berat, Ngger. Apa kau sanggup?”
“Insya Allah, Ibu.”
“Baiklah. Syaratnya, sebelum kau bebaskan sukma gadis itu kau harus mampu merebutnya sendiri dari genggaman Naga Tatmala dengan cara mengalahkannya lebih dulu. Kedua, kau harus berjanji akan menjaganya dari kekuatan Dewa Pamugaran. Sebab apabila dia gagal mempersembahkan tumbalnya kepadaku, taruhannya adalah jiwanya sendiri. Sudah barang tentu dia tidak akan tinggal diam menyaksikan tumbalnya kau bebaskan dari perjanjian yang dilakukannya. Bagaimana? Kau sanggup?”
Tanpa pikir panjang, Aryo Wangking menjawab:
“Sanggup.”
“Ingat, Wangking. Seorang lelaki sejati harus bisa menjaga janjinya.”
“Saya ingat, dan saya akan memegang janji saya.”
“Bagus. Kalau begitu ijinkan ingsun mengundurkan diri. Assalamu’alaikum.”
“Terimakasih, Ibu. Wa’alaikumsalam.”
Kanjeng Ratu Kidul bergerak cepat. Kali ini dia pergi dalam wujud aslinya, seekor ular hijau yang mengenakan jamang emas di kepalanya. Aryo menunduk dalam-dalam, seakan mengucapkan selamat jalan kepadanya. Sebelum dia menyadari sesuatu, tiba-tiba sebuah hantaman membuatnya terjungkal. Aryo Wangking berdiri dengan geragapan. Segera dia melihat seekor naga amat besar bergelung di depannya.
Naga Tatmala!
Ya, naga besar bersisik putih keperakan itu kini Nampak bersiap-siap menyabetkan ekornya yang besar itu kembali. Sadar akan siapa yang menjadi lawannya, Aryo tak berani bertindak gegabah. Dia segera duduk bersila, mengempos seluruh tenaga dalam, mengumpulkan semua kekuatan ghoibnya, dan membaca mantera berulang-ulang. Bibirnya mengatup keras. Matanya memejam. Lalu setelah semua kekuatan ghoib menyatu dalam dirinya, dia mengangkat tangan kanan lurus ke atas.
Naga Tatmala melihat sinar biru melingkari sekujur tubuh Aryo Wangking. Naga itu meliuk liuk berusaha menembus sinar yang menyelimuti tubuh lawannya. Namun segera dia merasakan sebuah sengatan panas yang membutanya mundur kembali. Beerjurus-jurus serangan dilancarkannya melalui ekornya yang pipih maupun cakarnya yang tajam, namun tak mampu sedikitpun menggoyahkan Aryo Wangking dari samadinya. Aryo bahkan terus merapal. Lidahnya basah oleh beberapa kalimat ghoib. Di atas, langit mendadak kian menghitam. Titik berkumpul membagi mendung. Awan bergerak perlahan. Naga Siluman itu menjadi gelisah. Tubuhnya panas bagaikan dipanggang diatas perapian. Sementara itu, bibir Aryo terus bergerak. Kalimat-kalimat berisi mantera dan doa yang dahsyat terus dilantunkan.
Hujan turun deras bagai amarah. Berpacu. Guntur menggelegar. Petir menyambar nyambar membelah langit. Membahana seakan merobohkan pohon-pohon. Kekuatan Sang Ghoib mulai bicara mengalahkan segala angkara murka. Naga Tatmala berputar, berpiuh di tengah gemuruh hujan dan badai. Dedaunan yang menebar oleh hempasan angin menyatu dengan diri sang siluman. Tatmala menggeram. Melawan dengan amarah semua kekuatan yang terpancar dari diri musuhnya. Namun seakan selembar daun kering, Naga Tatmala tersingkir jauh, menghilang kembali ke dasar samudera.
Pada saat itulah Aryo Wangking melihat sebuah benda biru berkilau jatuh dari langit. Meluncur dengan amat cepat ke bawah. Secara reflex Aryo berdiri. Kakinya menjejak bumi. Sambil berteriak keras tubuhnya dengan ringan melompat tinggi menyambar benda biru yang jatuh bagai meteor ke arahnya. Dengan mendekapnya kuat, Aryo meluncur turun. Di bawah, dirinya baru sadar bahwa benda biru yang jatuh itu bukan meteor, melainkan sukma Rayun Wulan.
Aryo jatuh terduduk di tanah sambil tetap memeluknya. Jadi seperti itulah Sukmanya diserahkan oleh Naga Tatmala kepadanya. Atau bisa saja jatuh secara otomatis begitu kekuatan Naga Tatmala harus kalah oleh kekuatan Aryo Wangking. Entahlah. Yang jelas, hati Aryo terasa bagai disayat sembilu menyaksikan betapa sukma berwujud wadag aslinya itu kini seakan selembar kain biru yang tak berdaya.
Aryo menggigit lidah agar tidak berteriak menyumpahi laknat sang Naga. Hujan yang turun deras menyatu dengan tetesan airmatanya. Rayun, desisnya pelan dalam hati. Seburuk inikah nasibmu?
Teringat Aryo akan janjinya kepada penguasa Laut Kidul. Dia menundukkan wajah, memejam dan membenamkan tangisnya dalam-dalam di dada. Dia tidak ingin karma terus berjalan sama. Dia berjanji dalam hati akan mengubahnya jadi lebih baik dan lebih manis. Pertemuannya dengan Rayun Wulan adalah sebuah jelmaan damba atas takdirnya sebagai Nambi yang menemukan Rara Ireng. Dia bertekad mengubah diri menjadi lebih baik, melupakan semua yang buruk yang dijalaninya selama ini bersama Sumirah maupun Niken Pratiwi. Dia akan mempersembahkan hati dan kehidupan yang bersih bagi Rayun Wulan.
Suara kokok ayam jantan membangunkan Aryo dari tafakur panjang di Candi Kedungwulan Siti Hinggil. Adzan subuh sebentar lagi akan terdengar. Seseorang mendatangi dan ternyata itu adalah Sikan, juru kunci. Ketika dilihatnya Aryo menyulut rokok, dia duduk bersila di sebelahnya.
“Semalaman mas Aryo samadi disini?” tanya Sikan.
Aryo tersenyum dan menoleh kepadanya.
“Sampeyan memohon apa, Mas?” tanya Sikan lagi.
“Seperti yang pernah saya katakan kepada pak Sikan, saya ini sedang mencari keberadaan kekasih saya.”
“Apakah Niken Pratiwi yang mas Aryo maksud?”
Aryo tertawa kecil.
“Bukan dia,” katanya. “Saya dan dia cuma berteman baik. Kenapa? Pak Sikan mengira bahwa dia kekasih saya?”
“Orang-orang bilang begitu, nimas Niken juga bilang begitu kepada saya.”
“Itu gosip.”
“Kalau begitu, gosip lebih santer daripada air terjun. Sebab, sepertinya berita itu sudah bukan rahasia lagi disini. Apalagi Raki Keleng…”
“Raki Keleng memang suka mencemburui hubungan baik saya dengan Niken. Dia iri dan suka marah-marah bila mendapati saya dan Niken berada dalam satu ruang di kantor. Ah, sudahlah. Kekasih yang saya cari itu sekarang sudah saya temukan. Namanya Rayun Wulan. Seorang penulis dari Surabaya. Cuma sayangnya, saat ini dia sudah terlanjur menjadi kekasih orang.”
“Ah, mas Aryo ini. Saya kok makin nggak ngerti.”
“Saya bertemu Rayun Wulan ini di Pantai Puger, dua hari yang lalu. Kacamata spiritual saya mengatakan bahwa dia itu reinkarnasi dari Rara Ireng, kekasih Mpu Nambi.”
“Mpu Nambi, maksud mas Aryo, Mpu Nambi…”
“Ya, Senapatinya Brawijaya Pertama.”
“Oh. Kemudian…?”
“Mungkin takdir telah mempertemukan kami. Mempertemukan Nambi dan Rara Ireng melalui wadag wadag Aryo Wangking dan Rayun Wulan. Kalau sudah seperti ini, apakah saya harus melupakannya begitu saja? Tidak, tentu saja tidak. Saya tidak akan melepaskannya begitu saja. Barusan ini tadi saya bisa menmbus alam Segara Kidul dan bertemu dengan Ibu Kanjeng Ratu Kidul. Ternyata Rayun ada di alam sana, dan ketika saya memintanya, beliau mengijinkan.”
“Jadi begitu ya, ceritanya?”
“Ini bukan cerita. Ini sungguhan.”
“Oh ya. Tentu saja maksud saya, sungguhan. Tetapi saya nggak heran kalau semua keinginan mas Aryo selalu dituruti oleh Kanjeng Ratu Kidul. Kalau saja mas Aryo ingin cepat kaya, pasti beliau juga akan…”
“Eits!” potong Aryo cepat. “Jangan sekali-kali kita meminta hal-hal seperti itu. Taruhannya berat, pak Sikan. Saya pernah ditawari sebongkah emas oleh Ibu Ratu Kidul, tetapi saya tolak mentah-mentah. Sebab apa? Sebab beliau mengatakan kalau saya mau, saya diberi kesempatan selama tujuh belas tahun untuk menikmatinya.”
“Tujuh belas tahun?”
“Ya, sesuai dengan rakaat sholat kita dalam sehari.”
“Setelah itu?”
“Setelah tujuh belas tahun menikmati harta itu, saya mati.”
“Hah?”
“Jadi apa artinya hidup seperti itu? Tidak usahlah seperti itu, dengan benda-benda kuno penemuan saya di situs-situs purbakala itu saja, kalau saya mau menjualnya, saya bisa kaya. Tetapi saya tidak akaan pernah mau melakukannya. Kalaupun saya ini orang bejat, saya tidak akan pernah jadi maling seperti itu. Kanioyo itu namanya, Pak.”
Sikan mengangguk-anggukkan kepala.
“Si Rayun ini orangnya baik,” lanjut Aryo. “Cuma agak keras kepala. Bukan cuma agak, namun benar benar keras. Menurut trawangan saya, hari kelahirannya, Rebo manis.”
“Wah, orang kelahiran Rebo Mani situ termasuk gampang-gampang susah, Mas.”
“Saya tau.”
“Tapi sepertinya adiluhung.”
“Ya, menurut sayapun demikian. Ada kemungkinan dia masih berdarah biru.”
“Ya, Mas. Saya sarujuk dengan pandangan mas Aryo. Yah,…semoga berhasil, Mas. Siapa tau takdir kali ini benar-benar mendapat ridho Allah.”
“Hahaha,…ya semoga saja pak Sikan. Semoga saya bisa menjaganya agar tidak kecolongan ki Naga Tatmala saja.”
“Naga Tatmala? Bukankah dia itu siluman yang pernah mendapat kutukan untuk tidak laku kawin selama beribu-ribu tahun?”
“Benar. Karena dulu dia pernah kepergok sedang berkasih-kasihan dengan Dewi Mumpuni, istri Yamadipati. Seharusnya dia dihukum mati karena perbuatan itu, namun karena dia adalah putra Anantaboga, maka dia cuma dikutuk saja untuk tidak laku kawin selama ribuan tahun. Rupanya, kutukan itu sudah berakhir. Menurut Ibu Ratu Kidul, Naga Tatmala sudah bisa jatuh cinta pada siapa saja, entah manusia atau sesama siluman. Saya kuatir, dia malah jatuh cinta sama Rayun Wulan.”
“Apa bisa, Mas?”
“Bisa saja, kenapa tidak? Ada banyak manusia yang kawin dengan siluman. Ini nyata lho, bukan cuma karangan saja.”
“Ya, ya. Saya tau.”
Aryo mematikan sisa rokok ke lantai candi dan bersiap-ssiap untuk meninggalkan Siti Hinggil.
“Baiklah, saya pulang dulu pak Sikan.”
“Oh, silakan Mas, silakan.”
Aryo mengulurkan salam. Mereka berjabat tangan sejenak sebelum Aryo berjalan ke gapura lalu turun ke pelataran. Langit sudah mulai terang. Ada harapan dan impian bermunculan dan tumbuh di hati Aryo Wangking. Kendati ada rasa kantuk datang menyergap, seyuman tipis tetap nampak tersungging di ujung bibirnya.

(bersambung)

TROWULAN (6)


Citraland, Surabaya Barat.
Kisah cinta pada awalnya memang selalu indah. Semenjak perkawinannya dengan Ni Darni kandas di tengah jalan, Pamugaran selalu punya keinginan untuk kembali mengawalinya. Dia telah bertemu dengan seseorang. Dan dia merasakan ada tanda-tanda saling tertarik. Apabila mata sudah saling bertemu dan tubuh sudah saling bergetar, dia yakin, sesuatu bakal terjadi.
Sungguh, Pamugaran menyukai perasaan itu. Sama seperti sebelum-sebelumnya bila dia bertemu dengan wanita cantik yang akan dia jadikan insprirasi bagi lukisannya. Yang akan melambungkan namanya di dunia seni lukis. Obsesinya adalah menyamai Basuki Abdullah. Dengan cara apapun, Pamugaran akan menjalaninya dengan amat sadar, asalkan impiannya tercapai. Menjadi pelukis istana, bahkan istana raja-raja di manca Negara.
Saat pertama kalai melihat Rayun, sekujur syaraf di tubuhnya mulai bergetar. Sinyal-sinyal gaib yang selama ini menjadi pegangannya seakan menyerukan bahwa inilah dia yang bakal membuat namanya melesat setinggi pelukis idolanya. Maka Pamugaran merasakan jiwa dan pikirannya terayun. Ya, siapa yang bisa menyangkal bahwa Rayun Wulan adalah seorang gadis yang begitu manis dan lembut. Tubuhnya lampai bagaikan sebatang bambu China. Matanya cerlang bak bintang Timur, dan senyumnya manis bagaikan seruni. Pamugaran segera merasa cinta itu tumbuh. Dirinya ingin sekali bisa memiliki seruni itu, memetiknya untuk suntingan.
Hampir semalaman, sepulang dari pantai Puger itu, dia tidak bisa tidur. Pikirannya melayang bagaikan laying-layang putus. Terombang-ambing bagai kapal nelayan. Oleh sebab itu tak heran bila pagi-pagi begini tubuhnya terasa pegal pegal.
Pamugaran bangun dari ranjang.
Dikenakannya sebuah baju hangat lalu berjalan ke balkon. Matahari belum sepenuhnya terbit dari ufuk Timur. Pintu pintu rumah belum sepenuhnya terbuka di pagi hari yang mulai hidup. Sambil bersandar ke pagar balkon, Pamugaran merasakan dari mana arah angin bertiup. Beruntung, dia merasakan arah angin bertiup dari Barat. Lembut dan romantis. Hampir tidak terasa.
Pamugaran tersenyum.
Tangannya memetik sekuntum mawar merah dari pot bunga di pinggir balkon lalu duduk di kursi rotan menghadap ke Timur. Dipandangnya matahari sambil membayangkan wajah Rayun Wulan. Diletakkannya bunga mawar di atas meja di depannya, lalu memejam sambil terus menerus membayangkan wajah gadis itu. Kemudian dia mulai mengatur pernafasan dengan baik dan tenang, hingga merasakan sebuah ketenteraman dan kebebasan bagi jiwanya. Dalam hati Pamugaran memanggil empat elemen yang mempengaruhi manusia yakni udara, api, air, dan tanah. Kemudian menyebutkan keinginannya dan menyimpannya dalam hati.
Cukup lama upacara ritual itu dijalaninya hingga sinar matahari terasa semakin hangat. Bunga mawar itu kemudian dibawanya masuk ke ruang tengah apartemennya. Dinyalakannya dua batang lilin merah dan diletakkannya di kedua sisi bunga mawar. Lilin-lilin itu akan terus menyala sampai bunga mawar merah yang mekar itu menjadi layu. Apabila lilin itu sudah habis terakhir sementara bunga belum layu, dia akan menyalakan lilin yang baru sebagai gantinya. Dia juga akan menjaga jangan sampai nyala lilin itu mati selama bunga mawara masih segar. Apabila bunga mawar itu telah benar-benar layu, dia akan mengambil beberapa lembar daun bunganya untuk disimpan di dalam sebuah kotak khusus sebagai penjaga cintanya sampai dia membutuhkannya lagi. Kemudian dia akan mematikan lilin tidak dengan dihembus melainkan dengan ujung telunjuk dan ibu jari. Setelah itu dia boleh merasa tenang sebab tak akan ada sesuatupun atau seseorangpun mengganggu cintanya kepada Rayun maupun sebaliknya.
Entah, apa yang mendorong Rayun ingin menemui Pamugaran pagi itu di apartemennya. Semenjak peristiwa di Puger itu rasanya sulit bagi Rayun melupakan kejadian itu. Dia ingin sekali membicarakannya bersama Pamugaran. Memang sih, rasanya mustahil Pamugaran akan mempercayai adanya naga siluman di Pelawangan. Namun tak ada salahnya kalau dia juga mengetauinya. Setidaknya pria itu harus tahu bagaimana takutnya dia saat ditimpa gelombang dan terseret hingga ke dasar. Suasana sepi yang teramat hening dengan beberapa ekor ikan penghuni laut berseliweran di sekitarnya, lalu saat sesuatu memegangnya, menaikkan ke atas sebatang ‘pohon’ yang kemudian membawanya ke atas permukaan laut, adalah pengalaman yang semoga saja hanya menimpanya sekali seumur hidup. Kecurigaannya pada sosok Aryo Wangking, terasa sangat mengganggunya. Seperti apakah Aryo Wangking itu sebenarnya? Pria gagah itu seakan tau betul isi hati dan kepala setiap orang yang menerima tajamnya tatap matanya.
Kepada Dyah Sugihan sahabatnya, Rayun juga telah menceritakan pengalaman itu tanpa ada yang disembunyikan. Sahabatnya itu mendengarkan dengan mimik wajah yang sulit diterjemahkan. Kemudian, Dyah menasehatinya panjang lebar dan mengingatkan akan kebenaran ucapan Aryo untuk lebih baik menjauhi pantai Selatan.
“Kenapa aku harus jauh-jauh dari Pantai selatan?” tanya Rayun saat itu.
“Ada pertanda mengatakan begitu.” Sahut Dyah Sugihan serius.
“Pertanda apa?”
“Ya, pertanda. Itu saja.”
Rayun tak puas dengan jawaban itu. Dia terus mendesak.
Akhirnya sahabatnya itu menjawab,:
“Sepertinya itu sebuah pertanda bahwa sesungguhnya ada perjanjian khusus antara kau dan Naga Tatmala.”
“Apa maksudmu dengan …per-jan-jian!”
“Tanyakan saja pada Aryo Wangking. Dia yang paling tau soal itu.”
“Tetapi dia bilang, naga siluman itulah yang menyelamatkan aku.”
“Untuk sementara, ya. Selanjutnya, bagaimana? Mengapa Aryo Wangking menyarankan agar kau menjauhi Pantai Selatan? Tampaknya ada kaitannya antara kau dan penguasa Laut Selatan.”
“Seperti apa?”
“Akh kau! Naif sekali kayaknya kau ini, Yun! Perjanjian atau kaitan khusus. Masa tidak tau!”
“Apakah…semacam…tumbal?”
Dyah Sugihan mengangkat bahu.
“Wadal?” tanya Rayun lagi.
“Entahlah. Barangkali cuma Aryo yang bisa menjelaskannya.”
Dan pada kenyataannya memang Dyah Sugihan tetap tidak bisa membeerikan alas an apa yang membuat Naga Tatmala mendorongnya keluar dari pintu kematian. Barangkali orang lainpun tidak bisa menjelaskannya dengan tuntas. Namun benarkah ada kaitan khusus antara dirinya dengan makhluk besar bersisik itu?
Lalu, si Aryo Wangking itu? Mengapa dia kelihatannya begitu misterius? Pria itu seakan-akan lain daripada yang lain. Ada sesuatu dalam dirinya yang membuat Rayun terpesona. Kapankah mereka pertama kali bertemu? Mengapa sosok lelaki itu begitu akrab dalam ingatannya seakan mereka sudah pernah dekat satu sama lain? Tapi, kapan itu?
Lelaki bertopi koboi warna gelap, dengan sepasang mata yang kadang memicing, seolah mengalirkan sejuta getaran arus listrik. Seakan mengandung sihir dan memendam tenaga nuklir. Dia begitu mengagumkan sekaligus menakutkan. Ya, kalau mau jujur, Rayun takut kehilangan tatap matanya. Wajahnya membayangi tidurnya, juga bibirnya yang nyaris membentuk garis itu terkatub kuat seakan-akan menutup segala rahasia dalam dirinya untuk tidak dengan mudah diketaui orang lain. Ataukah lelaki itu menutup segala beban yang menggantung dalam dirinya? Keperkasaannya jadi serupa pohon beringin yang besar dan rimbun, namun senyap. Rayun jadi ingin benar dapat mengungkapkannya. Tetapi bagaimana caranya? Ah, barangkali mereka sudah tak mungkin bertemu lagi, jadi untuk apa dipikirin?
Pagi itulah, Rayun bermaksud ke apartemen Pamugaran. Meskipun dia bukanlah tipe cewek pesolek, namun di pagi yang cerah itu Rayun mendadak ingin sedikit berdandan. Dirapikannya rambutnya sekali lagi, diikat kebelakang dengan sebuah pita kecil yang manis. Digantikannya rok dengan blus berbunga kecil dan celana jins ketat warna biru pucat. Digaetnya sepatu kanvas tanpa kaus dan dikenakannya cepat. Dalam cermin besar di kamarnya, Rayun bisa melihat dirinya tampak begitu manis, sama manis dengan masa kecilnya dulu. Beberapa helai rambut dibiarkannya berjuntai lepas di pelipis. Bibirnya yang merah jambu tak perlu lagi dipoles. Sejenak diaa tersenyum memandangi diri sendiri. Berputar-putar sejenak sambil berpikir, aku nih dandan buat siapa? Untuk Pamugaran, atau… heh! Laki-laki lainnya yang berkacamata hitam ikut tersenyum mengejek. Cepat Rayun menggeleng. Tidak, tidak untuk siapa-siapa.
Aku berdandan ya untuk diriku sendiri, biar terlihat terawat gitu deh! Pikirnya. Rayun tertawa kecil sambil berlari ke garasi. Bergegas dia berangkat menuju apartemen Pamugaran di Citraland.
Rayun Wulan mengetuk pintu tiga kali, lalu menunggu.
Dia btau Pamugaran ada di dalam. Kelihatan dari suara sayup televisi yang dihidupkan. Ditengoknya arloji. Baru jam delapan. Masih pagi. Tetapi taka pa. Pamugaran pasti belum sempat sarapan, sama dengan dirinya. Jadi ada peluang untuk mengajaknya makan di luar.
Rayun mengeluarkan hape dari saku celana, dan memijit nomor hape Pamugaran. Misscall. Benar, sebentar kemudian pintu apartemen Pamugaran terkuak lebar. Wajah pria tampan tersembul dari dalam, tertawa lebar dengan mata berbinar.
“Hai!” Rayun membalas tawanya dengan senyum riang.”
“Baru bangun ya?”
“Aaah tidak. Ayo, masuklah Yun. Aku sudah siap untuk makan luar bersamamu.”
“Kok pemikirannya bisa sama?”
Rayun melangkah masuk dan secepat itu pula kedua matanya menangkap sepasang lilin merah yang menyala mengapit sekuntum mawar merah yang mekar dengan cantiknya dalam sebuah jambangan Kristal.
Pamugaran menutup pintu.
Mengikuti langkah Rayun menuju ke meja lilin.
“Aku tau kau pasti datang pagi ini,” katanya.
“darimana kau tau?”
“Dari bau tubuhmu yang membaur dengan udara kamarku.”
“Mulai deh, rayuannya..”
“Apa gadis setegar dan semandiri kau bisa dirayu?”
Pamugaran mengulum senyum, membuat Rayun sedikit meremang. Ada yang aneh dalam kamar apartemen ini, pikir Rayun. Seakan-akan kedua kakiku gamang melangkah masuk tadi. Aneh, tetapi apa?
“Bunga mawar itu cantik sekali,” kata Rayun tiba-tiba.
Pamugaran tercekat.
“Apa yang sedang kau lakukan dengannya?” tanya Rayun lagi sambil menatap tajam Pamugaran. Agaknya dia tau ada sesuatu yang dikerjakan orang dengan memasang sepasang lilin merah di meja altar dengan sebatang mawar merah yang mekar. Rayun pernah membacanya, entah dimana dia lupa.
Pamugaran mendekat.
Memasukkan kedua tangan ke saku celana. Rayun melihat tak ada sedikitpun keraguan dalam setiap gaya dan langkah Pamugaran. Dia begitu tenang, setenang air gunung.
“Tidak ada,” jawab Pamugaran santai. “Hanya sebuah upacara pagi yang menjadi kebiasaan saja.”
“Sebuah upacara ritual?”
“Tidak. Bukan. Seperti yang kukatakan tadi…”
“Apakah itu begitu penting bagimu?”
“Mungkin penting. Mungkin juga tidak. Tergantung.”
“Tergantung…pada apa?”
“Yaaah, kalau mood aku jelek dan inspirasiku mampet, aku biasanya melakukannya.”
Rayun diam, tampak berpikir-pikir.
“Kau tidak suka?” tanya Pamugaran menghentikan pikiran Rayun yang mengembara kemana-mana.
“Apa harus kumatikan nyala lilin lilin itu?” tambah Pamugaran.
“Tidak. Jangan. Biarkan saja begitu, kelihatannya romantis.”
Rayun memutar tubuh. Menatap lurus kedua bola mata Pamugaran yang tengah berdiri amat dekat dengannya. Bibir Rayun terbuka seperti hendak mengatakan sesuatu, namun terhenti, sehingga terkesan seperti mengundang untuk dikecup. Dada Pamugaran berdebar. Dia menunduk, membalas tatap mata Rayun yang seakan menantang dan mengundang.
He! Apakah benar, itu sebuah undangan? Pikir Pamugaran.
Lelaki itupun kian merapat. Kini dirasakannya sebagian tubuhnya menyentuh tubuh Rayun. Perlahan namun sigap, direngkuhnya pinggang gadis itu dengan pelukan ringan yang tidak terlalu possesif. Dirasakannya sebentar. Gadis itu nampak bagai liliput dibanding dirinya yang perkasa dan setinggi menara. Rayun tidak memberontak, tidak juga memprotes. Begitu pasrah, begitu lembut.
“Matamu begitu mempesona dan penuh misteri, “ kata Pamugaran .
“Berapa banyak gadis pernah mendengar kata-kata itu?”
“Kau pikir begitu?”
“Apa lagi? Laki-laki seusia dan sesukses dirimu akan dengan mudah mengelabui gadis-gadis tak berpengalaman seperti aku, kan?”
“Begitu burukkah penilaianmu tentang diriku?”
Rayun Wulan mengulas senyum di bibir. Mata hitam Pamugaran yang setenang telaga membalas tatapan penuh gairah yang dirasakan Pamugaran lewat mata Rayun. Rayunpun melihat gelombang asmara saling berkejaran di dalam bola mata Pamugaran. Datang menghampiri, deras berpacu, dan siap membawanya hanyut. Tiba-tiba Rayun Wulan menyadari bahwa wajah di depannya mendadak kabur, makin kabur, makin dekat ke wajahnya.
Ah.
Rayun ingin meronta. Namun terlambat. Dekapan Menara Eiffel yang sekokoh jepitan kaki gajah itu tak lagi mampu diurai. Suaranya hilang. Tenaganya terbuang. Ah, sudahlah, pikir Rayun. Tak jadi apa. Siapa ambil peduli? Dia kemudian membiarkan bibirnya lumat dalam bibir Pamugaran. Namun rasanya semua itu bagai mimpi bagi Rayun, sebab di dalamnya tak dia lihat siapa yang tengah memagutnya, namun pria lain. Pria dengan mata Rajawali seakan membawanya melayang ke awan bersama sentuhan bibir yang mengulum. Terasa manis. Tiba-tiba Rayun begitu rindu kepada lelaki itu. Rasa rindu menggelayut, mirip daun daun kapuk yang vlepas dari tangkai, melayang jatuh tak pernah samapai.
Pamugaran merasakan Rayun membalas ciumannya. Mulutnya menggigit dalam mulut Pamugaran. Bagai minum tuak tua, Pamugaran ingin terus, terus, dan terus. Berkendi-kendi. Namun tiba-tiba seruni kecil dalam dekapannya itu meronta kuat, mendorongnya dan berusaha lepas. Pamugaran tak ingin memaksa. Dia membiarkannya lepas. Sesaat mereka saling berpandangan. Kini muncul sesuatu yang galak di mata Rayun. Mata itu mendadak seperti mata seekor kucing hutan yang terluka.
“Maaf, aku…”
Pamugaran ingin meminta maaf, tapi entah kenapa berada di bawah sorot mata seperti itu tiba-tiba dia merasa bagaikan orang dungu yang kehilangan kata-kata.
“Pam,…” Suara Rayun terdengar gemetar. “Aku khawatir kita ini masih terlalu dini untuk melakukan ini. Kita baru saja berteman. Persahabatan itu baru saja terjalin. Aku hyanya merasa kita masih harus belajar mengenali perasaan kita masing-masing. Rasanya apa yang kita lakukan barusan hanyalah sesuatu yang kurang pantas. Maaf Pam, aku…”
“”Itukah pendapatmu?” suara Pamugaran terdengar pahit.
“Barangkali begitu. Jangan tersinggung, Pam.”
Rayun tak lagi menatap bola mata yang mendadak kelabu di depannya.
Pamugaran menghela nafas.
“Asal kau tau, aku bersungguh-sungguh dengan apa yang barusan kita lakukan. Orang seumur aku, pantaskah kalau cuma bermain-main? Kukatakan semua ini kepadamu agar kau mengerti bahwa aku akan terus berusaha, akan kubuktikan kesungguhanku kepadamu. Jujur saja, aku sedanag ingin memiliki seseorang. Dan seseorang itu adalah kau.”
“Tetapi,…”
Pamugaran menutup mulut Rayun dengan telunjuk, dan menggeleng.
“Jangan bicara apa-apa lagi,” katanya.
“Aku hanya ingin menjelaskan tentang sesuatu…”
“Tak ada yang perlu dijelaskan,” sahut Pamugaran seraya tersenyum. Diambilnya selembar tissue dan mengelap bibirnya dengan santai.
Lanjutnya, :
“Keindahan yang baru saja kurasakan akan hilang bila terlalu banyak penjelasan dibelakangnya, kecuali kalau ada laki-laki lain yang kau inginkan. Bukan aku.”
Rayun Wulan mengeluh diam-diam.
Justru itu, desahnya dalam hati. Justru karena ada bayangan lain selain dirimu yang lebih kuat menguasai hatiku ini, Pam! Dia ada di belakangmu saat kau menciumku. Dia ada dalam mulutmu saat kau melumatku. Laki-laki itu adalah dia. Dia yang memiliki karisma jauh melebihi lelaki manapun yang pernah kukenal, dia yang mampu meruntuhkan gunung-gunung! Dia: Aryo Wangking!

(bersambung)

Jumat, 19 Februari 2010

TROWULAN (5)


REINKARNASI.

Tanpa kedip Rayun menatapnya. Serasa pernah dia mengenal lelaki itu. Bukan. Bukan di atas perahu motor beberapa jam yang lalu, namun entah kapan. Dulu sekali. Rayun Wulan tak bisa memprediksi kapan waktunya. Namun dia merasakan bahwa suatu ketika, dulu, dia pernah sangat akrab dengan pria gagah itu.
Laki-laki berkumis tebal itu naik ke tritisan. Melepas kacamata dan duduk bersila bersama yang lain. Untuk beberapa saat matanya yang tajam dan penuh percaya diri menatap orang-orang di sekelilingnya. Mui segera memperkenalkannya pada Pamugaran. Saat itulah Pamugaran tau bahwa inilah orang yang disebut-sebut Mui sebagai ahli tirakat sekaligus ahli purbakala itu. Pria keren itu juga dikatakan oleh Mui sebagai seseorang yang sudah seperti saudara sendiri bagi para nelayan di Puger. Itu artinya, dia memiliki pengaruh besar bagi masyarakat setempat.
Aryo Wangking menganggukkan kepala dengan sopan kepada Pamugaran maupun Rayun Wulan. Sekilas tatap matanya singgah dan berhenti beberapa saat di wajah rayon Wulan. Pandangan mata mereka bentrok sekejap. Hanya sekejap. Namun Rayun Wulan merasakan seakan tersengat arus listrik ribuan volt. Tubuh dan jiwanya bergetar. Dadanya gemuruh. Namun sesaat kemudian dia menyaksikan mata rajawali itu beralih ke pantai yang membuncahkan air laut.
Pamugaran menyalaminya dan mengucapkan rasa terimakasih atas pertolongan Aryo Wangking kepada Rayun Wulan. Aryo membalas ucqapan itu dengan seulas senyum tipis. Sambil menyulut rokok, dia menjawab enteng,:
“Itu bukan apa-apa. Kita ini memang diwajibkan untuk saling tolong menolong antara sesama manusia selagi bisa melakukannya. Kalau saja semua kebaikan saling diungkapkan, maka tawa kita jadi berderai. Sebab kebaikan yang kita anggap tinggi di dunia ini, mungkin terendah di alam lain. Betul, tidak?”
“Wah, ternyata mas Aryo ini bukan saja ahli tirakat atau ahli purbakala, tapi juga ahli filsafat,” jawab Pamugaran mengobral senyum.
“Masa? Rasanya kok biasa saja. Merokok, Mas Pam?”
“Terimakasih, saya tidaka merokok.”
Dewa Pamugaran melihat betapa nikmat pria itu menghisap rokok. Dengan sembunyi-sembunyi Rayun ikut memperhatikannya. Dengan asyik dia melihat bagaimana gerak bibir pria itu berbicara, tersenyum, atau saat menyedot rokok. Rayun tidak sadar bahwa terkadang Aryo Wangking dengan sengaja memergokinya dan membalas tatap matanya dengan tajam. Memagut dengan kuat. Dan seakan terhipnotis, Rayun Wulan seperti bingung, tak bisa melepaskan tatap matanya dari mata rajawali itu.
Kalau sudah demikian, Aryo Wangkin akan tersenyum dalam hati. Dia bukannya tak tau tentang yang dirasakan oleh Rayun Wulan saat itu. Aryo mengerti betul, mengapa gadis itu melihatnya dengan pandangan mata seperti itu. Itu karena gadis itu merasakan bahwa mereka ini pernah amat dekat, entah kapan. Aryo tahu, siapa di balik semua itu. Dalam diri Rayun Wulan, ada Rara Ireng. Aroma tubuh Rayun Wulan yang tercium oleh Aryo Wangking adalah aroma tubuh Rara Ireng, kekasihnya pada jaman yang tak terbayangkan oleh pikiran manusia biasa.
Aryo Wangking menyadari, semua itu karena sebuah kelahiran kembali dimana alam pikir manusia yang sudah meninggal lahir kembali ke badan wadag seseorang. Dalam hal ini ke badan wadag Rayun Wulan. Kelahiran kembali semacam itu disebut reinkarnasi atau rebirth, yang punya hubungan erat dengan karma. Bila seseorang yang berada di suatu tempat asing, tiba-tiba merasakan seperti pernah ada di tempat itu sebelumnya, ada kemungkinan dia memang pernah ada di tempat itu pada masa lalu. Artinya, dia pernah hidup dan akrab dengan tempat itu pada masa kehidupannya yang lampau. Kalau saja orang itu mau melakukan samadi atau meditasi dan mencoba menggali kenangan masa lalunya, mungkin saja dia akan bisa mengetaui dengan lebih jelas. Baik Aryo Wangking maupun Rayun Wulan telah merasakannya kini, bahwa mereka pernah bertemu di masa yang lalu. Hanya saja bagi Rayun Wulan, dia tidak bisa menjelaskan pada dirinya sendiri tentang perasaan aneh yang dirasakannya itu. Rasionya sudah terbiasa menatap kenyataan ketimbang kepada hal-hal yang sulit diterima oleh akal sehat. Dia terdidik dalam satu keluarga modern yang tidak percaya akan hal gaib yang sifatnya takhayul.
Aryo Wangking menghela nafas panjang. Dia menundukkan wajah ke lantai. Jemarinya menjentikkan abu rokok ke dalam asbak. Matanya memejam dan mulai berkonsentrasi ke satu titik yang menghubungkan dua dimensi alam yang berbeda. Maka dalam sekejap, suasana di sekitarnya menjadi sunyi. Satu kekuatan maha dahsyat menyeretnya masuk ke satu suasana yang jauh berbeda.
Dia merasa berada di tengah sebuah keramaian. Di tengah berpuluh-puluh prajurit dan pengawal kerajaan. Dilihatnya di situ ada Rakryan I Hino, Rakryan I Halu, Rakryan Maha Menteri I Sirikan, dan beberapa Darmadyaksa. Dirinya sendiri berpakaian kebesaran selaku Rakryan Mahapatih Hamengkubumi, berdiri tak jauh dari Raja Sri Jayakatyengrati Ripujaya.
Hari itu adalah hari Sabtu manis, tanggal 15 bulan genap Srwana, Wuku Medangkungan tahun 1223 Caka, di desa Adan Adan. Pada hari itu Raja berkenan membebaskan tanah dan sawah di desa Adan Adan dari kewajiban membayar pajak. Hadiah itu diberikan kepada resi atau pendeta karena dianggap telah berjasa terhadap Raja, serta bertingkah susila taat menjalankan agama.
Raja Jayakatyengrati Ripujaya (Prabhu Brawijaya Pertama) memerintahkan dibuatkan sebuah batu peringatan atau sasangkala yang terbuat dari logam dimana dituliskan nama Raja sebagai pimpinan kerajaan dan nama tiga istrinya, yakni Sri Bhuwanaswari, Sri Rajendradewi, dan Pradnya Paramita Jayandradewi. Prasasti itu kemudian ditancapkan di Kalitidu.
Sebagai penerima hadiah, Resi Wanagada kemudian mempersilakan Sang Prabhu beserta rombongan untuk singgah di padepokannya sekadar menikmati hidangan yang telah dipersiapkan dan disajikan oleh dua orang putrinya, Ni Wringin Ireng dan Ni Rara Ireng. Sekaligus Sang Resi ingin menawarkan dalam situasi terselubung, kepada Raja, kedua putrinya tersebut untuk dipersunting sebagai garwa paminggir (selir) Paling tidak, salah seorang dari mereka bisa memenuhi selera sang Raja. Tentu, Sang Prabhu sangat berkenan untuk singgah. Sang Prabhu juga ingin memperkenalkan salah satu bayangkari kinasihnya, Nambi, atau Rakryan Mahapatih Hamengkubumi, kepada kedua gadis itu.
Pada saat itulah Nambi sangat terkesan melihat Ni Rara Ireng. Gadis itupun tampaknya juga tertarik kepadanya. Ni Rara Ireng tau betul siapa Nambi yang kini menjabat sebagai Mahapatih kerajaan. Pria gagah itu sekarang adalah Senapati yang banyak dibicarakan orang sebagai salah satu Senapati Raja yang amat berjasa kepada Sang Prabhu saat beliau harus menyingkir dari Keraton Singasari karena dikalahkan oleh Kerajaan Gelang Gelang.
Pada saat itu, Nambi, Lembu Sora, dan Ranggalawe, kemudian diikuti Rasemi dan Rakuti, adalah teman-teman sinarawadhi bagi Sang Prabu yang kala itu masih bernama Raden Nararia Sanggrama Wijaya. Para Senapati itulah yang menemani beliau hingga naik tahta pada tahun 1215 Caka dan mendirikan sebuah kerajaan baru bernama Majapahit. Nama-nama seperti Nambi, Lembu Sora dan Ranggalawe pada saat itu begitu mashur. Hingga tak heran apabila pada detik itu juga, Ni Rara Ireng jadi kasmaran kepada Nambi, sang Rakryan Mahapatih Hamengkubumi.
Namun rupanya itu adalah awal dari sebuah malapetaka bagi kehidupan batin Rakryan Mahapatih Hamengkubumi. Karena ketika sang Resi memperkenalkan kedua putrinya agar sang Prabhu memilih salah satu diantaranya, sang Raja justru menerima keduanya untuk diambil sebagai garwa paminggir. Celakanya lagi, Ni Rara Ireng dengan berani menolak kendati hanya dihadapan ayahandanya, Resi Wanagada. Ni Rara Ireng rupanya tak rela bila harus dijadikan selir seorang Raja Gung Binathara seperti Prabhu Jayakatyengrati Ripujaya. Dia lebih suka menjadi istri satu-satunya bagi seorang Mahapatih seperti Nambi. Sayang, kalau saja Baginda tau pastilah beliau dengan senang hati akan memberikan putri Wanagada itu untuk Rakryan Mahapatih Hamengkubumi. Tetapi Baginda tidak mengetauinya, dan sudaha memutuskan akan mengambilnya sebagai garwa paminggir. Sang Prabhu kemudian berkenan meninggalkan desa Adan Adan dan beerjanaji suatu hari nanti akan menjemput kedua putrid Wanagada dengan mengutus seorang Senapati dan beberapa pengawal dalam satu upacara resmi yang megah.
Suratan Dewata berbicara lain.
Pada kenyataannya, satu kali dalam hidupnya, Nambi tak dapat menolak kodratnya. Dia selalu merasa gelisah bila tak punya kesempatan bertemu dengan kekasih hatinya, Ni Rara Ireng. Dia jadi pandai mencuri-curi waktu keluar dari istana untuk pergi ke Adan Adan.
Awal dari sebuah percintaan itu dirasakan sebagai sebuah petualangan yang amat menggairahkan. Gairah itu menggebu. Rasa rindu kian lama kian menyala, dan keinginan untuk saling jumpa yang terus memburu merupakan daya tarik yang amat memikat.
Waktupun terus berjalan. Tiba saatnya bagi Sang Prabhu mengadakan suatu upacara pernikahan yang walau tidak besar-besaran karena bukan perkawinan utama melainkan perkawinan dengan garwa paminggir, bagi seorang Raja tentu saja tetap megah. Sang Senapati kinasih, Nambi, diutus menjemput dua gadis dari Adan Adan itu. Dengan beberapa puluh pengawal teerpercaya, mereka berangkar ke Adan Adan. Tetapi sesampainya di sana, NiRrara Ireng ternyata menolak keras untuk dibawa ke istana. Tentu saja hal itu merupakan makar. Karena titah Raja adalah hukum dan undang-undang yang tak terbantahkan.
Nambipun merasakan dunianya kiamat. Tak luput Ni Rara Ireng juga merasakan dunianya tamat. Ketika mereka berterus terang kepada Sang Resi, Resi itu jadi amat terpukul.
“Jadi inilah yang kalian lakukan di belakangku?” tanya Resi Wanagada.
“Maaf,” lanjutnya arif. “Ingsun sudah tidak punya kekuatan apa-apa lagi bagi putriku Rara Ireng. Kalau sudah dikehendaki Dewata Agung untuk menjadi garwa paminggir Sang Agung Binathara, kita tidak bisa menghalanginya. Kita tak bisa berbuat apa-apa selain menyerahkannya kepada Dewata Agung dan berdoa untuk kebahagiaannya.”
Nambi, Sang Rakryan Mahapatih Hamengkubumi, merasakan dadanya pecah.
Inikah akhir dari semua mimpinya? Serasa bagai sekuntum duri yang hidup abadi dalam hati. Bagai pelangi dalam mimpi. Bagai ancaman dalam harapan. Bagai tuba dalam asmara. Nambi merasa seperti mereguk racun. Bingung di setiap mimpinya. Seakan akan menyusur dalam gelap. Maka bunga-bunga cinta itupun bagai kunang kunang kesiangan, pucat pasi di dalam senyap.
Keesokan hari, Sang Resi membangunkan putrinya karena dianggap terlalu lama mempersiapkan diri sementara para pengawal sudah menunggu. Saat masuk ke dalam bilik Rara Ireng, sang Resi bagaikan diguncang badai. Seluruh desapun geger. Semburat!
Ternyata Rara Ireng memilih jalannya sendiri. Dia merelakan jiwa dan raganya sebagai tumbal. Tubuhnya ditemukan terbaring di peraduan dengan sebilah patrem kecil menembus ulu hati. Rara Ireng tewas membawa cinta sejatinya. Sekujur tubuhnya berlumur darah, membawa serat cinta dan kesetiaannya kepada Rakryan Mahapatih Hamengkubumi.
Ketika diberitakan kejadian itu kepada Nambi, satria perkasa itu berdiri gemetar menahan perasaan marah dan kecewa. Kedua tangannya mengepal. Darahnya membeku. Hatinya remuk. Dadanya gemuruh dan menjerit minta keadilan pada Dewata Agung.
Begini mudahkah semua persoalan diselesaikan?
Dia mengacungkan kepalan ke langit, berteriak amat keras. Raungannya mengguntur dan merobohkan pohon-pohon. Mendatangkan angin topan. Meruntuhkan batu dan melibas perbukitan. Dunia bagai dikepung badai. Jalan lurus putus. Angin berputar bagai beliung. Saking kerasnya pusaran angin itu, hingga mampu mengangkat tubuh Nambi ke atas lalu menghempaskannya ke bumi. Langitpun marah. Tubuh Nambi seakan patah, bagai terbakar, hilang bentuk.
Aryo Wangking tersentak.
Dada dan sekujur tubuhnya serasa remuk, sakit semua. Sebuah tepukan di pundak membuatnya membuka mata. Pertama-tama yang dilihatnya adalah wajah Mui yang menyungging senyum. Ah, rupanya dirinya sudah keluar dari alam sana, kembali ke dimensi yang lain. Inilah dunia nyata, dimana sehelai tikar pandan terhampar dan suara debur ombak di kejauhan terdengar sayup.
“Mereka sudah pergi?” tanyanya begitu tak lagi melihat tamu-tamu dari Surabaya itu.
“Baru saja. Ini, mereka meninggalkan kartu nama untukmu.”
Aryo menerima dua lembar kartu nama dari tangan Mui, masing-masing milik Dewa Pamugaran dan Rayun Wulan. Semuanya lengkap dengan nomor ponselnya.
“Untuk apa ini semua?” tanya Aryo acuh tak acuh.
“Barangkali maksudnya agar kau mudah menghubungi mereka. Itupun kalau kau ingin. Sepertinya mereka sudah mulai tau kau bukan sekadar arkheolog biasa.”
“Apa mereka bertanya kepadamu?”
“Tidak. Tetapi gaya dan caramu bersamadi itu yang membuat mereka mulai menebak-nebak. Kau mau menghubungi mereka, atau tidak? Barangkali disitulah nantinya mereka berharap akan tau siapa kau yang sebenarnya.”
Aryo menimang-nimang kartu-kartu nama itu sejenak kemudian memasukkannya ke saku celana.
“Kau sudah melihat apa dalam diri mereka?” tanya Mui kemudian.
“Ah tidak, aku tidak melihat apa-apa. Kenapa?”
Mui tersenyum sambil memilin rokok.
“Tak apa kalau kau tak mau mengatakannya padaku.”
“Kayaknya mereka itu berpacaran ya?”
“Kalau iya, kenapa?” jeling Mui sambil menahan tawa.
“Si Pamugaran itu,…terlalu tua untuk dia.”
“Kalau benar, apa pedulimu? Mereka itu kan sekadar wayang yang tengah menjalani lakonnya. Sementara kita ini Cuma penonton bagi mereka.”
“Memang, apa peduli? Ah, aku pulang dulu Ki.”
Aryo berdiri. Diambilnya bungkus rokok dan geretan dari lantai lalu turun dari tritisan.
“Assalamu’alaikum.”
“Wa alaikumsalam Warahmatullah. Hati-hati di jalan, Yok!”
(bersambung).

TROWULAN (4)


PANTAI PUGER.
Secara geografis, pantai Puger sebenarnya tak terlalu berbahaya karena berhadapan langsung dengan Samudra Indonesia. Ombak besar yang datang akan lebih dulu ditahan oleh pulau Nusa Barung yang teerletak di depan Pantai Puger. Kalau dilihat sepintas panorama pantai, tak terkesan keangkerannya selain semilir angin yang memberikan kesejukan.
Nelayan hilir mudik dengan perahunya melaut. Bukit-bukit di sekitar pantai menjulang menghijau. Tetapi begitu memasuki cekungan sempit saat hendak melewati sebuah gugus karang yang disebut Pelawang Maut, keangkeran mulai terasa. Apalagi bila ombak sedang besar.
Padahal pada musim ikan dimana sedang musim kemarau panjang, permukaan air laut sedang surut. Gugus karang muncul kepermukaan laut laksana gigi-gigi tajam yang siap merobek-robek setiap setiap perahu yang melewatinya. Berbeda dengan saat musim penghujan dimana air laut sedang pasang, gugus karang itu tenggelam dan tidak terlalu membahayakan.
Secara bercanda Rayun telah mengatakan bahwa mereka berdua bukanlah pengail yang berpengalaman memancing di laut. Mereka adalah pemancing-pemancing pemula yang tidak mengenal keganasan laut yang ada. Tanpa dibebani kekhawatiran maupun kecemasan, mereka datang ke Puger, dan meniatkan diri memancing ke laut. Pamugaran menyewa sebuah perahu milik seorang nelayan bernama Mui. Melihat bahwa keduanya adalah orang kota yanag datang untuk peertama kalinya ke tempat itu, tanpa tedeng aling-aling, Mui mengingatkan akan keganasan ombak pada musim ikan seperti itu.
“Memang,” kata Mui. “Pada musim ikan seperti ini kami bisa memanen hasil laut sebanyak-banyaknya. Hanya saja bagi kami para nelayan Puger, kegembiraan menyambut musim ikan terkadang berbaur dengan perasaan was-was. Jangan-jangan ombak juga besar. Terutama bila sampai ke gugusan karang itu, sepintas memang tidak mengesankan apa-apa karena hanya berupa tonjolan karang yang berhubungan dengan daratan. Namun, gugusan itu merupakan satu-satunya jalan menuju ke laut bebas. Hati-hati bila melewatinya. Karena kalau kurang hati-hati, ombak akan menghempaskan perahu kita dan bisa-bisa perahu kita akan karam.”
Mendengar keterangan Mui yang cukup panjang itu, Rayun tiba-tiba menjadi ragu. Namun Pamugaran tetap bersikukuh untuk meneruskan niatnya. Dalam hati, dia samasekali tidak percaya nasib sial akan menimpanya seperti yang dituturkan Mui.
“Baiklah,” kata Mui akhirnya.
“Saya akan menyuruh salah satu anak buah saya untuk mengantarkan kalian.”
“Terimakasih, Ki.”
Menjelang malam, Pamugaran dan Rayun mengikuti beberapa orang nelayan lain ke laut. Angin bertiup lembut. Langit bertabur bintang. Ombak juga tidak terlalu besar, sehingga ketika perahu-perahu itu melewati Pelawang Maut yang dikatakan mereka sebagai pintu gerbang menuju ke Keraton Gaib Sang Penguasa Laut, Nyi Roro Kidul, semuanya berjalan lancar. Dengan selamat, mereka melewatinya.
Setelah semalaman berada di tengah laut dan setelah emndapatkan banyak ikan, mereka bermaksud kembali ke darat. Sebentar lagi matahari akan terbit . Para nelayan memutar perahu menuju ke pantai. Perahu-perahu itu tampak sarat oleh banyaknya ikan yang berhasil mereka tangkap, melimpah ruah memadati perahu. Seakan Ratu pantai Selatan sengaja beermurah hati menghadiahi mereka dengan semuanya itu.
Pamugaran segera mengabadikan sebuah siluet indah di ufuk Timur dengan kamera digitalnya. Warna merah, kuning kunyit dan pucat di sana itu amatlah indah. Perahu berwarna warni dangan layar terkembang perlahan meluncur tenang menuju rumah kembali. Alangkah mempesona. Belum lagi suara celoteh dan nyanyian kegembiraan nelayan, timbul tenggelam disapu angin, membuat suasana kian mengesankan.
Namun semuanya itu tidaqk berlangsung lama.
Secara tiba-tiba dengan tak disangka-sangka angin yang tadinya lembut mengalun, mendadak jadi berhembus kencang. Ombak datang bergulung kian lama kian tinggi. Dengan gemetar, Rayun menatap langit yang berubah jadi kelam. Selapis demi selapis awan hitam berkumpul menyatu bersama mendung. Mendung yang tampak kekenyangan itu bergerak perlahan, lalu turun satu satu bagai amarah. Deras berpacu membentuk butiran-butiran besar yang kemudian jatuh ke permukaan laut. Gerimispun kian deras bersamaan dengan ombak yang kian menggila.
Perahu-perahu itu terombang-ambing. Pantai sudah kelihatan namun ketika melewati cekungan sempit gugusan karang Pelawang Maut, ombak semakin besar dan tak kenal kompromi. Sedetik kemudian baik Pamugaran, Rayun Wulan, dan nelayan pemandu mereka merasa bahwa perahu mereka tiba-tiba terangkat tinggi oleh sebuah ombak besar, lalu terbanting ke kanan.
Sekuat tenaga, Pamugaran mencoba bertahan. Sebelah tangan memeluk pinggang Rayun yang ikut tercebur ke laut, sebelah tangan yang lain masih bertahan memegang tepi perahu. Dengan caranya sendiri Pamugaran ingin menyelamatkan gadis itu, namun ketika sebuah ombak besar menggulung mereka, Rayun Wulan terlepas dari tangannya.
Pamugaran mencoba tidak cepat panic. Dengan menenangkan diri, dia mengyelam, mecari kemana Rayun dibawa hanyut. Dimana dia…? Terus menyelam, berputar-putar, namun sosok gadis itu taak dapat ditemukannya. Tungkainya tetap bergerak hingga nyaris kaku, kadang muncul ke permukaan dan ebrteriak, Rayuuuun…! Tapi bayangannya saja tidak kelihatan. Sampai beberapa nelayan mengangkatnya ke perahu lain dan membawanya ke pantai, Pamugaran tetap saja berontak ingin terus menyelam. Dadanya mulai dirajam perasaan khawatir dan panic. Mulutnya berteriak terus menerus memanggil nama Rayun Wulan. Namun dengan sabar para nelayan itu berusaha membuatnya tenang. Sementara itu, ada dua perahu yang tetap berada di tengah Pelawang Maut. Berputar-putar mencari keberadaan Rayun Wulan.
Rayun Wulan sendiri hampir tidak sadar lagi. Tubuhnya meluncur turun sampai ke dasar. Mengagapai-gapai bagaimanapun, jemarinya tak pernah sampai ke permukaan. Dia hanya mendengar gemuruh air bergulung-gulung di sekitarnya. Namun tiba-tiba tangannya menyentuh sesuatu yang lembut. Jemari..?
Jemari tangankah yang disentuhnya itu? Rayun tidak bisa membuka mata. Dia hanya bisa merasakan, bahwa benda itulah yang menyeretnya hingga dia berhasil memeluk suatu benda panjang seperti pohon kelapa. Rayun memeluknya erat, Dia hanya membayangkan bahwa itu adalah sebatang pohon yang hanyut bersamanya. Rayun merasa beruntung saat dirasakannya benda itu perlahan meluncur ke atas permukaan laut.
Namun ketika sampai ke permukaan dan dia berhasil menarik nafas panjang sambil memuka mata,…
Rayun terperanjat bukan kepalang. Ternyata itu bukan pohon biasa. Benda seperti pohon kelapa itu
ternyata bersisik besar-besar dan berkilau oleh pantulan air. Sisik atau bukan? Rayun hanya melihat seakan ada hamparan keping uang logam yang ditata dengan bagus. Berkilat putih keperak-perakan selayaknya uang logam limaratusan yang baru.
Tiba-tiba Rayun dicekam perasaan takut luar biasa. Perlahan dia memahami bahwa benda itu bukan sebatang pohon kelapa, namun seekor ular yang besar sekali. Pelukannya pada batang panjang itu terlepas. Dia berteriak. Namun benda itu segera menenggelamkan diri, menghilang lagi ke dasar laut.
Segumpal air laut masuk kemulutnya. Kembali Rayun Wulan merasa panik dan terbatuk-batuk. Namun air laut lebih banyak lagi tertelan. Aduh mak! Rasanya sudah mau semaput saja menahan rasa sakit pada tenggorokan dan sumpek di lubang hidung. Rayun semakin lemas. Hampir saja dia menyerah dan bertanya-tanya, apakah seperti ini kematian itu datang? Saat itulah dia merasakan sepasang tangan yang kokoh mengangkatnya ke atas sebuah perahu.Dengan tersengal-sengaal Rayun Wulan menghirup udara sepenuh dada, lega dan syukur masih diberi kesempatan untuk tetap hidup.
Seseorang menyelimutinya dengan selembar selimut tebal kemudian memeluknya arat. Perahu itu ternyata perahu motor, bukan perahu nelayan biasa. Rayun mencoba mengerling. Penolongnya ternyata seoranag le3lakia gagah berkumis tebal. Kedua lengannya yang kuat telah menyelamatkannya dari kematian. Menghangatinya dengan selimut tebal dan pelukan yang cenderung posesif. Seseorang yang lain mengulurkan secangkir teh hangat kepadanya dan bertanya,
“Kau tidak apa-apa?”
Rayun hanya mampu menggeleng. Dihirupnya minuman itu cepat, namun dia bahkan terbatuk keras.
Lelaki gagah di sampingnya mengambil cangkir itu.
“Pelan-pelan saja,” ujarnya. Kemudian disentuhkannya bibir cangkir itu ke bibir Rayun.
Bibir Rayun gemetar menahan dingin dan takut. Tanpa kedip lelaki berkumis itu menatapnya.
“Masih terasa dingin?” tanyanya.
Rayun membalas tatap matanya. Laki-laki itu bertopi koboi, berkumis tebal, dan memiliki sepasang mata rajawali. Kini dia bahkan mengulas senyum tipis di bibirnya yang berbentuk garis.
“A…a..aku melihat … seekor ular…” desis Rayun sambil terus menggigil.
Laki-laki itu mengerutkan kening.
“Ular?”
Rayun mengangguk cepat.
“Did…dia…menggendongku ke atas…”
Laki-laki itu meletakkan cangkir ke lantai perahu. Lalu kembali menatap mata Rayun.
“Itu bukan ular. Itu seekor naga,” katanya hati-hati.
“Apa?” Rayun membalas tatapannya dengan kaget. Bibirnya mengatup menahan gemetar yang tiba-tiba saja membuatnya menggigil. Pria berkumis tebal itu tersenyum seakan-akan ingin menenangkannya.
“Beruntung kau bertemu dengannya,” katanya. “Naga itu bukan sembarang naga. Jaman sekarang, mana ada naga beneran?”
“Lalu.., dia itu, apa?”
“Dia adalah seekor naga siluman penjaga ceruk Pelawang Maut. Orang disini menamai dia Naga Tatmala. Sisiknya putih keperak-perakan. Dia memiliki sepasang tanduk pendek di kepalanya. Rahangnya berjenggot panjang dan besarnya…tidak bisa kau bayangkan. Kalau melihat ciri-ciri fisiknya, kita tau bahwa usia siluman itu sudah ribuan tahun. Sebagai siluman, dia bisa berubah wujud menjadi apa saja. Dia bisa menampakkan diri sebagai seekor naga raksasa, atau bahkan sebagai ular kecil sebesar kelingking. Dia bisa berubah menjadi seorang resi berjenggot panjang, namun bisa menjadi seorang kesatria gagah yang tampan dan perkasa. Dia adalah siluman yang baik. Masih kerabat dekat dengan penguasa Laut Selatan, Nyi Kanjeng Ratu Kidul. Tadi dia sudah berkenan mengentaskanmu dari dasar laut, membawamu ke permukaan. Maka ketauilah bahwa dia akan terus datang secara berkala kepadamu dan akan terus membayangimu kemana saja kau pergi. Terlebih bila kau dekat dengan Laut Selatan.”
Merinding tengkuk Rayun mendengarnya. Dia sudah berusaha keras untuk tidak tampak ketakutan. Kendati dikatakan bahwa Naga Tatmala adalah naga siluman yang baik dan tidak kejam, tetap saja dia naga siluman. Kalau suatu ketika harus berdiri berhadap-hadapan, siapa yang tidak takut? Lantas, apa maksud naga itu akan selalu membuntutinya? Dan apa maksud ucapan lelaki berkumis itu?
“Siapa namamu?” tanya lelaki itu.
“Rayun. Rayun Wulan.”
“Kau datang bersama dengan pria dari Surabaya itu. Siapa namanya?”
“Dewa Pamugaran. Apa dia selamat?”
“Alhamdulillah, dia baik-baik saja.”
“Syukurlah. Terimakasih telah menyelamatkan kami.”
Pria yang tak juga mau menyebutkan nama sendiri itu mengangguk dan membiarkan Rayun duduk agak menjauh darinya. Kini dia membuka sebungkus rokok sambil tersenyum pada Rayun.
“Boleh merokok?”
“Oh, silakan.”
Dengan kalem lelaki itu mencabut sebatang rokok dan menyulutnya dengan geretan Zippo berwarna kuning mas. Ketika menyedotnya, kelihatan sekali kenikmatannya.
“Suatu saat, “katanya kemudian. “Kau akan mengenal Naga Tatmala lebih dalam. Oh, hampir lupa. Kenalkan, aku Aryo Wangking.”
Rayun menerima jabat tangannya. Dia merasakan jabat tangan Aryo Wangking sangat kuat dan menekan, namun tidak menyakitkannya. Ada sesuatu yang hangat mengalir dari telapak tangannya dan merasuk ke jantung Rayun.
“Bagaimana caranya mengenali naga itu lebih dalam?”
“Aku tidak bisa menjelaskannya. Kau akan tau dengan sendirinya.”
Rayun sulit mengerti akan kata-katanya. Dia justru tertarik untuk lebih memperhatikan laki-laki itu ketimbang segala macam perkataannya yang rasanya terlalu muskil untuk dipercaya. Beruntung sekali arus lebih tenang dan berhasil membawa mereka ke pantai. Dari jauh sudah terlihat beberapa orang berdiri di bibir pantai menunggu perahu motor itu merapat. Pamugaran juga ada bersama mereka. Ternyata, sepertihalnya Rayun, para nelayan telah berhasil menyelamatkan Pamugaran. Bersamaan dengan redanya hujan, matahari pagi muncul menghangati persada. Mereka turun, dan beramai-ramai menuju ke rumah Mui yang kemudian mempersilakan Rayun dan Pamugaran mengganti pakaian yang basah. Setelah itu Rayun dan Pamugaran ikut bergabung dengan Mui dan beberapa orang lainnya duduk di teritisan rumah menikmati kopi jahe dan beberapa penganan tradisionil.
“Masih untung Bapak bisa berenang dan berpegang erat pada lambung perahu, kalau tidak…” ujar Mui sambil menatap Pamugaran.
“Ya, saya tau akibatnya kalau saya tidak mampu menguasai diri. Lebih bersyukur lagi karena teman saya ini, Rayun Wulan, juga terlepas dari maut. Padahal ketika dia menghilang ditelan ombak tadi itu, saya sempat putus asa Ki.”
“Itu karena Aryo Wangking. Kebetulan dia baru saja balik dari Pelawangan. Sebetulnya dia itu bukan nelayan, tetapi seorang arkeolog sekaligus ahli tirakat yang sering datang kesini. Entah dimana dia sekarang. Tadi saya lihat jipnya masih ada. Barangkali sedang melihat-lihat perahu yang karam itu. Biasanya ada yang bocor pada lambungnya. Perahu itu harus diperbaiki. Kalau tidak rasanya tak mungkin dipakai lagi.”
“Kalau sudah begitu keadaannya, terus bagaimana Ki?”
“Ya harus dijual.”
“Apakah harus?”
“Masyarakat disini punya kepercayaan bila mengalami musibah di laut, perahunya tidak boleh dipergunakan lagi. Lebih baik dijual saja.” Kata Mui. “Saya sendiri tidak pernah merasa jera dengan kecelakaan yang pernah saya alami beberapa kali. Laut sudah merupakan kehidupan saya. Sebenarnya kecelakaan di laut itu semua nelayan gentar menghadapinya. Tapi karena sudah terbiasa, akhirnya kami memiliki jurus-jurus untuk menangkalnya. Sehingga tak sampai mengalami sesuatu yang tragis. Selama ini yang menjadi korban adalah nelayan-nelayan dari luar Puger. Yang kurang mengenal keganasan gugus karang itu. Seperti Bapak berdua inilah, contohnya.”
Pamugaran tersipu.
“Saya heran, kalau mau berwisata mengapa memilih tempat ini sebagai tempat wisata,” lanjut Mui.
“Itu kesalahan saya,” jawab Pamugaran. “Sebenarnya kami hanya ingin bersenang-senang sedikit sambil memancing, dan saya ingin memotret panorama pagi di laut. Tidak disangka malah mengalami musibah yang nyaris merenggut nyawa.”
“Sudahlah. Semuanya sudah lewat. Kita semua merasakan syukur itu. Bapak berdua telah selamat dari gugus karang yang telah banyak menelan korban itu. Dalam tiga bulan ini saja, sudah duapuluh yang menjadi korban. Tragisnya lagi, ada beberapa mayat yang tidak pernah diketemukan hingga kini. Jadi benar, Bapak datang dari Surabaya?”
“Betul, Ki.”
Mui manggut-manggut sambil terus menghisap rokok klobot kesukaannya. Mereka kemudian tenggelam dalam obrolan yang lebih mengasyikkan, hingga tiba-tiba datang seseoranag dengan langkah mantap tanpa kesan terburu-buru menuju k tritisan rumah Mui.
“Itu dia Mas Aryo,” kata Mui.
Rayun dan Pamugaran menengok ke arah yang ditunjuk. Mereka melihat seorang pria datang dengan wajah angker. Hampir separuh wajahnya tertutup topi koboi berwarna gelap dan sebuah kacamata hitam. Kumisnya tebal, mengenakan jaket kulit dan celana jins. Entah kenapa, begitu melihatnya dada Rayun serentak berdebar kencang.

(bersambung)

Senin, 15 Februari 2010

TROWULAN (3)


Pusat Kebudayaan Perancis.
Gedung kuno nan besar dan luas di Darmo Kali itu sedikit lengang kendati dikabarkan ada Pameran Bersama, lima orang pelukis ternama, di aula. Selesai kursus bahasa Perancis, Rayun Wulan menuju aula. Beberapa lukisan di pajang disana. Sebuah katalog yang dicetak berwarna dan amat bagus disodorkan kepadanya. Beberapa nama pelukis di katalog itu, Rayun sudah pernah dengar. Tetapi yang satu ini…
Hmm, pikir Rayun. Lumayan juga orangnya. Tidak bertampang seperti kebanyakan pelukis, yang satu ini berpenampilan sangat apik. Disebutkan dalam profil pelukis itu, namanya adalah Dewa Pamugaran. Memiliki darah campuran antara Bali-Cina-Italia. Dirinya amat dikenal sebagai seorang yang selalu menerima adanya kemanisan dan kelembutan sebagai kodratnya. Dia tidak pernah menkhianatai isi hati kesenilukisannya yang menghendaki kemanisan dan kelembutan.
Photo wajah yang terpampang dalam halaman katalog tentang pelukis itu menggambarkan bahwa dia adalah pria yang sudah sangat matang. Tersirat di dalam gurat-gurat wajahnya bahwa hidupnya memang hanya untuk melukis. Perawakannya tinggi dan atletis. Berkulit kuning langsat, bermata sipit, berhidung mancung. Bibirnya berbentuk gendewa dan selalu tak pernah berhenti tersenyum. Jelas bagi Rayun Wulan, Dewa Pamugaran adalah sosok yang diciptakan Yuhan dengan begitu sempurna.
Lama Rayun berdiri di depan sebuah lukisan karya Pamugaran yang dipajang dalam ukuran manusia. Gadis itu mengamatinya dengan perasaan kagum. Lukisan itu menggambarkan potret seorang gadis Bali yang tengah sibuk menyanggul rambutnya dan menyuntingkan sekuntum bunga kamboja. Memang, dalam lukisan itu Rayun Wulan melihat adanya sebuah gubahan gambar ihwal alam besar yang sangat puitis, yang acap ditemukan dalam lukisan Tiongkok. Bersamaan dengan itu, dia dihadapkan pada bentuk yang mengacu pada realitas. Sementara di sisi lain ada kecermatan sungging ala seni dekoratif tradisional Bali yang tersirat di dalamnya. Tiga unsure daya pikat itu secara stimulant hadir dalam beberapa karya lukis Dewa Pamugaran yang dipamerkan pada saat itu.
Maka ketika pelukis itu mendatangi dan mengulurkan tangan untuk berjabatan dengannya, Rayun menyambutnya dengan antusias. Mereka saling memperkenalkan diri, berbasa-basi sebentar, kemudian mulai menjalin percakapan yang akrab melalui dunia seni yang kebetulan sangat dipahami oleh Rayun Wulan.
Rupanya Dewa Pamugaran adalah orang yang mudah berkomunikasi. Dia enak diajak bicara, bukan cuma dalam hal seni lukis, namun dia juga handal dalam membangun percakapan tentang berbagai hal dengan suasana yang nyaman. Bahkan mereka dengan santai sudah memanggil nama masing-masing tanpa embel-embel lain. Rayun memanggilnya Pam, dan Pamugaran memanggilnya Yun. Itu kesepakatan mereka. Dan mereka menikmatinya tanpa risih.
Pamugaran menunjuk lukisan gadis Bali itu dengan telunjuk.
“Kau suka lukisan itu?” tanya Pam.
“Sangat suka. Lukisan itu menurutku bagus sekali. Bukan Cuma ini yang aku suka, tapi dari lima lukisanmu yang ada di pameran ini, aku suka. Tetapi,…lukisan ini, berjudul…” Rayun membuka katalog. Mencari-cari judul lukisan yang terpampang di depannya itu.
“Ni Darni,” cetus Pamugaran cepat.
“Ya, lukisan Ni Darni ini kelihatan lebih indah dari yang lain. Apakah dia gadis model kesayanganmu, Pam?”
Pamugaran tersenyum.
“Memang beberapa kali aku melukisnya. Dari lima yang ada di sini, empat diantaranya adalah tentang Ni Darni. Kalau kau bertanya padaku apakah dia gadis model favoritku,…mungkin saja kau benar. Apa kau sudah melihat lukisan tentang Ni Darni yang lain?”
Merekia berbicara sambil berjalan berkeliling. Memang tidak hanya lukisan Pamugaran yang dipamerkan, namun ada empat pelukis lain dari Surabaya dan Bali yang ikut berpameran di gedung itu. Rata-rata dari mereka sudah punya nama.
Kini mereka berdua berdiri di sebuah lukisan yang lain tentang Ni Darni. Posenya lebih menggairahkan daripada yang lain. Kali ini gadis dalam lukisan itu (masih tetap) menata sanggul. Namun dengan payudara yang terbuka. Kedua lengannya terangkat ke atas, menyunting kembang goyang, sementara kedua matanya yang memanjang kesamping mengerling dengan jelingan memikat.
“Astaga, ini indah sekali, Pam…”
“Bibirnya, kau lihat? Sangat mengundang, bukan?”
“Mantap…!”
Rayun tersenyum penuh arti. Dia menoleh ke arah Pamugaran di sampingnya. Beberapa detik lamanya dia mengamati senyum yang terbias di bibir Pamugaran. Dari hasil pengamatannya, dia tahu lelaki paruh baya ini pernah kasmaran pada gadis dalam lukisan itu. Adakah hubungan mereka sangat istimewa?
“Sebentar,” kata Rayun. “Sepertinya kau mencintai dia. Benarkah?”
Mata sipit yang menawan itu seakan terkejut. Sadar tak mampu lagi menyembunyikan isi hati, lelaki paruh baya itu tertawa lepas.
“Aku? Mencintainya? Hoho. Kenapa kau beertanya seperti itu?”
“Kenapa pula kau seakan terkejut dan malu mengakuinya? Bagiku, tidak aneh bila seorang pelukis mencintai modelnya.”
“Bisa jadi begitu, bagi pelukis lain. Tapi, bagiku tidak.”
“Oh ya? Kau yakin? Padahal banyak juga penulis novel jatuh cinta pada tokoh dalam tulisannya. Nggak usah malu mengakuinya. Apalagi yang satu ini: Ni Darni. Aku jadi berpikir, bagaimana cara kau melukisnya? Apakah begitu saja seperti apa adanya atau dibumbui dengan daya imajinasi?”
Pamugaran menatap mata Rayun lekat-lekat. Tidak pernah disangka, gadis belia ini tahu betul soal lukisan dan pelukisnya. Mendadak saja Pamugaran merasa mulai menyukainya. Lelaki bertubuh lampai itu memasukkan kedua tangan ke saku celana, menghela nafas sebentar, kemudian katanya,:
“Hampir semua karyaku sering dianggap cuma menggelar eksotisitas saja bahkan sering dikecam sebagai penganut visi yang tidaka realistik, dan semata-mata bertujuan komersial. Menurut para kritisi, karya-karyaku hanya menawarkan sesuatu yang bagus-bagus saja atau yang enak-enak. Yang dirasa hanya cocok untuk selera turis yang akan membawa lukisan-lukisan itu sebagai souvenir ke negaranya. Aku bahkan disindir sebagai pelaku seni yang terjebak dalam komersialisme karena banyak menghasilkan lukisan dunia penari yang harum dan eksotik. Memang sih, selama duapuluh tahun tinggal di Bali, Bali tak pernah lepas dari pandanganku. Bali yang teduh, tenang dan manis. Apa boleh buat kalau kemudian aku melukis hal-hal yang turistik untuk obyek lukisanku. Rasanya bukanlah hal yang aneh. Sebab: adakah di Bali yang bukan obyek turisme?”
Rayun Wulan merasa jawaban Pamugaran yang panjang lebar itu tidak nyambung dengan pertanyaannya tentang perasaannya sebagai pelukis dengan model lukisannya. Tapi, tak apalah. Barangkali itu merupakan sebuah rahasia paling dalam yang tak ingin diceritakan pada orang lain.
Mereka kemudian kembali berjalan menyusuri sudut-sudut gedung CCCL (Centre Culturel et de Corperation Linguistique) nan luas , melihat-lihat berbagai lukisan yang terpajang di dinding.
“Kau tidak keliru kalau itu adalah manifestasi dari kejujuran kesenilukisanmu,” kata Rayun Wulan sambil menjajari langkah Dewa Pamugaran. “Aku melihat hanya lima lukisan milikmu yang dipamerkan. Biasanya berapa lukisan yang kau ikutkan dalam pameran bersama seperti ini?”
Pamugaran mengangkat bahu.
“Tidak banyak. Tetapi dalam setiap pameran hampir selalu tidak bersisa. Aku pamerkan lima, mereka minta tujuh. Aku pamerkan tujuh, mereka minta sepuluh.”
“Oh ya? Biasanya kelarisan karya akan menyebabkan seorang pelukis tidak memiliki karya bermutu di rumahnya. Bagaimana, apakah relitas seperti itu juga hinggap dalam dunia senimu?”
“Tentu saja tidak. Kelarisan selalu kuimbangi dengan hasrat menabung karya untuk koleksi pribadi. Aku menyimpan tak kurang dari limapuluh karyaku sendiri, di rumah.”
Rayun tersenyum sambil manggut-manggut. Mereka terus mengobrol, hingga tak terasa waktu sudah menjelang siang.
Pamugaran menengok arloji di tangannya.
“Sudah jam satu. Bagaimana kalau kita break dulu? Ayo, kutraktir kau makan.”
“Ah, tidak usah. Terimakasih.”
“Jangan menolak. Perkenalan ini harus dirayakan sedikit. Sebab jarang aku mendapat simpati besar seperti ini dari pengunjung pameran. Kau suka es krim? Aku tau tempat yang nyaman.”
“Kau masih suka es krim, Pam?”
“Kau pikir, apa? Walau sudah berumur, aku sehat, tidak mengidap diabetes atau kolesterol. Kita akan teruskaan mengobrol sambil menikmati makanan kecil. Bagaimana, setuju?”
Rayun Wulan tertawa kecil melihat antusiasme Pamugaran, rasanya tidak tega untuk menolak.
“Baiklah, kita mau kemana?”
“Nanti kau akan tau tempat favoritku.”
Pamugaran tertawa senang. Tanpa rasa canggung diraihnya tangan Rayun dan menyeretnya keluar. Rayun benar-benar tak bisa menolak ajakan itu. Dia ikut saja tanpa protes. Rasanya memang sudah seperti teman lama saja , gaya akrab dan familiar yang ditunjukkan Pamugaran membuat Rayun merasa nyaman saja saat duduk disampingnya dalam sebuah mobil mewah berwarna merah marun milik Pamugaran.
Di café favorit Dewa Pamugaran, mereka duduk berhadapan. Dipisahkan oleh sebuah meja kecil berbentuk bulat yang dihiasi jambangan mungil dengan setangkai mawar merah yang manis di tengahnya.
“Jadi kau tinggal di Ubud sudah duapuluh tahun? Sebelumnya kau tinggal dimana?” tanya Rayun sambil memasukkan es krim sesuap demi sesuap ke mulutnya.
“Sebelum itu aku menyelesaikan sekolah di Surabaya. Mula-mula aku mencoba melukis dengan alat-alat yang sederhana. Aku mencoba dengan obyek-obyek yang sederhana pula. Aku berusaha melukis dengan obyek yang sederhana namun bisa menghasilkan lukisan yang luar biasa.”
“Dan kau berhasil?”
“Mula mula memang, aku merasa gamang. Hampir saja aku tak percaya pada kemampuanku. Sampai lulus SMA, aku masih terus belajar melukis dengan cat minyak dan belajar anatomi manusia. Aku tidak meneruskan ke perguruan tinggi. Aku bekerja. Apa saja, asalkan bekerja. Di tengah kesibukan itu aku terus belajar melukis. Setelah punya modal untuk bekerja sebagai pelukis, aku berangkat ke Bali. Di sana aku berkembang dan bertekad menjadi seorang professional dalam seni lukis. Kemudian aku bereksperimen dengan cat air di atas kanvas. Setelah bertahun-tahun, akhirnya aku melahirkan karya karya lukisan yang khas. Dengan berteknik seperti itu aku terus berjalan di jalur seni rupa.”
“Kemudian berkeluarga?”
“Pernikahanku kandas di tengah jalan, bayiku meninggal begitu dilahirkan.”
“Oh, maaf.”
“Tidak apa. Kau sendiri bagaimana?”
“Aku sih biasa saja. Tumbuh sebagai anak tunggal, lulus setahun lagi. Cuma itu. Nggak ada yang istimewa.”
“Pacar?” selidik Pamugaran. Rayun tertawa lebar.
“Belum lahir, ‘kali…hehehe.”
“Selain kuliah, apakah kau tidak melakukan apa-apa, berorganisasi atau apa?”
“Aku tak suka berorganisasi. Aku buta soal politik. Hanya saja, selain sibuk di perkuliahan, aku mencoba jadi penulis.”
“Untuk Koran?”
“Novel. Aku menulis novel. Kalaupun untuk Koran itu adalah cerita pendek. Selebihnya, ya…tidur.”
Mereka berdua tertawa.
“Oke, selain itu, apa lagi?”
“Mmm, apa ya? Oh ya, aku suka memancing bersama teman-temanku.”
“Bagus! Aku juga memancing. Bagaimana kalau suatu hari nanti kita mancing sama-sama?”
“Boleh. Tapi dimana?”
“Pokoknya di tempat yang asyik.”
“Iya, iya. Dimana?”
“Kalau sedang musim kemarau panjang seperti ini biasanya sedang musim ikan di Pantai Puger. Gimana, kau setuju kita kesana?”
“Kapan?”
“Minggu depan.”
“Itu baru asyik.”
“Kau suka?”
“Entahlah. Aku belum pernah mancing di laut. Kau?”
“Sama.”
Rayun tergelak.
“Ampuuun,” katanya di tengah tawa. “Kupikir kau sudah jago!”
Tawa mereka pecah bersama.
“Kau tau, ada kisah unik bagi para pengail baru,” kata Rayun dalam sisa tawanya.
“Ceritakan padaku.”
“Katanya, ikan-ikan tidak mau menggigit umpan yang dipasang oleh pengail-pengail baru yang belum berpengalaman.”
“Kenapa, memang?”
“Karena mereka belum saling berkenalan.”
“Hahaha…” Tawa Pamugaran meledak lagi.
“Baiklah,” kata Pamugaran. “Kalau tak ada seekor ikanpun mau menggigit umpanmu, biarlah aku menyelam sampai ke dasar."
“Untuk apa?”
“Untuk menggigit umpan di mata kailmu itu.”
Kali ini tawa Rayun yang meledak. Sambil terkekeh-kekeh Rayun membalas kata-kata Pamugaran,:
“Kalau begitu, kita harus datang siang-siang.”
“Kenapa?”
:”Ya kita harus datang pada saat mereka sedang lapar.”
“Siapa tau justru makan siang mereka lebih lezat dibanding umpan kita?”
“Apa kau pikir mereka sudah makan di warteg?”
“Siapa tau di dasar laut sana memang ada wartegnya?’ Atau bahkan mereka menghilang begitu saja.”
“Menghilang?”
“Ya, ikan-ikan itu pada ngumpet.”
“Kenapa?”
“Karena mereka malu.”
“Malu?”
“Malu. Karena mereka sedang tidak memakai celana untuk menutupi aurat mereka, padahal mereka semua berjenis kelamin jantan. Tentu saja mereka malu melihat kau melotot terus kea rah mereka!”
Mereka kembali tertawa tergelak-gelak.

(bersambung)

Sabtu, 13 Februari 2010

TROWULAN (2)


Tiba-tiba Marlan mengalihkan pembicaraan.
“Apa benar, dari penggalian pada tahun 1914, kalau tidak salah, bangunan Siti Hinggil dilingkari tembok bata keliling?”
Aryo mengangguk.
“Dalam arsip arkeologi memang dikatakan bahwa pada penggalian situs yang dulu dikenal dengan nama Candi Kedungwulan itu, pernah ditemukan benda-benda purbakala. Namun situs itu kini sudah banyak berubah. Kini yang menonjol adalah sejumlah bangunan baru. Bangunan kunonya sendiri yang berada di bagian bawah, nyaris tenggelam. Tinggal kaki candi. Sedangkan bagian atsanya, seperti yang kita lihat sekarang, berupa bangunan baru lengkap dengan sanggar peersemedian. Tragisnya lagi, di atas bangunan kuno itu berdiri makam baru serta bangunan berupa arca.”
“Maksud sampeyan, makam Sri Baginda Kertarajasa Jayawardhana?”
“Bukan Cuma itu. Bahkan ada makam lain yang dianggap sebagai makam Gayatri dan Dara Pethak serta dua tokoh lain yang tak tertulis dalam sejarah.”
“Makam Kik Bang dan Nyah Bang?”
“Ya, dua abdi kinasih Sang Prabhu.”
“Tetapi masyarakat sangat mempercayai bahwa …”
“Itulah parahnya. Kita tidak bisa mencegah mereka.”
Marlan manggut-manggut tanpa bisa berkomentar apa-apa. Sedangkan Aryo melihat jam tangannya dan terlihat bersiap-siap akan pergi. Marlan ikut berdiri dan menepis-nepis belakang celananya.
“Mau terus pulang atau mau naik ke makam?”
“Saya pulang saja, Cak.”
“Baiklah kalau begitu. Saya akan menemui Sikan jurukunci di mushola. Selamat siang, Mas.”
Aryo mengambil tas ransel, dan tersenyum tipis.
“Selamat siang, Cak Lan.”
Mereka berpisah di kaki pohon Kesambi besar dekat Candi Kedungwulan. Marlan menuju mushola, sedangkan Aryo berjalan mantap ke areal parkir.
Bab dua.
BAJANG RATU.
Rumah kecil bercat putih itu terletak di Dukuh Kraton, tak jauh dari situs Gapura Paduraksa atau yang lebih dikenal dengan Candi Bajang Ratu., desa Temon. Disitulah Aryo Empul dan isterinya Sumirah tinggal. Disitu pula Aryo Wangking dibesarkan. Ketika dia meneruskan kuliahnya di Yogyakarta, rumah itu hanya ditinggali kakak laki-lakinya saja bersama isterinya. Sampai saat inipun, mereka tidak dikaruniai momongan. Bagi Aryo rumah itu kadang terasa sangat sepi bagai kuburan. Lebih sepi lagi tatkala Empul semakin jarang pulang. Maka apabila Aryo terpaksa tinggal di rumah bersama Sumirah, terasa sekali udara jadi dipenuhi seringai setan. Keadaan seperti ini makin lama dirasakan Aryo semakin menakutkan.
Aryo menghentikan jip Nissannya tepat di depan pintu pagar yang terbuat dari kayu bercat putih. Dia turun, membuang puntung rokok dan menginjaknya sekali dengan ujung sepatu. Dibenamkannya topi lebih dalam, kemudian mendorongnya pintu rumah begitu saja. Pintu memang jarang dikunci. Namun begitu dia masuk, terdengarlah suara gedubrakan dari arah kamar tidur Aryo Empul.
Aryo menemukan ruang tamu berantakan. Ada pecahan jambangan, ada kursi terjungkir balik.
Dia mengeluh dalam hati. Suasana yang sama selalu ditemukan setiap saat dia pulang dari bepergian.
Pertengkaran demi pertengkaran. Pemukulan, dan jerit tangis, seakan-akan bukan hal yang aneh lagi.
Aryo membuka pintu kamarnya sendiri tanpa peduli. Namun sebuah teriakan tertahan, memaksanya untuk menghentikan langkah. Suara seperti cekikan! Aryo merasakan ada sesuatu yanga menakutkan bakal terjadi. Diletakkannya ransel ke lantai dan dengan paksa didorongnya pintu dari mana arah suara terdengar.
“Astaga!” Aryo berteriak.
Di atas lantai Aryo Empul tengah menindih dan mencekik isterinya dengan tangannya yang besar dan berotot. Sumirah tersengal kehabisan nafas. Tangannya menggapai-gapai dan suara mengorok keluar dari mulutnya yang terbuka. Empul lupa, bahwa leher isterinya bukanlah besi keras yang biasa dijepitnya di bengkel. Wajah Empul terlihat beringas, merah padam dan penuh keringat.
Sambil berteriak keras Aryo mendorong tubuh besar Empul sekuat tenaga hingga terjungkal.
Empul berdiri mengusap bibir dengan lengan baju, matanya merah menatap Aryo dengan gusar.
“Sampeyan mabuk lagi, Kang,” kata Aryo.
“Jangan ikut campur kamu! Ini urusan suami isteri, tau!”
“Dia isteri Kakang, tidak boleh Kakang bertindak kasar seperti itu. Ingat Kang. Ingat!”
“Anak kecil tau apa kamu.”
Empul menyingkirkan Aryo sambil berteriak. Tangannya meraih baju Sumirah dan bersiap-siap mendaratkan sebuah bogem mentah ke arah muka Sumirah. Tentu, perempuan itu menjerit begitu menerima hantaman seperti itu. Perempuan itu terhuyung lalu jatuh terjerembab ke lantai. Dengan cepat Aryo kembali mendorong Empul hingga keluar dari kamar.
“Jangan sentuh aku, babi!” teriak Empul sambil menepis tangan Aryo.
Dia bahkan melayangkan tinju yang amat keras ke wajah Aryo yang membuatnya terjungkal membentur tembok. Sumirah menjerit-jerit menyuruh Aryo pergi, namun dengan geram Aryo bangkit dan membalas pukulan Empul. Mereka jadi saling memukul, saling menelikung, bahkan saling menendang. Melihat perkelahian itu Sumirah keluar rumah dan berteriak-teriak minta tolong. Para tetangga datang dan berusaha melerai dua orang bersaudara yang seakan-akan sudah berubah menjadi Rahwana.
Pertolongan orang kampung memang nyaris terlambat. Kedua kakak beradik itu sudah terlanjur babak belur. Kini keduanya berdiri terpisah dengan nafas terengah-engah. Saling menatap dengan garang dana geram.
“Minggat kamu Aryo! Minggat dari rumahku! Aku tak sudi lagi melihat mukamu!” Empul mengumpat.
Aryo menghapus darah pada ujung bibir dengan telapak tangan. Dia tak ingin membalas ucapan kasar kakangnya. Dilihatnya Sumirah sudah berada diantara penduduk kampong. Perempuan itu menangis dengan muka lebam-lebam. Rambutnya yang ikal panjang acak-acakan. Bajunya robek pada bagian dada. Bagaimanapun, Aryo lega mendapati perempuan itu baik-baik saja.
Beberapa warga desa mengamankan Empul dan membujuknya agar lebih tenang. Beberapa yang lain menawarkan tempat tinggal sementara pada Aryo. Namun Aryo menolak dengan halus. Secara diam-diam dia masuk ke kamarnya sendiri. Melepas jaket kulit dan terhenyak di tepi ranjang.
Lama dia berada dalama keadaan seperti itu. Badannya sakit. Tulang pipinya membiru. Bibirnya robek. Tinju Kang Empul lumayan dahsyat, pikirnya. Tak heran karena dia seorang pande besi kawakan. Aryo meringis saat berusaha mengangkat kaki kiri untuk naik ke ranjang. Sial, pikirnya. Kang Empul telah menendangnya di sini. Tepat di selangkangannya. Dan sekarang…aw…alangkah sakit untuk menggerakkan kaki. Dicobanya naik ke ranjang pelan-pelan dan mencoba berbaring dengan relaks. Diaturnya nafasnya hingga tertidur.
Dia tak tahu, berapa lama tertidur saat merasakan seseorang datang dan mengusap kepalanya pelan-pelan.
Aryo membuka mata. Tampak Sumirah tersenyum kepadanya dengan sumringah. Perempuan itu kelihatannya sudaha mendingan. Rambutnya sudah disisir rapid an diikat ke belakang. Luka di keningnya sudah ditutup plester.
“Yu Mirah…?”
“Mana yang sakit?”
Aryo mencoba duduk, namun dengan lembut Sumirah mendorongnya kembali untuk tetap berbaring.
“Dia menendangku di sini.”
“Dimana?”
“Di sini, di bagian bawah ini.”
“Apa kau rasa parah?”
“Aku tidak tahu, tapi sakit sekali.”
“Biar kucoba mengurutnya.”
“Jangan.”
“Kenapa?”
“Aku tidak ingin kang Empul terus marah pada Yu Mirah.”
“Ah, dia sudah pergi.”
“Pergi?”
Sumirah mengangguk.
“Pergi kemana?”
“Mana aku tau. Dia sudah biasa seperti itu, datang dan pergi sesuka hatinya saja.”
“Aku menyesal atas kejadian tadi, Yu.”
“Sudahlah. Apakah bagian sini yang sakit?”
Tangan Sumirah menyentuh bagian bawah. Dia mengurutnya pelan-pelan. Aryo berteriak kecil. Sakit sekali rasanya. Tapi Sumirah terus mengurutnya pelan-pelan.
“Kadang timbul rasa tidak sukaku padanya,” desis Aryo sambil menahan sakit.
“Jangan membencinya. Kalian Cuma dua bersaaudara. Mungkin kau hanya tak suka dengan perilakunya. Dulu dia baik. Tapi belakangan ini…”
“Yu Mirah tau dia punya perempuan lain?”
“Apa kau pernah melihatnya punya perempuan lain?” tanya Mirah balik.
“Aku hanya mendengar dari orang-orang.”
“Aku bahkan pernah melihatnya.”
“Sampeyan, Yu?”
“Ya, dengan mata kepalaku sendiri.”
“Apa…dia cantik?”
Sumirah tersenyum.
“Aku tidak bisa membandingkan diriku dengan perempuan itu. Orang yang akan bisa membandingkan kami. Tapi kurasa, kalau dia tidak menarik mana bisa kakangmu itu terpikat?”
“Maafkan Kakang, Yu.”
“Akh, sudahalah. Sebaiknya kita tidak membicarakan hal itu lagi. Sekarang coba kau lepaskan celanamu. Kita akan melihat apakah aku bisa menyembuhkannya. Kau tidak keberatan?”
Sumirah menatap kedua bola mata Aryo lekat-lekat. Mereka saling memandang. Sekejap Aryo merasakan air ludah di mulutnya lebih asin daripada biasanya. Dia haus sekali. Dia ingin minum. Tetapi kenapa justru dibiarkannya wajah Sumirah menunduk dan semakin dekat ke wajahnya? Dua pasang mata itu saling bertaut, saling memagut. Dan ketika wajah tunduk itu kian dekat, mata Aryo memejam.
Dia merasakan benda lunak yang hangat menyentuh bibirnya. Menjilati, mengulum, menggigit perlahan dan tubuh sintal padat itu kini menindihnya, menggeliat dan membelit bagai ular sanca. Tangannya bergerak terus ke bagian bawah.
“Masih sakitkah di sini, Yok?” bisiknya di telinga.
Aryo mengerang lirih.
Sumirah terus memagut. Tangannya mengegeremat bagaikan kerat. Menggerayang dengan seribu jari. Menjalar bagai sulur. Mengisi segenap rongga jiwa. Memenuhi lorong-lorong hati.
Aryo jadi susah bernafas. Rasa sakit bekas tendangan Empul berbaur dengan nikmat yang ingin ditolak. Tapi sungguh tak berdaya untuk meronta. Tak seorangpun kuasa melepas renggut. Membelit. Mencekung. Memelintir lidah-lidah membara. Udara sesak oleh tuba. Aryo mendesis menahan gejolak jiwa yang menuntut getas. Hatinya terus meronta, ini tidak boleh, ini tidak boleh! Hentikan, selesaikan sampai disini. Jangan diteruskan.
Setan mengintip.
Menjeling genit.
Bertepuk.
Aryo berteriak, aaaahhh!
Sumirah duduk di tepi ranjang, basah oleh keringat. Aryo membuang wajah ke samping, mengusir sisa jahanam yang dirasakannya begitu berpasir. Segala menebal, segala mengental, segala tak dikenal. Dari jauh mengabur suara orang ngomong ditingkah suara anjing menggonggong. Perempuan itu mengikat kembali rambutnya ke belakang, tertawa, mengerling. Darah Aryo berhenti berlari.
“Jam berapa?” tanya Aryo.
“Sudah larut sekali.”
Aryo membuang nafas. Hilang sudah segala makna.
“Ini aspirin. Minumlah,” kata Sumirah. Dia mengulurkan segelas air putih dan sebutir aspirin. Aryo menelannya dalam sekali teguk.
“Berapa umurmu sekarang?”
“Tigapuluh dua.”
Sumirah twersenyum lagi. Diapun turun dari tepi ranjang, mengancingkan baju, berjalan keluar dan menghilang di balik pintu yang ditutupnya. Meninggalkan baying-bayang hitam yang menggelapkan nalar. Aryo memejamkan mata dan mengeluh diam-diam dalam hati.

(bersambung)