Kamis, 11 Februari 2010

TROWULAN


Sinopsis:

Aryo Wangking adalah seorang ahli purbakala yang hidup sederhana di Trowulan, situs purbakala bekas kerajaan Majapahit. Dia menyelesaikan kuliah arkeologi di Yogayakarta, kemudian bekerja sebagai peneliti naskah kuno di Museum Purbakala Trowulan.
Oleh masyarakat setempat dia dipercaya sebagai titisan Mpu Nambi, seorang Rakryan Mahapatih Hamengkubumi pada jaman pemerintahan raja Nararia Sanggrama Wijaya, Brawijaya Pertama.
Pada usianya yang ke tigapuluh dua, secara tiba-tiba dia bertemu seorang gadis yang dipercaya olehnya sebagai titisan Ni Rara Ireng, kekasihnya yang pernah hidup pada jaman yang sama dengan Mpu Nambi. Sayangnya, gadis itu telah menjadi kekasih seorang pelukis dari Gianyar.
Bagaimana cara Aryo Wangking untuk mendapatkan gadis itu? Ikuti kisahnya dalam ‘Trowulan’ berikut ini.
*****
Bab satu
SITI HINGGIL.
Aryo Wangking memarkir jip Nissan tuanya di halaman depan situs purbakala Siti Hinggil. Dari kejauhan dia sudah bisa melihat beberapa pelaku tirakat duduk saling mengobrol di pendopo. Dia melompat turun, mengaitkan tali ransel ke bahu kemudian berjalan menuju ke sana. Langkah kakinya yang terlihat mantap tanpa kesan terburu-buru membuatnya nampak gagah. Tubuhnya tinggi tegap dengan dada bidang dan pundak yang tidak luruh. Kulitnya terang walau tidak bisa dikatakan langsat. Sepasang matanya tajam bagai mata rajawali. Berkumis tebal namun terawat rapi. Yang paling menarik dari seluruh penampilannya adalah senyumnya yang kelewat mahal. Kepalanya tak pernah lepas dari sebuah topi koboi berwarna gelap. Kabar burung mengatakan bahwa dia masih punya garis keturunan dengan Mpu Nambi, seorang Rakryan Mahapatih Hamengkubumi di jaman pemerintahan Prabhu Brawijaya pertama, Nararia Sanggrama Wijaya. Maka tak heran , di Trowulan dia sangat disegani dan dihormati. Bukan saja karena kabar burung yang membumi seperti itu, namun juga dikarenakan sifat dermawan yang dimilikinya. Energi sosialnya sanagat tinggi terhadap masyarakat di sekitarnya. Orang menyebutnya serupa dengan kunang kunang yang terbang menyalakan hidup dari lubuk ke lading dengan pijar perkasa yang mengalir pada setiap hati orang.
Aryo Wangking duduk bersila di sudut pendopo sambil memasang sebatang rokok di bibir. Banyak penghayat di tempat itu segera mengenalinya dan ingin ikut duduk di dekatnya, namun sikap dingin Aryo Wangking membuat hati mereka keder. Aryo sendiri bersikap seolah tidak ingin diganggu. Sambil menghisap rokok pelan-pelan, dia menikmati semua sudut yang terhampar di depannya, Situs Siti Hinggil.
Tiba-tiba seseorang memberanikan diri mendekati Aryo.
“Sugeng enjang, Mas Yok,” sapa orang itu yang tak lain adalah Marlan, pelukis dari Kertajaya.
Uluran tangannya disambut Aryo dengan sebuaah genggaman erat yang hangat.
“Tumben mas Yok datang pagi-pagi di hari libur seperti ini ke Siti Hinggil. Darimana, Mas?”
Sebelum menjawab, Aryo menawarkan rokok pada Marlan, dan lelaki dari Kertajaya itu mencabutnya sebatang, kemudian menyalakannya dengan geretan yang diulurkan Aryo.
“Dari Pamenang, cak Lan.” Sahut Aryo singkat.
“Kediri? Wah iya, ini tanggal satu Suro. Barisan penziarah pasti membludhak . Seandainya kemarin itu bertepatan dengan Jum’at manis, tentulah keramaian di sana tak bisa dibayangkan.”
Aryo mengetukkan abu pada ujung rokoknya ke lantai.
“Di sini ramai juga lho Mas. Malah kabarnya kepala SPSK Jawa Timur rawuh ke pendopo Agung. Tumpengan di sana bersama para penghayat lain.” Lanjut Marlan.
Aryo tersenyum sambil terus menghisap rokoknya pelan-pelan. Kadang bibirnya membentuk bulatan ‘O’ sambil meniupkan asap rokok ke udara, bermain-main dengan asap yang membentuk bulatan-bulatan.
“Saya mendengar selentingan, kabarnya situs kepurbakalaan Majapahit di Trowulan akan ditertibkan. Apa betul itu, Mas?” tanya Marlan.
“Memang begitulah rencananya. Tapi itu urusan mereka yang di atas. Kita sekedar monat manut saja. Bukan begitu, Cak?”
“Ya, rasanya kita memang tidak diharapkan untuk ikut urun rembug. Wong cilik, kita ini Mas! Hehehe.”
Mereka tertawa bersama.
“ Telah terjadi vandalisme berupa pemugaran-pemugaran liar pada beberapa situs peninggalan kerajaan Majapahit di Trowulan. Contohnya, situs Siti Hinggil itu.” ujar Aryo serius.
“Bagaimana dengan kompleks makam kuno di Troloyo?”
“Kompleks makam kuno yang dikeramatkan masyarakat itu persisnya berada di dukuh Sidodadi. Makam-makam di sana itu memang sangat variatif. Bayangkan, ada beberapa yang bercungkup, tapi ada pula yang teerbuka. Ada yang berkelompok, ada yang sendirian. Beberapa makam bahkan memiliki ukuran yang luar biasa, melebihi ukuran normal. Makam atau petilasan Sunan Ngudung itu contohnya. Ukurannya lebih dari lima meter. Kalau dipikir-pikir, kita jadi bertanya-tanya, apa benar orang jaman dulu tubuhnya raksasa?”
“Ceritanya memang tidak setinggi itu tubuh Sunan Ngudung, bukan begitu Mas?”
“Ya. Makam ayah dari Sunan Kudus itu memang berukuran lebih panjang dari makam biasa. Itu hanya akan menunjukkan tentang kisah perjalanannya. Menunjukkan akan tekad dan cita-citanya yang tinggi alias panjang. Sunan Ngudung memang telah tiada, tetapi coba lihat, bagaimana dia mengorbankan jiwa demi tegaknya agama Islam? Kita tidak boleh melupakannya begitu saja.”
Marlan manggut-manggut mengiyakan semua uraian Aryo. Dirinya sendiri sudah sejak lama menjadi penghayat di kompleks makam kuno itu. Maka dia amat setuju dengan semua ucapan Aryo.
“Oh ya, cak Lan masih melukis?”
“Masih, Mas. Malahan baru-baru ini saya ikut pameran di Sanggar Palapa Tunjungan.”
“Apa karya surealisme lagi?”
Marlan tertawa jengah.
“Masih yang itu,” ujarnya di tengah tawa. “Saya mencoba menampilkan lukisan Kanjeng Ratu Kencanawungu. Anehnya, selama beberapa hari berpameran, lukisan itu mendapat perhatian khusus dari para pengunjung tertentu. Saya sendiri,..kok… lama-lama jadi jatuh cinta pada lukisan itu to Mas, hehehe…”
Aryo ikut tertawa, merasa lucu saja mendengar kata-kata Marlan.
“Begitulah kalau terlalu lama nyepi di makam Troloyo,” kata Aryo. “Jangan-jangan cak Marlan jadi lupa pulang ke Kertajaya…”
“Walah… cilaka betul kalau saya sampai pada keadaan seperti itu. Tidaklaah, Mas. Insya Allah jelek-jelek begini saya masih tetap seorang muslim pada percaya seratus persen pada Allah!”
“Ya, ya. Saya mengerti. Pada saat melukis apa cak Mar melakukaqn tirakatan di makam Troloyo?”
“Memang saya sengaja nyepi selama beberapa hari sambil berpuasa. Maksud saya, ingin mendapat petunjuk Tuhan Yang Maha Kuasa tentang kebenaran wajah dan penampilan tokoh yang akan saya lukis. Saya ingin melihat sendiri wajah sang ratu yang menurut penulis sejarah, bapak Anwar Sanusi, terkait dengan kisah langendriyan Damarwulan Kencanawungu dengan kisah sejarah Ratu Jayawisnuwardhani dengan seorang kesatria bernama Cakradara. Rupanya tirakataqn saya terkabul. Ini adalah penghayatan saya yang ketiga. Akhirnya saya berhasil menyelesaikan lukisan itu dengan cepat, kemudian ketika saya ikutkan ke pameran bersama lima pelukis Surabaya lainnya,…waah, sambutannya luar biasa.”
Aryo mematikan sisa rokok, dan menyulut sebatang yang baru. Sambil menyedot rokok dalam-dalam, dia berucap,:
“Lukisan itu ada auranya, sudah ada yang menawar, belum?”
“Banyak, Mas!”
“Nilai nominalnya sampai berapa?”
“Tak usahlah saya sebutkan. Paling-paling mas Aryo sudah tahu.”
Aryo mengulum senyum.
“Tapi,..saya berat melepasnya, Mas.”
“Lho, kok aneh.”
“Itulah anehnya. Rasaanya ‘dia’ tak mau lepas dari tangan saya.”
Aryo kembali tersenyum. Ia tau betul perasaan Marlan.
“Kalau begitu, lukisan itu memang belum waktunya dilepas. Biarkan saja begitu. Nanti bila tiba saatnya, ‘Ratu Kencanawungu’ akan memilih sendiri kepada siapa dia akan ikut. Bisa-bisa kalau sudah pas waktunya, lukisan itu terlepas begitu saja tanpa mas kawin.”
“Dilepas begitu saja dengan gratis, maksudnya?”
“Ya. Begitulah.”
Marlan paham apa maksudnya. Kalaupun sudah takdirnya dia harus melepaskan lukisan itu tanpa sepeserpun uang sebagai mas kawinnya, mau apa lagi? Dirinya adalah seorang penghayat yang mengerti betul akan berjalannya waktu sesuai kehendak yang Maha Kuasa.
Lama mereka mengobrol, dari Barat sampai ke Timur. Dari hal-hal berat sampai kepada hal-hal yang remeh dan sepele. Hingga sampailah percakapan itu pada diri Sumirah.
Sumirah adalah istri Aryo Empul, abang kandung Aryo Wangking. Sumirah sudaha dianggap sebagai orangtua sendiri bagi Aryo Wangking. Namun belakangan ini sikap Sumirah terasa berbeda. Hal itu terlihat jelas ketika Aryo Empul mulai suka mabuk-mabukan. Sebagai seorang yang berprofesi sebagai pande besi, tentu cukup menakutkan apabila dia mulai mabuk, marah-marah, dan memukul. Hampir setiap malam sepulang dari bengkel besinya, dia pulang dalam keadaan mabuk bertat. Kalau sudah demikian, maka tendangan dan pukulan tak luput menimpa tubuh istrinya, Sumirah.
Akhirnya Aryo Wangking merasakan sikap Sumirah berbeda terhadapnya. Perempuan setengah baya itu seakana-akan mencari perlindungan padanya. Namun itu hanya permulaan. Awal dari segalanya. Lama-lama Sumirah semakin berani masuk tanpa ijin ke kamarnya, menidurinya bagai mengeloni seorang bayi merah. Mengendus bagai kucing. Dan semua itu menakutkan bagi Aryo Wangking. Sungguh, Aryo bukan serigala yang demikiana saja melahap daging yang disodorkan orang kepadanya. Dirinya bukanlah pagar yang memakan tanaman. Dia selalu berusaha menjaga diri dari serangan gerilya yang dilakukan Sumirah. Hal itu sering diceritakannya pada Marlan maupun kepada jurukunci Sikan.
“Tadi malam memang,” kata Marlan. “Yu Sumirah datang ke sini. Dia menanyakan keberadaan mas Aryo. Saya pikir pasti ada sesuatu yang penting terjadi di rumah sampeyan. Kalau tidak, kenapa yu Sumirah keroyo-royo datang kemari pada malam selarut itu?”
“Jujur, saya terkadang takut pulang.”
“Kenapa mesti takut?”
“Saya takut sesuatu yang terlarang bakal terjadi antara kami. Saya ini laki-laki normal, Cak.”
Marlan menghela nafas panjang.
“Tapi sampeyan kan punya kacamata rangkap. Artinya, sampeyan selalu bisa memprediksa segala sesuatu yang bakal teerjadi.”
“Justru itulah yang saya lihat melalui penerawangan saya.”
“Apakah tidak ada jalan untuk menghindarinya, Mas?”
Aryo terdiam lama.
“Sebaiknya mas Aryo pulang dulu, melihat apa yang terjadi.”
Aryo menunduk, menatap lantai pendopo seperti melamun. Ada sesuatu yang telah terjadi antara dirinya dan Sumirah. Apapun perasaan itu, barangkali Cuma Aryo yang tau. Dirinya sudah berusaha membentengi dengan cara bergaul lebih akrab dengan gadis-gadis lain, seperti Niken, umpamanya. Dengan Niken, Aryo sering bepergian atau melakukan tugas penelitian bersama-sama ke penggalian-penggalian benda purbakala. Kebetulan gadis itu adalah teman sekantor. Dia bahkan mencoba tak perduli dengan kecemburuan Raki Keleng, salah seorang penghayat yang kebetulan juga menyukai Niken. Tapi Sumirah masih saja menginginkannya. Ah! Aryo tak habis pikir, apa yang membuat Sumirah begitu bergairah terhadapnya? Bukankah dirinya sudah merasa bahwa mereka itu , Aryo Empul dan Sumirah, adalah pengganti orangtuanya? Tapi bagaimana dengan Sumirah, apakah dia juga menganggap Aryo sebagai anak yang dibesarkannya sejak berusia empatbelas tahun? Atau sudah begitu seriuskah perubahan perasaan yang ada?

(bersambung)

Rabu, 10 Februari 2010

WANG

WANG, ijinkan aku mencintaimu.

Wang  saja bangun pagi ketika aku  ke wismanya. Langsung kuketuk pintu kamarnya sambil berteriak,
“Wang, bangun! Sudah siang nih!”
Suara berkerusekan terdengar dari dalam, lalu muncul wajah Iwang dengan rambut awut-awutan dan mata setengahy merem.
“Aduh, ribut amat sih!”
“Kau bilang mau jalan-jalan ke telaga. Jadi pergi, nggak?”
Mata sipit itu berkedip lucu.
“Oh ya ya. Aku lupa. Jam berapa nih, silau amat di luar.”
“Ini sudah Jam tujuh, tolol! Kamu belum sholat subuh kan?”
Gadis berkulit putih itu tertawa malu sambul menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal
“Sori, aku sudah sembahyang subuh tadi. Tapi ketiduran lagi. Gara-gara semalam sih.”
“Semalam? Memang ada apa semalem?”
Iwang membuka pintu kamar lebih lebar seakan mempersilakan aku masuk. Kulihat dia masih berpiyama lengkap. Kasur acak-acaka. Di meja kamar ada buah-buahan dan martabak sisa semalam.
“Aku mandi dulu yah.” Katanya menyambar sehelai handuk dari rak.
“Kamu duduk di teras sana ‘gih!” lanjutnya.
Mataku menatapnya curiga.
“Memang ada apa, semalem?Ada tamu?!” tanyaku dengan suara tidak enak.
Gadis itu sudah masuk ke kamar mandi, dan menjawaku dari dalam.
“Iya,” katanya.
Sialan. Siapa sih yang berani-beranian bertamu ke kamar cewek pada jam sepuluh malam?
“Siapa?”
“Ada deh.”
“Katamu sudah ngantuk semalam, makanya aku pulang cepat. Terus tamu itu datang jam berapa?”
“Ala, sudahlah. Kok kamu sewot bener sih?”
Dengan marah aku duduk di kursi teras depan kamar sambil membuka Koran lebar-lebar. Kucoba membaca sekilas huruf-huruf besar pada berita utama sampai ke iklan motor. Namun pikiranku samasekali tidak berada sisitu. Sumpah mati, aku jengkel sekali dengan jawaban Iwang yang seolah mengejekku. Dia pikir, aku cemburu, apa? Bull shit!
Kudengar dia sudah keluar dari nkamar mandi. Lama, karena tidak ada suara apa-apa lagi, aku menengok ke dalam.
“Jadi benar, ada tamu?” desakku lagi.
“Iya…”
Iwang mengait sepatu kets dari bawah dipan. Mengenakannya tanpa kaus kaki.
“Siapa dia? Apa aku mengenalnya?”
“Tak usya ya…”
“Iwang!” aku jadi benar-benar marah.
Iwang terlihat kaget oleh kerasnya suaraku. Kami saling bersitatap sesaat.
“Sekali lagi aku tanya kamu, siapa yang datang kesini tadi malam?”
“Cemburu nih?” senyumnya seraya mendorongku keluar kamar
“Apa tidak boleh, begitu?”
Dia berbalik dan mengunci pintu. Kutatap punggungnya sambil berpikir. Apa sih yang membuatku jatuh cinta kepadanya? Apkah karena sikap cueknya? Tingkah lakunya yang serba seenaknya sendiri? Atau… karena dia adalah gadis paling jujur yanag pernah kukenal selama ini? Sepertinya kian hari aku jadi kian lengket saja kepadanya.
Ketika dia berbalik lagi dan menatapku, kedua matanya mengerjap. Seakan bisa menangkap betapa marahnya aku hingga kemarahan itu tersirat dari tajamnya tatap mataku. Bibirnya lantas saja mengulas senyum. Kalau sudah demikian, hatiku jadi luluh melihat kelembutan yang terpancar dari senyuman dan sorot matanya.
Lengannya menggelendot ke lenganku. Kami berjalan menuruni anak tangga menuju ke jalan setapak yang menuju kea rah telaga. Matahari memang sudah memancarkan sinarnya, namun belum lagi mampu mengusir seluruh halimun yang menyelimuti permukaan telaga.
“Jared Hogan,” tiba-tiba Wang menyebutkan sebuah nama.

“Jared Hogan?”
“Aku semalam membaca novel karya Jared Hogan, sampai larut.”
“Jangan terlalu banyak membaca,” kataku.
“Itu kan baik,” sahut Iwang sambil bersandar ke bahuku.
“Nanti kau akan terus hidup dalam angan-angan.”
“Tidak, malahan menurutku membaca akan memperkaya batin.”
Kupeluk bahunya erat. Terasa sekali, betapa aku mencintainya. Dengan cara dia mengulaikan kepalanya kebahuku, hatiku lantas saja menjadi lembut dan tenteram.
“Tetapi hidup ini adalah kenyataan, Iwang.” Ujarku sambil sesekali menciumi harum rambutnya. “Sedangkan yang digambarkan oleh para penulis itu melulu sesuatu yang ideal. Terkadang terlalu muluk dan khayali. Aku tidak suka kau terkubur dalam bacaan. Aku ingin kau memandang hidup ini dengan mata yang realistik, hidup yang sebenarnya, bukan hasil ciptaan mereka yang kau kagumi itu. Kau tahu, di dalam buku-buku yang baik terlalu baik dan yang buruk keterlaluan pula buruknya. Padahal itu tidak mungkin, toh? Atau…kaupikir hidup memang demikian? Yang buruk terlalu buruk, yang jelek keterlaluan pula jeleknya? Kau harus tau, di dalam jiwa sang penjahatpun kadang terdapat kemanusiaan, dan sebaliknya di dalam jiwa seseorang yang kelihatan baik dan sholeh, terdapat jiwa setan.”
Iwang diam saja. Langkah kami perlahan-lahan semakin mendekati tepi telaga. Terlihat beberapa pelancong dari luar Magetan, banyak bercengkerama di tepi telaga. Ada yang mulai berperahu, ada pula yang sekedar minum kopi jahe di warung-warung dadakan.
“Buku apa yang kau baca semalam?”
“The Golden Abides.”
“Berapa halaman?”
“Tidak banyak.”
“Seratus?”
“Lebih.”
“Seratus limapuluh?”
“Lebih.”
Iwang menahan tawa di mulutnya.
“Dua ratus?”
“Lebih.”
Kali ini dia benar-benar tertawa ngakak.
Aku menunduk, mencari-cari jawaban yang benar dalam matanya yang sengaja dia picingkan rapat-rapat.
“Itu kau katakana tidak banyak?” teriakku.
“Alaaa, lebih sedikit aja.”
Kuhela nafas panjang. Tidak heran, kalau pagi ini dia ketelatan bangun.
“Apa sih yang diceritakan di buku itu?”
“Tentang seorang seorang laki-laki sederhana yang menikah dengan seorang perempuan milyuner.”
“Apa akhirnya mereka hidup bahagia?”
Dia tidak menyahut. Kini kami berjalan menyusuri tepian telaga menjauh dari orang-orang, menuju ke balik telaga sebelah sana. Disana katanya, ada sebidang tanah berumput yang di sekitarnya diselang-seling dengan pepohonan pinus. Kata orang pula, tempat itu sangat indah. Biasanya banyak pasangan muda, baik yang tengah berpacaran atau keluarga-keluarga muda duduk bersantai atau bermain dengan putra putri mereka yang masih balita. Mungkin, disitulah kami akan menemukan jawaban, benarkah sudah hubungan yang sedang kami bangun ini, baik ataukah tidak baik? Terus, ataukah putus?
“Aku belum selesai membacanya, Pras,” sahut Iwang.
“Barangkali, seperti biasanya mereka hidup bahagia,” lanjutnya.
“Nah itulah hidup yang diciptakan para pujangga. Khayal. Khayal! Maka kita akan terus dinina bobokkan oleh Khayal!”
“Ih, aku tak senang kau berkata begitu.”
“Memang kenapa? Kata-kataku benar, kan?”
“Sebagian saja. Sebagian lagi salah. Menurut pendapatku, buku adalah cermin. Buku yang baik akan meerupakan cermin yang baik. Manusia memang harus sering bercermin. Itu sudah pernah kukatakan kepadamu, kan?”
Aku mengangkat bahu.
“Pras,” katanya pelan. “ Masalahnya, kau tidak suka membaca. Aku tidak tidak akan memaksamu agar kaupun suka membaca kalau kau tak suka, asalkan biarkan saja aku berada dalam keasyikanku membaca.”
“kau ini seperti nenek-nenek,” kataku.
Ki8ni kami sudah sampai pada hamparan rumput hijau nan subur yang terpangkas dengan rapi. Beberapa pohon pinus menaungi dan menebarkan aroma khas bercampur udara pagi yang masih basah.
“Karena aku tak senang dengan pesta-pesta, kebut-kebutan, dan lebih suka duduk sendirian membaca atau menekuni buku, maka kau bilang aku seperti nenek-nenek?”
Aku duduk diatas hamparan rumput, dan mencoba tidur terlentang berbantal tangan menatap langit. Sungguh, aku merasaa kecil bila sedang berdiskusi dengannya tentang arti makna kehidupan. Aku jadi merasa kalah dewasa.
Dia duduk di sebelahku, bersila, dan mencabuti batang-batang rumput dengan wajah sendu.
“Aku jadi berpikir, Pras. Apakah anak muda macam kita tidak boleh menekuni buku? Apakah itu hanya bagian bagi orang-orang tua saja? Bukankah mending di masa muda ketika kita masih belum dibebani tanggungjawab dari hidup yang sesungguhnya? Apakah menurutmu menekuni buku adalah di masa tua ketika hidup sudah lepas dari tanggungjawab? Pras, Pras,..mending kalau sudah tua masih ada kesempatan berbuat demikian, tapi justru tak jarang orang yang sampai tua tidak pernah lepas dari tanggungjawab. Punya anak, punya mantu, punya cucu, bukannya tinggal ongkang-ongkang malah harus mengurus anak, menantu, dan cucu!”
Dadaku mendadak sesak. Entahlah, aku tiba-tiba saja menjadi sedih. Apakah aku kelak akan seperti itu, sudah tua malah harus bertanggungjawab kepada anak, menantu, dan cucu? Wek! Sampai mati akan terus seperti itu? Astaganaga! Sungguh mengerikan!
“Ah, sudahlah, jangan diperpanjang,” kataku sedih membayangkan yang bukan-bukan.
” Pras, hidup ini Cuma sekali, singkat pula.”
“Mmm…ya. Maka nikmatilah. Masa muda tak akan kembali. Masa muda kini menjadi milik kita dan sebentar lagi akan kita lepas.”
“Aku akan menikmatinya dengan caraku sendiri,: sahutnya tegas.
Aku menengok ke arahnya, menatapnya dengan pandang tak percaya.
“Menurutku kau terlalu alim sebagai gadis masa kini.”
“Begitukah menurutmu?”
“Jangan-jangan bila telah tua nanti, kau baru menyadari bahwa kau banyak kehilangan sesuatu.”
“Kurasa tidak. Justru aku telah banyak menemukan sesuatu yang aku yakin tak banyak ditemukan orang-orang sebayaku. Sesuatu yang sangat berharga. Amat berharga!”
“Apa itu?”
“Hidup yang sesungguhnya.”
Aku tertawa.
“Sepertinya kau terlambat dilahirkan, Wang. Mestinya kau dilahirkan seabad yang lalu. Tidakkah terpikir olehmu bahwa hidup yang sesungguhnya hanya akan ditemukan sambil kita menjalaninya, bukan apa yang kita dapatklan dari teori orang lain?.”
Wajahnya memerah seketika. Bibirnya terkatup sepi seperti biasa bila kami tak sependapat.
“Tapi sungguh, bagiku kau adalah segalanya. Aku suka padamu.” Kataku sambil duduk bersila menghadap ke arahnya. Dia menundukkan wajah. Masih tetap dengan kegiatannya mencabuti rumput.
“Tapi kau selalu mengejekku,” sahutnya kemudian.
“Habis, aku benci dengan kealimanmu. Aku toh ingin sesekali membawamu pergi seperti orang lain membawa pacar mereka. Karena sekarang bukan jamannya ‘tai ayam pakai debu, ini jaman modern tau’.
Bibirnya tertawa tanpa suara, mungkin merasa lucu saja dengan kalimatku.
“Bagaimana, masih tetap menolak?”
“Tentu,” tawanya ngakak.
“Gila! Dungunya aku, cinta ini tetap tak mau pergi. Gila, gila!” teriakku.
Iwang tersenyum-senyum sendirian. Lama kami saling terdiam seperti kehabisan kata-kata. Hingga tiba-tiba aku ingin menggodanya dengan berpura-pura ada janji dengan orang lain.
“Oh, hampir saja akun lupa,” kataku.
“Apa?”
“Hari ini aku seharusnya pergi dengan mas Arif kepertunangan saudaranya.”
“Kapan itu?”
“Ya malam ini. Waduh, gimana nih. Kita pulang sekarang?”
Kepalanya mengangguk berat. Ada sebersit kekecewaan membayang. Namun dengan riang dia menutupinya cepat.
“Oke. Kita pulang?”
“Kau…tidak marah?”
“Marah?” matanya kembali bersinar seperti biasa.
“Kau ikut ke pertunangan saudara mas Arif?”
“Siapa bilang aku mau ikut. Kita pulang saja ke Madiun, kau mengantarkanku dulu, kemudian kalau kau ada janji dengan mas Arif, ya pergi saja.”
“Ternyata kau belum bergeser juga dari tempatmu,” ujarku kecewa bukan main. KUpikir, dia mau ikut, atau marah sekalian. Eh, tidak taunya…Huft!
Aku berdiri, menepis-nepiskan rerumputan dari belakang celanaku.
Iwang ikut berdiri, kini kami sama-sama berjalan kembali ke wisma.
“Barangkali kau benar,” kata Iwang. “Aku belum mau bergeser dari tempatku Makan rame-rame, pergi rame-rame, atau ke pesta rame-rame,…rasanya tidak cocok buatku. Dan bukankah seharusnya kau sadar, bahwa kita ini sudah bukan anak-anak baru besar (ABG) melainkan sudah lebih dewasa dari itu. Kita ini sudah hampir sarjana, Pras.”
“Akh, sekali-sekali tak apa. Memangnya, dosa?”
“Rame-rame begitu?”
“Kan tidak selalu harus rame-rame. Teman-temanku bukan berandalan. Bahkan seperti mas Arif, dia itu seniorku. Mereka semua bersama pacar mereka, kecuali aku! Ayolah Wang, pergilah bersamaku malam nanti”
“Maaf, Pras. “
Kuhempaskan nafas panjang. Kumasukkan kedua tanganku ke saku celana dan kukatupkan bibirku dengan marah.
“Maaf Pras,” katanya sekali lagi. “Aku tau aku memang bukan gadis masa kini yang hidup di alam yang dipenuhi dengan kebebasaan dan dikelilingi bermacam-macam hiburan maupun kesenangan dari yang muirah sampai yang sangat mahal sekalipun. Keluargaku bukan keluarga yang kolot. Kau tau betul tentang itu. Tetapi di alam kemajuan macam ini ketika segalany kemilau dan gemerlap, ketika semua itu menjadi impian banyak orang, kami tetap mengenal lima waktu sembahyang, dan berpuasa di bulan suci Ramadhan. Kami mengenal semua perintah Allah yang diturunkanNya kepada agama yanag kami anut.”
Langkah kupercepat. Mungkin ini jawaban dari hubungan kami? Entahlah.
“Pras!”
Iwang mencoba terus menjajari langkahku.
“Mestinya kita tidak berpacaran,” katanya.
Blap!
Kuhentikan langkahku seketika. Diapun terpaksa berhenti dan memandangku dengan sepasang matanya yang cerlang.
“Apa katamu?” sergahku. “Kaupikir kita…? Kita memang tidak berpacaran. Apakah yang begini kaqu sebut berpacaran?”
Wajahnya memerah.
“Mestinya kita tidak berpacaran,” sahut Iwang keras.
“Jadi apa?”
“Dunia kita bertolak belakang. Kau rasakan itu kan?”
“Alaa… kau ini kenapa? Kau terlalu serius memandang hidup dan persoalan-persoalannya. Padahal hidup ini sederhana saja. Sederhana saja!!”
“Mestinya kau berpacaran dengan orang lain yang suka berhura-hura, suka ke pesta, suka nonton, tanpa lupa waktu sembahyang. Disitulah manisnya. Carilah orang seperti itu. Kau tak akan pernah bisa memaksaku ikut dalam gemerlap duniamu. Pras,.. apakah kau pernah sembahyang?”
Lama aku terdiam.
Suara gemerisik daun bambu diterpa angin membuatku manyun. Seakan-akan dedaunan dan angin tengah bercumbu, berposah-pasih, melagukan tembang asmaradana.
Aku menatap kedua matanya tajam.
“Dulu aku sembahyang,” kataku. “Itu semua kulakukan karena semua orang disekitarku melakukannya. Lama-lama aku berpikir, dan suka tertawa sendiri. Bayangkan, membaca ayat-ayat tanpa tahu artinya. Bukankah itu ibarat tupai membolak-balik buah kelapa?”
Dia memeluk lenganku, lembut. Selembut suaranya tatkala berbicara padaku.
“Pras, kata-katamu itu membuat dadaku sesak. Mungkin kau benar. Namun bagiku itu sudah merupakan kemurtadan. Barangkali aku termasuk penganut agama yang fanatik. Tidak mengerti artinya berarti tidak berguna, begitukah? Tidak! Tak ada sesuatu yang tidak berguna. Tetapi mengerti tentu saja akan lebih baik. Kami semua, aku dan keluargaku, lalu mempelajari artinya. Semua ini kukatakan kepadamu, agar kau mengerti.”
Senyumnya membias melihat aku tak lagi segarang tadi. Hati ini mendadak luluh oleh kelembutannya. Sungguh, aku tak tau. Masihkah ada kisi-kisi buatku masuk ke dalam hatinya?
“Kau percaya pada Tuhan, Pras?”
“Tentu. Tapi dengan caraku sendiri.”
“Maksudmu?”
“Tuhan menciptakan semuanya ini untuk dinikmati.”
“Untuk dihayati, Pras.”
“”Itu menurutmu. Sudahlah. Kalau melangkah jangan terlalu jauh, bisa celaka nanti. Urusan kita adalah urusan anak muda, kita jalani saja dan kita nikmati. Itu akan sama artinya dengan kita mensyukuri nikmat Allah, kan?”
“Mungkin aku melangkah terlalu jauh. Tetapi kau menyelam terlalu dangkal. Aku kurang setuju dengan caramu mensyukuri nikmatnya Allah. Terserah kau mau menertawakan aku atau tidak.”
Biasanya, memang, aku selalu menertawakannya dengan semua filasafat yang kuanggap aneh. Tapi kali ini aku tidak sedang ingin tertawa. Aku bahkan seperti tersungkur di bawah pasir panas gurun Sahara.
“Bagiku, hidup ini punya arti tersendiri,” kata Iwang. “Katakanlah aku kuno. Tapi yang sebenarnya aku lahir dari sepasang manusia yang taat dan takut kepada Tuhan. Kau tau, kedua oraqngtuaku bukan orang-orang yang dungu. Merekia pernah tinggal di luar negeri sebagai Atase Militer. Tetapi ayahku sering bilang, semakin jauh dia melihat dunia, semaki8n dekat dia pada Tuhannya. Maka kalau sampai saat ini kita masih juga belu7m bergeser dari tempat kita masing-masing, aku khawatir kini tiba saatnya kau memberiku ciuman perpisahan…”
“Kau seharusnya tinggal di gunung,” jawabku getir.
“Ayahku tidak tinggal di gunung.”
“Seharusnya aku tidak mencintaimu.”
“Ya. Seharusnya kau sekarang berada di rumah teman-temanmu bergembira dengan memutar film atau bermain futsal.”
“Wang,” leherku tercekat. “Apakah…apakah aku harus taat bersembahyang dan berpuasa di bulaan Ramadhan bila ingin memilikimu? Apakah aku harus meninggalkan teman-temanku main futsal atau …”
“Tidak Pras. Tidak ada yang melarangmu atau memaksamu untuk berbuat sesuatu. Apa kaupikir agama hendak memperbudak manusia dari kesenangan duniawi? Kaulihat ayahku, dia sembahyang, dia berpuasa, tetapi dia tetap hidup wajar sebagai manusia. Tak ada yang emngharuskan kita melakukan itu semua kecuali diri kita sendiri. Pras, kau tak akan kehilangan apa-apa karena mencintaiku. Yakinlah bahwa aku tidak aan memperkosa hak-hakmu sebagai manusia.”
Kugenggam tangannya erat, kucium punggung tangannya takzim. Iwang, gadis bermata sipit berkulit putih, sementara aku, pria dengan kulit sawo matang dan mata nyalang, kaukah itu wanita dambaan semua lelaki?Beruntungnya aku bisa mendekapmu dalam lengkung hati yang paling dalam.
“Jadi…aku…kau ijinkan untuk…?”
“Cintailah aku, Pras. Aku mencintamu. Dekat aku dalam dadamu, maka kaau akan menemukan diriku yang sesungguhnya.”
Kami saling mendekat dan mengulurkan tangan. Kudekap dia erat dan dengan ikhlas pula dia membalas pelukanku tanpa gamang sedikitpun.
(Iwang, kaulah hati dipelarian masa muda. Langit diatas hening sekali. Gugusan mega putih berarak antara bunyi degupan jantung. Sekali pernah kubayangkan, kemesraan ini akan kuhisap habis bersama dengan kelembutan yang terbaring sunyi dimatamu.)

By Indrawati Basuki.

Senin, 08 Februari 2010

ANTARA AKU, JO DAN AAY


Tanganku mengaduk-aduk es dawet di kantin kampus tanpa minat. Minuman itu masih utuh. Entahlah hari ini seleraku mati. Ingatanku hanya pada isi sms yang dikirimkan Jo pada Nana, adikku. Kenapa musti dikirimkannya curahan hatinya pada Nana dan bukan kepadaku? Apakah dia sudah benar-benar memutuskan siapa yang akan dia pilih antara aku dan Aay? Lagian, rasanya dia lebih akrab dengan Nana daripada denganku. Dan untuk bertanya langsung kepadanya…ih, amit-amit deh. Mendingan membentangkan jarak antara kami.
Masih terbayang diingatan, bagaimana dengan tengil dia menulis sms pada Nana.
“Bersamaan dengan sms yang kau kirimkan, aku juga tengah menerima sms dari Aay. Maka setelah ini, aku akan segera membalas smsnya. “
Disambung dengan sms berikutnya,:
“Uh, Aay mangkel sekali kalau aku telat membalas smsnya. Kalau teringat kepadanya, kepalaku jadi pusing tujuh keliling jadinya, Soalnya aku sudah kangen banget sama dia. Sayang, rumahnya jauh dari sini.”
Aay!
Dadaku mendadak gemuruh. Siapakah Aay? Mengapa baru sekarang Jo berceloteh tentang Aay?
Ada lagi sms yang lebih panjang dia kirimkan ke Nana.
“Eh, kau ingin melihat fotonya ya? Aku menyimpan fotonya cukup banyak. Namun kalau menatapnya, pusing di kepalaku malah menjadi delapan atau sembilan keliling. Tapi kalau tidak memandang , selalu ingin memandang. Payah jadinya. Beginilah rasanya seorang yang…mmm…yang apa? Yang sakit rin…so!”
Aku bangkit dan membayar es dawet yang masih utuh. Entahlah, selera makanku akhir-akhir ini jelek sekali. Mungkin semenjak Nana dan Jo getol main kirim-kiriman sms. Apa sih, maksud Jo menceritakan gadis bernama Aay itu kepada Nana? Apakah dia tau bahwa setiap sms yang masuk ke telepon seluler milik Nana, aku selalu ikut membacanya?
Dan yang membuatku resah adalah smsnya yang berikut,:
“Senang berdekatan dengan Aay. Sebab dia selalu berceloteh macam-macam. Matanya bening dan berkilau bagai rembulan. Dulu, di Bandung, ada tiga rembulan. Di langit satu, dan di mata Aay ada dua.
Na, aku memang akan mendatangi dia, tapi bukan sekarang. Masih lama. Kau mau kan kubawakan roti unyil dari sana?”
Kuhela nafas berat. Pelan-pelan namun pasti, kurasakan hatiku retak. Kekalutan menyeruak dari kepura-puraan bisu di bilik sepi dalam dadaku. Muncul kemurkaan bercampur keangkuhan dan kepasrahan yang selama ini membuatku gelisah.
“Kalian sering berkirim-kiriman sms seperti ini, ya?” tanyaku pada Nana setelah ikut membaca sms yang dikirimkan Jo padanya.
Nana tertawa. Dia mungkin saja tau aku pernah hampir jadian dengan Jo, atau bisa juga dia tidak tau. Namun dari cara ketawanya itu, aku merasa bagaikan diejek oleh adikku sendiri.
“Sering juga sih,” jawabnya enteng. “Habis membaca smsnya rasanya asyiiik banget. Humornya segar. Lucu. Aku senang bersahabat dengan mas Jo.”
“Dan dia selalu membalas smsmu?”
“Oh…tentu dong! Dia rajin lho mengirim sms. Bisa dikatakan sehari tiga empat kali deh!”
“Hah?”
Nana tertawa lebar sambil menimang-nimang Hape miliknya.
“Itu sih, luar biasa, Na,” kataku berpura-pura tidak pernah terjadi apa-apa antara aku dan Jo.
“Bukankah dia itu teman Kakak?”
“Mmm…ya. Dia teman Kakak di kampus.”
“Mas Jo bilang, dia sering bertemu Kakak di kampus. Satu Fakultas ya, Kak?”
“Ya.”
Nana tidak tau, kami bukan hanya teman di kampus. Tapi lebih dari itu. Tetapi itu dulu. Sebelum ada Aay masuk ke topic pembicaraan Jo. Hampir setiap pagi kami saling berpapasan di koridor Fakultas . Dan selalu saja. dulu, kami akan berhenti, saling berbicara, bercanda, bahkan sering Jo memeluk bahuku dan mengantarkan sampai ke pintu ruang kuliahku.
Namun ketika kemudian nama Aay muncul, kami hanya akan saling melempar senyum sambil menyapa sekadar basa-basi,:
“Hallo Pris, apa kabar?”
“Hallo juga Jo, kabar baik. Kamu?”
“Baik. Yuk ah, aku duluan.”
Aku merasakan dadaku makin sesak setiap kali kami bertemu. Padahal dulu, betapa menyenangkan melihat senyumnya, bahkan cara dia membawa tas ranselnya, bagiku dia nampak keren sekali. Sudah berapa lama kulewati waktu yang sangat menekan perasaan seperti ini? Ya, sudah berapa lama kami saling menjauh dan berusaha saling menghindar setiap kali kami bertemu?
Dua tahun kami sempat berpacaran, sejak kumasuki kampus berlogo warna orange itu. Johan sebagai seniorku, kelihatan tertarik padaku sejak hari pertama masa orientasi. Belakangan aku mendengar dia adalah salah satu asisten dosen merencana, yang kebetulan banyak digandrungi gadis-gadis . Jo begitu baik kepadanya, begitu ramah, kendati beberapa teman mengatakan bahwa dia termasuk orang yang selalu formil dan membatasi diri dalam pergaulan dengan gadis-gadis. Saat itu aku merasa menjadi gadis yang istimewa bagi dia. Tak lama sesudah masa orientasi, kami jadi tampak seperti sepasang kupu-kupu. Dimana ada Johan, di situ ada Priska. Begitulah kata mereka.
Hingga kemudian…
Aku tidak tau apa yang membuat hubungan kami jadi begitu kaku. Bahkan ketika salah satu teman akrabnya mendatangiku dan bertanya,;
“Ada apa antara kalian, kau dan Jo…”
Aku tak bisa menjawab dengan benar.
Apa yang harus kujawab? Aku sendiri tidak tau mengapa Jo tiba-tiba berubah sikap.
Arif, sahabat Jo, menatapku dengan pandangan menyelidik. Berkali-kali dia bertanya padaku, bukan hanya sekali ini saja, mengenai hubungan kami yang kian memburuk.
“Apakah ada orang ketiga?” tanya Arif.
Kugelengkan kepala kuat-kuat.
“Lantas apa dong, yang membuat kalian seperti ini?”
“Aku tidak tau.”
“Kau pasti tau, tapi berusaha menyembunyikannya dariku.”
“Sudahlah. Mengapa tidak kautanyakan saja pada Jo? Dia yang punya masalah, bukan aku!”
Arif terdiam, lama. Sepasang matanya bagai mata rajawali yang siap mematuk, mencari-cari jawaban yang diinginkannya keluar dari mulutku. Tidak ,..tidak akan kukatakan padanya bahwa ada Aay yang tiba-tiba membentangkan jurang diantara kami. Untuk apa? Kalau kukatakan pada semua orang bahwa Jo jatuh cinta lagi pada pacar lamanya, apakah akan menerbitkan iba dalam hati Arif dan teman-temannya yang lain? Oho, itu yang sungguh aku tidak suka. Dikasihani orang hanya karena putus cinta! Tabu bagiku.
Namun kadang aku teringat bagaimana dia menulis sms untukku dengan begitu indah. Selalau diawali dengan kata-kata, : Priska yang punya mata bintang…
Hah!
Kini aku sadar itu semua cuma rayuan gombal. Apa? Kini dia juga mengatakan bahwa sepasang mata Aay adalah sepasang bulan kembar yang berkilauan dan sangat disukainya. Dasar!
Aku hanya menyadari bahwa belakangan ini sebelum hubungan itu makin memburuk, kami sering bertengkar karena hal-hal yang menurutku sepele. Jo memang sudah berubah. Dia tak sama lagi dengan Jo yang dulu kukenal Aku tidak bisa lagi memahami, apa yang dia inginkan dariku. Rupanya dia juga mulai kesulitan untuk mengerti keinginanku. Untuk itu, barangkali, kami jadi sering berselisih paham. Kami jadi merasa sama-sama paling benar. Dan kalau dikatakan kami adalah manusia-manusia yang keras kepala, itu mungkin benar. Dia keras, akupun sama. Dan yang paling utama, kami sama-sama mempertahan keangkuhan kami mati-matian. Aku tidak mau terlihat lemah didepannya. Sejak kecil aku telah dididik untuk menjadi seseorang yang mandiri dan punya prinsip. Mungkin itu yang tidak disukai Jo. Dia lebih menyukai gadis-gadis manja yang selalu bergantung kepadanya, yang bisa dibelai-belai seperti membelai-belai kucing anggora miliknya.
Hingga suatu hari aku jadi merasa benar-benar lelah.
“Sudahlah, Jo,” kataku mengeluh. “Untuk apa kita selalu bertengkar? Semua itu hanya akan menambah keruwetan-keruwetan baru yang kian menekan perasaan kita. Pertentangan-pertentangan semacam ini kurasa tidak ada manfaatnya sama sekali. Aku sudah bosan bertengkar.”
“Sama Pris. Aku juga sudah mulai bosan!” jawabnya garang.
Dan memang. Dia sudah bosan denganku. Menurut dia, aku sudah tidak menarik lagi. Rewel. Cerewet. Dan mulai mengekang. Jangan begitu Jo, jangan begini Jo… ! Menurutnya, aku terlalu mendikte.
“Aku tidak mau didikte,” katanya suatu ketika. “Masa untuk datang kerumahmu saja aku musti diatur, kapan boleh datang dan kapan tidak boleh. Ya nggak mau dong! Kita kan sama-sama bebas menentukan saat mana kita mau datang atau tidak. Ya, nggak?”
Saat itu dadaku serasa mau pecah.
Siapa mendikte siapa? Apa dia tidak sadar bahwa sebagai koordinator keseniana dan vocal grup di kampus, waktuku sudah hampir tersita habis? Belum lagi tugas-tugas seperti merencana, perpektif, atau yang lain. Semua itu harus diatur waktunya agar efektif. Kalau terus-terus pacaran, mana bisa beres semuanya?
Tetapi, ah.
Mana mau dia mengerti kalau akupun ikut berbicara panjang lebar. Seperti membangunkan macan tidur, jadinya. Karena itu aku memilih diam. Biarlah dia mau bicara apa diluar, aku akan tetap diam.
Kini aku makin yakin kalau dia benar-benar sudah berniat meninggalkanku. Namun, kuakui, betapapun aku berusaha, tak sedikitpun pernah berhasil mengubur kenangan lamaku bersama Jo. Tidak. Aku tidak bisa membencinya. Kendati sms-smsnya melalui hape nana semakin gencar membakar perasaanku.
Sebenarnya dia bukan pria yang tampan. Dia biasa-biasa saja. Kata orang standardlah. Namun Jo punya senyum yang amat menarik. Tatap matanya gagah dan memikat. Dan pesonanya seakan menebar kemana-mana. Gadis-gadis selalu bersorak riang bila dia lewat dan melambaikan tangan sambil tersenyum. Seakan mendapat durian runtuh saja. Bleh!
Aku bahkan sering membayangkan, bel rumahku berdentang. Dan seraut wajah muncul di kisi-kisi pagar sambil berseru seperti biasa:
“Tampang yang membosankan datang lagi…”
Dan seperti biasa aku akan membukakan pintu pagar lebih lebar sambil tertawa senang.
Kini hal itu tak akan pernah terjadi lagi. Dia laksana bola yang sudah menggelinding terlalu jauh dan tak mungkin dikejar lagi. Jo seakan seseorang yang sangat asing bila kebetulan bertemu di koridor kampus. Seperti siang itu, mereka kembali bertemu di tempat yanag sama.
Suasana kampus sudah sangat sepi. Diluar hujan turun cukup deras. Angin dingin meniup masuk dengan bebas menerpa apapun yang melintas dibawah curahannya.
Dari jauh aku sudah bersiap-siap menata debur jantungku. Aku sendiri bingung, kenapa sih setiap bertemu Jo, dada ini selalu bergedebak gedebuk tak keruan? Padahal sudah jelas, dia bukan untukku lagi. Tidak itu saja. Bahkan dengan menyaksikan Nana membaca sms di hapenya saja, jantungku ini sudah melompat-lompat ke leher. Sialan!
Jo menghentikan langkah begitu kami saling bersimpangan.
“Hai!” sapanya tersenyum tanpa beban.
“Kau masih disini, Pris?” lanjutnya.
‘”Kau juga. Menunggu siapa?”
“Aku sengaja menunggumu.”
“Aku?”
Aku seakan-akan jadi dungu. Seolah kutatap oase yang indah berlimpahan air bening, namun yang kurasakan adalah sayatan pedih di dalam dada.
“Ya. Ijinkan aku pamit padamu.” Katanya.
Darahku beku seketika. Kukatupkan bibir kuat-kuat agar tidak terlalu gemetaran. Kubalas tatap matanya dan kutekan perasaan yang menggejolak dihatiku.
“Aku akan ke Bandung, nanti sore,” lanjutnya. Begitu tenang dia mengatakannya. Begitu biasa. Seakan diantara kami tidak pernah terjadi sesuatu. Seperti bibirnya itu tidak pernah menyentuh bibirku. Seperti…ah, Tuhan! Bagaimana dia bisa melupakan semua itu? Sedangkan aku yang pernah melukai hati orang paling tidak akrabpun tak bisa melupakan dan bersikap biasa seperti ini bila bertemu di jalan.
Kubiaskan senyum tipis di bibir.
“Begitu tiba-tiba?” tanyaku datar.
Diapun tersenyum. Tipis. Sama sepertiku. Disandaarkannya punggungnya ke dinding. Hujan kian deras. Butiran air hujan dibawa angin bertempias ke lorong koridor dimana kami berdiri.
“Sebetulnya sudah lama kurencanakan. Nana sering kuberitau tentang rencana ini. Apa dia tidak mencderitakannya padamu?”
Aku berpura-pura berpikir dan mengingat-ingat. Ya, untuk apa aku berterusterang kepadanya bahwa hubungan sms antara dirinya dan Nana sangat sangat melukai hatiku? Kalau itu kukatakan, apakah akan membawa dia kembali padaku karena iba? Akankah dia merasa betapa aku mencintanya amat sangat, lalu membuat dia berbalik langkah dan membalas cintaku? Aku tidak percaya itu. Bahkan aku lebih percaya seandainya dia tahu betapa aku terluka karena cintaku tak terbalas, dia justru akan tertawa ngakak dan menebah dada dengan sombongnya!
“Tidak. Dia tidak mengatakan apa-apa,” kataku tetap datar.
Johan tertawa getir.
“Sayang sekali, ternyata kau tetap tegar dengan keangkuhanmu. Aku tau, kau bukan saja mendengar dari Nana soal ini, kau bahkan membaca seluruh smsku padanya. Kau tau soal Bandung, soal Aay, semuanya. Dan kaupun terbakar oleh perasaan cemburu. Ah, kau tetap saja angkuh!”
Kini dada ini benar-benar meledak.
“Kalau kau sudah meyakini ucapanmu itu, kenapa pula kau pertanyakan padaku? Buang-buang waktu saja kamu, Jo.”
“Aku ingin kau tau, aku akan bertunangan dengan Aay.’
“Oh ya? Baguslah kalau begitu. Aku ucapkan selamat.”
Kulihat Jo menelan ludah. Kecewakah dia melihatku tidak meraung dan memohon-mohon dalam isak tangisku untuk dia membatalkan pertunangan itu? Kini hati ini benar-benar beku sudah. Mengapa mendadak saja aku merasa ringan? Tidak ada beban, tidak ada penyesalan mengapa kami harus terus menerus bertengkar.
Aku menyalaminya, kemudian meneruskan langkahku menuju areal parkir. Johan menyisih, membiarkanku lewat tanpa mengatakan apa-apa lagi. Jadi beginilah akhirnya, pikirku. Ternyata perpisahan itu sangat mudah. Tidak seperti yang kubayangkan semula, ternyata melepaskan Jo justru membuat langkahku ringan. Ya, dia memang bukan untukku. Dia untuk Aay yang masih suka manja dan aleman. Tidak untuk Priska yang sekeras karang.
Selamat tinggal Jo.
Semoga kau akan mendapatkan yang kau idamkan dengan gadis belia kelas duabelas itu.
Hujan masih juga deras, mengguyur kepalaku, membasahkan sekujur tubuhku. Dingin. Tapi tatkala aku menoleh sekali lagi sebelum mencapai kendaraan pribadiku, kulihat Jo masih berdiri bagai patung es disana. Dingin. Sama dingin dengan udara kala itu.
Kulambaikan tangan sambil memutar kunci pintu mobil. Aku melebarkan tawa hangat. Sehangat hatiku kala itu. Meninggalkan Jo untuk Aay, ternyata bukan apa-apa bagiku. Tak ada yang berkurang, atau retak lagi. Begitu mudah, begitu ringan. Ajaib, kupikir begitu. Ajaib,apakah kau pikir begitu juga? Kedamaian akan terbang bersama mega, mencarimu Jo. Disana, bersama Aay.

(By indrawati basuki, untuk Johan, Dea, dan Frida)

Minggu, 07 Februari 2010

BADAI PASTI REDA (6-TAMAT)


Kehidupan berjalan terus dari hari ke hari. Ketika pada suatu pagi Intan mengatakan pada Abi akan pergi ke rumah Mamanya karena Reza ulang tahun, Abi menyahut apakah tidak sebaiknya nanti sore saja ke sana bersama-sama.
“Pagi ini ada peresmian jembatan yang dihadiri Gubernur. Apa kau sudah mencarikan hadiah untuk Reza?”
Intan menyorongkan segelas susu ke depan suaminya, dan Abi meminumnya dalam tegukan-tegukan besar.
“Belum,” jawab Intan.
“Apa rencanamu tentang hadiah itu.”
“Aku belum tau. Mungkin dasi?”
“Ah,…” Abi tertawa tanpa bermaksud mengejek isterinya. “Kulihat dia sudah punya segudang dasi. Carikan yang lain saja. Misalnya…apa ya? Lho, kok aku jadi ikut bingung?”
Intan tertawa.
“Biar nanti kulihat di took. Mungkin dengan jalan-jalan aku bisa puny aide bagus untuk hadiah itu.”
“Jangan peergi sendiri. Ajaklah Anita.”
Intan tersenyum. Dia senang suaminya mengijinkan Anita ikut serta, sebab biasanya Anita selalu sibuk melayani Abi di kantor. Anita memang seorang sekretaris yang handal. Abi sangat sayang kepadanya. Begitu juga Intan. Dan Anita sudah barang tentu sangat suka diajak jalan-jalan. Itu artinya cuci mata bagi dia. Setelah berhari-hari bekerja lembur menyelesaikan peke3rjaan ditil menjelang peresmian jembatan baru.
Hampir dua jam, Intan dan Anita berkeliling di Tunjungan Centre. Rasanya belum juga berhasil menemukan sesuatu yang kira-kira disukai Reza. Saat itulah Anita melihat Tommy. Anita melambaikan tangan seraya berteriak,:
“Tommy!”
Intan ikut menoleh kea rah sana dan tertawa riang melihat Tommy.
“Hai Tom!” serunya melambai-lambaikan tangan.
Tommy tertawa melihat mereka, dan berlari kecil menuju ke tempat Anita dan Intan.
“Ngapain disini?” ujarnya .
“Kami sedang cari hadiah untuk Reza.”
“Kado untuk Reza? Ya ampun, aku sampai lupa kalau hari ini dia berulang tahun. Rencananya mau cari apa?”
“Apa ya, Tom? Kami sendiri juga lagi bingung nih.”
Tommy berkacak pinggang sambil berpikir. Apa ya?
“Bagaimana kalau pencukur listrik?´ ujarnya.
Intan dan Anita saling bertukar pandang. Ya, kenapa tidak teerpikir oleh mereka sebelumnya? Bukankah kumis dan jenggot Reza selalu tumbuh subur setiap hari dan harus mencukurnya tiap dua hari sekali?
“Ya ampun, kenapa ya kita tolol sekali hari ini?” tawa Intan berderai.
“Bukan tolol,” kata Tommy terbahak. “Tapi, pikun!”
Mereka tertawa. Sambil tertawa-tawa pula mereka masuk ke toko yang sesungguhnya sejak tadi sudah berkali-kali mereka masuki. Tommy ikut memilih dan menyuruhnya membungkus dengan kartas kado sekalian. Dia sendiri juga membelikan sesuatu untuk Reza. Bahkan Anita juga memilihkan beberapa saputangan dalam doos manis untuk Reza. Jadi nanti sore Reza akan menerima tiga kado sekaligus. Alangkah senangnya dia nanti. Intan merasa lega bisa memberikan sebuah surprais buat Reza. Dia sangat berharap, pada suatu saat nanti Reza tiba-tiba bisa jatuh cinta pada Anita. Diliriknya Anita, gadis yang manis dan pintar. Pasti Mama juga akan suka punya menantu seperti Anita. Hmm.
“Kira-kira, Mama masak apa nanti ya Nit?” tanyanya pada Anita. Membayangkan makan malam yang sangat membahagiakan karena ada Abi yang sudah dua kali tidak pernah datang ke ulang tahun Reza.
Anita tertawa kecil.
“Pastinya ada sup merah,” sahutnya.
“O, itu pasti.”
“Fruit salad?”
“Pasti. Itu kesukaan Reza.”
“Ayam madu!”
Intan tertawa. Mereka mengikuti langkah Tommy ke bagian boneka. Melihat-lihat bermacam boneka yang lucu-lucu membuat mereka jadi kembali kea lam kanak-kanak.
Tiba-tiba wajahnya memucat. Di depannya berdiri Hapsari dan seorang lelaki hitam dengan kepala botak, tersenyum mengejek. Dengan gaya Marilyn Monroe, Hapsari beerlenggak lenggok kian dekat kepadanya.
“Apa kabar, Tom?” sapanya. Tommy tergugu. Kerongkongannya tersumbat. Dilihatnya sekilas, Intan dan Anita tengah memilih-milih boneka tak jauh dari mereka.
Hapsari ikut menengok kea rah Intan dan Anita.
“Siapa dia, pacar kamu?” tanya Hapsari tanpa mengalihkan mata dari Intan dan Anita.
“Ya.”
“Oya? Pasti bukan yang berbaju biru itu kan?”
Tommy ingin segera pergi dari tempat itu, namun langkah Hapsari menghalanginya.
“Berani bertaruh, yang kulitnya putih itu pasti Intan. Ya, kan?”
Tommy merasa taak beerdaya. Namun kekuatirannya akan terjadi sesuatu atas diri Intan, membuat dia berusaha menghalangi jalan menuju kea rah Intan.
“Kenapa kau berdiri disitu, kau takut aku mendekati Intan?”
“Kau pasti marah sekali ditinggalkan Abi,” desis Abi. “Tapi bukan begini caranya.”
“Begini bagaimana? Apa maksudmu?”
“Kalau dendam, bukan pada Intan kau lampiaskan.”
“Oya? Lantas bagaimana caraku melampiaskan dendamku, he? Katakan.”
Belum sempat Abi menjawab, tiba-tiba Intan dan Anita berjalan mendekat. Sayangnya, dulu Tommy tidak pernah memberikan gambaran tentang sosok Hapsari kepada Intan. Tentu saat ini Intan tidak tau bahwa yanag sedang berdiri dengan sikap sangat seksi itu adalah perempuan jalang yang hampir saja menghancurkan keutuhan rumahtangganya. Sebaliknya, Hapsari tau betul, perempuan cantik berbaju biru itu adalah isteri Abi. Dia melihat dengan geram kea rah Intan. Langkah Intan yang gemulai tanpa dibuat-buat, membuatnya gemas. Tommy merasakana tangannya gemetar saat melihat ekspresi wajah Hapsari. Dilihatnya kemudian Hapsari menggedikkan kepala, dan …
Sesuatu benda berkilat tiba-tiba muncul begitu saja di tangan lelaki berkulit hitam berkepala botak yang langsung menyongsong kedatangan Intan.
Darah Tommy tersirap seketika.
Jangan! Batinnya berteriak.
Tapi dengan cepat, secepat petir menyambar, tubuh Tommy melompat menyongsong benda berkilat itu. Dirasakannya kemudian sesuatu masuk ke dalam perutnya, menerbitkan rasa sakit dan pedih luar biasa. Ketika didekapnya, benda cair berwarna darah mengalir dari sela-sela jemarinya.
Abi menggigit bibir kuat-kuat. Tubuhnya terhuyung, kemudian dengan lemas roboh.
Si Hitam botak terkejut , pisau besarnya mengenai sasaran yang salah. Secepat kilat ditariknya tangan Hapsari mengambil langkah seribu,…kabur.
Kejadian itu begitu cepat, secepat kedipan mata. Ketika Intan melihat Tommy jatuh, dipikirnya Tommy terpeleset atau apa. Namun begitu mendekat dan melihat darah merah membasahi kemejanya, Intan menjerit. Kepalanya mendadak berputar. Perutnya bagai diaduk-aduk. Didengarnya Anita juga menjerit disusul datangnya para pramuniaga yang berkerumun mengelilingi mereka.
“Tommy, Tommy, kamu kenapa?”
Intan memeluk dan mendekap kepala Tommy ke dadanya. Airmatanya mengucur deras.
Tommy masih sempat tersenyum tipis.
“Hapsari, Hapsari…” bisiknya.
Intan dan Anita baru sadar apa yang telah terjadi ketika Tommy benar-benar pingsan. Dia berteriak minta tolong kepada orang-oranag yang berkerumun . Dipandangnya wajah-wajah asing disekitarnya, dan memohon, : Tolong securitu, tolong security. Beberapa petugas keamanan yang tanggap, dengan cepat mengejar Hapsari dan pengawalnya.
Beberapa orang lain kemudian mengangkat tubuh Tommy dan membawanya ke rumah sakit terdekat.
Intan setengah berlari mengikuti brankar yang membawa Tommy ke ruang Gawat Darurat. Segera Tommy mendapat pelayanan. Perutnya yang luka segera dijahit, dan jarum infuse segera dipasang. Intan merasa lega sekarang. Dia baru teringat untuk memberitaukan hal itu ke rumah. Anita dimintanya segera ke rumah Mamanya dan menemui Abi di lapangan.
“Ceritakan saja apa adanya, Nit. Biar mas Abi tau, beginilah akibatnya.”
“Ya, Mbak. Lantas mbak Intan sendiri, bagaimana?”
“Aku tetap disini menu nggu sampai Tommy sadar. Oya, katakan pada Reza untuk mengurus ke PMI sebab kita harus mengganti darah yang sekarang ditransfusikan ke Tommy. Jangan lupa, ya Nit.”
Anita memeluk Intan sekejap sebelum pergi meninggalkannya.
Intan duduk di sisi pembaringan. Diam-diam dia berdoa untuk Tommy, memohon kepada Tuhan agar Dia menyelamatkan jiwa Tommy dari kematian.
Ya Allah selamatkanlah dia. Jangan Kau ambil dia dari kami. Dia adalah teman baik bagi anakku Andre, kami semua menccintainya. Hatinya sangat lembut. Maka kumohon, selamatkanlah dia.
Ketika kemudian Tommy membuka matanya perlahan,yang nampak pertama adalah senyum Intan. Ketika INtan menyentuh tangannya, Tommy membalas genggaman itu dengan kuat.
“Syukurlah kau selamat,” katanya. “Terlambat sedikit saja…”
“Apa yang sebenarnya terjadi, Tom? Kenapa dia tiba-tiba ada disitu?”
“Dia sudah mengamatimu sejak lama,” sahut Tommy. “Itu sebabnya mas Abi tidak suka mbak Intan pergi sendirian saja, selalu harus ada yang menemani..”
“Dia sengaja mencari kesempatan untuk menyingkirkan aku?”
Tommy mengangguk.
“Mbak Intan tau, siapa dia?”
“Ya, pada akhirnya aku tau.”
“Oh.”
“Dia memang cantik. Tak heran…”
“Sudahlah. Mas Abi bagaimana?”
“Dia baik-baik saja. Tadi security mall mengejar perempuan itu. Kudengar-dengar mereka tertangkap.”
“Alhamdulillah.”
“Ya, Alhamdulillah.”
“Boleh minta minum, Mbak?”
“Tentu, tapi sedikit-sedikit dulu ya Tom?”
Tommy tersenyum membalas senyuman Intan. Perlahan dia meneguk air putih yang disodorkan Intan kepadanya.
“Tom,..”
“Ya?”
“Kau sudah mengorbankan hampir saja, nyawamu untukku. Untuk sesuatu yang sebetulnya bukan kewajibanmu. Kenapa kau lakukan itu?”
Tommy mengulurkan gelas kosong pada Intan. Ditariknya selimut lebih tinggi, kemudian menjawab peertanyaan itu dengan senyuman di bibir.
“Kau terlalu berharga bagiku, mbak Intan. Lebih berharga dari nyawaku. Kau amat dibutuhkan Andre dan Irin. Bagaimana aku bisa membiarkanmu celaka begitu saja ditangan orang?”
“Terimakasih ya Tom, kau juga amat berarti bagi kami. Kau harus cepat sembuh.”
Tommy tertawa tanpa suara. Digenggamnya tangan Intan erat
“Taukah mbak Intan, bahwa setiap malaam sebelum tidur aku selalu berdoa pada Tuhan agar bisa kutemukan perempuan seperti mbak Intan, yangt sebiru lautan. Tenang, setia, dana lapang hati.”
Mata Intan berkaca-kaca.
“Tommy, yakinlah, suatu saat kau akan menemukan bahkan yang lebih dari itu.”
“Benarkah?”
“Sungguh!”
Tommy tertawa lebar. Mereka saling berpandangan lama. Barangkali Cuma meereka yang tau sesungguhnya apa yang sedang mereka katakana lewat bahasa batin saat itu. Ya, siapa tau?
Suara tapak kaki ramai menuju ke kamar rawat Tommy.
“Mereka datang,” kata Intan.
“Sepertinya mereka membawa pasukan satu batalyon,” kelakar Tommy.
Intan melihat arlojinya, pukul empat sore. Waktu untuk berkunjung. Suara tapak sepatu riuh kian mendekat, dan begitu mereka berada di ambang pinta…Olala, benar saja. Mereka memang membawa pasukan besar. Seluruh keluarga datang menjuenguk, dan beramai-ramai mengerubuti Tommy dengan pertanyaan-pertanyaan.
Intan menyisih. Dari ambang pintu sebelum pergi, dia menengok sekali lagi. Tommy teersenyum kepadanya, dan melambaikan tangan. Sepasang matanya menatap lembut kepergian Intan, membiarkan sebagian hatinya yang lain ikut bersama kepergiannya. Kosong sudah dadanya, namun kebahagiaan yang lain mengisinya kembali segenggam demi segenggam.


(By Indrawati Basuki)

Sabtu, 06 Februari 2010

BADAI PASTI REDA (5)


Hadi mempersilakan Abi duduk lebih enak di sofa ruang kantornya. Suasana ruang kerja terasa sejuk karenaq air conditioning bekerja dengan baik. Kursinya empuk. Udaranya membaurkan wangi jeruk lemon. Namun semua itu tidak terasa nyaman bagi Abi. Dia bahkan merasa pengap dan sumpek. Masalahnya, lelaki di depannya yang kebetulan adalah ipar baginya itu, seakan seorang jaksa yang siap menterorkan beberapa pertanyaan yang bakal menjerumuskannya ke penjara.
Hadi berdehem. Sesungguhnya dirinya tak lebih nyaman daripada Abi. Diapun bingung akan memulai dari mana pembicaraan itu. Selama ini hubungannya dengan ipar yang satu ini baik-baik saja. Mereka tidak pernah sangat akrab, pun juga tidak pernah jelek. Biasa saja. Mereka kan juga sama-sama sibuk. Abi sibuk dengan usaha property, sedangkan Hadi bekerja sebagai karyawan berposisi bagus di sebuah kantor BUMN. Kalaupun kebetulan mereka berdua bertemu di rumah mertua, mereka cukup bicara yang ringan-ringan saja. Obrolan mereka selama ini hanya di sekitar diri mereka, anak-anak, maupun perkembangan politik di negera ini. Hanya itu. Tetapi kini, Hadi seakan mengemban sebuah misi besar. Misi keluarga.
“Ehem,” Hadi kembali berdehem. “Begini, dik Abi. Sebelumnya saya minta maaf kalau nanti kata-kata saya ada yang menyinggung perasaanmu. Maklumlah, kita ini kan manusia yang tak pernah luput dari kesalahan.”
Abi mengangguk takzim.
Rasanya dia sudah bisa mengira-ngira kea rah mana percakapan itu nanti. Dan dia sudah siap!
“Saya mendengar selentingan yang negative tentang diri Adik,…maaf ya Dik, mengenai hubungannu dengan seorang karyawati Bank Swasta. Apakah betul itu?”
Abi kembali mengangguk. Takzim.
“Betul, Mas.”
“Ohhh…”
“Tetapi itu sudah lewat.”
“Maksudnya?”
“Hubungan itu sudah saya putuskan.”
“Alhamdulillah, syukurlah kalau begitu.”
“Tapi rupanya dia tidak menyukainya. Sekarang dia mengancqm akan menghancurkan keluarga kami dan menculik anak-anak. Saya sendiri…saya sendiri sedang kalut, Mas.”
Sepasang mata Hadi mendadak kelam.
“Bagaimana bisa begitu?” tanyanya.
“Mas, saya sangat menyesal. Sungguh! Saya menyesal mengapa saya harus menjerumuskan diri sendiri ke dalam sebuah hubungan seperti itu. Dia itu benar-benar seorang professional. Bukan tandingan Intan kalau harus berbaku hantam secara kasar. Kini8 yang saya pikirkan adalah bagaimana saya harus melindungi isteri dan anak-anak saya.”
“Seharusnya itu sudah Adik pikirkan sejak awal. Kalau saja kita bisa mengendalikan diri, pasti kejadian seperti ini tidak akan terjadi pada diri kita, kan?”
“Ya, Mas. Saya khilaf.”
Hadi menghembuskan nafas berat.
“Saya maklum. Itulah kekurangan kita. Sangat manusiawi.”
Mereka teerdiam cukup lama.
“Kalau boleh saya bicara,…” ujar Hadi akhirnya.
“Silakan, Mas.”
“Saya akan bicara padamu sebagai sesama laki-laki, bukan sebagai seorang kakak kepada seorang adik, bahwa sebenarnya sebagai lelaki, bukan hanya dik Abi saja yang pernah melakukan perselingkuhan semacam ini. Kalau saja semua orang sejujur dik Abi, maka semua laki-laki pasti akan mengatakan hal yang sama. Bahwa benar, hampir semua lelaki suka sekali melakukan perselingkuhan meski hanya perselingkuhan mata. Namun ada caranya. Kalau memang perlu sekadar sebuah pengalaman atau sekadar main-main, kita beli saja. Tidak usah kita melibatkan emosi di dalamnya. Orang mengatakan,
Kalau ada penjual sate di luar sana, kenapa juga kita mesti membeli kambing? Kita beli saja satenya. Kita makan, kita bayar, beres!”
Hadi mengulas senyum di bibir.
“Jangan kita melibatkan diri dengan seorang wanita begituan lebih dari satu jam. Selain beayanya besar, risikonya juga tinggi. Gimana menurut pendapatmu?”
Kali ini Hadi tertawa lebar.
“Saya harap dik Abi benar-benar telah melupakan dia. Tak adaa yang bisa diharapkan dari perempuan begituan sebuahb ketenangan batin. Salah-salah kuta malah dirongrong, dibuat sapi perahan. Ini betul lho! “
Abi tertawa.
“Jangan tertawa, Dik. Itu kenyataan. Apalagi kalau kita sudah memiliki sebuah mahligai rumah tangga yang harmonis, yang tenteram. Kita sudah memiliki isteri yang setia dan berbakti, serta ada anak-anak yang manis, ah, masa semua itu akan kita sia-siakan? Kalau mau peerempuan cantik saja gampang, Dik. Amat mudah. Tapi untuk memiliki isteri yang setia, tidak cerewet, aduuuhh, sulitnya setengah mati!”
Abi tertawa makin lebar. Lucu juga kakak ipar ini, pikirnya. Dengan cara berbicara seperti itu kesan tegang tidak nampak sama sekali. Mereka membicarakan masalah itu dengan santai. Pertemuan itu membuat Abi bertekad untuk kembali membina ketenteraman dalam istananya sendiri. Ada yang harus dibenahi kembali, tetapi rasanya itu tidak terlalu sulit.
Intan beergegas masuk ke kamar karena tangisan Irin.
“Adik minta minum, Mama!” teriak Andre dari sudut ranjang adiknya.
“Tapi Irin baru saja minum,” sahut Intan sambil mengamati bayinya.
“Kalau dikasih minum lagi?”
“Perutnya akan meletus, …taarrr…”
“Ih, Mama!”
Irin terus manangis, menghentak-hentakkan kakinya yang bulat. Intan membuka selimutnya, dan meraba pantatnya.
“Ooh, adik pipis, sayang,” katanya sambil tersenyum pada Andre.
Digantinya popok bayi itu dengan pempers yang baru. Andre mengamati dengan cermat semua yang dilakukan ibunya.
“Adik jorok,” ujarnya. “Mengompol terus. Lama-lama uang Mama habis untuk beli pempers ya, Ma?”
Mamanya tersenyum.
“Nggaklah. Uang Mama kan masih banyak.”
“Oya?”
“Iya dong.”
Intan berbicara terus dengan si sulung sementara tangannya menepuk-nepuk pantat Irin hingga anak kecil itu tertidur lagi.
“Adik sudah tidur, Ma! Tuh, matanya sudah merem.”
“Ya.”
Andre tersenyum.
“Mama pinter menidurkana adik,” ujarnya lucu.
“Menidurkan Papa juga pinter, apalagi cuma menidurkan adik,” tiba-tiba Abi nyeletuk dari tengah bingkai pintu.
“Papa!”
Andre menjerit riang sambil terus melompat ke dalam gendongan ayahnya. Mereka saling menggelitik dan tertawa-tawa dengan senang. Intan meletakkan bayinya di ranjang sambil berpikir keras.
“Sejak kapan Abi jadi ramah begitu?”
Sudah dua tahun ini lelaki itu tiba-tiba berubah jadi gunung es. Dia tak pernah mengajaknya bicara, sepulang dari kerja, dia akan duduk di depan tivi sambil membuka Koran lebar-lebar. Kalau semua sudah pergi tidur, dia akan memadamkan lampu dan merebahkan diri diam-diam di ranjang satunya, bukan lagi seranjang dengan Intan. Atau lebih parah lagi, dia akan kembali pergi, dan baru pulang keesokan sorenya. Kemana semalaman dia tidur? Itu yanag Intan tidak pernah tau, dan tidak mau tau. Dia akan diam. Dia akan membiarkan suaminya itu berkelana kemana saja dia suka. Intan seakan sudah tidak membutuhkan Abi lagi. Kini melihat betapa akrab dia dengan Andre, Intan malahan jadi curiga. Apa yang dikehendaki laki-laki itu sekarang? Kalau dia mau membawa Andre untuk hidup bersama si Hapsari itu, …oo tunggu! Langkahi dulu mayatku!!
Ingat akan hal itu, muncul kembali kemarahannya pada Abi. Namun ditekannya perasaan itu dan membiarkan Abi menatap wajahnya yang tetap tenang dan rata bagai permukaan kaca. Heran, pikir Abi. Si Intan ini manusia yang terdiri dari darah dan daging, bukan? Atau dia semacam patung lilin?
Abi menunduk, menurunkan Andre dari gendongannya. Diciumnya kedua pipi anak itu sekali lagi, kemudian meluruskan punggung, dan memandang Intan dengan sorot mata penuh kerinduan. Sekilas Intan membalas tatapan matanya. Mendadak pula hatinya bergetar aneh. Seakan dia melihat kelembutan dalam mata Abi. Kelembutan yang selalu dirindukannya, yang hampir saja dia tak berani mengharapkannya didapatkan kembali dari suaminya.
“Kau kelihataan lebih cantik setelah melahirkan,” kata Abi tiba-tiba
Intan melangkah keluar kamar, diikuti Abi di belakangnya.
Kini mereka duduk di depan televisi menemani Andre yang sedang asyik menonton acara di chanel kesayangannya.
“Aku sudaha pasrah” sahut Intan.
“Apa maksudmu?”
“Pasrah ya pasrah. Aku sudah meletakkan semua keinginanku di bawah keinginanmu. Irin sudah keluar dari perutku. Jadi aku bebas sekarang. Kau boleh pergi, atau tidak, itu terserah kamu. Aku sudah siap menerima kenyataan sepahit apapun tanpa harus kuatir akan perkembangan janin dalam perutku.”
“Kenyataan apa?”
“Seandainya saja…”
Intan mengerling sejenak kearah suaminya. Seperti sudah diduga, Abi terlihat biasa saja. Intan lantas berpikir, seperti itukah dia bila sedang bersama Hapsari? Pasti tidak, pikirnya sinis. Mana mungkin orang yang beerpacaran tetap beku saja seperti daging dalam freezer. Namun kali ini Intan salah duga. Abi terdiam karena sedang menyusun kalimat. Dia sedang ingin bicara banyak dengannya.
“Tumben hari Minggu berada di rumah, kau tidak pergi? Biasanya sudah menghilang sejak kemarin,” sindir Intan pedas.
Abi merasa diri terhempas. Suara sindiran itu disampaikan dengan nada datar. Namun bagi Abi seakan menggeluduk di telinganya.
Abi membasahi bibirnya sejenak. Lalu katanya:
“Terkadang aku berpikir, cintakah kau kepadaku atau tidak. Apa yang menyebabkan selama ini kau acuh tak acuh kepadaku? Aku hanya tidak mengerti mengapa seakan-akan kau samasekali tidak perduli padaku. Tidak marah, tidak mengusirku, atau minggat sekalian padahal aku sudah jahat kepadamu. Aku menyakiti hatimu. Aku melukai harga dirimu. Aku…”
“Siapa bilang? Aku mencintai kamu”
Abi terlonjak, menoleh cepat kearah Intan.
“Apa kau bilang?”
“Aku mencintamu, tetapi kamu yang tidak mencintai kami. Itu terbukti dengan rencana kalian untuk menikah, bukan? Dengan begitu perjalanan kita sampai disini, kan?”
“Aku cinta padamu, Intan. Juga pada anak-anak kita. Apakah kau masih tidak juga bisa merasakannya?”
Intan tidak menjawab, hanya tetap menyungging senyum tipis di bibirnya.
“Percayalah padaku,” kata Abi seperti memohon. “Aku ingin kita kembali seperti dulu.”
Abi menatap wajah cantik itu dari samping. Betapa inginnya dia memeluk dan mencium bibirnya. Tetapi… ah! Sungguh rasanya tidak sanggup. Abi merasa betapa saat ini dia sedang menjadi serigala jahat yang tak mungkin bisa dipercaya lagi kejujuran kata-katanya.
“Walau benar aku isterimu,” jawab Intan pelan, “…aku tidak berhak membatasi kebebasanmu. Kau sendirilah yang mempunyai hak itu. Dan sejauh mana kau akan memakainya tergantung kepada dirimu sendiri.”
Abi menghela nafas. Dadanya sesak.
“Kawinlah kalau kau mau kawin, tetapi ceraikan aku dulu. Dan aku akan segera angkat kaki dari sini bersama anak-anak kalau kalian menghendaki rumah ini. Aku tidak memerlukan belas kasihan darimu, percayalah, aku sanggup menjaga diriku sendiri dan anak-anak.”
Wajah Abi memerah saga.
“Aku tidak akan kawin lagi!” tegasnya dengan bibir kering.
“Aku tidak akan kawin lagi, tidak akan pernah. Aku mencintai kalian bertiga. Amat sangat!”
Intan tak bergeming. Tubuhnya kaku bagai arca batu. Bibirnya kelu. Rasanya telinganya sudah salah dengar. Dirinya baru terbangun dari lamunan kelu saat dirasakannya bibir Abi menyentuh pipinya, lembut. Kedua matanya memanas tiba-tiba. Dirasakannya gunung e situ mencair dan membasahi hatinya yang selama ini kering bagai gurun.
“Intan, “ Abi berbisik di telinganya. “Aku cinta padamu, sama seperti saat kita menikah dulu.”
Intan tertunduk. Setetes air jatuh menggelinding ke pipi. (Bersambung)

BADAI PASTI REDA (4)


Pagi itu Meta bermaksud mengunjungi Mama. Meta dan suaminya sudah mendengar semua kelakuan Abi main gila di luaran. Hati Meta panas bukan main. Sambil berbenah rumah, seharian kemarin Meta mengolmel terus. Dan rupanya masih juga diteruskannya hingga pagi ini.
“Laki-laki itu minta di bom, barangkali,” ujarnya uring-uringan. “Adikku mencintai dia mati-matian, eh malah main gila di luar rumah. Gila!”
Duduk di ruang makan, Hadi melihat istrinya dengan wajah bingung. Sementara sambil terus marah-marah Meta mengganti pakaian anak-anaknya, Astrid dan Siska.
“Kau jangan diam saja, Mas,” kata Meta pada suaminya.
“Aku harus bagaimana?”
“Ngomong kek, sama Abi. Barangkali kalau kau yang bicara dia mau dengar.”
“Ah kau ini! Kau kan tau bagaimana Abi? Mana mau dengar dia sama aku.”
“Bagaimana sih, sebagai kakak ipar mustinya kau harus juga punya suara. Jangan diaaaam saja kalau ada apa-apa di keluarga kami!”
“Lebih baik Reza saja.:”
“Reza? Reza, katamu? Mana bisa begitu, Mas! Reza kan belum menikah, tau apa dia tentang masalah suami dan isteri?”
“Dia ‘tuh, saudara kamu laki-laki satu-satunya, Meta. Ya pastilah dia tau masalah hubungan suami isteri dan perselingkuhan nya si Abi itu. Dia kan sudah sarjana sekarang. Jangan mentang-mentang anak bungsu, kau ninabobokkan dia terus. Wajib bagi dia membela kakak-kakak perempuannya dong!”
“Ngomong kok selalu tidak fokus,” gerutu Meta. Rupanya dia sudah selesai mendandani anak-anak. Digaetnya sebuah tas besar dari atas kursi, kemudian menggiring anak-anak ke mobil.
“Ayo sudah, kita berangkat, “ katanya pada Hadi.
“Mau kemana kita?” tanya Hadi sambil melipat Koran yang sedang dibacanya.
“Antarkan aku ke rumah Mama.”
“Sekarang?”
Meta mendelik.
“Ya sekarang!” teriaknya tak sabar. “Memang, tahun depan?”
“Ya, ya.”
Cepat-cepat Hadi meletakkan koran pagi yang tengah dibacanya, lalu mengambil kunci mobil dari gantungan di dinding. Saat menstarter mobil Hadi berpikir, betapa beda antara Meta dan Intan. Seperti bumi dan langit, rasanya. Meta sangat tidak sabaran, keras, meskipun hatinya baik. Atau barangkali karena dia anak sulung yang merasa punya kewajiban melindungi adik-adiknya ? Entahlah. Kalau saja Meta seperti Intan, yang lembut, lemah gemulai, dan cantik seperti Cinderella,…apakah dia akan berbuat seperti Abi, mencari perempuan lain yang lebih punya greget? Ho ho, sudah gila juga aku ini rupanya, berpikir yang tidak-tidak!
“Hayooo, ngelamun lagi! Apa? Ingin punya pacar seperti Abi?” Meta mengejutkan Hadi. Kini mobil sudah meluncur di jalan raya menuju ke rumah Mamanya Meta.
“Bicaramu itu selalu ngawur,” jawab Hadi.
“Habis, sejak kemarin kau ngelamun terus. Awas kalau kau berani main-main denganku. Nih, jotos!”
Hadi tertawa lepas. Kata-kata Meta samasekali tidak dimasukkan ke hati. Baginya, hidup bersama Meta lebih hidup dibanding kalau harus punya isteri seperti Intan.
Dirumah Mama, Meta segera saja membuka siding,
“Harus ada sesuatu yang dilakukan,” katanya bersemangat. “Kita tidak boleh diam saja melihat Intan diperlakukan seperti ini!”
Mama menghela nafas panjang.
“Aku harus bicara apa kepada mereka?” keluh mama.
“Apa sajalah, Ma! Intan kan anak Mama, masa Mama mau acuhin saja anak itu diperlakukan seperti itu oleh suaminya?”
“Baik, baik<” sahut Mama. “Besok Mama akan ke rumah mereka. Biar Reza yang mengantar Mama.”
“Kamu juga harus ikut bicara, Za.”
Reza menatap kakaknya dengan pandangan lucu. Bibirnya mengulum senyum. Reza dengan wajah tampannya itu memasang wajah heran.
“Aku?” tanya Reza tertawa. “Apa yang musti kulakukan? Mama saja bingung, tadi. Apalagi aku. Kamu kan tau, Intan itu orangnya tertutup. Mana mau dia kalau aku ikut campur urusannya? Lagian, dia nggak pernah minta saran padaku.”
“Alah, kamu!” Meta menepis tawa adiknya dengan tangannya yang bergerak seperti mengusir lalat.
“Sudahlah,” kata Reza lagi. “Apa istimewanya Abi jatuh cinta lagi? Biasa, kan? Namanya juga laki-laki. Intan juga kalau7 mau, bisa saja tau-tau jatuh cinta lagi. Iya, kan? Hanya saja, norma ketimuran kita ini yang tidak bisa menerima seorang perempuan bersuami, jatuh cinta lagi pada laki-laki lain. Dan tidak pantas kalau ada perempuan kegatelan jatuh cinta pada suami orang. Itu kurang ajar namanya.”
“Itu kalau benar ada cinta sejati antara mereka.”
“Lhah! Pastilah bukan cinta sejati. Yang ada mungkin Cuma cinta perhitungan, hahaha.”
“Hush!” Mama membentak Reza.
Cepat-cepat Reza memperbaiki duduknya, dan dengan nakal bertingkah lebih serius.
“Ma,” kata Meta pada Mama. “Apa Mama sudah mendengar bahwa Abi mulai menjual barang-barang investasi mereka?”
“Apa saja yang sudah dijualnya?”
“Rumah yang di Pakuwon, mobil terbaru mereka, ..”
“Astaghfirullah, Meta…apa iya seperti itu kelakuan Abi?”
“Aku mendengar satu hal lagi mengenai perempuan itu.”
Suara Meta terdengar sangat tertekan. Bibirnya gemetar menahan amarah. Dua pasang mata tertuju kepadanya, menunggu kalimatnya selesai dengan dada berdebar.
“Perempuan itu minta dinikahi oleh Abi. Padahal..”
“Ya Allah…” suara Mama dan Reza bersamaan menyebut asma Allah.
“Padahal, sebelum ini dia sudah pernah menikah dengaan suami suami orang sebanyak empat kali!”
“Waduh, hebat ‘kali dia!” seru Reza.
“Perempuan itu,…siapa namany?” celetuk Hadi.
Meta menoleh ke arahnya dengan mata seram. Cepat Hadi mengalihkan pandangan kea rah lain. Oho..takut juga si Meta kalau aku ikut-ikutan menjadi seperti Abi, pikir Hadi geli.
“Perempuan ini,” lanjut Meta, “Telah membuat Abi memanipulasi uang proyek.”
“Ini sudah keterlaluan,” Reza berdiri dari duduknya. Wajahnya tak lagi terlihat nakal dan lucu, namun sudah berubah merah padam dan garang.
“Yang terakhir kuketaui, mobil Intan juga ikut terjual untuk menutup manipulasi itu.”
“Mereka punya apa sekarang?” tanya Mama getir.
“Aku tidak tau, Mama.”
“Laki-laki,..” gumam Mama. “Kalau sudah tergoda perempuan , habislah dia!”
“Jadi perempuan ini sudah berhasil menguras pundi-pundi Abi,” kata Hadi.
“Bagaimanapun, perkawinan mereka harus diselamatkan. Kalau sampai terjadi apa-apa, kasihan Andre dan Irin.”
Mereka terdiam cukup lama, masing-masing tenggelam dalam alam pikiran masing-masing. Kesunyian mendadak dipatahkan oleh suara Hadi.
“Kalau Mama setuju, ijinkan saya menemui Abi.”
Mama, Meta dan Reza menatapnya lama, seakan tidak percaya akan usul itu.
“Apa yang akan kau katakan padanya?” tanya Meta.
“Asalkan Mama percaya pada saya, saya yakin, Allah akan membimbing lisan saya.”
Mama tersenyum tipis mendengar ucapan menantunya itu. Kepalanya segera mengangguk pasti dan menepuk bahu Hadi tanda memberikan restu.
Meta hampir tak percaya suaminya puny ide brilian, biasanya…heh! Menggaruk kepala yang gatal saja minta tolong.

Pagi itu Abi harus ke Bank. Namun sesungguhnya sudah menjadi tekadnya untuk tidak menginjakkan kakinya lagi ke Bank itu kalau tak ingin berjumpa lagi dengan Hapsari di bagian giro. Entahlah, dia sendiri tidak tau apa yang membuatnya tiba-tiba membenci perempuan itu. Selama hampir dua tahun perempuan itu sudah membuatnya mabuk kepayang. Laksana seorang nahkoda kapal yang lupa mata angin, lupa keluarga, lupa pada Andre, lupa pada Irin. Maka diperintahkannya Agus pergi ke Bank tersebut untuk kliring. Lalu dia pergi ke lokasi. Proyek jembatan sudah tinggal sedikit lagi, itu memerlukan dirinya untuk selalau hadir minimal dua atau tiga jam di lokasi.
Dulu semasa masih ada Tommy, rasanya semuanya akan beres dengan sendirinya. Tommy laksana tangan kanan yang serupa dengan belahan dirinya. Orang sering bilang, Tommy adalah kembarannya. Mereka sama-sama tegap sama-sama jangkung, sama-sama cakap, dan last but not least, mereka sama-sama tampan. Barangkali jabatan saja yang beda. Semua itu barangkali hanya karena perbedaan nasib.
Tommy!
Ingatan Abi kembali terbang kepadanya. Anak itu baik, pikir Abi sambil memindah persneling. Cuma teerlalu usil, pikirnya lagi. Selalu mau mengaturku, ini boleh atau itu tidak boleh. Tommy sendiri seakan-akan sangat sentiment pada Hapsari. Sebaliknya, Hapsari juga taak pernah merasa menyukai Tommy. Seringkali Hapsari harus mengumpat pada Tommy yang selalu dirasakannya memandang rendah dirinya. Bagaimana tidak rendah? Tanya Tommy suatu ketika. Dia itu perempuan yang tidak beres, katanya berapi-api. Sorry, Mas, dia itu seperti perempuan…
Bila sudah seperti itu, Abi Cuma tertawa dan memintanya untuk tidak meneruskan kalimatnya. Ya, tentu. Tommy membenci Hapsari karena dia amat menyayangi Intan. Ini Abi tau betul. Tommy sendiri merupakan anak emas bagi Intan dan paman yang amat dipuja bagi Andre. Setiap makanan istimewa yang mereka miliki, pastilah mereka akan menyisihkan sebagian untuk Tommy. Tidak boleh tidak. Hal dan kebiasaan itu rupanya sudah menjadi aksioma bagi Intan dan Andre. Pernah suatu ketika Abi menemukan sebatang coklat dibawah bantal Andre, dan ketika Abi mau menggigitnya, Andre berteriak histeris:
“Jangaaan! Itu untuk oom Tommy!”
Yadalah!
Kenapa bukan untuk Papa? Tanyanya ketika itu.
Andre Cuma memberengut dan menyembunyikannya di tempat lain.
Abi menghela nafas panjang. Suasana jalanan agak sedikit macet. Sambil menjalankan kendaraan lebih pelan, Abi terus berpikir.
Perlukah aku merasa cemburu pada Andre? Anak sekecil itu? Anak kandungku sendiri? Apakah selama ini aku merasa dihadapkan pada persaingan? Lalu merasa disisihkan, dan kemudian mencari perhatian diluar rumah? Alalu tenggelam dalam dekapan wanita lain yang memberikan seluruh perhatian kepadanya? Apakah…apakah betul, Tommy merupakan saingan berat bagi dirinya?
Betulkah seperti itu? Sinting aku kalau punya pikiran seperti itu. Pasti bukan itu penyebabnya. Pasti karena sikap Intan kepadanya yang selalu datar. Perempuan itu terlalu lembut baginya, terlalu baik, dan terlalu setia. Astaga! Separah itukah aku menilai isteriku sendiri? Bagaimana tidak? Intan tidak pernah nyinyir, tidak pernah mengumpatku, tidak pernah bermuka masam, apalagi berkata jorok seperti Hapsari. Dia sangat bening. Sangat cerlang. Seakan-akan tidak ada satupun noda atau dosa melumuri kulitnya yang selicin kaca. Betapa membosankan! Aku bosan, aku ingin sesuatu yang lebih manusiawi.
Seperti Hapsari?
Ya Allah, salahkah aku kalau aku kemudian menenggelamkan diri dalam sebuah selokan kotor hanya karena isteriku seperti malaikat? Aku tau, dia pasti sudah tau aku melacur. Ya, Hapsari itu adalah seorang pelacur kelas tinggi. Setinggi apapun, dia tetap pelacur bukan? Tetapi sungguh ampuni aku kalau aku merasa lebih jadi laki-laki bila bersama pelacur itu ketimbang bersama seorang malaikat..
Ampuni aku ya Allah, ampuni aku!
Mobilnya berbelok dan berhenti di depan direktie keet. Beberapa mandor dan pelaksana terlihat sedang berbincang-bincang. Mereka menghentikan pembicaraan begitu melihat Abi keluar dari mobil. Seorang pelaksana datang menghampiri.
“Ada tamu, Pak. Didalam,” katanya tanpa prolog.
“Siapa? Leveransir?”
“Bukan.”
Abi mengunci mobilnya dan perlahan-lahan berjalan menuju kantor lapangan. Pelaksana itu mengikutinya dari belakang.
“Sudah lama?” tanya Abi sambil lalu.
“Kira-kira sejam yang lalu. Tamu istimewa, Pak.”
“Jangan berbelit belit. Katakan saja siapa tamu itu.”
“Ibu Hapsari, Pak.”
Blap!
Tanpa sadar Abi menghentikan langkah. Mendadak kepalanya jadi pening. Ingin rasanya berbalik langkah dan lari dari tempat itu. Namun akal sehatnya lebih dominan. Betapa memalukan bila para mandor dan perlaksana-pelaksana semuanya masih muda-muda itu melihatnya lari terbirit-birit bagai anjing yang mengaitkan ekor diantara kedua kaki belakang. Maka dengan langkah tegap, Abi langsung masuk ke kantor lapangan.
Dalam sedetik kemudian dia berhadapan dengan Hapsari. Perempuan itu tidak mengenakan seragam kantor melainkan sebuah T-Shirt warna hitam yang amat ketat, dengan leher rendah sehingga terlihat belahan dadanya yang menggelayut. Kalau saja mata mau melihat lebih lama kea rah dadanya, maka akan nampak jelas bahwa dia tidak lagi memakai bra. Celana panjang warna biru membalut kedua kakinya yang panjang. Perempuan itu berdiri dari duduknya begitu melihat Abi masuk. Segera dia bergelayut pada lengan lelaki itu dengan manja.
Abi meletakkan agenda keatas meja dan melepas kacamata raybennya. Ditatapnya perempuan yang tengah memeluk ketat lengannya dengan wajah seakan melihat binataqng langka.
Hapsari tertawa manja dengan bibirnya yang basah. Semua itu membuat Abi terbayang kembali pada malam-malam dimana mereka bersama di sebuah kamar hotel bintang lima. Bibir itu pernah melumatnya habis. Bibir itu juga telah membuatnya merasakan satu kenikmatan luar biasa yang bagi Intan teramat jorok dan memalukan. Intan terlalu sopan untuk mau melakukannya. Namun Hapsari ini teramat suka! Gila, perempuan ini memang benar-benar perempuan gila yang pernah ditemuinya sepanjang hidupnya. Kegilaannya memang pernah membuatnya lupa segala, namun Abi bukanlah seorang yang Cuma dilahirkan untuk hal-hal seperti itu. Darah yang mengalir ditubuhnya bukan darah para pria yang kerasukan bila hidup dalam dunia seperti itu. Dan kini, kesadarannya, panggilan darahnya mengatakan bahwa semua ini salah. Semua ini serupa lumpur yang akan menenggelamkannya dalam dosa tak terampuni.
“Buat apa kau datang,” tegur Abi dingin.
“Memang kenapa kalau aku datang, tidak boleh?”
“Disini tempat orang kerja, bukan tempat kencan. Seharusnya kamu tau itu. Sekarang lebih baik kamu pulang saja. Kamu membolos lagi?”
Senyum di bibir basah itu menghilang saat mendengar dan merasakan betapa dingin suara Abi.
“Beberapa hari ini kau tidak ke kantor, gtidak juga datang ke tempat kosku. Kenapa? Kau mau mengambil jarak denganku?” ujarnya.
Abi menghempaskan nafas kuat-kuat.
“Keluargaku sudah tau”
“Bagus kan, kalau mereka sudah tau?”
“Aku ingin kita menyudahi saja hubungan gelap ini. Lupakan aku.”
“Apa?”
Mata indah itu mengerjap kaget. Api segera membakarnya menjadi sorot tajam yang siap membakar sekujur tubuh Abi.
“Kamu sudah mendengarnya, tak perlu kuulang lagi kata-kataku.”
“Enak saja! Sesudah kau nikmati maduku, kau lempar aku begitu saja? Oh, No! Laki-laki macam apa kau ini. Kau bilang hubunganmu dengan isterimu telah membuatmu bosan. Kau bilang akulah gairahmu. Sekarang, seenakmu saja kauputuskan hubungan ini hany6a dengan alas an keluargamu sudah tau. Apa-apaan kau ini!”
Abi duduk selunjur tanpa membalas tatap mata Hapsari.
“Kau takut? Kenapa? Biar aku saja yang bilang pada isterimu kalau kita sudah mau menikah. Kita sudaha merencankannya jauh-jauh. Seharusnya dia dong yang tau diri kek, mundur teratur, kalau perlu…”
“Cukup!” suara Abi terdengar gemetar menahan amarah. Parasnya menjadi merah padam. Kebenciannya mendadak muncul tanpa dapat disembunyikannya lagi. Tiba-tiba saja dia merasa muak.
“Kau marah?” ejek Hapsari.
“Aku tidak suka kamu menjelek-jelekkan isteeriku. Bagaimanapun dia adalah ibu dari anak-anakku. Betapa jahatnya aku, tidak akan kusangkal bahwa aku masih mencintai mereka. Lebih daripada kamu. Itu yang kamu harus tau!”
Mata Hapsari membelalak. Lidah api makin tinggi menjilat garang.
“Lantas, bagaimana dengan janji kamu?”
“Janji apa?”
“Janji apa, katamu? Kamu lupa?!”
“Ya, janji apa?”
“Janji mengawiniku,..”
“Maaf, kubatalkan.”
“….membelikan mobil, rumah…”
“Itu sih, gampang. Pasti kuberikan.
Mata membelalak itu kini memicing dengan kejam.
“Jadi begitu ya? Tak kusangka, ternyata kamu sama saja dengan pria-pria hidung belang lainnya yang datang Cuma ingin melahap tubuhku saja, lalu…”
Kali ini Abi menatapnya tajam.
“Seharusnya kamu sadar, kejadian yang selam ini kita alami adalah karena kita sama-sama suka menjalaninya. Tidak ada factor paksaan. Aku pembeli, dan kamu penjual. Sudah. Apalagi yang perlu kamu tuntut? Perkawinan? Itu terlalu sakral untuk orang macam kamu, kamu tau? Barangkali banyak laki-laki hidung belang berhasil kamu paksa untuk meninggalkan keluarga hanya untuk memenuhi hasrat keduniawian kamu, namun tidak untukku. Aku punya satu kekuatan yang mungkin tidak dimiliki pria-pria idamanmu yang lain. Kamu mau tau? Cinta. Cinta Intan kepadaku sangat kuat sehingga kamu tidak akan pernah berhasil memilikiku seutuhnya, karena diri dan hatiku sudaha seutuhnya dimiliki orang lain: Intan dan anak-anakku.”
Kegeraman merajai hati Hapsari. Seburuk apapun dirinya, dia tetap memiliki harga diri yang tak mau dilecehkan begitu saja. Dia tak mau dianggap perempuan murahan yang bisa dipermainkan dan dicampakkan lelaki begitu menyakitkan seperti ini.
“Kau pikir, kau satu-satunya lelaki sejati, begitu?”
“Tidak. Aku bahkan tau masih banyak lelaki baik dan setia di dunia ini. Cuma saja, dalam duniamu tidak akan ada lelaki seperti itu bisa kamu temukan. Laki-laki yang kebanyakan ada dalam duniamu adalah laki-laki pemuas napsu. Yah…sayangnya, aku pernah terjerumus masuk ke duniamu yang hitam. Tpi hanya sampai disini, sebaiknya kita berpisah saja sejak hari ini.”
“Kurang ajar, bangsat kamu Abi!!”
“Jangan berteriak. Kalau kamu kalap, lebih baik kamu keluar secara baik-baik dari sini sebelum dikeluarkan oleh security.”
“Baik. Kalau kau mengajakku bermain, aku mau main denganmu. Jaga isteri dan anak-anakmu baik-baik. Aku punya banyak body-guard yang bisa saja mencelakai mereka.”
“Terserah kamu.”
Hapsari mengambil tasnya, kemudian membuka dan membanting pintu kuat-kuat. Abi membiarkannya pergi dengan hati kecut. Siapa yang tidak tau wanita macam Hapsari selalu dikelilingi preman-preman?
Mereka semua adalah pelaku kriminal. Mau tak mau, ada kegelisahan merambati hati Abi. Mendengar ancaman yang disertai kemarahan seperti itu hatinya keder juga, ternyata. Kalau saja preman-preman itu menculik anak isteerinya, bagaimana? Perasaan bersalah membuat Abi duduk dengan mendekapkan telapak tangan ke wajahnya.
Ya Allah, apakah aku telah menjerumuskan keluargaku dalam kesengsaraan? Kalau saja waktu bisa diputar kembali…!

(bersambung)